Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Peresmian Technische Hoogeschool te Bandung (THS) 3 Juli 1920. (Foto: KITLV)
Peresmian Technische Hoogeschool te Bandung (THS) 3 Juli 1920. (Foto: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada awal abad ke-20 adalah kota kecil yang sedang naik daun. Di lereng Priangan itu, udara sejuk bercampur aroma teh dari kebun Malabar milik tuan besar Karel Albert Rudolf Bosscha. Lelaki Belanda tinggi besar dengan kacamata tebal itu mungkin tidak tahu bahwa dari kebun tehnya yang rapi dan hijau, akan lahir pula sesuatu yang jauh lebih abadi dari sekadar aroma melati: gagasan tentang sebuah sekolah tinggi teknik di tanah jajahan.

Ceritanya bermula dari urusan yang sangat kolonial: pembangunan. Sebagaimana diurai dalam risalah Pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng: Sekolah Tinggi Teknik untuk Hindia Belanda, Hindia Belanda menjadi surga bagi pengusaha Eropa didorong penerbitan Undang-Undang Agraria 1870 yang membuka keran investasi. Tapi, membangun pabrik gula, jembatan, dan rel kereta tentu butuh banyak insinyur. Masalahnya, insinyur yang dikirim dari Delft, Belanda, sering kaget ketika mendapati bahwa tanah tropis tak serupa dengan ladang bunga tulip. Beton retak, kayu cepat lapuk, dan drainase berubah jadi kolam lele dalam sekejap musim hujan.

Pemerintah kolonial mulai sadar: mereka butuh sekolah teknik lokal. Tapi ide itu sempat bolak-balik seperti surat cinta tak sampai. Tahun 1912, Indische Universiteitsvereniging mengajukan proposal untuk mendirikan sekolah teknik di Batavia, tapi ditolak mentah-mentah. Pemerintah bilang masih terlalu dini.

Baca Juga: Sejarah Kweekschool Bandung, Sakola Raja Gubahan Preanger Planters

Lima tahun kemudian, ketika dunia sedang panas karena Perang Dunia I, di Hindia Belanda muncul organisasi yang agak unik: Comite Indie Weerbaar—komite pertahanan Hindia. Di atas kertas, ini komite militer untuk melindungi Hindia Belanda dari serangan luar. Tapi di balik seragamnya, para anggotanya lebih sering memikirkan ekonomi dan pendidikan. Salah satu yang paling vokal adalah Bosscha, si juragan teh dari Malabar.

Bosscha dan kawan-kawan berpikir, pertahanan terbaik bukan senjata, melainkan otak. Jadi, mereka mengusulkan pendirian sekolah tinggi teknik agar Hindia punya tenaga ahli sendiri. Delegasi dikirim ke Belanda. Entah bagaimana, lobi mereka berhasil. Tahun 1919, pemerintah membentuk Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indie. Tugasnya: membangun sekolah teknik yang modern, dan tentu saja tetap kolonial.

Ketika tiba saatnya memilih lokasi, perdebatan sengit pun terjadi antara Batavia dan Bandung. Batavia sudah ramai, tapi panas dan penuh nyamuk. Sementara Bandung, selain udaranya dingin dan jalannya masih lengang, juga sedang naik pamor berkat rencana pemindahan ibu kota kolonial ke sana. Akhirnya, Bandung menang—mungkin karena para pejabat Belanda lebih suka minum kopi sambil menghadap Gunung Tangkuban Parahu ketimbang mengipas di pinggir Ciliwung.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Sosok arsitek yang ditunjuk untuk merancang sekolah ini adalah Henri Maclaine Pont. Lelaki yang satu ini punya selera nyeni, tapi juga praktis. Ia memadukan gaya arsitektur Eropa dengan bahan lokal. Gedung utamanya berbentuk huruf U, menghadap ke utara seolah menyapa gunung. Ia memakai batu kali, bata merah, dan bambu melengkung untuk menahan panas. Hasilnya? Bangunan itu masih tegak sampai hari ini, kampus tua yang sekarang dikenal sebagai ITB.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 4 Juli 1919, disertai upacara yang cukup simbolik: empat pohon beringin ditanam oleh perwakilan dari empat golongan masyarakat—Belanda, Pribumi, Tionghoa, dan Indo-Eropa. Satu tahun kemudian, pada 3 Juli 1920, Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB) resmi dibuka oleh Gubernur Jenderal J.P. van Limburg Stirum. Dalam pidatonya, ia menyebut pendirian THB sebagai “perbuatan baik orang Belanda.”

THB menjadi sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda. Diikuti kemudian oleh sekolah hukum di Batavia (1924), kedokteran (1927), dan fakultas-fakultas lain menjelang perang. Semua itu adalah bagian dari Politik Etis, kebijakan kolonial yang katanya “membalas budi” kepada rakyat jajahan dengan memberi pendidikan. Namun tentu saja, pendidikan yang diberikan bukan untuk mencetak pemimpin bangsa, melainkan pegawai yang patuh dan tahu hitung-hitung bangunan.

Tapi sejarah punya caranya sendiri. Dari kampus inilah, lahir mahasiswa yang justru membuat kolonialisme pusing tujuh keliling.

Suasana di salah satu laboratorium praktik TH Bandung. (Sumber: KITLV)
Suasana di salah satu laboratorium praktik TH Bandung. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Sejarah Pindad, Pindah ke Bandung Gegara Perang Dunia

Jejak Sukarno dan Transformasi ke ITB

Pada tahun pertama, THB hanya punya 28 mahasiswa. Mayoritas orang Eropa, satu orang pribumi, dan beberapa dari etnis Tionghoa. Tapi pada tahun 1921, mulai bermunculan wajah-wajah pribumi berotak encer. Salah satunya: seorang pemuda kurus dari Surabaya bernama Kusno Sosrodihardjo—tapi dunia mengenalnya sebagai Sukarno.

Sukarno kuliah di jurusan teknik sipil dan cepat menjadi mahasiswa kesayangan dosennya, C.P. Wolff Schoemaker. Schoemaker ini arsitek eksentrik yang kelak merancang banyak bangunan art deco di Bandung, termasuk Hotel Preanger dan Villa Isola. Di kelasnya, ia mengajarkan arsitektur dengan sentuhan seni dan filsafat. Sukarno, dengan gaya khasnya yang penuh semangat, menyerap ilmu itu seperti spons. Ia bahkan jadi asisten Schoemaker, menggambar desain, menghitung beban struktur, dan mendiskusikan makna ruang.

Konon, tugas akhirnya adalah rancangan jembatan, meski kelak ia lebih dikenal karena membangun jembatan politik antara rakyat dan kemerdekaan.

Tapi, Bandung tahun 1920-an bukan hanya kota pelajar, tapi juga kota ide. Di sela-sela kuliah, Sukarno rajin menulis artikel di majalah dan berdiskusi dengan kawan-kawannya tentang nasionalisme. Ia belajar bagaimana beton mengikat baja, tapi juga bagaimana gagasan bisa mengikat massa. Pendidikan teknik yang diterimanya justru mengajarkannya tentang sistem, perhitungan, dan konstruksi—sesuatu yang ia terapkan dalam membangun fondasi Republik.

Pada tahun 1926, THB meluluskan empat mahasiswa pribumi pertama: Sukarno, M. Anwari, J.A.H. Ondang, dan M. Soetedjo. Di atas kertas, mereka adalah insinyur teknik sipil. Tapi di mata sejarah, mereka adalah fondasi intelektual bangsa.

Baca Juga: Sejarah Lapas Sukamiskin Bandung, Penjara Intelektual Pembangkang Hindia Belanda

Pendirian THB sejatinya adalah bagian dari proyek kolonial besar: membentuk Universiteit van Nederlandsch-Indie, universitas Hindia Belanda yang rencananya akan menyatukan semua sekolah tinggi kolonial. Tapi sebelum impian itu tercapai, sejarah keburu membelokkan jalan.

Tahun 1942, Jepang datang. Segala hal yang berbau “Belanda” langsung ditutup, termasuk THB. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, bangunan kampus ini sempat berpindah tangan beberapa kali. Tapi pada 2 Maret 1959, pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB) di lokasi yang sama, sebuah simbol bahwa warisan kolonial bisa diubah menjadi alat perjuangan bangsa merdeka.

Kini, setiap kali seseorang melewati gerbang ITB di Jalan Ganesha, mereka tidak hanya melihat kampus dengan mahasiswa berkemeja atau kaos oblong dan laptop di tangan. Mereka sedang melewati jejak panjang sejarah: dari ambisi kolonial untuk membentuk insinyur yang patuh, menjadi kampus yang melahirkan pemikir dan pemimpin yang merdeka.

Bangunan kampus Ganesha itu masih berdiri megah, tropis, dan penuh sejarah. Dari Technische Hoogeschool te Bandoeng hingga Institut Teknologi Bandung, kisahnya adalah bukti bahwa pengetahuan bisa lahir dari siapa saja, di mana saja, bahkan dari niat kolonial yang akhirnya dipelintir oleh sejarah menjadi alat kemerdekaan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)