Sejarah Kweekschool Bandung, Sakola Raja Gubahan Preanger Planters

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Bangunan Kweekschool Bandung sekitar tahun 1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Bangunan Kweekschool Bandung sekitar tahun 1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di sudut perempatan Jalan Merdeka dan Jalan Jawa, Bandung, berdiri sebuah bangunan tua bergaya Neo Klasik. Orang-orang yang melintas hari ini mungkin mengenalnya sebagai Markas Polrestabes Bandung. Namun lebih dari seabad lalu, tempat itu bukan markas polisi. Ia adalah sekolah. Sekolah untuk mencetak guru-guru pribumi—Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers—yang berdiri sejak 23 Mei 1866.

Bangunan itu dulunya disebut Sakola Raja oleh warga setempat. Nama yang terdengar megah, padahal secara resmi bukan sekolah untuk para raja. Julukan itu muncul karena sebagian besar muridnya memang anak-anak pejabat lokal, para priyayi, atau keturunan bupati dari wilayah Priangan. Mereka datang ke Bandung untuk belajar menjadi guru, sebuah profesi yang kala itu mulai dianggap terhormat di kalangan bumiputra terdidik.

Pendiri dan penggerak utamanya adalah Karel Frederik Holle, seorang administrator Belanda yang punya pandangan cukup progresif untuk ukuran kolonial. Holle yang dijuga dikenal sebagai salahsatu sosok Preanger Planters ini percaya bahwa pendidikan bagi pribumi akan mempercepat kemajuan masyarakat Hindia Belanda, tentu dalam batas-batas yang tidak mengancam kekuasaan kolonial. Maka berdirilah sekolah ini—tempat para calon guru dididik untuk mengajar anak-anak pribumi, dalam bahasa Melayu dan kemudian Belanda.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Grutterink, Landraad Bandung jadi Saksi Lunturnya Hegemoni Kolonial

Kweekschool Bandung menjadi bagian dari kebijakan besar pendidikan kolonial. Ia lahir setelah Kweekschool di Surakarta (1852), Bukittinggi (1856), dan Tapanuli (1864). Pemerintah Belanda ketika itu tengah menjalankan kebijakan Politik Etis, dengan slogan irigatie, emigratie, en educatie—irigasi, transmigrasi, dan pendidikan. Pendidikan menjadi alat kontrol sosial yang halus. Dengan mencetak guru pribumi, pemerintah tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tapi juga menanamkan cara berpikir “Eropa” dalam tubuh masyarakat jajahan.

Sekolah ini berasrama. Siswa-siswa tinggal di kompleks yang dikelilingi kebun luas di seberang taman yang dulu dikenal sebagai Kebon Raja—sekarang Taman Dewi Sartika. Di sinilah mereka belajar bahasa Belanda, pedagogi, matematika, serta moralitas kolonial. Dalam catatan lama, siswa-siswa diwajibkan hidup teratur: bangun pukul lima, belajar hingga sore, dan tidak boleh keluar asrama tanpa izin. Mereka dilatih menjadi panutan moral dan intelektual bagi masyarakatnya, semacam agen kecil dari peradaban Barat di tengah masyarakat bumiputra.

Tapi, seiring waktu, Kweekschool ini tidak hanya menjadi sekolah untuk menyiapkan pegawai kolonial. Dari sinilah muncul generasi yang kelak mengisi ruang nasionalisme baru. Pendidikan, meski lahir dari kepentingan kolonial, justru membuka kesadaran kritis di kalangan pribumi.

Bangunan Kweekschool voor inheemse onderwijzers te Bandoeng saat diresmikan. (Sumber: KITLV)
Bangunan Kweekschool voor inheemse onderwijzers te Bandoeng saat diresmikan. (Sumber: KITLV)

Dari Gunung Sari ke Taman Dewi Sartika

Tak jauh dari pusat kota, di kawasan Lembang yang sejuk, berdiri pula Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK) Gunung Sari. Sekolah ini awalnya didirikan oleh lembaga swasta bernama Perguruan Neutrale Scholen di Batavia pada 1912. Dua dekade kemudian, sekolah dipindahkan ke Lembang, di daerah yang kala itu masih dikelilingi kebun teh dan udara pegunungan.

Bangunannya sederhana, berdinding bilik dengan halaman yang luas menghadap ke arah panorama Lembang. Kurikulumnya mirip dengan Kweekschool Bandung—melatih guru bantu untuk sekolah dasar pribumi. Bahasa Belanda menjadi pengantar utama. Para siswa belajar pedagogi, keterampilan tangan, hingga olahraga. Tahun 1931, suasana belajarnya tercatat “tenang dan penuh disiplin.”

Salah satu lulusan terkenalnya adalah Raden Mas Dendasasmita, yang menamatkan pendidikan di sana pada 1927. Ia anak ketua Loji Teosofi Galih Pakuan Bandung dan kemudian mendirikan sekolah dasar negeri di Cihampelas. Dari nama sekolah ini pula lahir Lapangan Gunung Sari—lapangan legendaris di Lembang yang masih dikenal hingga kini.

Kini, lokasi bekas HIK Gunung Sari menjadi Balai Besar Pengembangan dan Perluasan Kerja (BBPPK) Lembang. Jejak sekolah itu nyaris hilang, namun sebagian lahan masih dipertahankan dalam masterplan modern. Di sanalah, tersisa bayang-bayang masa ketika Lembang bukan hanya tempat pelesir, tapi juga laboratorium pendidikan kolonial.

Baca Juga: Sejarah Bandung Jadi Ibu Kota Hindia Belanda, Sebelum Jatuh ke Tangan Jepang

Sementara di pusat kota Bandung, bangunan Kweekschool di Jalan Merdeka mengalami nasib lain. Setelah Indonesia merdeka, gedung itu diambil alih dan dialihfungsikan menjadi markas kepolisian pada 1966. Kala itu, kepolisian Bandung belum terpecah menjadi sektor-sektor kecil. Namanya masih Komtabes 86 Bandung, lalu berubah menjadi Poltabes, Polwiltabes, dan kini Polrestabes Bandung. Fasad bergaya Indische Empire Stijl—dengan pilar-pilar tinggi ala Ionic Order—masih berdiri gagah. Gaya ini dulunya populer di kalangan tuan tanah kaya abad ke-19, simbol kekuasaan dan kemegahan Eropa di tanah jajahan.

Yang menarik, banyak orang salah kaprah mengira gedung itu dulunya adalah Sekolah Raja, padahal istilah tersebut sebenarnya merujuk pada OSVIA (Opleiding voor Inlandsche Ambtenaren)—sekolah calon pegawai bumiputra. OSVIA memang menghasilkan bupati-bupati dan pejabat lokal, termasuk Wiranatakusumah yang kelak menjadi Bupati Bandung. Sedangkan Kweekschool melahirkan para guru, pendidik yang menjadi jembatan pengetahuan antara dunia kolonial dan masyarakat pribumi.

Kedua sekolah itu berdiri di masa yang sama, dengan tujuan berbeda namun dengan konsekuensi serupa: menciptakan lapisan elite terdidik di Hindia Belanda. Dari sinilah muncul generasi perantara—kaum yang menguasai bahasa Belanda, memahami sistem kolonial, dan suatu hari menggunakan ilmu itu untuk menantangnya.

Hari ini, tak banyak yang tahu bahwa gedung besar dengan papan nama Polrestabes Bandung itu dulunya adalah tempat lahirnya para guru pertama di tanah Pasundan. Bangunan dengan jendela tinggi dan kolom besar itu telah menyaksikan perjalanan panjang: dari ruang kelas kolonial, asrama siswa, masa revolusi, hingga kini menjadi markas penegak hukum.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Barangkali Karel Holle tak pernah membayangkan bahwa sekolah yang didirikannya demi “mendidik pribumi agar lebih berguna” akan menjadi bagian dari kisah besar bangsa yang merdeka. Kweekschool Bandung, dalam diamnya, tetap berdiri sebagai saksi bahwa pendidikan, di bawah siapa pun kuasanya, selalu punya cara sendiri untuk menulis sejarah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)