Mengarusutamakan Kesetaraan Gender: Setara dari Rumah, Adil hingga Negara

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Ilustrasi wanita Indonesia. (Sumber: Pexels/Nurul Sakinah Ridwan)
Ilustrasi wanita Indonesia. (Sumber: Pexels/Nurul Sakinah Ridwan)

Pengarusutamaan gender di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berdasarkan Global Gender Index (GGI) versi World Economic Forum, indeks kesetaraan gender Indonesia menempati peringkat ke-92 dari 146 negara dengan skor 0,697. Dalam aspek pendidikan perempuan, Indonesia berada pada peringkat ke-102. Dan berdasarkan Gender Inequality Index (GII), Indonesia dalam dimensi ketidaksetaraan gender menduduki urutan ke-110 dari 191 negara, posisi yang masih tertinggal dari rata-rata negara berkembang.

Fenomena ini berakar sejak lama dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Ketika laki-laki berhenti melihat perempuan sebagai mitra, hubungan berubah menjadi hierarki, antara yang memimpin dan yang mengikuti. Padahal, manusia diciptakan untuk saling melengkapi, bukan saling menaklukkan.

Dalam masyarakat patriarki, perempuan sering dinilai dengan ukuran laki-laki. Akibatnya, perjuangan kesetaraan terlihat seperti upaya “meniru” laki-laki, bukan memulihkan keseimbangan. Kesetaraan berakar pada pengakuan terhadap perbedaan, menjaga martabat yang sama tinggi, hak yang sama kuat, dan kesempatan yang sama luas untuk berkembang. Seperti peribahasa, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.”

Antara Patriarki dan Matriarki

Dalam perjalanan membangun kesetaraan, kita berhadapan dengan dua warisan budaya besar: patriarki dan matriarki. Jika keduanya menemui bentuk ekstrem, patriarki menciptakan dominasi laki-laki, sementara matriarki disalahartikan sebagai pembalikan kekuasaan.

Dalam budaya Nusantara, sebenarnya sudah ada nilai-nilai penyeimbang antara ketegasan dan kelembutan. Misal, pepatah Sunda mengenal “bobot pangayom timbang taraju” yang menggambarkan keseimbangan yang melekat pada manusia, bukan pada jenis kelamin. Begitu pula dalam sistem matrilineal Minangkabau, perempuan memegang peran penting dalam pewarisan nilai dan harta, tetapi tidak meniadakan peran laki-laki sebagai penopang sosial dan spiritual.

Dalam memahami kesetaraan, kita perlu mengakui bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda secara genetik, biologis, dan psikologis. Namun perbedaan itu bukan alasan untuk menciptakan hierarki, melainkan pijakan untuk membangun keseimbangan. Keduanya sejajar dalam kemampuan berpikir, berkreasi, dan berkontribusi pada kehidupan.

Dunia yang setara adalah dunia yang menghargai keunikan. Hakikinya perempuan tidak ingin menjadi laki-laki, hanya ingin menjadi manusia yang diakui penuh dengan pikiran, perasaan, dan potensinya. Sikap tidak menerima perbedaan, sama saja ingkar terhadap kuasa-Nya.

Kesetaraan tidak berarti Kesamaan. Kesetaraan adalah tentang Keberanian untuk Saling Melihat dari Sisi yang Sejajar melewati kehidupan.

Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)
Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)

Ruang Kesetaraan Dimulai dari Keluarga dan Pendidikan

Kesetaraan tidak tumbuh di ruang seminar atau forum, tetapi dari keluarga. Dari cara ayah memandang ibu, dan bagaimana anak belajar mencintai dengan adil. Ketika peran ayah dan ibu dihargai meski berbeda bentuknya, makna patnerships mulai tumbuh.

Masalah muncul saat peran diukur secara hierarkis, siapa yang mencari nafkah dianggap lebih tinggi dan yang mengurus rumah dianggap pelengkap. Keluarga adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak. Anak belajar cinta dan tanggung jawab dari keseimbangan peran ayah dan ibu, membentuk generasi yang memahami kemitraan sejak dini. Bangsa yang setara lahir dari keluarga yang adil, dari dua manusia yang saling menghargai dalam mendidik kehidupan.

Kesetaraan juga perlu ditanamkan di sekolah. Dunia pendidikan berperan penting membangun kesadaran kesetaraan gender, melalui kebijakan kurikulum, buku, dan praktik belajar yang bebas dari bias peran gender. Belajar dilakukan dengen pendekatan yang adil, reflektif, dan kontekstual, sehingga siswa bisa memahami relasi sosial yang setara, menghormati perbedaan, dan menolak diskriminasi. Di samping itu, guru harus menjadi teladan, tidak hanya pengajar. Guru perlu dibekali dengan kesadaran gender sehingga mampu membangun budaya belajar inklusif. Kesetaraan tumbuh bukan dari debat, tapi dari kebiasaan sehari-hari.

Baca Juga: Mengapa Kita Boleh Mengkritik Pemerintah, tapi Tidak dengan Tokoh Agama?

Setelah keluarga dan pendidikan, ranah ekonomi menjadi ruang nyata bagi perempuan untuk membuktikan ketangguhan sekaligus menghadapi bocor halus ketimpangan kesetaraan gender. Dalam dunia kerja, perempuan menghadapi tantangan ganda, yakni bagaimana menyeimbangkan karier dan peran dalam keluarga. Perempuan bekerja tidak melulu soal nafkah, tapi tentang menjaga makna hidup, bahwa keluarga dan aktualisasi diri adalah dua hal yang saling melengkapi. Mereka dituntut tangguh di ruang publik tanpa kehilangan kelembutan di rumah.

Dalam perspektif ekonomi. Banyak perempuan bekerja terutama di sektor informal dan domestik, namun tidak tercatat dalam ukuran produktivitas. Padahal, pekerjaan itu menopang kehidupan keluarga dan masyarakat. Studi dari McKinsey menunjukkan jika perempuan dapat berkontribusi secara penuh dalam perekonomian, potensi tambahan nilai ekonomi global bisa mencapai USD 12 triliun pada tahun 2025. Khusus di kawasan Jawa Barat. Data BPS menunjukkan kontribusi pendapatan perempuan di Kota Bandung pada 2024 mencapai 35,57%, menempati peringkat kedua setelah Kabupaten Ciamis (39,14 %),

Masalah terbesar pengarusutamaan gender terletak pada cara pandang budaya yang menempatkan perempuan pada urusan domestik yang dianggap peran “alami”. Kerja perempuan di rumah, di pasar tradisional, atau dalam kegiatan sosial di lingkungan seringkali dianggap “bukan pekerjaan”. Padahal, tanpa energi, waktu, dan dedikasi perempuan dalam ruang-ruang tak terlihat itu, akan banyak roda kehidupan tidak akan berputar. Inilah bentuk yang paling halus dari ketimpangan dan ketidakadilan dalam mengakui nilai kerja.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) meluncurkan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Perawatan. Sebuah kerangka kebijakan transformatif yang digadang-gadang mampu memberikan nilai ekonomi dari pekerjaan perawatan, baik berbayar maupun tidak berbayar. Sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi inklusif. Langkah ini diarahkan untuk mengenali, mengurangi, dan mendistribusikan pekerjaan perawatan secara adil, sehingga perempuan yang selama ini bergulat dalam sektor ini mendapatkan pengakuan dan nilai ekonomi yang layak.

Kebijakan kesetaraan gender sering kali mandek pada level administratif, berupa kuota, program, atau pelatihan tanpa menyentuh akar kultural. KemenPPPA punya peran penting untuk memastikan kebijakan tak berhenti di dokumen, memandu dan mengawal arah kebijakan pengarusutamaan gender di Indonesia.

KemenPPPA dengan semua perangkatnya, secara teknokratis, maupun advokatif harus mendorong integrasi perspektif gender dan ekonomi perawatan ke dalam setiap kebijakan pembangunan. Kesetaraan ekonomi sejatinya dimulai dari keberanian untuk menghitung ulang nilai kerja, bukan sekadar menghitung hasil.

Kesetaraan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menata kehidupan yang lebih baik, dimulai dari rumah, ditumbuhkan di sekolah, dan ditegakkan dalam kebijakan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)