Diskriminasi Kelompok Minoritas oleh Muslim di Indonesia, Memahami Teori Identitas dan Persepsi Sosial

Fadli Ilham Subekti
Ditulis oleh Fadli Ilham Subekti diterbitkan Kamis 23 Okt 2025, 18:31 WIB
Ilustrasi ruangan dalam gereja. (Sumber: Unsplash/Kaja Sariwating)

Ilustrasi ruangan dalam gereja. (Sumber: Unsplash/Kaja Sariwating)

Diskriminasi yang dialami oleh masyarakat non-muslim di Indonesia tak jarang kita temui di beberapa daerah. Pelaku dari diskriminasi itu sendiri sering kali merupakan sekelompok oknum muslim yang merupakan anggota dari kelompok mayoritas.

Miris, di mana agama yang selalu mengajarkan perdamaian dan sikap saling menghargai satu sama lain, malah menjadi pelaku diskriminasi terhadap agama lainnya. Bahkan, bukan hanya kepada agama lain, terkadang kelompok muslim tertentu juga mendiskriminasi kelompok muslim lainnya yang bukan bagian dari kelompok mayoritas.

Beberapa contoh kasus oknum muslim yang mendiskriminasi non-muslim adalah kasus siswi non-muslim yang dipaksa berjilbab di SMKN 2 Padang (2021), penolakan pendirian tempat ibadah non-muslim di Sumatera Barat (2014 – 2020), perusakan gereja di Sukabumi pada bulan Juni 2025, dan yang terbaru adalah rumah doa umat Kristen di Garut ditutup paksa pada bulan Agustus 2025.

Hal-hal seperti ini tentu saja sangat melanggar norma seorang manusia yang menjaga perdamaian. Meski tidak semua muslim intoleran dan mendiskriminasi non-muslim, hal ini tetap menjadi fenomena yang sangat disayangkan untuk terjadi, padahal agama Islam tidak pernah memerintahkan penganutnya untuk mengganggu atau bahkan merusak kegiatan keagamaan lain.

Fenomena lain yang lebih unik daripada oknum muslim mendiskriminasi non-muslim adalah, sekelompok muslim mendiskriminasi muslim lainnya. Di Indonesia, ada beberapa organisasi Muslim yang bisa dibilang cukup besar dan mendominasi persebaran agama. Salah satunya adalah Nahdatul Ulama, yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Meski tidak semuanya, ada beberapa oknum dari organisasi-organisasi semacam ini yang menganggap bahwa ajaran dari kelompok lain yang lebih kecil adalah salah. Tak jarang juga, kegiatan pengajian yang tenang dibubarkan oleh kelompok muslim mayoritas.

Beberapa kasus yang bisa diambil sebagai contoh adalah, pembubaran pengajian yang diisi oleh Ustadz Syafiq Riza Basalamah di Surabaya pada Februari 2024, pengajian yang diisi oleh Ustadz Felix Siauw yang dibubarkan oleh ormas banser setempat pada tahun 2017, dan pengajian oleh Ustadz Hanan Attaki pada tahun 2023 di Pamekasan yang juga dibubarkan oleh ormas setempat.

Diskriminasi tidak hanya terjadi kepada nonis, melainkan juga kepada kelompok muslim yang memiliki ajaran sedikit berbeda dengan oknum muslim mayoritas.

Landasan Teori dan Analisis Fenomena

Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)
Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Terlepas dari bagaimana suatu agama mengajarkan kebaikan seperti apapun, pada akhirnya sekelompok orang-orang beragama Islam itu masihlah manusia yang merupakan makhluk sosial. Di dalam ilmu psikologi sosial, ada sebuah teori sosial identitas yang pertama kali dikemukakan oleh Henri Tajfel dan John C. Turner pada tahun 1979. Teori ini menjelaskan bahwa identitas seseorang cenderung berasal dari keanggotaan mereka dalam suatu kelompok.

Sebagian individu, melihat individu dan mengkategorikan individu lain dalam tiga tahapan. Yang pertama adalah social categorization atau kategorisasi sosial. Tahapan ini adalah saat dimana individu mengelompokkan dirinya dan orang lain dalam suatu kelompok. Misalnya individu akan melihat orang lain seperti “Aku Islam” atau “Dia tidak Islam”. Kemudian yang kedua adalah tahap social identification atau identifikasi sosial.

Pada tahap ini, individu cenderung bergantung dan bangga dengan identitas kelompoknya, serta merasa ingin mempertahankan superioritas kelompok miliknya. Tahap terakhir adalah social comparison atau perbandingan. Tahap inilah yang menjadi tahapan paling rentan bagi seseorang dalam kelompok sosial. Pada tahap ini, terkadang individu akan berusaha untuk menjaga harga diri sosialnya dengan cara merendahkan kelompok lain. Dari sinilah muncul sikap mendiskriminasi kelompok lain.

Persepsi dari sekelompok muslim terhadap nonis juga sering menjadi latar belakang munculnya diskriminasi. Beberapa muslim yang merasa bahwa ajaran Islam adalah mutlak bagi setiap manusia bisa saja merasa bahwa kaum nonis kurang religius, tidak bermoral dalam hal berpakaian, dan berkehidupan terlalu bebas. Hal inilah yang kemudian membentuk stereotip negatif yang melabeli bahwa nonis itu adalah kelompok “kurang religius”. Padahal, tidak sedikit muslim yang kurang bermoral juga, bahkan tak jarang ada yang beragama Islam, tapi hanya di KTP.

Dari teori psikologi sosial di atas, dapat dilihat latar belakang mengapa sekelompok oknum muslim mayoritas menjadi sering mendiskriminasi kelompok minoritas. Ketika harga diri kelompok menjadi nilai utama bagi seseorang, hal tersebut akan mendorong kognitif individu untuk menunjukkan bahwa kelompok sosialnya adalah superior. Itulah yang kemudian membuat perilaku diskriminasi muncul di masyarakat, terutama di Indonesia.

Bagaimanapun, diskriminasi terhadap kelompok minoritas tidak bisa dinormalisasikan begitu saja meski ada latar belakang psikologi dibaliknya. Diluar kebutuhan untuk menguatkan harga diri sosial, ada kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi di atas segalanya. Agama tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk melakukan perundungan atau pun merendahkan penganut agama lain. Karena sejatinya, agama ada untuk memberikan keteraturan dan menjaga perdamaian, bukan membawa permusuhan karena perbedaan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fadli Ilham Subekti
Mahasiswa aktif prodi Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Berita Terkait

Filsafat Seni Islam

Ayo Netizen 18 Sep 2025, 20:01 WIB
Filsafat Seni Islam

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)