Diskriminasi Kelompok Minoritas oleh Muslim di Indonesia, Memahami Teori Identitas dan Persepsi Sosial

4 menit baca
Fadli Ilham Subekti
Ditulis oleh Fadli Ilham Subekti diterbitkan
Ilustrasi ruangan dalam gereja. (Sumber: Unsplash/Kaja Sariwating)
Ilustrasi ruangan dalam gereja. (Sumber: Unsplash/Kaja Sariwating)

Diskriminasi yang dialami oleh masyarakat non-muslim di Indonesia tak jarang kita temui di beberapa daerah. Pelaku dari diskriminasi itu sendiri sering kali merupakan sekelompok oknum muslim yang merupakan anggota dari kelompok mayoritas.

Miris, di mana agama yang selalu mengajarkan perdamaian dan sikap saling menghargai satu sama lain, malah menjadi pelaku diskriminasi terhadap agama lainnya. Bahkan, bukan hanya kepada agama lain, terkadang kelompok muslim tertentu juga mendiskriminasi kelompok muslim lainnya yang bukan bagian dari kelompok mayoritas.

Beberapa contoh kasus oknum muslim yang mendiskriminasi non-muslim adalah kasus siswi non-muslim yang dipaksa berjilbab di SMKN 2 Padang (2021), penolakan pendirian tempat ibadah non-muslim di Sumatera Barat (2014 – 2020), perusakan gereja di Sukabumi pada bulan Juni 2025, dan yang terbaru adalah rumah doa umat Kristen di Garut ditutup paksa pada bulan Agustus 2025.

Hal-hal seperti ini tentu saja sangat melanggar norma seorang manusia yang menjaga perdamaian. Meski tidak semua muslim intoleran dan mendiskriminasi non-muslim, hal ini tetap menjadi fenomena yang sangat disayangkan untuk terjadi, padahal agama Islam tidak pernah memerintahkan penganutnya untuk mengganggu atau bahkan merusak kegiatan keagamaan lain.

Fenomena lain yang lebih unik daripada oknum muslim mendiskriminasi non-muslim adalah, sekelompok muslim mendiskriminasi muslim lainnya. Di Indonesia, ada beberapa organisasi Muslim yang bisa dibilang cukup besar dan mendominasi persebaran agama. Salah satunya adalah Nahdatul Ulama, yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Meski tidak semuanya, ada beberapa oknum dari organisasi-organisasi semacam ini yang menganggap bahwa ajaran dari kelompok lain yang lebih kecil adalah salah. Tak jarang juga, kegiatan pengajian yang tenang dibubarkan oleh kelompok muslim mayoritas.

Beberapa kasus yang bisa diambil sebagai contoh adalah, pembubaran pengajian yang diisi oleh Ustadz Syafiq Riza Basalamah di Surabaya pada Februari 2024, pengajian yang diisi oleh Ustadz Felix Siauw yang dibubarkan oleh ormas banser setempat pada tahun 2017, dan pengajian oleh Ustadz Hanan Attaki pada tahun 2023 di Pamekasan yang juga dibubarkan oleh ormas setempat.

Diskriminasi tidak hanya terjadi kepada nonis, melainkan juga kepada kelompok muslim yang memiliki ajaran sedikit berbeda dengan oknum muslim mayoritas.

Landasan Teori dan Analisis Fenomena

Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)
Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Terlepas dari bagaimana suatu agama mengajarkan kebaikan seperti apapun, pada akhirnya sekelompok orang-orang beragama Islam itu masihlah manusia yang merupakan makhluk sosial. Di dalam ilmu psikologi sosial, ada sebuah teori sosial identitas yang pertama kali dikemukakan oleh Henri Tajfel dan John C. Turner pada tahun 1979. Teori ini menjelaskan bahwa identitas seseorang cenderung berasal dari keanggotaan mereka dalam suatu kelompok.

Sebagian individu, melihat individu dan mengkategorikan individu lain dalam tiga tahapan. Yang pertama adalah social categorization atau kategorisasi sosial. Tahapan ini adalah saat dimana individu mengelompokkan dirinya dan orang lain dalam suatu kelompok. Misalnya individu akan melihat orang lain seperti “Aku Islam” atau “Dia tidak Islam”. Kemudian yang kedua adalah tahap social identification atau identifikasi sosial.

Pada tahap ini, individu cenderung bergantung dan bangga dengan identitas kelompoknya, serta merasa ingin mempertahankan superioritas kelompok miliknya. Tahap terakhir adalah social comparison atau perbandingan. Tahap inilah yang menjadi tahapan paling rentan bagi seseorang dalam kelompok sosial. Pada tahap ini, terkadang individu akan berusaha untuk menjaga harga diri sosialnya dengan cara merendahkan kelompok lain. Dari sinilah muncul sikap mendiskriminasi kelompok lain.

Persepsi dari sekelompok muslim terhadap nonis juga sering menjadi latar belakang munculnya diskriminasi. Beberapa muslim yang merasa bahwa ajaran Islam adalah mutlak bagi setiap manusia bisa saja merasa bahwa kaum nonis kurang religius, tidak bermoral dalam hal berpakaian, dan berkehidupan terlalu bebas. Hal inilah yang kemudian membentuk stereotip negatif yang melabeli bahwa nonis itu adalah kelompok “kurang religius”. Padahal, tidak sedikit muslim yang kurang bermoral juga, bahkan tak jarang ada yang beragama Islam, tapi hanya di KTP.

Dari teori psikologi sosial di atas, dapat dilihat latar belakang mengapa sekelompok oknum muslim mayoritas menjadi sering mendiskriminasi kelompok minoritas. Ketika harga diri kelompok menjadi nilai utama bagi seseorang, hal tersebut akan mendorong kognitif individu untuk menunjukkan bahwa kelompok sosialnya adalah superior. Itulah yang kemudian membuat perilaku diskriminasi muncul di masyarakat, terutama di Indonesia.

Bagaimanapun, diskriminasi terhadap kelompok minoritas tidak bisa dinormalisasikan begitu saja meski ada latar belakang psikologi dibaliknya. Diluar kebutuhan untuk menguatkan harga diri sosial, ada kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi di atas segalanya. Agama tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk melakukan perundungan atau pun merendahkan penganut agama lain. Karena sejatinya, agama ada untuk memberikan keteraturan dan menjaga perdamaian, bukan membawa permusuhan karena perbedaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fadli Ilham Subekti
Mahasiswa aktif prodi Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)