Perelek, Kosakata Jadul yang Timbul Lagi

3 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Dedi Mulyadi. (Sumber: Dok. DSDA Jabar)
Dedi Mulyadi. (Sumber: Dok. DSDA Jabar)

PERELEK, sebuah kata jadul yang nyaris tenggelam ditelan zaman, belakangan ini ramai lagi dibicarakan di sosial media, seiring dengan munculnya kebijakan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang mengimbau warga Jawa Barat untuk melakukan pengumpulan dana “Sapoe Sarebu”.

Dana tersebut dianjurkan dikelola pengurus RT atau RW setempat untuk digunakan berbagai manfaat: membantu biaya pengobatan warga ke RS; membantu warga yang kekurangan dan kesusahan; menengok orang sakit, santunan kematian, dan kas “jaga-jaga” untuk keadaan darurat lainnya. Namanya imbauan, sifatnya tidak memaksa. Hanya, berlaku bagi siapa saja yang diberi kelebihan harta dan yang penting ikhlas.

Pro dan kontra pun terjadi: itu tugas negara; rawan penyelewengan, dll. KDM pun mengklarifikasi. Menurut KDM, program ini bukan hal baru. Tetapi, merupakan budaya orang Sunda yang telah ada sejak dahulu kala, yang disebut dengan istilah “Perelek”. Perelek adalah tradisi gotong royong masyarakat Sunda di mana warga mengumpulkan iuran berupa beras (disebut beas perelek) atau uang secara sukarela untuk membantu warga yang membutuhkan. 

Konon, kata perelek (Sunda) berasal dari suara bunyi segenggam beras yang dipindahkan ke dalam karung dan berbunyi … perelek. Gejala ini dalam bahasa biasa disebut onomatope

Contoh yang mirip adalah kata kencleng (kencreng)—yang sama-sama berfungsi sebagai pengumpul dana di masjid—berasal dari bunyi uang logam yang dimasukkan ke dalam kaleng dan menimbulkan bunyi…kencleng. Belakangan kencleng berubah nama menjadi kotak amal. Harapannya, konon agar jamaah tidak memasukkan uang logam lagi.

Waktu saya kecil, di era 70-80 an, di Sukamiskin memang sudah ada program “Beras Perelek”. Pengurus RT atau RW memberikan wadah terbuat dari bambu—mirip kentongan—ke setiap rumah. Warga--jika hendak memasak beras—diimbau menyisihkan dua sendok beras untuk dimasukkan ke dalam wadah yang mirip kentongan tadi. Setelah itu, wadah itu digantungkan di depan rumah dan entah seminggu atau dua minggu sekali petugas RT atau RW akan memindahkan beras yang ada di wadah itu ke dalam karung dan berbunyi …perelek.

Di tempat saya tinggal sekarang di Soreang—puluhan tahun sejak saya kecil—sempat juga ada program Perelek yang akhirnya tidak jalan. Kemudian, diganti program Dana Kematian yang besarnya--dipungut dari setiap warga-- Rp5.000 per bulan. Warga yang meninggal dunia akan mendapat seperangkat kain kafan, padung, dan biaya santunan. Beda program, tetapi tujuannya sama.

Di tempat lain, berbeda lagi. Di Sukajadi, konsep beras “perelek” diganti dan diaplikasikan dalam pengelolaan sampah dengan sedikit modifikasi. Bukan beras yang dikumpulkan, melainkan sampah. Sepekan tiga kali, komunitas Masagi (Masyarakat Bersinergi) mengumpulkan sampah organik dari rumah warga. Sampah anorganik kemudian diserahkan kepada pihak ketiga untuk dikelola.

Sementara, sampah anorganik, seperti botol dan kardus, dikumpulkan sepekan sekali, kemudian dijual kepada pengepul. Nah, uang hasil penjualan digunakan untuk untuk kepentingan sosial, seperti menengok warga yang sakit, melayat warga yang meninggal, membantu konsumsi pengajian hingga membeli makanan balita dan lansia. Dengan demikian, konsep pengumpulan sampah mirip dengan tradisi perelek.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)

Saya lihat di Youtube di Lembur Pakuan di Subang beras Perelek diganti dengan uang Rp1.000 dan diambil oleh petugas—sambil mengadakan ronda malam—setiap pukul 24.00 WIB. Jadi, perelek beras atau pun perelek uang dan perelek apa pun merupakan salah satu contoh bentuk dari kegiatan gotong royong seluruh warga di tanah Parahiyangan (baca: Sunda), dalam rangka habluminannas.

Kegiatan perelek tujuan utamanya adalah:

  1. Mengumpulkan beras atau uang dari seluruh warga. Jika sudah terkumpul akan dipergunakan jika sewaktu-waktu ada warga yang  sakit dan kesusahan.
  2. Melestarikan budaya gotong royong antar warga,
  3. Menjalin silaturahmi yang semakin erat di antara warga.
  4. Sebagai dana kas apabila ada kegiatan yang melibatkan warga.

Tentu saja, kasus penyelewengan di mana pun bisa terjadi. Tetapi, jika program Perelek ini berjalan lancar dan semua warga sudah sadar serta punya rasa memiliki, maka insyaallah lingkungan tempat kita tinggal akan mandiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)