Bandung Menawan, Bandung Siaga: Belajar Hidup Selaras dengan Alam

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Raka Miftah)
Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Raka Miftah)

Bandung bukan hanya menawan karena pesona alam dan kreativitas warganya. Di balik gemerlap kafe dan teknologi, kota ini terus belajar menghadapi tantangan bencana, perubahan iklim, dan tekanan urbanisasi, dengan tekad untuk hidup selaras dengan alam.

Beberapa pekan terakhir, curah hujan ekstrem hampir setiap sore menjadi pengingat potensi rapuhnya keseimbangan lingkungan perkotaan lintas wilayah. Jalan-jalan yang tiba-tiba tergenang, aliran sungai meluap, dan warga di beberapa titik seperti Gedebage, Bojongsoang, Astana Anyar, serta Pasteur harus waspada terhadap genangan cepat. Fenomena ini bukan sekadar masalah drainase, tetapi cerminan tantangan perubahan iklim dan tata ruang yang saling menguatkan.

Kondisi ini mengingatkan bahwa daya tahan kota tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi oleh kolaborasi berbagai pihak yang saling menguatkan. Bandung membutuhkan lebih dari sekadar sistem tanggap darurat, kota ini membutuhkan ekosistem kesiapsiagaan yang berakar pada kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan kesadaran sosial.

Di sinilah semangat Penta Helix menemukan relevansinya, sebuah panggilan untuk bersinergi lintas sektor, bahkan lintas wilayah agar Bandung bukan hanya menawan, tetapi juga siaga menghadapi alam dengan segala dinamikanya.

Penta Helix: Lima Kekuatan untuk Kota Tangguh

Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)
Daya tarik Bandung sebagai kota pendidikan sekaligus ekosistem pendidikan, terletak pada reputasi perguruan tinggi ternama seperti: ITB, Unpad, UPI, Telkom University, Universitas Pasundan, Maranatha hingga puluhan kampus lainnya. (Sumber: Pexels/setengah lima sore)

Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media, adalah lima unsu dalam model Penta Helix yang bersinergi menciptakan ekosistem kota yang siaga sekaligus berkelanjutan. Pemerintah Kota Bandung dapat memperkuat sistem peringatan dini dan tata ruang berbasis mitigasi risiko. Akademisi hadir dengan riset tentang adaptasi perubahan iklim, sementara dunia usaha menerapkan inovasi hijau dan tanggung jawab sosial yang nyata.

Komunitas dan media memainkan peran strategis dalam menyebarkan kesadaran, membangun literasi isu lingkungan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab kebencanaan. Karena pada akhirnya, siaga bencana bukan hanya urusan alat dan data, tapi juga tentang kesadaran sosial dan budaya, bagaimana manusia menempatkan dirinya sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas.

Kolaborasi lintas unsur itu tampak dalam berbagai inisiatif nyata di Bandung. Misalnya, Program Kampung Siaga Bencana (KSB) di Ujungberung, yang melibatkan BPBD, Dinsos Kota Bandung (pemerintah), UPI Bandung dan ITB (akademisi), PT PLN dan Telkom (dunia usaha), komunitas lokal seperti Bandung Clean Action dan Relawan Tangguh, serta dukungan media lokal. Dalam program ini, warga dilatih membuat peta risiko mandiri, sistem komunikasi darurat, hingga kebun vertikal untuk memperkuat ketahanan lingkungan.

Sinergi tersebut menunjukkan bahwa Penta Helix mempertemukan data ilmiah, dukungan sumber daya, pengetahuan lokal, dan narasi publik. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan green governance (tata kelola hijau), suatu konsep tata kelola yang berlandaskan prinsip keberlanjutan dan harmoni lingkungan. Makna terdalam dari green governance adalah pemerintahan yang tak hanya mengatur, tetapi juga merawat

Menata ruang terbuka hijau, memperkuat sistem drainase alami, dan mendorong digitalisasi layanan publik yang ramah lingkungan, merupakan bukti nyata kota yang tidak hanya menunggu bantuan saat bencana datang, tetapi aktif menyiapkan diri dengan cara yang kreatif dan berbasis komunitas.

Langkah Bandung Menuju Kota Siaga dan Hijau

Jika sebelumnya Bandung dikritisi karena tertinggal dalam indikator kota hijau, sebetulnya sudah ada tanda-tanda kebangkitan menuju kota siaga dan hijau berkelanjutan.

Sejumlah langkah konkret dilakukan melalui kinerja BPBD, DLH, dan berbagai kolaborator lokal, dengan mengembangkan pendekatan preventif terhadap bencana melalui perencanaan tata ruang, edukasi publik, dan inovasi lingkungan.

Salah satu wujud nyata adalah pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) yang kini telah mencapai lebih dari 12% luas wilayah kota, dengan target jangka menengah mencapai 20%. Ruang hijau ini bukan sekadar elemen estetika, melainkan juga fungsi ekologis penting yang mampu menyerap air hujan, menurunkan suhu mikro, dan menjadi area resapan yang mengurangi risiko banjir.

Sebagai kota urban dengan keterbatasan lahan, Bandung menempuh beragam inovasi dalam memperluas ruang terbuka hijau. Salah satu kebijakan penting adalah Program Bandung Hijau, yang mendorong revitalisasi taman kota dan optimalisasi lahan tidur menjadi ruang publik ramah lingkungan. Dari Taman Lansia, Taman Film, hingga Taman Sejarah, berbagai taman tematik ini memperindah kota, juga berfungsi sebagai paru-paru kota dan ruang edukasi ekologis bagi masyarakat.

Selain itu, Bandung mengembangkan Urban Farming dan Rooftop Garden di kawasan padat penduduk seperti Cicadas, Sukajadi, dan Antapani. Melalui kerja sama antara pemerintah kota, komunitas, dan dunia usaha, area pertanian vertikal di atap gedung dan pekarangan sempit kini berperan sebagai mini RTH yang menyerap karbon dan meningkatkan ketahanan pangan lokal.

Langkah lainnya, Gerakan Menanam 500.000 Pohon, yang melibatkan sekolah, komunitas, dan pelaku usaha dalam upaya reforestasi mikro di wilayah perkotaan. Setiap pohon yang ditanam bukan hanya simbol kepedulian lingkungan, tetapi bagian dari sistem mitigasi bencana, karena vegetasi yang kuat membantu menahan erosi dan menstabilkan aliran air di daerah rawan banjir dan rawan longsor.

Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan RTH di Bandung tidak hanya bergantung pada proyek besar pemerintah, tetapi juga pada partisipasi warga yang menanam, merawat, dan menjaga ruang hidupnya sendiri. Di sinilah semangat green governance menemukan makna dengan kolaborasi antara kebijakan dan kepedulian.

Langkah-langkah tersebut sejalan dengan indikator UI GreenCityMetric, khususnya pada aspek Energy and Climate Change serta Water Management, yang menilai kemampuan kota dalam mengelola energi, air, dan iklim secara berkelanjutan. Komitmen Bandung terhadap kedua aspek ini ditunjukan melalui upaya memperluas RTH, menerapkan sistem drainase berkelanjutan, dan mengembangkan sistem peringatan dini kebencanaan.

Lebih dari sekadar sistem peringatan, inovasi digital SIAGA Bandung menjadi contoh konkret bagaimana tata pamong modern memadukan transparansi data, partisipasi warga, dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman bencana. Aplikasi ini bukan hanya alat komunikasi darurat, tetapi juga instrumen pembelajaran sosial yang mendorong warga untuk memahami risiko di lingkungannya, serta memberi ruang bagi mereka untuk melapor dan berkontribusi secara langsung.

Kearifan Lokal, Jiwa yang Tak Lekang oleh Waktu

Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)
Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)

Bandung sebagai bagian dari tatar Sunda memiliki akar kearifan lokal yang dalam. Dalam filosofi masyarakat Sunda, hidup adalah soal menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bak pepatah “Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak.” Makna ini begitu dalam, dimana setiap aliran sungai dan langkah kaki di tanah, tersimpan ajakan untuk hidup selaras, beradaptasi, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Kesiapsiagaan bencana bukanlah proyek semusim, melainkan perjalanan panjang. Kolaborasi penta helix dan semangat green governance memberi arah yang jelas untuk membangun kota yang tangguh, manusiawi, dan lestari. Karena Bandung bukan hanya menawan dari rupa dan budaya, tetapi juga dari kesadarannya untuk hidup dalam harmoni.

Di mana bumi di pijak, di sana langit di junjung”. Sebab kota yang benar-benar indah adalah kota yang tahu cara mencintai bumi tempat ia berpijak.

Kini tinggal bagaimana setiap warga, komunitas, dan pemangku kebijakan menjaga momentum ini agar tidak berhenti pada proyek, melainkan tumbuh menjadi laku budaya dalam memandang kota dan alamnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)