Mengenal Greenwashing, Muslihat Korporasi yang Mengklaim Ramah dan Peduli Lingkungan

4 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Ilustrasi greenwashing.
Ilustrasi greenwashing.

AYOBANDUNG.IDAyobandung.id menjadi salah satu media online dari Indonesia yang terpilih mengikuti Business and Climate Media Initiative Virtual Workshop. Kegiatan yang diinisiasi oleh Earth Journalism Network (EJN) ini menghadirkan juga jurnalis dari India, Bangladesh, dan Thailand.

Workshop berlangsung selama empat hari, pada 26–27 Agustus dan 2–3 September 2025. Workshop menghadirkan pakar lingkungan dari keempat negara, serta beberapa jurnalis yang berbagi pengalaman dalam meliput isu perubahan iklim.

Salah satu topik yang banyak mendapat perhatian adalah greenwashing, praktik yang sering diperdebatkan dalam adaptasi perubahan iklim.

Seperti diketahui, dalam beberapa dekade terakhir, isu lingkungan menjadi salah satu sorotan utama dunia bisnis. Perusahaan berlomba-lomba menampilkan diri sebagai pihak yang peduli terhadap bumi. Dari kampanye hemat energi hingga produk berlabel eco-friendly, semuanya terdengar menjanjikan. Namun, di balik gencarnya promosi itu, muncul sebuah istilah yang makin sering dibicarakan: greenwashing.

Greenwashing secara sederhana dapat diartikan sebagai praktik menampilkan citra ramah lingkungan yang berlebihan, palsu, atau menyesatkan. Korporasi yang melakukan greenwashing seolah-olah berkomitmen pada keberlanjutan, padahal kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan masih besar. Dengan kata lain, hijau di luar, tapi di dalamnya abu-abu.

Istilah greenwashing pertama kali populer pada era 1980-an. Seorang aktivis lingkungan, Jay Westerveld, mengkritik kebijakan manajemen suatu hotel yang meminta tamu untuk tidak mengganti handuk demi menyelamatkan lingkungan. Menurutnya, kampanye tersebut hanyalah cara untuk menghemat biaya laundry, bukan benar-benar tindakan peduli bumi. Dari sanalah istilah greenwashing mulai dikenal luas.

Ciri-ciri greenwashing bisa bermacam-macam. Ada korporasi yang menggunakan label seperti "100% alami" atau "ramah lingkungan" tanpa bukti ilmiah. Ada pula yang menonjolkan program hijau dalam kegiatan CSR mereka. Di saat bersamaan, sebagian besar operasionalnya masih merusak alam. Simbol daun, warna hijau, atau gambar bumi kerap dipakai untuk memperkuat kesan seolah produk tersebut benar-benar berkelanjutan.

Salah satu contoh nyata greenwashing adalah industri energi fosil. Beberapa perusahaan minyak besar gencar beriklan tentang investasi mereka di energi terbarukan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, porsi investasi hijau tersebut hanya sebagian kecil dibandingkan keuntungan besar yang tetap berasal dari batubara, minyak, atau gas.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Produk plastik sekali pakai pun kerap menjadi bahan kampanye palsu. Misalnya, botol plastik dengan label biodegradable. Faktanya, plastik jenis ini hanya bisa terurai di fasilitas pengolahan khusus yang sangat terbatas. Jika tetap dibuang ke lingkungan, efeknya sama saja: mencemari tanah dan air.

Dampak greenwashing tidak bisa dianggap remeh.

Pertama, konsumen menjadi korban karena merasa telah membeli produk ramah lingkungan padahal tidak. Kedua, korporasi yang benar-benar serius berkomitmen ramah lingkungan tercoreng oleh klaim palsu. Ketiga, krisis iklim bisa semakin parah karena dunia terjebak pada pencitraan, bukan aksi nyata.

Greenwashing juga berbahaya karena menciptakan rasa puas yang semu bagi konsumen. Masyarakat merasa sudah berkontribusi menyelamatkan bumi hanya dengan membeli produk tertentu, padahal dampaknya minim. Ujungnya, tekanan terhadap industri untuk berubah menjadi berkurang karena "terlanjur" dicitrakan ramah lingkungan.

Beberapa organisasi internasional sudah mulai menyoroti isu ini. Uni Eropa, misalnya, kini tengah menyusun aturan ketat untuk membatasi klaim lingkungan yang menyesatkan. Perusahaan yang kedapatan melakukan greenwashing dapat dikenai sanksi, baik berupa denda maupun larangan menggunakan label hijau pada produknya.

Lantas, bagaimana cara masyarakat mengenali greenwashing? Pertama, cek apakah klaim perusahaan disertai sertifikasi resmi atau laporan keberlanjutan yang transparan. Kedua, jangan mudah percaya pada label hijau tanpa penjelasan detail. Ketiga, perhatikan konsistensi: apakah seluruh proses bisnisnya berorientasi pada keberlanjutan, atau hanya sebagian kecil saja.

Media dan jurnalis pun memiliki peran penting. Dengan liputan kritis, aksi muslihat greenwashing bisa dibongkar dan disorot ke publik. Tekanan dari media kerap membuat perusahaan tidak bisa lagi bersembunyi di balik iklan ramah lingkungan yang palsu, dan akhirnya terdorong untuk melakukan perubahan yang serius.

Namun usaha jurnalis untuk membongkar praktik greenwashing ini tentunya tidak semudah membalikan tangan. Perlu kolaborasi. Biasanya korporasi yang melakukan greenwashing akan menghindar atau menutup informasinya ketika ditanyakan lebih detil soal klaim hijau yang mereka publikasikan.

Dengan liputan kritis, praktik greenwashing bisa dibongkar dan disorot ke publik.
Dengan liputan kritis, praktik greenwashing bisa dibongkar dan disorot ke publik.

Pembicara asal Thailand, Sarinee Achavanuntakul, menilai grenwashing perlu terus dipantau secara ketat. Ia menekankan pentingnya mekanisme pengawasan, misalnnya setelah obligasi hijau diterbitkan, terutama untuk memastikan aliran dana apakah benar-benar digunakan pada proyek yang sesuai dengan janji ramah lingkungan atau tidak. Menurutnya, lemahnya pengawasan dan standar yang jelas membuat jurang antara klaim dan praktik semakin terbuka lebar.

Sarinee juga menilai, kredit karbon dari hutan yang kini marak ditawarkan perlu menjadi perhatian khusus karena rawan dijadikan komoditas semu yang lebih mengutamakan citra daripada dampak nyata terhadap lingkungan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Ramesh Matham, jurnalis dari harian Business Line di Chennai, India menilai greenwashing merupakan isu yang sangat relevan dan menarik untuk diteliti lebih jauh. Ia menegaskan, topik ini tidak hanya menyangkut integritas pasar keuangan, tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan publik terhadap agenda keberlanjutan yang sedang digencarkan di berbagai negara.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)