Tanda Kerusakan Alam di Kabupaten Bandung Semakin Kritis, Bencana Alam Meluas

5 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Rentetan bencana yang terus berulang di Kabupaten Bandung kembali memantik pertanyaan besar tentang kondisi lingkungan dan arah pembangunan wilayah ini. Di balik hujan ekstrem dan perubahan iklim, terdapat persoalan mendasar yang telah lama diabaikan.

Sejak puluhan tahun lalu, Kabupaten Bandung dikenal sebagai daerah rawan bencana. Longsor, banjir, hingga banjir bandang kerap terjadi di berbagai wilayah.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, intensitas bencana di Kabupaten Bandung kian meningkat. Banjir, longsor, hingga banjir bandang datang silih berganti dan bahkan telah merenggut korban jiwa.

Rentetan bencana tersebut tampaknya bukan semata dipicu oleh fenomena alam seperti siklon tropis, La Nina, atau faktor cuaca ekstrem lainnya. Seperti halnya banjir bandang di Sumatera, kondisi alam di wilayah Kabupaten Bandung menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius.

Kerusakan Alam di Hulu Sungai

Sebagai daerah pegunungan, Kabupaten Bandung merupakan kawasan hulu sungai yang bermuara ke Sungai Citarum. Di wilayah hulu ini, kerusakan lingkungan terjadi akibat berbagai faktor.

Tidak sedikit kawasan hutan di Kabupaten Bandung, baik di wilayah utara maupun selatan, yang mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia.

Di wilayah selatan, banyak kawasan hutan yang telah beralih fungsi, seperti yang terjadi di kawasan Gunung Patuha. Perusahaan penyuplai listrik PT Geodipa Energi beberapa tahun lalu membabat hutan seluas dua hektare untuk membangun dua sumur eksploitasi panas bumi. Padahal, kawasan tersebut merupakan hulu Sungai Ciwidey yang bermuara ke Citarum.

Pembabatan yang lebih ekstrem terjadi di kawasan PTPN I Regional II Kertamanah, Pangalengan. Setidaknya ratusan hektare kebun teh dibabat dan dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayuran.

Jumlah tersebut baru mencakup data lahan yang dibabat habis. Di luar itu, hektaran perkebunan teh lainnya juga disulap menjadi kawasan objek wisata.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah utara Kabupaten Bandung. Sebagian besar lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai kawasan hijau kini telah beralih menjadi perkebunan sayuran.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin, menyatakan bahwa kerusakan lingkungan tersebut menjadi penyebab utama bencana yang terjadi di Bandung.

"Hujan ekstrim bukan satu-satunya penyebab bencana banjir, banjir bandang dan longsor. Tapi kawasan tutupan yang berkurang banyak," ujar Wahyudin, Senin 15 Desember 2025.

Menurutnya, tingkat kerusakan lingkungan saat ini sudah berada pada tahap parah. Dalam dua tahun terakhir saja, di kawasan utara Kabupaten Bandung penyusutan hutan tutupan telah mencapai 43 persen. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di wilayah selatan.

Penyusutan kawasan tutupan hutan tersebut membuat wilayah Bandung menjadi sangat rentan terhadap bencana setiap kali hujan turun.

Kerusakan di Kawasan Hilir

Kerusakan lingkungan juga terjadi di kawasan hilir. Pembangunan properti perumahan terus marak di atas lahan sawah yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air.

Dalam beberapa tahun terakhir, di kawasan Bojongsoang, Baleendah, Soreang, dan Katapang, banyak bermunculan kompleks perumahan baru.

Kondisi tersebut membuat wilayah hilir semakin rentan terhadap banjir. Bahkan, hampir setiap hujan turun, kawasan-kawasan tersebut kerap terendam banjir cileuncang.

Tak terkecuali Kecamatan Soreang yang sebelumnya jarang mengalami banjir. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir cileuncang mulai terjadi. Kondisi ini bukan semata akibat buruknya drainase, tetapi juga dipicu oleh masifnya alih fungsi lahan.

Sampah turut berkontribusi besar terhadap terjadinya banjir di kawasan hilir. Bahkan, ribuan ton sampah diperkirakan membebani aliran Sungai Citarum.

Praktisi Hukum, Januar Solehudin, menilai persoalan sampah yang memicu bencana di Kabupaten Bandung tidak terlepas dari lemahnya penegakan aturan oleh pemerintah.

"Indonesia sebenarnya memiliki Undang-undang nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah," ujar Januar.

Dalam Pasal 19 undang-undang tersebut, ditegaskan bahwa pengurangan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya.

Namun, di lapangan, implementasi regulasi tersebut nyaris tidak terlihat dan cenderung diabaikan. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir pemerintah mengklaim telah melakukan sosialisasi dan pendidikan kepada masyarakat untuk mengurangi sampah, hasilnya dinilai belum maksimal.

Ketidakmaksimalan program pengurangan sampah dari sumber tercermin dari semakin menumpuknya sampah di pinggir jalan. Sampah-sampah tersebut akhirnya bermuara ke Citarum dan saluran air lainnya, yang kemudian memicu banjir.

Kebijakan Perbaikan Lingkungan

Rentetan bencana yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mendorong pemerintah daerah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Setidaknya, ada dua kebijakan yang dilahirkan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Untuk mengendalikan pertumbuhan pembangunan properti yang sporadis, Pemerintah Kabupaten Bandung melakukan penghentian sementara pemberian izin pembangunan sekaligus mengevaluasi izin-izin lama.

Kebijakan lainnya adalah upaya pemulihan hutan melalui penanaman kembali pohon-pohon di kawasan kritis.

Bahkan, terbaru, Pemkab Bandung berencana menebar benih pohon menggunakan pesawat.

"Saya sudah menyiapkan 1 truk biji bijian benih pohon keras yang akan ditebar menggunakan pesawat," ujar Bupati Bandung Dadang Supriatna.

Benih tersebut rencananya akan disebar di lahan-lahan kritis se-Kabupaten Bandung dengan harapan dapat tumbuh subur dan mengurangi risiko bencana.

Penegakan Hukum yang Lemah

Dari sejumlah kasus kerusakan lingkungan—mulai dari persoalan sampah, pembangunan properti yang tidak sesuai izin, hingga perusakan hutan—hanya segelintir yang diproses hukum hingga tuntas.

Sejauh ini, baru beberapa kasus yang ditangani aparat penegak hukum, seperti penetapan tersangka tambang ilegal di Soreang, penambangan emas ilegal di Kutawaringin, serta perusakan kebun teh di Pangalengan yang proses hukumnya berlanjut.

Namun, jika dibandingkan dengan banyaknya kasus yang terjadi, jumlah perkara yang ditangani masih sangat minim. Dalam kasus perusakan kebun teh misalnya, hingga kini baru enam orang yang ditetapkan sebagai tersangka, padahal luas lahan yang dirusak mencapai ratusan hektare dan telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Lemahnya penanganan kasus lingkungan ini disoroti oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv. Ia meminta aparat kepolisian mengusut tuntas seluruh kasus perusakan lingkungan.

Dalam kasus perusakan kebun teh, Rajiv menduga masih terdapat aktor-aktor lain yang terlibat namun belum tersentuh hukum.

"Setiap tindakan perusakan lahan, harus dipandang sebagai ancaman serius," ujarnya.

Keseriusan tersebut, menurutnya, harus ditunjukkan aparat penegak hukum melalui pengusutan yang menyeluruh dan adil. Jika penegakan hukum dilakukan secara uji petik dan tebang pilih, kerusakan lingkungan akan terus berulang, dan Bandung ke depan berpotensi berubah menjadi lautan bencana.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)