Beralihnya Persawahan Jadi Perumahan di Kabupaten Bandung

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Lahan Persawahan yang Berubah Menjadi Perumahan Al-Maas (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Lahan Persawahan yang Berubah Menjadi Perumahan Al-Maas (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Sekitar lima belas tahun ke belakang, pemandangan dalam foto ini adalah hamparan sawah hijau yang berundak-undak. Setiap pagi pemandangan seperti para petani yang merupakan masyarakat sekitar berjalan tanpa alas kaki, membawa cangkul dan istrinya yang mengikuti dari belakang sambil mengais tempat makan beserta lauknya untuk makan siang.

Dulu kawasan Sukamukti merupakan area yang tentram dan nyaman. Meski terletak di kabupaten Bandung tapi rasanya sedang pulang ke kampung halaman nan jauh di sana. Udara yang sejuk di pagi hari, burung-burung yang beterbangan mencari sumber makanan di sekitar sawah juga hijaunya hamparan sawah yang mengobati rasa lelah dari hirup-pikuk permasalahan hidup.

Berdasarkan beberapa informasi yang pernah saya dengar dari penduduk asli setempat, kawasan Sukamukti sudah sejak lama diminati investor dan kontraktor untuk dijadikan lahan komersial berupa perumahan. Namun kepala desa saat itu tidak menyetujui dengan alasan kelestarian lingkungan dan mempertahankan sumber kehidupan masyarakat sekitar.

Namun setelah berganti kekuasaan, mendadak sejumlah pemilik sawah menjual beberapa lahannya kepada para investor dan kontraktor. Semenjak itu pemandangan itu berubah menjadi puluhan rumah yang berjejer dengan cukup megah.

Permintaan Pasar akan Harga Rumah yang Murah

Di tengah harga lahan yang semakin mahal tentu banyak masyarakat yang menginginkan rumah murah meskipun berada di pelosok suatu daerah.

Dilansir dari CNBC, harga tanah di kota-kota besar Indonesia sudah tinggi dan bersaing dengan Ibu Kota Jakarta. Sementara di Bandung harga tanah sudah mencapai puluhan juta /m2 terutama di lokasi strategis seperti dago dengan harga 50-60 juta/meter.

Di tengah permintaan pasar akan masyarakat yang berbondong-bondong memiliki hunian yang murah. Pihak kontraktor melihat peluang pasar di masa depan yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

Untuk menjual perumahan yang murah tentu diperlukan lahan atau tanah dengan harga paling murah. Sehingga pemilik bisa memenuhi permintaan pasar. Adapun tanah dengan harga murah biasanya terletak di pelosok daerah yang belum begitu diketahui banyak orang.

Daerah pelosok biasanya dipenuhi dengan sejumlah lahan berupa persawahan. Tak heran karena sebagian penduduk sekitar bertumpu pada pekerjaan menjadi petani dan bergantung pada beras untuk perputaran ekonomi. Namun karena profesi petani jarang mendapat kesejahteraan akhirnya mereka terbuai untuk menjual tanahnya dan beralih profesi menjadi pedagang.

Perumahan murah yang berada di pelosok suatu daerah sangat diminati oleh masyarakat perkotaan yang hidup dalam kalangan menengah yang berharap bisa mempunyai rumah hunian yang murah dan lingkungan yang nyaman. Rata-rata yang membeli hunian perumahan Al-Maas berasal dari daerah Kiaracondong, Antapani, Cimahi, Jakarta dan Cibiru.

Permasalahan Baru Ahli Fungsi Tanah

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Persawahan yang berubah fungsi menjadi perumahan tentu punya beberapa dampak bagi lingkungan. Dilansir dari laman website Universitas Panji Sakiti tanah bekas sawah memiliki beberapa karakteristik.

Pertama, kontur tanah yang cenderung padat dan kedap air akibat dari tergenangnya lapisan bawah tanah. Serta berpotensi memiliki lapisan reduksi dan oksidasi juga kandungan organik yang dapat mempengaruhi drainase dan porositasnya. Membuat tanah memiliki kontur yang kurang stabil dan jika dijadikan hunian maka berpotensi amblas jika sebelum dibangun tidak dipadatkan terlebih dulu.

Kedua, menyebabkan kerapuhan. Tanah sawah biasanya gembur karena akan memudahkan akar tumbuh dan menyerap nutrisi. Tanah yang gembur juga meningkatkan sirkulasi udara dan tempat yang nyaman bagi aktivitas mikroorganisme.

Sementara ketika berubah menjadi lahan tempat tinggal, tanah yang gembur tersebut cenderung mudah bergeser dan tidak stabil sehingga menyebabkan keretakan pada pondasi dan dinding bangunan.

Ketiga, adanya potensi air yang kotor. Saya pernah beberapa kali mendengar keluhan dari masyarakat yang baru pindah ke perumahan Al-Maas. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari Cimahi yang di tempat sebelumnya selalu mendapat fasilitas air yang jernih.

Sementara sekarang mengeluh karena air yang kotor, selain sulit digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Air yang kotor mempengaruhi kulit menjadi kering dan kusam bahkan hingga menyebabkan alergi pada beberapa yang punya masalah kulit sensitif.

Selain permasalahan tadi, beralihnya lahan persawahan menjadi perumahan menyebabkan permasalahan baru bagi lingkungan yaitu banjir. Meskipun Sukamukti berada dalam kawasan sungai Citarum tapi sepanjang saya pernah berdomisili di sana saya tidak pernah melihat banjir kecuali pada akhir tahun di bulan Desember.

Sukamukti biasanya hanya kedatangan banjir tahunan karena curah hujan di bulan Desember sangat tinggi itu pun tidak menggenangi rumah para warga hanya air yang meluap dari sungai Citarum menuju jalanan.

Namun setelah alih fungsi lahan tersebut daerah sekitar perumahan jadi banjir yang menyebabkan akses masyarakat terhalang saat hujan. Alih fungsi lahan tersebut menyebabkan berkurangnya daerah resapan air selama hujan. Sehingga air yang turun ke jalanan yang berubah menjadi aspal membuat air menggenang karena tidak bisa menyerap ke dalam tanah.

Manfaat Hadirnya Perumahan di Kawasan Sukamukti

Saat masih SMP daerah Sukamukti terkenal dengan daerah yang rawan dengan tingkat kriminalitas. Jumlah penduduk yang sedikit, lahan yang masih dipenuhi rumput ilalang dan berjejernya hutan bambu menjadi kesempatan bagi begal dan para pencuri untuk beraksi.

Dulu sekitar jam 7 malam, daerah Sukamukti sudah hening dan jarang sekali dilintasi kendaraan seperti motor atau mobil. Berbeda dengan tetangga sebelahnya yaitu Bojong Koneng yang sudah lebih dahulu berkembang secara pesat.

Tidak hanya sepi kawasan Sukamukti juga sangat minim dengan keberadaan warung dan penjual makanan. Beberapa masyarakat Sukamukti yang menginginkan jajanan pasti akan berkunjung ke Bojong Koneng.

Namun semenjak hadirnya perumahan Al-maas-- kawasan Sukamukti menjadi lebih hidup. Bertambahnya jumlah penduduk membuat Sukamukti menjadi tempat yang hangat karena hingga jam 10 malam kawasan ini masih ramai oleh hilir-mudik warga dan kendaraan yang melintas.

Meski masih ada desas-desus begal tapi kejadiannya tidak semasif dahulu. Warga setempat sudah mulai aware dengan tidak keluar di atas jam 12 malam. Beberapa yang menjadi korban biasanya warga di luar Sukamukti yang melintasi tengah malam untuk mencari jalan pintas.

Baca Juga: 'Ngamumule' Seni Sunda untuk Hidup dengan Silat Gajah Putih

Meski banyak dampak buruk dengan hadirnya perumahan tersebut tapi tak dapat dipungkiri perekonomian masyarakat sekitar meningkat dengan ditandai banyaknya warung dan pedagang yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Perubahan memang seringkali membuat hati galau, dalam satu sisi bisa berpotensi terhadap tumbuhnya perekonomian rakyat tapi dampak buruk yang ditimbulkan bagi lingkungan juga tidak main-main. Hal ini menjadi tantangan baru bagaimana masyarakat modern untuk tetap bisa melakukan perubahan tanpa kerusakan dengan meminimalisir dampak buruk yang akan terjadi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)