Jabar Dipecah Jadi 5 Provinsi? Lebih Baik Tambah Kabupaten atau Kota Saja

6 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)

Wacana pemekaran Provinsi Jawa Barat kembali mengemuka. Berbagai nama seperti Sunda Pakuan, Sunda Galuh, atau Priangan Raya mulai digaungkan sebagai provinsi baru.

Narasi ini membawa semangat historis dan kultural yang kuat, tetapi juga perlu diuji efektivitasnya dalam konteks utama: apakah pemekaran provinsi benar-benar akan memperbaiki pelayanan publik?

Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, mendekati 50 juta jiwa. Namun, hanya terdapat 27 kabupaten/kota.

Dibandingkan Jawa Timur yang memiliki 38 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih sedikit, jelas terlihat ketimpangan rasio administratif terhadap jumlah penduduk di Jawa Barat.

Di sinilah urgensi muncul. Beberapa kabupaten seperti Sukabumi, Garut, dan Bogor memiliki wilayah luas, infrastruktur belum merata, serta beban pelayanan yang tinggi.

Tapi pertanyaan besarnya: apakah pemekaran provinsi adalah solusi paling efektif, atau justru pemekaran kabupaten/kota yang lebih berdampak langsung?

Hierarki Pelayanan

Secara regulatif dan fungsional, pelayanan publik yang langsung dirasakan warga seperti pendidikan dasar, layanan kesehatan, kependudukan, dan perizinan berada di bawah kewenangan kabupaten/kota, bukan provinsi.

Pemekaran provinsi akan menambah struktur birokrasi tingkat atas, tetapi tak serta merta memperpendek jarak pelayanan publik kepada masyarakat.

Provinsi memang penting dalam perencanaan wilayah, pengelolaan lingkungan, atau pendidikan menengah atas. Namun, warga desa yang harus menempuh 3–5 jam ke pusat kabupaten hanya untuk membuat KTP, tak akan tertolong hanya karena daerahnya masuk ke provinsi baru.

Artinya, pemekaran provinsi tidak otomatis menyelesaikan persoalan pelayanan dasar. Sebaliknya, pemekaran kabupaten/kota membuka ruang realokasi fiskal, distribusi SDM, dan desentralisasi layanan yang lebih dekat dengan warga.

Efektivitas Pemekaran Kabupaten/Kota

Ilustrasi wilayah kabupaten di Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ramadhani Rafid)
Ilustrasi wilayah kabupaten di Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ramadhani Rafid)

Pengalaman pemekaran di beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat maupun daerah lain menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah pemekaran sangat ditentukan oleh kemampuannya memperpendek rentang kendali pemerintahan dan mempercepat akses layanan dasar.

Wilayah seperti Kabupaten Garut atau Sukabumi, yang luas wilayahnya setara dengan provinsi kecil di Indonesia, menghadapi tantangan serius dalam menjangkau pelayanan publik ke pelosok desa.

Dalam konteks seperti ini, pemekaran kabupaten akan membuat struktur layanan menjadi lebih proporsional, wilayah kerja perangkat daerah lebih terjangkau, dan alokasi anggaran lebih fokus.

Dalam kasus Banjar, setelah pemekaran tahun 2002, pendapatan asli daerah induk justru meningkat karena beban pelayanan berkurang dan konsentrasi pembangunan bisa lebih fokus. Kota Banjar pun tumbuh dengan struktur birokrasi yang lebih lincah dan layanan yang lebih merata.

Di sisi lain, menunjukkan bahwa pemekaran dapat memperkuat kapasitas fiskal daerah asal dan mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah baru, selama dirancang berdasarkan potensi ekonomi lokal dan kesiapan administratif. Yang penting bukan seberapa luas wilayah dipisah, tetapi seberapa siap sistem layanan dibangun sejak awal.

Bandingkan dengan wacana pemekaran provinsi yang membutuhkan pembentukan lembaga pemerintahan baru dari nol. Gubernur, DPRD, OPD, hingga sistem keuangan dan koordinasi regional.

Belum lagi potensi tarik-menarik politik dan fragmentasi identitas yang bisa muncul. Di tengah kebutuhan mendesak akan pelayanan yang cepat dan efisien, pendekatan ini terkesan terlalu mahal dan lambat.

Dengan mempertimbangkan keterbatasan anggaran negara, kompleksitas regulasi, dan moratorium daerah otonomi baru yang belum dicabut, pemekaran kabupaten/kota menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Ia tidak hanya realistis dalam pelaksanaan, tetapi juga langsung menyasar inti persoalan yaitu bagaimana menghadirkan negara di dekat warganya, tanpa menambah lapisan birokrasi yang tak perlu.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Rasa Soto Bandung di Gang Selera Cibadak

Politik Kultural vs Efektivitas Administratif

Wacana membentuk provinsi baru seperti Sunda Pakuan atau Sunda Priangan membawa aspirasi identitas sejarah dan budaya yang sah.

Namun jika pemekaran dilakukan hanya untuk memenuhi aspek simbolik tanpa perhitungan administratif dan fiskal yang kuat, kita berisiko menciptakan struktur birokrasi yang gemuk tapi tidak fungsional.

Secara hukum, moratorium pemekaran daerah otonom baru (DOB) masih berlaku secara nasional, kecuali untuk wilayah prioritas strategis seperti Papua. Maka, meskipun wacana pemekaran provinsi di Jawa Barat ramai di media dan parlemen daerah, secara administratif tetap akan terganjal oleh kebijakan nasional.

Sebaliknya, pemekaran kabupaten/kota masih terbuka jalurnya secara regulasi dan teknokratis. Dengan beban politik yang lebih ringan dan orientasi pada efisiensi pelayanan, pemekaran kabupaten/kota justru lebih sejalan dengan semangat desentralisasi: mendekatkan layanan, bukan menambah struktur.

Di sisi lain, jika narasi kultural dijalankan secara strategis, ia tetap bisa menjadi katalis positif. Aspirasi kebudayaan tidak harus diwujudkan dalam bentuk entitas administratif baru.

Bisa saja melalui revitalisasi budaya lokal, kurikulum muatan lokal, atau pembentukan forum koordinasi antarkabupaten beridentitas budaya serupa. Dengan begitu, nilai-nilai kultural tetap tumbuh, tanpa membebani negara.

Paralel dengan itu, kebijakan pemerintah perlu mendorong pelibatan komunitas budaya dalam pembangunan sosial-ekonomi.

Misalnya melalui festival lintas kabupaten, insentif bagi pelaku seni lokal, hingga integrasi budaya dalam ekonomi kreatif. Dengan demikian, identitas tidak sekadar dilestarikan, tetapi juga diberdayakan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Meluruskan Sejarah Kalender Hijriah

Mendekatkan Pelayanan

Wilayah Jawa Barat tidak membutuhkan lebih banyak gubernur, tetapi lebih banyak bupati dan wali kota yang hadir di tengah masyarakat. Jika tujuan utamanya adalah memperbaiki mutu layanan publik dan memperpendek rentang kendali birokrasi, maka pemekaran kabupaten/kota merupakan pilihan yang lebih relevan, terukur, dan langsung berdampak.

Pertama, pemerintah perlu melakukan pemetaan berbasis data terhadap wilayah kabupaten dengan beban pelayanan tinggi, jarak geografis yang luas, serta potensi fiskal yang memungkinkan kemandirian. Pemetaan ini menjadi dasar objektif untuk menghindari pemekaran yang hanya bermotif politik.

Kedua, sebelum pemekaran dilakukan, perlu ada penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal. Hal ini penting agar daerah hasil pemekaran tidak dilahirkan dalam kondisi lemah secara tata kelola maupun fiskal.

Ketiga, setelah pemekaran, harus dilakukan evaluasi berkala selama lima tahun pertama. Tujuannya adalah untuk mengukur seberapa efektif daerah baru menjalankan fungsi-fungsi pelayanan, serta mendeteksi hambatan yang perlu diatasi secara dini.

Keempat, diperlukan sinergi antarpemerintah—baik pusat, provinsi, maupun kabupaten—dalam membiayai pembangunan infrastruktur dasar dan mendorong pelayanan digital terpadu. Kolaborasi ini akan meringankan beban fiskal dan mempercepat ketersediaan layanan.

Kelima, wacana pemekaran harus dikawal dengan sosialisasi publik yang transparan dan berbasis data. Dengan begitu, masyarakat memahami bahwa pemekaran adalah instrumen reformasi birokrasi dan pelayanan, bukan sekadar agenda elite politik.

Baca Juga: Mengenal ASN Corporate University, Pengembangan Kompetensi ASN Berkelas Dunia

Makna Kehadiran Negara

Negara tak harus diperbesar untuk menjadi dekat. Ia cukup didekatkan dalam bentuk pelayanan yang cepat, akurat, dan inklusif. Pemekaran provinsi seringkali menambah struktur birokrasi, tetapi belum tentu menambah kehadiran negara di desa-desa.

Sebaliknya, pemekaran kabupaten/kota, bila dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, bisa menjadi jembatan paling nyata antara rakyat dan pemerintah.

Negara yang baik bukanlah yang tampak megah di peta, tetapi yang hadir dalam urusan kecil sehari-hari: akta kelahiran yang cepat, sekolah yang mudah dijangkau, dan layanan kesehatan yang tak mempersulit.

Lebih jauh lagi, efektivitas negara tidak diukur dari seberapa besar wilayah administratifnya, melainkan dari seberapa sigap dan adil ia menjangkau warganya.

Dalam konteks itulah, logika desentralisasi harus dibumikan: bukan hanya memindahkan kewenangan, tetapi juga memastikan bahwa kewenangan tersebut sampai pada akar persoalan dan memberi dampak nyata.

Pemekaran kabupaten/kota bukanlah solusi ajaib. Ia tetap membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi antarpihak, dan komitmen jangka panjang.

Namun, jika dilakukan dengan pendekatan data, bukan sekadar dorongan politik sesaat, ia bisa menjadi kanal penting untuk memperkuat demokrasi lokal, membangun birokrasi yang adaptif, dan menjawab tuntutan masyarakat secara lebih tepat.

Di tengah perubahan zaman yang menuntut kecepatan dan kedekatan layanan, inilah saatnya kita menimbang ulang apa arti kehadiran negara—bukan dari jumlah provinsinya, tetapi dari kehadirannya yang nyata di kampung-kampung, pelosok, dan sudut-sudut yang selama ini luput dari perhatian. (*)

Jangan Lewatkan Podcast Terbaru AyoTalk:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)