Cara Kerja Rezim Algoritma

Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan Kamis 21 Agu 2025, 20:18 WIB
Opini ini meninjau kembali kebijakan yang putuskan atas pemblokiran rekening bank oleh pemerintah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Opini ini meninjau kembali kebijakan yang putuskan atas pemblokiran rekening bank oleh pemerintah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Bayangkan, jika di antara kita bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Tapi tiba-tiba, ATM kita menolak akses. Uang tak bisa ditarik. Saldo utuh, tapi tak tersentuh. Tak ada peringatan, tak ada penjelasan. Hanya satu pesan, “Transaksi tidak dapat diproses.”

Inilah wajah baru dari rasa tidak berdaya, bukan karena kekurangan uang, tapi karena negara (melalui sistem perbankan) tiba-tiba mencabut hak kita atas uang sendiri. Dengan alasan yang bahkan sama sekali tidak kita pahami.

Kita hidup di era digital, di mana teknologi, termasuk algoritma pendeteksi transaksi mencurigakan, disebut sebagai benteng melawan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan kejahatan keuangan. Niatnya bagus. Tapi seperti pisau bermata dua, teknologi yang tak memahami konteks justru bisa memotong yang salah.

Tidak mustahil akan banyak rakyat biasa yang jadi korban sistem yang terlalu otomatis, terlalu kaku, dan minim empati. Dan inilah paradoks yang menggelitik: kita membangun sistem untuk melindungi masyarakat dari kejahatan, tapi sistem itu malah menciptakan ketidakadilan baru bagi yang paling rentan.

Masalah utamanya bukan niat, tapi cara. Saat algoritma jadi hakim dan jaksa, siapa yang memastikan keadilan ditegakkan? Sistem otomatis tidak bisa membedakan mana transaksi mencurigakan dan mana hasil panen, warisan, atau penjualan tanah. Dan ketika rekening diblokir, yang terjadi bukan perlindungan, tapi pemiskinan mendadak.

Lebih tragis lagi, proses pemulihan akses ke rekening sering kali lebih rumit daripada mengurus surat tanah. Rakyat kecil dipaksa membawa tumpukan dokumen, bolak-balik ke bank, dan mengisi formulir yang bahkan pegawai bank sendiri kadang tidak bisa jelaskan dengan jelas.

Sementara itu, kebutuhan hidup terus berjalan. Anak butuh susu. Dagangan butuh modal. Tapi rekening tetap terkunci, seolah-olah pelakunya penjahat kelas kakap.

Ironis, karena para penjahat keuangan sejati, dengan kuasa dan celah hukum di tangan, seringkali lolos. Yang terjerat? Justru mereka yang tidak tahu-menahu, yang hanya melakukan transaksi sehari-hari. Lebih ironis lagi, tak ada transparansi soal bagaimana sistem ini bekerja.

Tidak ada kriteria jelas soal nominal mencurigakan, atau pola transfer yang dianggap tidak wajar. Masyarakat berjalan di lorong gelap dan tak tahu kapan langkahnya akan menginjak ranjau kebijakan.

Solusinya saya pikir tidak begitu sulit, jika kita benar-benar ingin mengubahnya.

Pertama, transparansi proses. Setiap pemblokiran harus disertai pemberitahuan resmi dan alasan yang dapat dipahami.

Kedua, jalur banding yang cepat dan manusiawi. Masyarakat harus punya akses untuk membela diri tanpa harus melawan birokrasi berlapis.

Baca Juga: Investor Rugi, Negara Untung? Menakar Keadilan Pajak Kripto

Ketiga, edukasi publik yang massif, agar orang tahu batasan dan bisa menghindari jebakan tak sengaja. Dan yang paling penting: sentuhan manusia dalam sistem. Karena keadilan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mesin. Ada konteks, ada cerita, ada kehidupan nyata di balik setiap angka di layar.

Sedangkan negara punya tanggung jawab bukan hanya untuk melindungi dari kejahatan, tapi juga memastikan bahwa warganya tidak dikorbankan oleh sistem yang dibuat untuk menegakkan hukum. Jangan sampai demi mengejar penjahat, kita malah menembak rakyat sendiri.

Karena, kebijakan yang adil bukan hanya soal seberapa kuat ia menindak, tapi seberapa bijak ia membedakan dan memberi perhatian. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Taufik Hidayat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 11 Mar 2026, 10:12

Pesona Batu Tumpang di Perkebunan Teh yang Bisa Melihat Pantai Selatan

Batu Tumpang di Garut Selatan menawarkan pemandangan unik berupa batu raksasa di tengah hamparan perkebunan teh. Dari puncaknya, pengunjung bahkan bisa melihat garis biru Pantai Selatan saat cerah.

Batu Tumpang (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 09:16

Air Lindih Menggenang di Jalan Pasar Gedebage, Warga Siap Laporkan ke Polda Jabar

Kondisi sampah di kawasan Pasar Gedebage, Kota Bandung, kembali dikeluhkan para pedagang pada pekan ini.

Satu sudut pasar Gedebage yang digenangi air lindih dari sampah. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Sejarah 10 Mar 2026, 14:59

Sejarah Supersemar, Dokumen Kontroversial Fondasi 3 Dekade Kekuasaan Rezim Orde Baru

Supersemar 11 Maret 1966 menjadi dasar politik lahirnya Orde Baru dan awal kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

Ilustrasi Supersemar, dokumen yang hingga kini keberadaannya kontroversial.
Beranda 10 Mar 2026, 12:47

Balap Lari Tengah Malam di Gudsel dan Ciumbuleuit, Cara Anak Muda Bandung Menunggu Sahur

Balap lari jalanan Gudsel Run Race di Gudang Selatan Bandung menjadi hiburan malam Ramadan bagi anak muda, menghadirkan lomba lari spontan yang ramai penonton hingga menjelang sahur.

Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 12:08

Ngabuburit Membaca Buku 'Ramadhan di Priangan'

Buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto.

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)
Linimasa 10 Mar 2026, 10:37

Menyoal Kebiasaan Melawan Arus di Rancaekek

Jalan Raya Bandung–Garut di Rancaekek kerap dipenuhi pengendara motor yang melawan arus. Selain membahayakan, kebiasaan ini dipicu jarak putaran kendaraan yang jauh serta minimnya pengawasan.

Para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)