AYOBANDUNG.ID - Menghadapi potensi kemarau panjang yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung terus memperkuat kapasitas penanganan di wilayah perkotaan yang kian kompleks.
Penguatan dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, sarana prasarana, hingga strategi operasional di lapangan. Tantangan utama dalam proses pemadaman bukan hanya pada jumlah armada, tetapi juga pada kemampuan petugas dalam menjangkau dan memanfaatkan sumber air secara cepat dan efektif.
Sekretaris Diskar PB Kota Bandung, Kurniawan, menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan ketersediaan pasokan air saat terjadi insiden.

"Tentu kita melakukan pengembangan, baik dari personel maupun armada mobil pemadam kebakaran. Namun, yang paling krusial adalah kemampuan kita dalam menguasai dan mengakses sumber air di lokasi kejadian,” ujarnya, Selasa (28/04/2026).
Diskar PB Kota Bandung menyebutkan bahwa dalam praktik di lapangan, akses terhadap sumber air sering kali menjadi kendala utama, terutama di kawasan padat penduduk yang minim fasilitas hidran. Selama ini, pihaknya mengandalkan pemetaan titik berdasarkan pengalaman penanganan sebelumnya sebagai acuan utama operasi.
"Berdasarkan pengalaman operasi pemadaman selama ini, kami melakukan pemetaan titik hidran dan sumber air lainnya mengacu pada data historis penanganan di lapangan, termasuk titik-titik di kawasan pemukiman vertikal atau rumah bertingkat,” jelas Kurniawan.
Kurniawan menambahkan, pihaknya terus berupaya meningkatkan jumlah dan distribusi hidran di wilayah rawan kebakaran. Selain itu, koordinasi dengan instansi terkait diperkuat guna mendukung ketersediaan air. Menurutnya, jumlah hidran saat ini masih terbatas dan perlu ditambah agar dapat menjangkau seluruh wilayah secara optimal.
"Saat ini jumlahnya berkisar antara 22 hingga 29 titik. Kami juga bekerja sama dengan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) untuk memanfaatkan kolam retensi serta melakukan pemetaan sumber air alami yang berasal dari aliran sungai,” imbuhnya.

Identifikasi sumber air menjadi langkah krusial, terutama menjelang musim kemarau yang berpotensi menurunkan debit air. Proses ini dilakukan secara berkala agar data tetap akurat dan relevan saat dibutuhkan.
"Kami mengidentifikasi titik mana saja yang debit airnya tetap mencukupi saat musim kemarau. Pengecekan ini harus dilakukan secara berkelanjutan; tidak bisa hanya dicek hari ini lalu langsung diandalkan untuk musim kemarau nanti,” ungkapnya.
Pihaknya juga akan melakukan verifikasi ulang terhadap sumber air alami seperti sungai saat kemarau tiba untuk memastikan kelayakannya dalam mendukung operasi pemadaman.
"Nanti saat kemarau tiba, kami akan cek kembali sumber air alami di sungai-sungai. Kami pastikan apakah debitnya masih memadai atau tidak. Jika berkurang, kami harus segera mencari titik sumber air alternatif sebagai tambahan,” tegasnya.
Selain kesiapsiagaan teknis, peran masyarakat sangat vital dalam mencegah kebakaran. Kurniawan mengingatkan bahwa potensi bahaya bisa muncul dari aktivitas sehari-hari, baik dari penggunaan api maupun energi listrik.
"Kepada masyarakat Kota Bandung, potensi kebakaran itu selalu ada karena kita sehari-hari menggunakan api dan listrik. Kami imbau agar selalu waspada dan berhati-hati terhadap segala potensi risiko yang ada,” pungkasnya.
