Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 01 Mei 2026, 04:20 WIB
Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Lebih dari 311 ribu warga Kota Bandung kini masuk kategori lanjut usia. Angka itu setara 12,1 persen dari total penduduk, dengan mayoritas perempuan sebanyak 167.224 jiwa (53,7 persen) dan laki-laki 143.978 jiwa (46,3 persen).

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Kiaracondong menjadi wilayah dengan konsentrasi lansia tertinggi, mencapai 15.620 jiwa. Di tengah besarnya angka itu, potret kehidupan lansia tak hanya soal statistik, tetapi juga perjuangan sehari-hari untuk bertahan.

Salah satunya adalah Slamet (74) yang sudah bangun pukul empat pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap. Setelah salat Subuh, lelaki renta itu mendorong becaknya ke pinggir jalan di kawasan Kiaracondong. Dari sana, ia menunggu penumpang datang, meski tenaga tak lagi sama seperti dulu.

“Bangun pagi jam 03.45, habis salat langsung becak. Kalau sekarang mah dipaksakeun weh, da kalau enggak dipaksa makan dari mana,” katanya sambil tersenyum tipis, Senin, 27 April 2026.

Slamet pengayuk becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Slamet pengayuk becak di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Usia tak lagi muda. Tubuhnya pernah terserang stroke, kaki sering pegal, dan berjalan jauh pun kini mulai berat. Namun, Slamet tetap memilih keluar rumah. Becak menjadi satu-satunya cara untuk tetap menyambung hidup.

“Kadang dapat penumpang, kadang enggak. Pernah sehari enggak dapat sama sekali. Tapi kumaha deui (Mau bagaimana lagi), hidup mah kudu (harus) jalan terus,” ujarnya.

Di tengah laju kota yang semakin cepat, Slamet adalah satu dari ribuan lansia di Kiaracondong yang masih bertahan dengan caranya sendiri. Secara demografi, kelompok usia 60–64 tahun menjadi yang terbesar di Kota Bandung, mencapai 111.675 jiwa, disusul usia 65–69 tahun sebanyak 85.335 jiwa, 70–74 tahun 56.262 jiwa, dan 75 tahun ke atas 57.930 jiwa. Angka-angka ini menggambarkan bahwa kelompok usia lanjut masih cukup produktif, meski tantangan fisik mulai membatasi.

Menurut Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kiaracondong, Maman Suherman (52), tingginya jumlah lansia di wilayahnya menjadi perhatian tersendiri.

“Kalau untuk lansia di Kiaracondong, alhamdulillah secara garis besar sehat dan bahagia. Memang ada persoalan-persoalan yang dihadapi, tapi kami terus berupaya agar mereka tetap aktif dan merasa diperhatikan,” kata Maman.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kiaracondong, Maman Suherman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kiaracondong, Maman Suherman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Meski begitu, ia mengakui persoalan yang paling sering muncul tetap berkaitan dengan kesehatan, sejalan dengan meningkatnya jumlah lansia di kota ini.

“Masalah yang paling utama adalah kesehatan. Kalau yang sering saya lihat, banyak lansia yang mengalami darah tinggi. Jadi, perlu pemantauan dan kegiatan rutin,” ujarnya.

Tak jauh dari sana, Sodikin (70) masih bekerja sebagai petugas kebersihan atau gober di wilayah Sukapura. Warga asli Kiaracondong itu masih menjalani hari-harinya seperti biasa: bangun pagi, bersiap kerja, lalu pulang saat tugas selesai.

“Kalau ada jadwal kerja, saya bangun pagi. Kalau masuk jam sebelas, kira-kira jam sembilan sudah siap-siap. Kerja mah kerja wae, salami awak masih kuat (selama badan masih kuat),” katanya.

Sodikin tinggal sendiri. Anak-anaknya tinggal tak jauh dari rumah, tetapi ia lebih sering datang mengunjungi mereka. Saat tidak bekerja, waktunya diisi dengan mengobrol bersama tetangga, duduk santai di warung, atau bermain catur.

“Kalau di rumah terus mah bosan. Kadang ngobrol sama tetangga, kadang main catur, kadang jalan-jalan sebentar ka luar,” ujarnya.

Memasuki usia 70 tahun, Sodikin masih menjalani rutinitas sebagai petugas kebersihan di wilayah Sukapura. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Memasuki usia 70 tahun, Sodikin masih menjalani rutinitas sebagai petugas kebersihan di wilayah Sukapura. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di usia sekarang, hal yang paling membuatnya bahagia ternyata sederhana: keluarga.

“Senangnya mah ayeuna gaduh cucu. Ningali incu teh jadi sumanget deui (Senangnya sekarang sudah punya cucu. Kalau melihat dia, jadi semangat lagi). Kalau datang mah rumah jadi rame,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun, menjadi tua juga berarti berdamai dengan tubuh yang mulai melemah.

“Susahnya mah kalau bangun tidur kadang asa (merasa) males. Gigi juga sudah enggak ada, jadi makan susah. Kadang napas juga berat,” ucapnya.

Ia berharap lansia mendapat perhatian lebih besar, terlebih dengan jumlah yang terus meningkat.

“Kalau pemerintah bisa memperhatikan lansia-lansia, ya alhamdulillah. Kadang orang tua teh butuh ditempo, butuh diperhatoskeun (butuh diperhatikan),” katanya.

Data warga lansia di Kota Bandung. (Sumber: Dibuat menggunakan Chat GPT | Foto: Disdukcapil Kota Bandung)
Data warga lansia di Kota Bandung. (Sumber: Dibuat menggunakan Chat GPT | Foto: Disdukcapil Kota Bandung)

Cerita lain datang dari Lili Sutisna (78), warga Cidurian yang sudah tinggal di Kiaracondong sejak 1962. Meski mendekati usia kepala delapan, ia masih aktif dan memilih tidak berdiam diri di rumah.

Rutinitasnya dimulai dini hari. Ia bangun sekitar pukul 00.30, bersiap ke masjid, lalu selepas salat mengurus kebun kecil miliknya sebelum beraktivitas lain.

“Kalau sekarang bangun teh setengah empat. Siap-siap ke masjid, nanti habis salat jalan-jalan dulu, terus ka kebon. Di kebon mah aya sayur saeutik-saeutik (ada sayur-sayuran meski jumlahnya sedikit),” katanya.

Kebun itu tak besar, tetapi cukup membantu kebutuhan rumah tangga. Di tengah kenaikan harga kebutuhan, upaya kecil seperti ini menjadi cara bertahan bagi sebagian lansia.

“Lumayan keur (untuk kebutuhan) dapur. Harga kebutuhan ayeuna mah (sekarang) naek terus, jadi kalau ada kebon bisa ngurangan pengeluaran,” ujarnya.

Lili masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Menurutnya, terus bergerak justru membuat badan tetap terasa segar—sejalan dengan upaya menjaga kualitas hidup di usia lanjut.

“Kalau di rumah wae malah teu ngeunah (bosan). Mending bergerak, kerja saeutik-saeutik (sedikit-sedikit), badan jadi karasa sehat,” katanya.

Namun, di balik aktivitasnya, ia juga membawa keluhan soal kesehatan. Lili mengidap darah tinggi dan harus rutin kontrol.

“Biasanya dulu dikasih obat sebulan. Sekarang cuma 10 hari, sisanya harus beli sendiri. Jadi ya diatur-atur lagi pengeluaran,” katanya.

Meski demikian, ia tak ingin terlalu banyak mengeluh.

“Cukup enggak cukup dicukup-cukupin. Namanya hidup, harus dijalani,” ujarnya.

Bagi Slamet, usia tua bukan hanya soal tubuh yang menurun, tetapi juga tentang sepi yang datang perlahan. Anak-anaknya tinggal di Garut, Banjaran, Jakarta, dan Bekasi. Mereka tak sering pulang.

“Paling kalau Lebaran datang. Dua hari di sini, habis itu balik lagi. Ketemu anak kadang setahun sekali,” katanya.

Meski begitu, ia tetap merasa bahagia karena anak-anak dan cucunya masih menyayanginya.

“Biar harta enggak punya, asal anak sama cucu sayang ka kolotna (ke orang tuanya), itu sudah senang. Saya mah enggak mikir muluk-muluk,” ujarnya.

Yang paling berat baginya justru urusan ekonomi.

“Sekarang mah berat pisan. Harga-harga naik terus. Kalau dapat uang 40 ribu, dipakai sebagian, sisanya disimpan buat besok kalau enggak dapat penumpang,” katanya.

Ia lalu memberi pesan untuk generasi muda.

“Kalau anak muda mah kerja aja dulu. Jangan gengsi. Jangan nanya gaji dulu berapa. Yang penting jujur, rajin, nanti juga ada jalannya,” ucap Slamet.

Dengan jumlah lansia yang besar, tantangan ke depan bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana memastikan mereka tetap sehat, aktif, dan merasa dihargai.

Pemerintah Kecamatan Kiaracondong mengaku berupaya menghadirkan ruang nyaman bagi lansia. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari sekolah lansia, senam rutin, pengajian, hingga rekreasi bersama.

“Kami punya Sekolah Lansia, ada senam, pengajian, juga kegiatan healing. Harapan saya sederhana, semua lansia di Kecamatan Kiaracondong bahagia,” kata Maman.

Menurutnya, para lansia perlu ruang untuk tetap aktif, berkumpul, dan merasa dihargai.

“Kalau mereka sering kumpul, bergerak, dan punya kegiatan, itu bagus untuk kesehatan fisik maupun mental,” ujarnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)