AYOBANDUNG.ID - Lebih dari 311 ribu warga Kota Bandung kini masuk kategori lanjut usia. Angka itu setara 12,1 persen dari total penduduk, dengan mayoritas perempuan sebanyak 167.224 jiwa (53,7 persen) dan laki-laki 143.978 jiwa (46,3 persen).
Dari jumlah tersebut, Kecamatan Kiaracondong menjadi wilayah dengan konsentrasi lansia tertinggi, mencapai 15.620 jiwa. Di tengah besarnya angka itu, potret kehidupan lansia tak hanya soal statistik, tetapi juga perjuangan sehari-hari untuk bertahan.
Salah satunya adalah Slamet (74) yang sudah bangun pukul empat pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap. Setelah salat Subuh, lelaki renta itu mendorong becaknya ke pinggir jalan di kawasan Kiaracondong. Dari sana, ia menunggu penumpang datang, meski tenaga tak lagi sama seperti dulu.

“Bangun pagi jam 03.45, habis salat langsung becak. Kalau sekarang mah dipaksakeun weh, da kalau enggak dipaksa makan dari mana,” katanya sambil tersenyum tipis, Senin, 27 April 2026.

Usia tak lagi muda. Tubuhnya pernah terserang stroke, kaki sering pegal, dan berjalan jauh pun kini mulai berat. Namun, Slamet tetap memilih keluar rumah. Becak menjadi satu-satunya cara untuk tetap menyambung hidup.
“Kadang dapat penumpang, kadang enggak. Pernah sehari enggak dapat sama sekali. Tapi kumaha deui (Mau bagaimana lagi), hidup mah kudu (harus) jalan terus,” ujarnya.
Di tengah laju kota yang semakin cepat, Slamet adalah satu dari ribuan lansia di Kiaracondong yang masih bertahan dengan caranya sendiri. Secara demografi, kelompok usia 60–64 tahun menjadi yang terbesar di Kota Bandung, mencapai 111.675 jiwa, disusul usia 65–69 tahun sebanyak 85.335 jiwa, 70–74 tahun 56.262 jiwa, dan 75 tahun ke atas 57.930 jiwa. Angka-angka ini menggambarkan bahwa kelompok usia lanjut masih cukup produktif, meski tantangan fisik mulai membatasi.
Menurut Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kiaracondong, Maman Suherman (52), tingginya jumlah lansia di wilayahnya menjadi perhatian tersendiri.
“Kalau untuk lansia di Kiaracondong, alhamdulillah secara garis besar sehat dan bahagia. Memang ada persoalan-persoalan yang dihadapi, tapi kami terus berupaya agar mereka tetap aktif dan merasa diperhatikan,” kata Maman.

Meski begitu, ia mengakui persoalan yang paling sering muncul tetap berkaitan dengan kesehatan, sejalan dengan meningkatnya jumlah lansia di kota ini.
“Masalah yang paling utama adalah kesehatan. Kalau yang sering saya lihat, banyak lansia yang mengalami darah tinggi. Jadi, perlu pemantauan dan kegiatan rutin,” ujarnya.
Tak jauh dari sana, Sodikin (70) masih bekerja sebagai petugas kebersihan atau gober di wilayah Sukapura. Warga asli Kiaracondong itu masih menjalani hari-harinya seperti biasa: bangun pagi, bersiap kerja, lalu pulang saat tugas selesai.
“Kalau ada jadwal kerja, saya bangun pagi. Kalau masuk jam sebelas, kira-kira jam sembilan sudah siap-siap. Kerja mah kerja wae, salami awak masih kuat (selama badan masih kuat),” katanya.
Sodikin tinggal sendiri. Anak-anaknya tinggal tak jauh dari rumah, tetapi ia lebih sering datang mengunjungi mereka. Saat tidak bekerja, waktunya diisi dengan mengobrol bersama tetangga, duduk santai di warung, atau bermain catur.
“Kalau di rumah terus mah bosan. Kadang ngobrol sama tetangga, kadang main catur, kadang jalan-jalan sebentar ka luar,” ujarnya.

Di usia sekarang, hal yang paling membuatnya bahagia ternyata sederhana: keluarga.
“Senangnya mah ayeuna gaduh cucu. Ningali incu teh jadi sumanget deui (Senangnya sekarang sudah punya cucu. Kalau melihat dia, jadi semangat lagi). Kalau datang mah rumah jadi rame,” katanya sambil tertawa kecil.
Namun, menjadi tua juga berarti berdamai dengan tubuh yang mulai melemah.
“Susahnya mah kalau bangun tidur kadang asa (merasa) males. Gigi juga sudah enggak ada, jadi makan susah. Kadang napas juga berat,” ucapnya.
Ia berharap lansia mendapat perhatian lebih besar, terlebih dengan jumlah yang terus meningkat.
“Kalau pemerintah bisa memperhatikan lansia-lansia, ya alhamdulillah. Kadang orang tua teh butuh ditempo, butuh diperhatoskeun (butuh diperhatikan),” katanya.

Cerita lain datang dari Lili Sutisna (78), warga Cidurian yang sudah tinggal di Kiaracondong sejak 1962. Meski mendekati usia kepala delapan, ia masih aktif dan memilih tidak berdiam diri di rumah.
Rutinitasnya dimulai dini hari. Ia bangun sekitar pukul 00.30, bersiap ke masjid, lalu selepas salat mengurus kebun kecil miliknya sebelum beraktivitas lain.
“Kalau sekarang bangun teh setengah empat. Siap-siap ke masjid, nanti habis salat jalan-jalan dulu, terus ka kebon. Di kebon mah aya sayur saeutik-saeutik (ada sayur-sayuran meski jumlahnya sedikit),” katanya.
Kebun itu tak besar, tetapi cukup membantu kebutuhan rumah tangga. Di tengah kenaikan harga kebutuhan, upaya kecil seperti ini menjadi cara bertahan bagi sebagian lansia.
“Lumayan keur (untuk kebutuhan) dapur. Harga kebutuhan ayeuna mah (sekarang) naek terus, jadi kalau ada kebon bisa ngurangan pengeluaran,” ujarnya.
Lili masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Menurutnya, terus bergerak justru membuat badan tetap terasa segar—sejalan dengan upaya menjaga kualitas hidup di usia lanjut.
“Kalau di rumah wae malah teu ngeunah (bosan). Mending bergerak, kerja saeutik-saeutik (sedikit-sedikit), badan jadi karasa sehat,” katanya.
Namun, di balik aktivitasnya, ia juga membawa keluhan soal kesehatan. Lili mengidap darah tinggi dan harus rutin kontrol.
“Biasanya dulu dikasih obat sebulan. Sekarang cuma 10 hari, sisanya harus beli sendiri. Jadi ya diatur-atur lagi pengeluaran,” katanya.
Meski demikian, ia tak ingin terlalu banyak mengeluh.
“Cukup enggak cukup dicukup-cukupin. Namanya hidup, harus dijalani,” ujarnya.
Bagi Slamet, usia tua bukan hanya soal tubuh yang menurun, tetapi juga tentang sepi yang datang perlahan. Anak-anaknya tinggal di Garut, Banjaran, Jakarta, dan Bekasi. Mereka tak sering pulang.
“Paling kalau Lebaran datang. Dua hari di sini, habis itu balik lagi. Ketemu anak kadang setahun sekali,” katanya.
Meski begitu, ia tetap merasa bahagia karena anak-anak dan cucunya masih menyayanginya.

“Biar harta enggak punya, asal anak sama cucu sayang ka kolotna (ke orang tuanya), itu sudah senang. Saya mah enggak mikir muluk-muluk,” ujarnya.
Yang paling berat baginya justru urusan ekonomi.
“Sekarang mah berat pisan. Harga-harga naik terus. Kalau dapat uang 40 ribu, dipakai sebagian, sisanya disimpan buat besok kalau enggak dapat penumpang,” katanya.
Ia lalu memberi pesan untuk generasi muda.
“Kalau anak muda mah kerja aja dulu. Jangan gengsi. Jangan nanya gaji dulu berapa. Yang penting jujur, rajin, nanti juga ada jalannya,” ucap Slamet.
Dengan jumlah lansia yang besar, tantangan ke depan bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana memastikan mereka tetap sehat, aktif, dan merasa dihargai.
Pemerintah Kecamatan Kiaracondong mengaku berupaya menghadirkan ruang nyaman bagi lansia. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari sekolah lansia, senam rutin, pengajian, hingga rekreasi bersama.
“Kami punya Sekolah Lansia, ada senam, pengajian, juga kegiatan healing. Harapan saya sederhana, semua lansia di Kecamatan Kiaracondong bahagia,” kata Maman.
Menurutnya, para lansia perlu ruang untuk tetap aktif, berkumpul, dan merasa dihargai.
“Kalau mereka sering kumpul, bergerak, dan punya kegiatan, itu bagus untuk kesehatan fisik maupun mental,” ujarnya.
