Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Lembur Jurig Kiaracondong: Rumah Hantu dalam Gang, Penggerak Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi Warga

Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan Selasa 21 Okt 2025, 09:15 WIB
Karang Taruna di RW 5 Sukapura, Kecamatan Kiaracondong menggelar Lembur Jurig setiap sabtu malam yang diminati ratusan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Karang Taruna di RW 5 Sukapura, Kecamatan Kiaracondong menggelar Lembur Jurig setiap sabtu malam yang diminati ratusan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Langit malam Minggu lalu yang cerah di RW 05 Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, seketika berubah menjadi malam yang mencekam bagi para peserta uji nyali rumah hantu “Lembur Jurig”. Di Jalan Sukapura menuju Gang Gepe, barisan peserta—kebanyakan anak-anak—mengular menunggu gerbang dunia lain dibuka.

Saat panitia masih bersiap, hujan deras tiba-tiba turun pukul 19.30 WIB, tepat sebelum acara Lembur Jurig dimulai. Anak-anak berhamburan dari meja pendaftaran mencari tempat berteduh.

Panitia Lembur Jurig sempat panik, khawatir hujan tak kunjung reda. Para pemain hantu seperti pocong dan kuntilanak yang sudah berdandan pun ikut berlarian mencari tempat aman.

“Semoga cepat reda, meskipun vibes-nya akan menambah kehororan, tapi kalau deras banget kasian talent dan peserta,” kata Ketua Karang Taruna RW 05 Sukapura, Radew (26), dengan tenang di belakang panggung, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Harap-cemas dan keyakinan bahwa hujan akan berhenti tepat pukul 20.00 WIB terdengar di ruang belakang Balai RW 05. Panitia dan para hantu berharap Tuhan mendengar doa mereka malam itu.

Sembilan menit kemudian, doa itu terkabul. Hujan berhenti dan mereka kembali ke pos masing-masing. Meski ada peserta yang pulang, tak sedikit yang tetap bertahan menunggu pintu gerbang dibuka.

Seorang pemuda mempersiapkan hiasan untuk membuat kesan Lembur Jurig semakin seram. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Seorang pemuda mempersiapkan hiasan untuk membuat kesan Lembur Jurig semakin seram. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Kolaborasi

Ketenangan saat kondisi di luar kendali itu hadir dari sosok konseptor Lembur Jurig, Indra Lesmana (34). Bukan warga asli RW 05, pria asal Pasir Koja itu bercerita tentang bagaimana konsep rumah hantu dalam gang ini tercetus untuk menggerakkan ekonomi, kreativitas, dan wisata malam bagi warga yang terlibat.

"Nama Kampung Setan muncul di awal, tapi kemudian karena kami di Bandung dan orang Sunda, maka biar lebih lokal akhirnya dipilih nama Lembur Jurig," kata Indra.

Indra yang tampil seperti seniman—selendang di leher, dan tas kecil di pinggang mirip gaya Ariel saat masih di band Peterpan dulu—mengisahkan bahwa pertemuan konsep Lembur Jurig dengan RW 05 Sukapura berawal dari obrolan dari teman ke teman.

"Setiap acara 17 Agustusan, karang taruna di sini selalu mengadakan acara puncak yang diisi oleh penampilan kesenian. Ketika konsep rumah hantu dalam gang ini disodorkan, Adew sebagai perantara dengan warga mendapat dukungan," ujar pria lulusan sekolah multimedia tersebut.

Akhirnya, pada akhir Agustus 2025, season pertama episode pertama berjudul “Sasat Sandekala” resmi dibuka. Sebanyak 80 tiket seharga Rp5 ribu habis terjual, bahkan episode kedua mencapai 130 tiket. Pada season kedua bertajuk “Penjara Arwah Tumbal”, episode pertama menjual 160 tiket, dan episode kedua 80 tiket.

Hingga kini, Lembur Jurig telah digelar empat kali dan total 450 tiket ludes terjual.

"Season awal gang yang kami pakai itu berjarak 240 meter, untuk season kedua lebih pendek jadi 140 meteran. Pemilihan gang pun berdasarkan urban atau cerita horor masyarakat di sini," tuturnya.

Meski mendapat dukungan warga, Indra mengisahkan bahwa di season awal hampir seluruh talent jurig mengalami kesurupan massal. Peristiwa di luar kendali itu membuat suasana semakin mencekam. Beruntung, ada sesepuh yang juga menjadi penasihat dan membantu mengendalikan situasi.

"Wah itu chaos, awalnya ada talent satu perempuan menangis, terus merembet ke talent yang lain. Acara kami setop dulu, nah itu bingung juga soalnya peserta udah numpuk di luar," katanya.

Seorang pemain hantu-hantuan Lembur Jurig merias wajahnya agar bisa tampil menakutkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Seorang pemain hantu-hantuan Lembur Jurig merias wajahnya agar bisa tampil menakutkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Pasar Malam dan Ekonomi yang Bergerak

Secara ekonomi, Lembur Jurig menjadi ladang penghasilan bagi anggota Karang Taruna RW 05. Uang dari penjualan tiket dikumpulkan untuk membeli make-up artistik, perlengkapan, dan properti pendukung.

Para pemeran jurig, penata rias, pemusik, hingga penata artistik tak menggunakan jasa luar. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari persiapan hingga penutupan yang biasanya selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Alhasil, uang dari tiket kembali berputar untuk gelaran berikutnya.

"Uang yang terkumpul juga dibelikan lagi make-up, properti, dan artistik lain. Karena pengelola juga anggota karang taruna, kalau ada lebihnya pun kami tabung untuk kas," kata Radew menambahkan.

"Jadi kami enggak mau setiap ada acara Karang Taruna itu minta sumbangan ke warga," tegasnya.

Radew menjelaskan bahwa tujuan Lembur Jurig bukan sekadar mencari profit, tetapi juga menyalurkan kreativitas anak-anak muda untuk berkarya. Meski ada nilai ekonomi, itu bukan tujuan utama.

Di sisi lain, Radew yang berlatar pendidikan manajemen berharap suatu hari bisa menghadirkan pasar malam yang melibatkan UMKM, terutama warga sekitar RW 05.

"Di depan kan ada lapang, mimpi besar saya sebetulnya bisa membuat pasar malam. Ekonomi warga bisa ikut bergerak mungkin karena ada lapak berjualan. Untuk sekarang kan rata-rata pedagang yang dari luar aja, bukan warga sini," ucapnya.

"Saya asli orang sini, jadinya bangga aja bisa menggerakan muda-mudi untuk berkarya. Makanya setiap ada kegiatan yang positif, saya mah gas," sambungnya.

Gang yang dijadikan lokasi Lembur Jurig. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Gang yang dijadikan lokasi Lembur Jurig. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tiga bulan berjalan, Lembur Jurig melejit dari segi peminat, interaksi di media sosial, hingga menjadi percontohan bagi karang taruna lain di Kiaracondong.

Dalam empat kali event jumlah tiket yang ludes dijual bisa mencapai 450 lembar. Selain itu, pengikut di akun Instagram lemburjurig terus bertambah hingga sekarang mencapai 4.252. Acara ini juga inspirasi bagi wilayah lain. Ini menjadi capaian positif yang patut dijaga.

"Dari wisata malam ke kemandirian ekonomi warga. Itu yang kami rencanakan. Meski masih skala kecil, Lembur Jurig telah menjadi buah bibir di karang taruna lain, mereka penasaran dan ingin mencontoh bagaimana bisa kami berproduksi," tutur Adew.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)