Lembur Jurig Kiaracondong: Rumah Hantu dalam Gang, Penggerak Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi Warga

4 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Karang Taruna di RW 5 Sukapura, Kecamatan Kiaracondong menggelar Lembur Jurig setiap sabtu malam yang diminati ratusan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Karang Taruna di RW 5 Sukapura, Kecamatan Kiaracondong menggelar Lembur Jurig setiap sabtu malam yang diminati ratusan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Langit malam Minggu lalu yang cerah di RW 05 Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, seketika berubah menjadi malam yang mencekam bagi para peserta uji nyali rumah hantu “Lembur Jurig”. Di Jalan Sukapura menuju Gang Gepe, barisan peserta—kebanyakan anak-anak—mengular menunggu gerbang dunia lain dibuka.

Saat panitia masih bersiap, hujan deras tiba-tiba turun pukul 19.30 WIB, tepat sebelum acara Lembur Jurig dimulai. Anak-anak berhamburan dari meja pendaftaran mencari tempat berteduh.

Panitia Lembur Jurig sempat panik, khawatir hujan tak kunjung reda. Para pemain hantu seperti pocong dan kuntilanak yang sudah berdandan pun ikut berlarian mencari tempat aman.

“Semoga cepat reda, meskipun vibes-nya akan menambah kehororan, tapi kalau deras banget kasian talent dan peserta,” kata Ketua Karang Taruna RW 05 Sukapura, Radew (26), dengan tenang di belakang panggung, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Harap-cemas dan keyakinan bahwa hujan akan berhenti tepat pukul 20.00 WIB terdengar di ruang belakang Balai RW 05. Panitia dan para hantu berharap Tuhan mendengar doa mereka malam itu.

Sembilan menit kemudian, doa itu terkabul. Hujan berhenti dan mereka kembali ke pos masing-masing. Meski ada peserta yang pulang, tak sedikit yang tetap bertahan menunggu pintu gerbang dibuka.

Seorang pemuda mempersiapkan hiasan untuk membuat kesan Lembur Jurig semakin seram. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Seorang pemuda mempersiapkan hiasan untuk membuat kesan Lembur Jurig semakin seram. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Kolaborasi

Ketenangan saat kondisi di luar kendali itu hadir dari sosok konseptor Lembur Jurig, Indra Lesmana (34). Bukan warga asli RW 05, pria asal Pasir Koja itu bercerita tentang bagaimana konsep rumah hantu dalam gang ini tercetus untuk menggerakkan ekonomi, kreativitas, dan wisata malam bagi warga yang terlibat.

"Nama Kampung Setan muncul di awal, tapi kemudian karena kami di Bandung dan orang Sunda, maka biar lebih lokal akhirnya dipilih nama Lembur Jurig," kata Indra.

Indra yang tampil seperti seniman—selendang di leher, dan tas kecil di pinggang mirip gaya Ariel saat masih di band Peterpan dulu—mengisahkan bahwa pertemuan konsep Lembur Jurig dengan RW 05 Sukapura berawal dari obrolan dari teman ke teman.

"Setiap acara 17 Agustusan, karang taruna di sini selalu mengadakan acara puncak yang diisi oleh penampilan kesenian. Ketika konsep rumah hantu dalam gang ini disodorkan, Adew sebagai perantara dengan warga mendapat dukungan," ujar pria lulusan sekolah multimedia tersebut.

Akhirnya, pada akhir Agustus 2025, season pertama episode pertama berjudul “Sasat Sandekala” resmi dibuka. Sebanyak 80 tiket seharga Rp5 ribu habis terjual, bahkan episode kedua mencapai 130 tiket. Pada season kedua bertajuk “Penjara Arwah Tumbal”, episode pertama menjual 160 tiket, dan episode kedua 80 tiket.

Hingga kini, Lembur Jurig telah digelar empat kali dan total 450 tiket ludes terjual.

"Season awal gang yang kami pakai itu berjarak 240 meter, untuk season kedua lebih pendek jadi 140 meteran. Pemilihan gang pun berdasarkan urban atau cerita horor masyarakat di sini," tuturnya.

Meski mendapat dukungan warga, Indra mengisahkan bahwa di season awal hampir seluruh talent jurig mengalami kesurupan massal. Peristiwa di luar kendali itu membuat suasana semakin mencekam. Beruntung, ada sesepuh yang juga menjadi penasihat dan membantu mengendalikan situasi.

"Wah itu chaos, awalnya ada talent satu perempuan menangis, terus merembet ke talent yang lain. Acara kami setop dulu, nah itu bingung juga soalnya peserta udah numpuk di luar," katanya.

Seorang pemain hantu-hantuan Lembur Jurig merias wajahnya agar bisa tampil menakutkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Seorang pemain hantu-hantuan Lembur Jurig merias wajahnya agar bisa tampil menakutkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Pasar Malam dan Ekonomi yang Bergerak

Secara ekonomi, Lembur Jurig menjadi ladang penghasilan bagi anggota Karang Taruna RW 05. Uang dari penjualan tiket dikumpulkan untuk membeli make-up artistik, perlengkapan, dan properti pendukung.

Para pemeran jurig, penata rias, pemusik, hingga penata artistik tak menggunakan jasa luar. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari persiapan hingga penutupan yang biasanya selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Alhasil, uang dari tiket kembali berputar untuk gelaran berikutnya.

"Uang yang terkumpul juga dibelikan lagi make-up, properti, dan artistik lain. Karena pengelola juga anggota karang taruna, kalau ada lebihnya pun kami tabung untuk kas," kata Radew menambahkan.

"Jadi kami enggak mau setiap ada acara Karang Taruna itu minta sumbangan ke warga," tegasnya.

Radew menjelaskan bahwa tujuan Lembur Jurig bukan sekadar mencari profit, tetapi juga menyalurkan kreativitas anak-anak muda untuk berkarya. Meski ada nilai ekonomi, itu bukan tujuan utama.

Di sisi lain, Radew yang berlatar pendidikan manajemen berharap suatu hari bisa menghadirkan pasar malam yang melibatkan UMKM, terutama warga sekitar RW 05.

"Di depan kan ada lapang, mimpi besar saya sebetulnya bisa membuat pasar malam. Ekonomi warga bisa ikut bergerak mungkin karena ada lapak berjualan. Untuk sekarang kan rata-rata pedagang yang dari luar aja, bukan warga sini," ucapnya.

"Saya asli orang sini, jadinya bangga aja bisa menggerakan muda-mudi untuk berkarya. Makanya setiap ada kegiatan yang positif, saya mah gas," sambungnya.

Gang yang dijadikan lokasi Lembur Jurig. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Gang yang dijadikan lokasi Lembur Jurig. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tiga bulan berjalan, Lembur Jurig melejit dari segi peminat, interaksi di media sosial, hingga menjadi percontohan bagi karang taruna lain di Kiaracondong.

Dalam empat kali event jumlah tiket yang ludes dijual bisa mencapai 450 lembar. Selain itu, pengikut di akun Instagram lemburjurig terus bertambah hingga sekarang mencapai 4.252. Acara ini juga inspirasi bagi wilayah lain. Ini menjadi capaian positif yang patut dijaga.

"Dari wisata malam ke kemandirian ekonomi warga. Itu yang kami rencanakan. Meski masih skala kecil, Lembur Jurig telah menjadi buah bibir di karang taruna lain, mereka penasaran dan ingin mencontoh bagaimana bisa kami berproduksi," tutur Adew.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)