Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Kamis 30 Apr 2026, 15:30 WIB
Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Jalan nasional seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas antarwilayah—lancar, cepat, dan aman. Namun, kondisi berbeda justru terlihat di koridor Caringin–Cimareme–Gadobangkong–Cimahi. Jalan yang secara fungsi dirancang sebagai arteri primer ini, dalam praktiknya, lebih menyerupai jalan lokal: dipenuhi aktivitas keluar-masuk kendaraan, angkutan umum berhenti sembarangan, serta simpang yang tidak berfungsi optimal. Akibatnya, kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari, dan kecelakaan lalu lintas terus berulang.

Masalah ini bukan sekadar persepsi. Data IRSMS Korlantas Polri (2024) menunjukkan bahwa dalam setahun terjadi lebih dari 150.000 kecelakaan lalu lintas di Indonesia, dengan korban meninggal dunia mencapai puluhan ribu jiwa. Sepeda motor menjadi kelompok paling rentan (vulnerable road users), terlibat dalam lebih dari 70 persen kasus kecelakaan. Sementara itu, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencatat bahwa jalan arteri dan kolektor nasional memiliki tingkat fatalitas tinggi, terutama pada ruas dengan lalu lintas campuran dan hambatan samping besar.

Di sepanjang ruas ini, akses keluar-masuk dari kawasan industri dan permukiman terjadi tanpa pengaturan yang jelas. Kendaraan bebas masuk dan keluar langsung ke badan jalan utama, memotong arus lalu lintas. Angkutan kota juga kerap berhenti di sembarang titik. Dalam kajian teknik transportasi, kondisi ini dikenal sebagai hambatan samping tinggi, yang secara langsung menurunkan kapasitas jalan dan memperlambat kecepatan arus.

Simpang Tanpa Kendali dan Lalu Lintas Campuran

Situasi semakin kompleks karena semua jenis kendaraan—sepeda motor, mobil pribadi, bus, hingga truk besar—bercampur dalam satu ruang tanpa pemisahan. Perbedaan kecepatan menciptakan konflik yang berujung pada kecelakaan, termasuk kasus fatal pengendara motor yang terlindas kendaraan berat.

Seorang pengendara motor terlintas truk tronton di Jalan Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Instagram/@infobdgbaratcimahi)
Seorang pengendara motor terlintas truk tronton di Jalan Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Instagram/@infobdgbaratcimahi)

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah tidak berfungsinya lampu lalu lintas di beberapa simpang. Alih-alih dikendalikan sistem, arus kendaraan justru diatur secara informal oleh “pak ogah”. Ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan indikasi kegagalan manajemen lalu lintas pada titik dengan konflik tertinggi dalam jaringan jalan.

Padahal, kerangka regulasi di Indonesia sudah sangat jelas. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 203 menegaskan bahwa penyelenggaraan lalu lintas harus menjamin keselamatan lalu lintas. Pasal 93 juga menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam manajemen dan rekayasa lalu lintas, termasuk pengaturan simpang dan pengendalian arus kendaraan.

Saat Standar Tidak Sesuai Kenyataan

Di sisi teknis, standar sebenarnya sudah tersedia. Pedoman seperti PKJI 2023 menegaskan bahwa kapasitas jalan arteri sangat dipengaruhi oleh hambatan samping dan pengendalian akses. Dalam prinsip manajemen akses, jalan arteri seharusnya memiliki akses terbatas dan terkontrol.

Kebijakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum mensyaratkan bahwa jalan nasional harus mampu memberikan tingkat pelayanan tertentu, termasuk kecepatan perjalanan minimal sekitar 60 km/jam untuk arteri primer. Fakta bahwa arus lalu lintas di koridor ini sering tersendat menunjukkan adanya kesenjangan serius antara standar dan kondisi di lapangan.

Selama ini, kemacetan dan kecelakaan sering disederhanakan sebagai akibat perilaku pengguna jalan. Namun, pendekatan ini menutup akar persoalan. Ketidaktertiban memang ada, tetapi sering kali merupakan respons terhadap sistem yang tidak tertata.

Menata Ulang Koridor: Dari Reaktif ke Sistemik

Perbaikan di koridor Caringin–Cimahi tidak bisa lagi bersifat parsial atau reaktif. Dibutuhkan pendekatan sistemik yang menyasar akar masalah.

Langkah jangka pendek dapat dimulai dengan penertiban akses keluar-masuk kendaraan agar tidak langsung terhubung ke jalan utama tanpa pengaturan. Titik berhenti angkutan umum juga perlu ditata secara tegas melalui penyediaan halte resmi dan penegakan aturan di lapangan. Selain itu, fungsi lampu lalu lintas di simpang harus segera dipulihkan agar pengendalian arus kembali berbasis sistem, bukan improvisasi.

Dalam jangka menengah, diperlukan penerapan manajemen akses yang lebih ketat, termasuk pengaturan jarak antar bukaan jalan dan pembatasan titik putar balik. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol pergerakan agar konflik lalu lintas berkurang.

Sementara itu, untuk jangka panjang, pemerintah perlu melakukan penataan koridor secara menyeluruh. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah pemisahan antara lalu lintas jarak jauh dan lalu lintas lokal, misalnya melalui pembangunan frontage road atau jalur pendamping. Dengan demikian, fungsi jalan arteri sebagai penghubung utama dapat dikembalikan tanpa terganggu aktivitas lokal.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan lagi mengapa pengguna jalan melanggar, tetapi mengapa sistem jalan memungkinkan pelanggaran itu terjadi. Tanpa perbaikan yang menyentuh aspek desain dan manajemen lalu lintas, jalan nasional akan terus kehilangan fungsinya—dan kita akan terus menyaksikan jalan arteri yang berasa jalan lokal. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Mei 2026, 14:33

Hardiknas Jangan Sekedar Jadi Kalender

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar penanda kalender.

Sekolah Sabtu-Minggu Odesa di Cisanggarung Wetan, Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Antusias mereka untuk mengenal literasi lebih baik. Bekal mereka untuk tumbuh adaptif. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 12:35

Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

Bandung sebagai kota pendidikan yang masih menghadapi ketimpangan akses, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 10:12

Antrean Solar Subsidi Picu Kemacetan serta Ganggu Angkutan Umum dan Logistrik

Kelangkaan solar subsidi memicu antrean di SPBU, mengganggu operasional angkutan umum, distribusi barang, serta berpotensi menekan ekonomi melalui kenaikan biaya logistik.

Antrean truk yang akan membeli solar subsidi di SPBU Nagreg mengular hingga ke jalan raya, Kamis (30/4/2026) siang. (Sumber: Facebook/Radio Elshinta 90FM)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 08:19

Kebijakan Kriminal dan Kriminalisasi Kebijakan

Kebijakan yang telah ditetapkan dan kemudian diimplementasikannya, dalam prakteknya tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Ilustrasi penjara. (Sumber: Pexels | Foto: Xiaoyi)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 18:51

Tiga Dekade Kepergian Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien lahir dengan nama Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah di Jateng, wilayah Kadipaten Mangkunegaran, Surakarta, 23 Agustus 1923.

Halaman depan berbagai surat kabar nasional yang memberitakan wafatnya Ibu Tien Soeharto pada akhir April 1996. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanunbary)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 19:47

Menilai Peringatan Hardiknas dari Mata Mereka yang Masih Terpinggirkan

Hardiknas bukan sekadar tren, tapi mandat inklusivitas. Meneladani Ki Hajar Dewantara, mari bangun jembatan hak belajar bagi difabel demi memanusiakan manusia tanpa terkecuali.

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.