Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Jalan nasional seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas antarwilayah—lancar, cepat, dan aman. Namun, kondisi berbeda justru terlihat di koridor Caringin–Cimareme–Gadobangkong–Cimahi. Jalan yang secara fungsi dirancang sebagai arteri primer ini, dalam praktiknya, lebih menyerupai jalan lokal: dipenuhi aktivitas keluar-masuk kendaraan, angkutan umum berhenti sembarangan, serta simpang yang tidak berfungsi optimal. Akibatnya, kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari, dan kecelakaan lalu lintas terus berulang.

Masalah ini bukan sekadar persepsi. Data IRSMS Korlantas Polri (2024) menunjukkan bahwa dalam setahun terjadi lebih dari 150.000 kecelakaan lalu lintas di Indonesia, dengan korban meninggal dunia mencapai puluhan ribu jiwa. Sepeda motor menjadi kelompok paling rentan (vulnerable road users), terlibat dalam lebih dari 70 persen kasus kecelakaan. Sementara itu, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencatat bahwa jalan arteri dan kolektor nasional memiliki tingkat fatalitas tinggi, terutama pada ruas dengan lalu lintas campuran dan hambatan samping besar.

Di sepanjang ruas ini, akses keluar-masuk dari kawasan industri dan permukiman terjadi tanpa pengaturan yang jelas. Kendaraan bebas masuk dan keluar langsung ke badan jalan utama, memotong arus lalu lintas. Angkutan kota juga kerap berhenti di sembarang titik. Dalam kajian teknik transportasi, kondisi ini dikenal sebagai hambatan samping tinggi, yang secara langsung menurunkan kapasitas jalan dan memperlambat kecepatan arus.

Simpang Tanpa Kendali dan Lalu Lintas Campuran

Situasi semakin kompleks karena semua jenis kendaraan—sepeda motor, mobil pribadi, bus, hingga truk besar—bercampur dalam satu ruang tanpa pemisahan. Perbedaan kecepatan menciptakan konflik yang berujung pada kecelakaan, termasuk kasus fatal pengendara motor yang terlindas kendaraan berat.

Seorang pengendara motor terlintas truk tronton di Jalan Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Instagram/@infobdgbaratcimahi)
Seorang pengendara motor terlintas truk tronton di Jalan Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Instagram/@infobdgbaratcimahi)

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah tidak berfungsinya lampu lalu lintas di beberapa simpang. Alih-alih dikendalikan sistem, arus kendaraan justru diatur secara informal oleh “pak ogah”. Ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan indikasi kegagalan manajemen lalu lintas pada titik dengan konflik tertinggi dalam jaringan jalan.

Padahal, kerangka regulasi di Indonesia sudah sangat jelas. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 203 menegaskan bahwa penyelenggaraan lalu lintas harus menjamin keselamatan lalu lintas. Pasal 93 juga menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam manajemen dan rekayasa lalu lintas, termasuk pengaturan simpang dan pengendalian arus kendaraan.

Saat Standar Tidak Sesuai Kenyataan

Di sisi teknis, standar sebenarnya sudah tersedia. Pedoman seperti PKJI 2023 menegaskan bahwa kapasitas jalan arteri sangat dipengaruhi oleh hambatan samping dan pengendalian akses. Dalam prinsip manajemen akses, jalan arteri seharusnya memiliki akses terbatas dan terkontrol.

Kebijakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum mensyaratkan bahwa jalan nasional harus mampu memberikan tingkat pelayanan tertentu, termasuk kecepatan perjalanan minimal sekitar 60 km/jam untuk arteri primer. Fakta bahwa arus lalu lintas di koridor ini sering tersendat menunjukkan adanya kesenjangan serius antara standar dan kondisi di lapangan.

Selama ini, kemacetan dan kecelakaan sering disederhanakan sebagai akibat perilaku pengguna jalan. Namun, pendekatan ini menutup akar persoalan. Ketidaktertiban memang ada, tetapi sering kali merupakan respons terhadap sistem yang tidak tertata.

Menata Ulang Koridor: Dari Reaktif ke Sistemik

Perbaikan di koridor Caringin–Cimahi tidak bisa lagi bersifat parsial atau reaktif. Dibutuhkan pendekatan sistemik yang menyasar akar masalah.

Langkah jangka pendek dapat dimulai dengan penertiban akses keluar-masuk kendaraan agar tidak langsung terhubung ke jalan utama tanpa pengaturan. Titik berhenti angkutan umum juga perlu ditata secara tegas melalui penyediaan halte resmi dan penegakan aturan di lapangan. Selain itu, fungsi lampu lalu lintas di simpang harus segera dipulihkan agar pengendalian arus kembali berbasis sistem, bukan improvisasi.

Dalam jangka menengah, diperlukan penerapan manajemen akses yang lebih ketat, termasuk pengaturan jarak antar bukaan jalan dan pembatasan titik putar balik. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol pergerakan agar konflik lalu lintas berkurang.

Sementara itu, untuk jangka panjang, pemerintah perlu melakukan penataan koridor secara menyeluruh. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah pemisahan antara lalu lintas jarak jauh dan lalu lintas lokal, misalnya melalui pembangunan frontage road atau jalur pendamping. Dengan demikian, fungsi jalan arteri sebagai penghubung utama dapat dikembalikan tanpa terganggu aktivitas lokal.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan lagi mengapa pengguna jalan melanggar, tetapi mengapa sistem jalan memungkinkan pelanggaran itu terjadi. Tanpa perbaikan yang menyentuh aspek desain dan manajemen lalu lintas, jalan nasional akan terus kehilangan fungsinya—dan kita akan terus menyaksikan jalan arteri yang berasa jalan lokal. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)