Menilai Peringatan Hardiknas dari Mata Mereka yang Masih Terpinggirkan

Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan Sabtu 02 Mei 2026, 19:47 WIB
Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional yang kerap dipenuhi seremoni dan pidato tentang cita-cita pendidikan, sebuah ruang kecil di gang sempit kawasan Caringin, Bandung, justru menghadirkan makna yang lebih nyata. Selama 23 tahun, tanpa kemewahan dan fasilitas lengkap, tempat itu bertahan dari hal-hal sederhana: suara anak-anak yang belajar dengan caranya sendiri, tangan-tangan kecil yang meraba dan mengenali dunia dengan perlahan.

Di sanalah SLB ABCD Caringin berdiri—bukan sekadar sekolah, tetapi ruang harapan yang lahir dari kegelisahan seorang tunanetra bernama Tatang. Di tengah keterbatasan, ia merawat esensi pendidikan yang sering terlupakan: memberi kesempatan bagi semua, termasuk mereka yang kerap dianggap berbeda, untuk tumbuh, diterima, dan benar-benar menjadi bagian dari dunia yang merayakan pendidikan itu sendiri.

Ruang yang Bertahan Selama 23 Tahun

Di sebuah gang kecil di kawasan Caringin, Bandung, gagasan besar itu menemukan wujudnya yang paling sederhana. Bukan dalam gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap, tapi di ruang-ruang kecil yang dipenuhi dengan suara anak-anak belajar dengan cara mereka sendiri.

Di sinilah SLB ABCD Caringin berdiri. Sebuah tempat yang, meskipun dengan segala keterbatasannya, berusaha mewujudkan makna pendidikan yang sesungguhnya: memberikan kesempatan, bukan hanya sekadar mengajar.

Di aula kecil, beberapa siswa duduk melingkar di atas rumput sintetis. Ada yang merangkai manik-manik, ada yang merajut sesuatu dari bola kain dengan meraba, mengenali, lalu mencoba memahami dengan caranya sendiri. Guru-guru duduk di antara mereka, bukan sebagai pengarah yang kaku, tetapi sebagai pendamping yang sabar.

Di pintu masuk kantor SLB, seorang pria berdiri. Dia adalah pendiri Yayasan Lara Adam Mulia yang menaungi SLB ABCD Caringin, Tatang (57). Seorang tunanetra yang memiliki keterbatasan dalam melihat, tapi dunia pantas melihat niat baik dan perjuangan Tatang.

Sekolah itu berdiri bukan dari rencana besar, melainkan dari kegelisahan yang tumbuh lama sejak Tatang berkuliah di Antropologi Unpad. Tatang mendirikan SLB ABCD Caringin pada 11 Mei 2003, berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai penyandang tunanetra dan dari realitas sosial yang ia saksikan sejak kecil.

“Disabilitas itu manusia biasa. Hak dan kewajibannya sama. Harus dilayani, dilindungi, dirawat,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya yang disulap menjadi kantor yayasan.

“Masyarakat itu belum paham. Maka harus kita beri ilmu pengetahuan,” lanjutnya.

Ia melihat bagaimana difabel sering diperlakukan tidak setara, bahkan di lingkungan terdekatnya. Mulai dari kebingungan banyak orang tua akan sekolah dan masa depan anaknya yang difabel, hingga stigma negatif yang menganggap difabel itu tidak berdaya. Dari situlah muncul keyakinan bahwa perubahan tidak cukup hanya dari sekolah, tetapi juga dari cara pandang masyarakat.

“Banyak orang tua belum sadar. Anak disabilitas itu bukan untuk disingkirkan,” ucap Tatang dengan artikulasinya yang sangat jelas meskipun ia sudah menua. Bagi Tatang, mendirikan sekolah bukan hanya soal menyediakan pendidikan, tetapi juga membangun kesadaran. Ia ingin orang tua dan masyarakat memahami bahwa anak difabel bukan beban, melainkan individu yang memiliki hak untuk tumbuh.

Meski penglihatannya terbatas, Tatang justru mampu melihat dunia dengan cara yang lebih jernih. Dia membangun harapan bagi anak-anak yang kerap terabaikan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Meski penglihatannya terbatas, Tatang justru mampu melihat dunia dengan cara yang lebih jernih. Dia membangun harapan bagi anak-anak yang kerap terabaikan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Luka di Balik Keterbatasan

Di balik ruang-ruang belajar, ada cerita-cerita yang tidak semua orang siap mendengarnya. Tatang bercerita tentang banyak anak yang datang bukan hanya dengan keterbatasan, tetapi juga luka dari lingkungan terdekatnya.

“Banyak anak disabilitas ditinggalkan. Selama tinggal di rumah saya, belum pernah ditengok. Dibuang,” ucapnya.

Ada pula kisah yang lebih memilukan; anak yang kehilangan kemampuan karena kekerasan dari orang tuanya. Ia mengingat satu kejadian ketika seorang anak menjadi tuli setelah mengalami kekerasan dari orang tuanya sendiri.

“Ada anak yang awalnya normal, jadi tuli karena dipukul orang tuanya sampai berdarah,” ucap Tatang begitu jelas. Di tengah kondisi ruangan yang hening, kalimatnya seakan menampar siapa pun yang mendengarnya.

Cerita-cerita itu mempertegas bahwa tantangan terbesar tidak selalu pada kondisi anak, melainkan pada kurangnya pemahaman orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, bagi Tatang, mendidik orang tua menjadi bagian yang sama pentingnya dengan mendidik anak.

Awal mula sekolah ini jauh dari kata layak. Tatang memulai semuanya dari rumahnya sendiri dengan segala keterbatasan yang ada.

“Awalnya cuma 5 sampai 9 anak. Kelasnya di atas kandang ayam,” kenangnya.

Dalam kondisi yang serba sederhana, proses belajar tetap berjalan. Bahkan, kejadian-kejadian kecil menjadi bagian dari pembelajaran itu sendiri. Termasuk ketika anak-anak difabel tanpa sengaja memperlakukan anak ayam dengan kasar.

“Anak-anak pernah memencet anak ayam satu-satu sampai pada mati. Tapi, kan dari sana saya juga jadi belajar untuk mengajarkan mereka untuk menyayangi binatang,” katanya sambil tertawa.

Bagi Tatang, pendidikan tidak selalu datang dari buku atau kurikulum, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari yang membentuk empati dan kepedulian. Contohnya adalah cerita kandang ayam saat dia merintis SLB ABCD Caringin ini.

Bertahan di 218 Meter Persegi

Dua dekade berjalan, sekolah itu masih berdiri di lahan yang sama. Dengan luas 218 meter persegi, mereka tetap bertahan. Tidak luas, tidak mewah, namun tetap hidup. Hingga kini, SLB ABCD Caringin menampung sekitar 60 siswa difabel yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa dengan 12 tenaga pengajar.

Namun, mempertahankan sekolah ini bukan perkara mudah. Tantangan terbesar datang dari keterbatasan dana dan fasilitas. Tatang bercerita bahwa SLB yang ia bangun tidak mewajibkan bayaran secara mutlak dengan nominal tertentu. Ia menyerahkan kepada orang tua siswanya untuk membayar semampunya, dalam rentang rata-rata Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per bulan.

“Yang paling berat itu dana. Guru-guru ini honorer, harus ikhlas,” ujarnya.

Meski begitu, keterbatasan tidak menghentikan upaya mereka. Tatang terus mencari bantuan, dari donatur hingga berbagai pihak yang peduli.

“Alat peraga itu kurang. Untuk anak tunanetra, kami bahkan belum punya miniatur Ka’bah,” kata Tatang menyampaikan kendalanya secara pribadi sebagai seorang pengajar agama.

Di dalam kelas, Tatang sebagai pendiri yayasan sekaligus pengajar mata pelajaran agama menceritakan bahwa tidak ada satu metode belajar yang berlaku untuk semua. Setiap anak dipahami sebagai individu dengan kebutuhan yang berbeda.

“Anak tunagrahita itu beda-beda. Guru harus melihat kondisi anak,” jelasnya.

Tatang menyesuaikan cara mengajar sesuai dengan kemampuan siswa. Anak-anak yang aktif secara fisik diberi aktivitas seperti mewarnai gambar atau menulis sesuatu untuk menjaga fokus mereka, sedangkan yang cenderung diam dibimbing perlahan-lahan. Pendekatan ini bukan hanya sebuah metode, melainkan juga penghargaan terhadap cara belajar setiap anak. Di sini, kemajuan diukur bukan dari seberapa cepat, tetapi dari seberapa konsisten.

Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Untuk Tatang, keberhasilan tidak diukur dari nilai atau pencapaian formal. Hal-hal kecil justru menjadi sumber kebahagiaan terbesarnya.

“Melihat mereka bermain, itu kepuasan bagi saya,” ujar Tatang.

Mungkin bagi sebagian orang, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, bagi teman-teman difabel, bisa bersosialisasi dan bersenda gurau dengan teman sebaya adalah suatu bentuk kemampuan interaksi sosial yang berharga. Tatang juga menceritakan saat di sekolah dia mengajarkan mengenai salat Dhuha—salat sunah yang dilakukan penganut agama Islam saat fajar telah menyingsing.

Kemudian, ia mendengar orang tua siswa bercerita kepadanya bahwa anak tersebut melakukannya di rumah. Tatang merasa bahwa setiap ilmu yang muridnya terapkan adalah pencapaian yang sangat berarti baginya.

“Kalau ilmu yang saya ajarkan dipraktikkan, itu kebahagiaan tersendiri,” kata Tatang dengan nada haru.

Saat ini, kepercayaan masyarakat mulai berkembang. Jumlah siswa setiap tahun meningkat, dan sekolah yang sebelumnya diragukan kini perlahan dipandang sebagai tempat yang memberikan harapan.

“Alhamdulillah sekarang semakin banyak yang percaya,” tutupnya.

Di tempat yang sederhana itu, Tatang tidak hanya mendirikan sekolah. Ia menciptakan ruang yang aman; tempat di mana anak-anak yang sering dianggap "berbeda" menemukan ruang untuk tumbuh, diterima, dan menjadi diri mereka sendiri.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)