Menilai Peringatan Hardiknas dari Mata Mereka yang Masih Terpinggirkan

6 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional yang kerap dipenuhi seremoni dan pidato tentang cita-cita pendidikan, sebuah ruang kecil di gang sempit kawasan Caringin, Bandung, justru menghadirkan makna yang lebih nyata. Selama 23 tahun, tanpa kemewahan dan fasilitas lengkap, tempat itu bertahan dari hal-hal sederhana: suara anak-anak yang belajar dengan caranya sendiri, tangan-tangan kecil yang meraba dan mengenali dunia dengan perlahan.

Di sanalah SLB ABCD Caringin berdiri—bukan sekadar sekolah, tetapi ruang harapan yang lahir dari kegelisahan seorang tunanetra bernama Tatang. Di tengah keterbatasan, ia merawat esensi pendidikan yang sering terlupakan: memberi kesempatan bagi semua, termasuk mereka yang kerap dianggap berbeda, untuk tumbuh, diterima, dan benar-benar menjadi bagian dari dunia yang merayakan pendidikan itu sendiri.

Ruang yang Bertahan Selama 23 Tahun

Di sebuah gang kecil di kawasan Caringin, Bandung, gagasan besar itu menemukan wujudnya yang paling sederhana. Bukan dalam gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap, tapi di ruang-ruang kecil yang dipenuhi dengan suara anak-anak belajar dengan cara mereka sendiri.

Di sinilah SLB ABCD Caringin berdiri. Sebuah tempat yang, meskipun dengan segala keterbatasannya, berusaha mewujudkan makna pendidikan yang sesungguhnya: memberikan kesempatan, bukan hanya sekadar mengajar.

Di aula kecil, beberapa siswa duduk melingkar di atas rumput sintetis. Ada yang merangkai manik-manik, ada yang merajut sesuatu dari bola kain dengan meraba, mengenali, lalu mencoba memahami dengan caranya sendiri. Guru-guru duduk di antara mereka, bukan sebagai pengarah yang kaku, tetapi sebagai pendamping yang sabar.

Di pintu masuk kantor SLB, seorang pria berdiri. Dia adalah pendiri Yayasan Lara Adam Mulia yang menaungi SLB ABCD Caringin, Tatang (57). Seorang tunanetra yang memiliki keterbatasan dalam melihat, tapi dunia pantas melihat niat baik dan perjuangan Tatang.

Sekolah itu berdiri bukan dari rencana besar, melainkan dari kegelisahan yang tumbuh lama sejak Tatang berkuliah di Antropologi Unpad. Tatang mendirikan SLB ABCD Caringin pada 11 Mei 2003, berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai penyandang tunanetra dan dari realitas sosial yang ia saksikan sejak kecil.

“Disabilitas itu manusia biasa. Hak dan kewajibannya sama. Harus dilayani, dilindungi, dirawat,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya yang disulap menjadi kantor yayasan.

“Masyarakat itu belum paham. Maka harus kita beri ilmu pengetahuan,” lanjutnya.

Ia melihat bagaimana difabel sering diperlakukan tidak setara, bahkan di lingkungan terdekatnya. Mulai dari kebingungan banyak orang tua akan sekolah dan masa depan anaknya yang difabel, hingga stigma negatif yang menganggap difabel itu tidak berdaya. Dari situlah muncul keyakinan bahwa perubahan tidak cukup hanya dari sekolah, tetapi juga dari cara pandang masyarakat.

“Banyak orang tua belum sadar. Anak disabilitas itu bukan untuk disingkirkan,” ucap Tatang dengan artikulasinya yang sangat jelas meskipun ia sudah menua. Bagi Tatang, mendirikan sekolah bukan hanya soal menyediakan pendidikan, tetapi juga membangun kesadaran. Ia ingin orang tua dan masyarakat memahami bahwa anak difabel bukan beban, melainkan individu yang memiliki hak untuk tumbuh.

Meski penglihatannya terbatas, Tatang justru mampu melihat dunia dengan cara yang lebih jernih. Dia membangun harapan bagi anak-anak yang kerap terabaikan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Meski penglihatannya terbatas, Tatang justru mampu melihat dunia dengan cara yang lebih jernih. Dia membangun harapan bagi anak-anak yang kerap terabaikan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Luka di Balik Keterbatasan

Di balik ruang-ruang belajar, ada cerita-cerita yang tidak semua orang siap mendengarnya. Tatang bercerita tentang banyak anak yang datang bukan hanya dengan keterbatasan, tetapi juga luka dari lingkungan terdekatnya.

“Banyak anak disabilitas ditinggalkan. Selama tinggal di rumah saya, belum pernah ditengok. Dibuang,” ucapnya.

Ada pula kisah yang lebih memilukan; anak yang kehilangan kemampuan karena kekerasan dari orang tuanya. Ia mengingat satu kejadian ketika seorang anak menjadi tuli setelah mengalami kekerasan dari orang tuanya sendiri.

“Ada anak yang awalnya normal, jadi tuli karena dipukul orang tuanya sampai berdarah,” ucap Tatang begitu jelas. Di tengah kondisi ruangan yang hening, kalimatnya seakan menampar siapa pun yang mendengarnya.

Cerita-cerita itu mempertegas bahwa tantangan terbesar tidak selalu pada kondisi anak, melainkan pada kurangnya pemahaman orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, bagi Tatang, mendidik orang tua menjadi bagian yang sama pentingnya dengan mendidik anak.

Awal mula sekolah ini jauh dari kata layak. Tatang memulai semuanya dari rumahnya sendiri dengan segala keterbatasan yang ada.

“Awalnya cuma 5 sampai 9 anak. Kelasnya di atas kandang ayam,” kenangnya.

Dalam kondisi yang serba sederhana, proses belajar tetap berjalan. Bahkan, kejadian-kejadian kecil menjadi bagian dari pembelajaran itu sendiri. Termasuk ketika anak-anak difabel tanpa sengaja memperlakukan anak ayam dengan kasar.

“Anak-anak pernah memencet anak ayam satu-satu sampai pada mati. Tapi, kan dari sana saya juga jadi belajar untuk mengajarkan mereka untuk menyayangi binatang,” katanya sambil tertawa.

Bagi Tatang, pendidikan tidak selalu datang dari buku atau kurikulum, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari yang membentuk empati dan kepedulian. Contohnya adalah cerita kandang ayam saat dia merintis SLB ABCD Caringin ini.

Bertahan di 218 Meter Persegi

Dua dekade berjalan, sekolah itu masih berdiri di lahan yang sama. Dengan luas 218 meter persegi, mereka tetap bertahan. Tidak luas, tidak mewah, namun tetap hidup. Hingga kini, SLB ABCD Caringin menampung sekitar 60 siswa difabel yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa dengan 12 tenaga pengajar.

Namun, mempertahankan sekolah ini bukan perkara mudah. Tantangan terbesar datang dari keterbatasan dana dan fasilitas. Tatang bercerita bahwa SLB yang ia bangun tidak mewajibkan bayaran secara mutlak dengan nominal tertentu. Ia menyerahkan kepada orang tua siswanya untuk membayar semampunya, dalam rentang rata-rata Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per bulan.

“Yang paling berat itu dana. Guru-guru ini honorer, harus ikhlas,” ujarnya.

Meski begitu, keterbatasan tidak menghentikan upaya mereka. Tatang terus mencari bantuan, dari donatur hingga berbagai pihak yang peduli.

“Alat peraga itu kurang. Untuk anak tunanetra, kami bahkan belum punya miniatur Ka’bah,” kata Tatang menyampaikan kendalanya secara pribadi sebagai seorang pengajar agama.

Di dalam kelas, Tatang sebagai pendiri yayasan sekaligus pengajar mata pelajaran agama menceritakan bahwa tidak ada satu metode belajar yang berlaku untuk semua. Setiap anak dipahami sebagai individu dengan kebutuhan yang berbeda.

“Anak tunagrahita itu beda-beda. Guru harus melihat kondisi anak,” jelasnya.

Tatang menyesuaikan cara mengajar sesuai dengan kemampuan siswa. Anak-anak yang aktif secara fisik diberi aktivitas seperti mewarnai gambar atau menulis sesuatu untuk menjaga fokus mereka, sedangkan yang cenderung diam dibimbing perlahan-lahan. Pendekatan ini bukan hanya sebuah metode, melainkan juga penghargaan terhadap cara belajar setiap anak. Di sini, kemajuan diukur bukan dari seberapa cepat, tetapi dari seberapa konsisten.

Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Untuk Tatang, keberhasilan tidak diukur dari nilai atau pencapaian formal. Hal-hal kecil justru menjadi sumber kebahagiaan terbesarnya.

“Melihat mereka bermain, itu kepuasan bagi saya,” ujar Tatang.

Mungkin bagi sebagian orang, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, bagi teman-teman difabel, bisa bersosialisasi dan bersenda gurau dengan teman sebaya adalah suatu bentuk kemampuan interaksi sosial yang berharga. Tatang juga menceritakan saat di sekolah dia mengajarkan mengenai salat Dhuha—salat sunah yang dilakukan penganut agama Islam saat fajar telah menyingsing.

Kemudian, ia mendengar orang tua siswa bercerita kepadanya bahwa anak tersebut melakukannya di rumah. Tatang merasa bahwa setiap ilmu yang muridnya terapkan adalah pencapaian yang sangat berarti baginya.

“Kalau ilmu yang saya ajarkan dipraktikkan, itu kebahagiaan tersendiri,” kata Tatang dengan nada haru.

Saat ini, kepercayaan masyarakat mulai berkembang. Jumlah siswa setiap tahun meningkat, dan sekolah yang sebelumnya diragukan kini perlahan dipandang sebagai tempat yang memberikan harapan.

“Alhamdulillah sekarang semakin banyak yang percaya,” tutupnya.

Di tempat yang sederhana itu, Tatang tidak hanya mendirikan sekolah. Ia menciptakan ruang yang aman; tempat di mana anak-anak yang sering dianggap "berbeda" menemukan ruang untuk tumbuh, diterima, dan menjadi diri mereka sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)