Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Suara tempo elektun mengalun senada, berpadu dengan petikan gitar dan suara vokalis di ruang tunggu Stasiun Bandung.

Di antara keramaian orang-orang yang datang dan pergi di stasiun, seorang wanita muda memegang mikrofon dan menyanyikan lagu dengan ekspresi yang menghayati. Di sampingnya, seorang pria memainkan jarinya di atas keyboard elektun. Lengkap dengan gawai terpasang di tripod yang mengarah kepadanya.

“Cinta kita melukiskan sejarah…”

“Menggelarkan cerita penuh suka cita,”

Penggalan lirik lagu “Cinta Sejati” dari Bunga Citra Lestari ini terdengar mengiringi suara pengumuman informasi dari KAI saat kereta akan diberangkatkan. Transisi volume musik dimainkan menurun, seakan paham untuk menyesuaikan nada dengan informasi yang disampaikan oleh KAI bagi para penumpangnya.

Suaranya yang khas dan lembut menarik sorot mata penumpang kereta yang baru saja sampai di Stasiun Bandung. Tak lupa alunan nada dari elektun yang begitu pas, mengiringi tempo dan petikan gitar, serasi berpadu menyuguhkan alunan lagu yang nyaman didengar pengunjung.

Mereka bukan hanya pegiat musik biasa. Rendra Jaya Ambara (35), Virly Aulyvia (21), dan Martin Aflatun (48) tergabung dalam salah satu tim musik yang secara rutin tampil di Stasiun Bandung sejak 2017.

Di tengah kebisingan pengumuman keberangkatan dan langkah kaki yang tiada henti, mereka memainkan melodi yang justru memberikan alunan nada yang merdu.

Bagi sebagian penumpang, musik ini mungkin hanya menjadi latar belakang. Namun bagi mereka yang memainkan, ini adalah tempat hidup, sebuah cara bertahan, serta bentuk pembuktian diri.

Menghayati Irama, Menangkap Suasana

Rendra tidak melihat keramaian seperti kebanyakan orang. Ia mendengarnya, merabanya lewat suara. Kemampuannya ia buktikan dalam permainan jarinya saat memainkan elektun dengan begitu lihai.

Ia adalah tunanetra, keadaan di mana seseorang mengalami keterbatasan atau kehilangan kemampuan penglihatan, baik sebagian maupun sepenuhnya.

Namun, dalam kehidupan sosial, tunanetra sering kali mengalami stigma sebagai orang-orang yang tidak mampu berdiri sendiri, tergantung pada orang lain, atau memiliki keterbatasan dalam bergerak—meskipun berbagai penelitian, termasuk dari World Health Organization (WHO), menunjukkan bahwa hambatan terbesar justru berasal dari lingkungan yang tidak inklusif, bukan dari keadaan individu tersebut.

Stigma ini perlahan menghilang di ruang tunggu Stasiun Bandung. Setiap hari, irama musik mengalun dari salah satu sudut stasiun, dimainkan oleh sekelompok musisi yang sebagian di antaranya adalah tunanetra.

Mereka tampil bergantian dan mendapatkan jatah dua kali tampil dalam seminggu, dari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB.

“Feeling aja. Karena udah lama main di sini, jadi tahu,” kata Rendra saat ditanya mengenai cara dia bermain musik dan “membaca” kondisi pengunjung.

Ia menjelaskan bahwa jadwal kereta dan ritme stasiun punya pola tersendiri. Suara langkah kaki, percakapan yang ramai, hingga kepadatan penumpang menjadi indikator kapan mereka harus memainkan lagu tertentu atau mengatur tempo.

Dalam komposisi tim tersebut, Virly menjadi vokalis tunanetra yang merasakan hal serupa, meskipun baru dua bulan bergabung setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kalau banyak orang, ya kedengaran juga. Dari suara, hentakan, kebisingannya,” ucap Virly sambil tersenyum.

Bagi mereka, mendengar bukan hanya sekadar indra, tetapi juga kompas dalam menyesuaikan cara mereka bermain musik. Kepekaan itu lahir dari pengalaman, latihan, dan keterbatasan yang justru dipoles menjadi keunggulan.

Belajar dari Rendra dan Virly

Perjalanan Rendra di stasiun ini dimulai sejak tahun 2013. Awalnya hanya coba-coba, namun akhirnya bertahan lebih dari sepuluh tahun.

“Dulu waktu saya SMA, saya itu ngajuin di sini. 2013 kalau nggak salah,” katanya di sela rehat bermain elektun sambil mengecek WhatsApp-nya.

Martin, seorang pria nondifabel sekaligus gitaris di kelompok musik ini, mulai bergabung pada 2017 di antara para musisi tunanetra. Ia bergabung dengan kelompok musik yang kini terdiri dari delapan orang dengan sistem shifting setiap dua kali seminggu.

“Ternyata tunanetra itu aktif, segala bisa. Malah saya yang diajarin. Mereka lebih jago dari saya,” ujar Martin saat ditanya mengenai proses dia bermusik bersama teman tunanetra.

Martin memiliki latar belakang yang kuat di dunia musik. Ia mengawali karier di Jakarta sebagai pemain musik di kafe dan bar. Kini, sesekali ia bergabung memetik senar gitarnya bersama teman tunanetra.

Ia menyadari, dalam banyak hal justru ia yang belajar dari mereka, terutama mengenai kepekaan mendengar dan keterampilan bermain alat musik. Bahkan, menurut Martin, kemampuan teknis mereka tidak kalah dengan musisi profesional di kafe atau tempat lain.

“Kalau ada announcer, mereka langsung tahu, volumenya harus dikecilin. Mereka peka banget,” ujar Martin dengan nada sumringah.

“Indra pendengarannya peka sekali, saya ngomong sedikit aja kedengar,” lanjutnya penuh antusias.

Musik, Penghidupan, dan Harapan

Di balik irama lagu, terdapat kenyataan hidup yang mereka jalani. Pendapatan dari tampil di stasiun menjadi salah satu sumber utama, bahkan terkadang lebih tinggi dari penghasilan di panggung lainnya.

“Kalau di sini kita bagi rata. Per orang minimal 300 ribu. Rata-rata 500 ribu lah. Pernah sampai jutaan,” kata Martin.

Namun bagi Rendra dan Virly, lebih dari sekadar angka, yang mereka rasakan adalah penerimaan. Memiliki lingkungan yang suportif dan inklusif menjadi alasan mereka bertahan bermain musik di stasiun bertahun-tahun lamanya. Mereka menyebutkan bahwa respons dari penumpang selalu positif, bahkan sering memberi semangat untuk terus tampil.

“Biasa aja sih. Nggak ada tantangan yang gimana-gimana. Banyaknya (pengunjung) senang,” kata Rendra.

Di akhir percakapan, harapan sederhana muncul dari mereka. Bukan terkait ketenaran, melainkan harapan akan adanya akses yang sama dan setara.

“Beri aja kesempatan buat teman-teman disabilitas biar bisa berkarya,” ujar Rendra singkat.

Virly mengangguk setuju, menyampaikan hal yang sama dengan kalimat yang lebih lembut namun tegas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)