Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 02 Mei 2026, 12:47 WIB
Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Suara tempo elektun mengalun senada, berpadu dengan petikan gitar dan suara vokalis di ruang tunggu Stasiun Bandung.

Di antara keramaian orang-orang yang datang dan pergi di stasiun, seorang wanita muda memegang mikrofon dan menyanyikan lagu dengan ekspresi yang menghayati. Di sampingnya, seorang pria memainkan jarinya di atas keyboard elektun. Lengkap dengan gawai terpasang di tripod yang mengarah kepadanya.

“Cinta kita melukiskan sejarah…”

“Menggelarkan cerita penuh suka cita,”

Penggalan lirik lagu “Cinta Sejati” dari Bunga Citra Lestari ini terdengar mengiringi suara pengumuman informasi dari KAI saat kereta akan diberangkatkan. Transisi volume musik dimainkan menurun, seakan paham untuk menyesuaikan nada dengan informasi yang disampaikan oleh KAI bagi para penumpangnya.

Suaranya yang khas dan lembut menarik sorot mata penumpang kereta yang baru saja sampai di Stasiun Bandung. Tak lupa alunan nada dari elektun yang begitu pas, mengiringi tempo dan petikan gitar, serasi berpadu menyuguhkan alunan lagu yang nyaman didengar pengunjung.

Mereka bukan hanya pegiat musik biasa. Rendra Jaya Ambara (35), Virly Aulyvia (21), dan Martin Aflatun (48) tergabung dalam salah satu tim musik yang secara rutin tampil di Stasiun Bandung sejak 2017.

Di tengah kebisingan pengumuman keberangkatan dan langkah kaki yang tiada henti, mereka memainkan melodi yang justru memberikan alunan nada yang merdu.

Bagi sebagian penumpang, musik ini mungkin hanya menjadi latar belakang. Namun bagi mereka yang memainkan, ini adalah tempat hidup, sebuah cara bertahan, serta bentuk pembuktian diri.

Menghayati Irama, Menangkap Suasana

Rendra tidak melihat keramaian seperti kebanyakan orang. Ia mendengarnya, merabanya lewat suara. Kemampuannya ia buktikan dalam permainan jarinya saat memainkan elektun dengan begitu lihai.

Ia adalah tunanetra, keadaan di mana seseorang mengalami keterbatasan atau kehilangan kemampuan penglihatan, baik sebagian maupun sepenuhnya.

Namun, dalam kehidupan sosial, tunanetra sering kali mengalami stigma sebagai orang-orang yang tidak mampu berdiri sendiri, tergantung pada orang lain, atau memiliki keterbatasan dalam bergerak—meskipun berbagai penelitian, termasuk dari World Health Organization (WHO), menunjukkan bahwa hambatan terbesar justru berasal dari lingkungan yang tidak inklusif, bukan dari keadaan individu tersebut.

Stigma ini perlahan menghilang di ruang tunggu Stasiun Bandung. Setiap hari, irama musik mengalun dari salah satu sudut stasiun, dimainkan oleh sekelompok musisi yang sebagian di antaranya adalah tunanetra.

Mereka tampil bergantian dan mendapatkan jatah dua kali tampil dalam seminggu, dari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB.

Feeling aja. Karena udah lama main di sini, jadi tahu,” kata Rendra saat ditanya mengenai cara dia bermain musik dan “membaca” kondisi pengunjung.

Ia menjelaskan bahwa jadwal kereta dan ritme stasiun punya pola tersendiri. Suara langkah kaki, percakapan yang ramai, hingga kepadatan penumpang menjadi indikator kapan mereka harus memainkan lagu tertentu atau mengatur tempo.

Dalam komposisi tim tersebut, Virly menjadi vokalis tunanetra yang merasakan hal serupa, meskipun baru dua bulan bergabung setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kalau banyak orang, ya kedengaran juga. Dari suara, hentakan, kebisingannya,” ucap Virly sambil tersenyum.

Bagi mereka, mendengar bukan hanya sekadar indra, tetapi juga kompas dalam menyesuaikan cara mereka bermain musik. Kepekaan itu lahir dari pengalaman, latihan, dan keterbatasan yang justru dipoles menjadi keunggulan.

Belajar dari Rendra dan Virly

Perjalanan Rendra di stasiun ini dimulai sejak tahun 2013. Awalnya hanya coba-coba, namun akhirnya bertahan lebih dari sepuluh tahun.

“Dulu waktu saya SMA, saya itu ngajuin di sini. 2013 kalau nggak salah,” katanya di sela rehat bermain elektun sambil mengecek WhatsApp-nya.

Martin, seorang pria nondifabel sekaligus gitaris di kelompok musik ini, mulai bergabung pada 2017 di antara para musisi tunanetra. Ia bergabung dengan kelompok musik yang kini terdiri dari delapan orang dengan sistem shifting setiap dua kali seminggu.

“Ternyata tunanetra itu aktif, segala bisa. Malah saya yang diajarin. Mereka lebih jago dari saya,” ujar Martin saat ditanya mengenai proses dia bermusik bersama teman tunanetra.

Martin memiliki latar belakang yang kuat di dunia musik. Ia mengawali karier di Jakarta sebagai pemain musik di kafe dan bar. Kini, sesekali ia bergabung memetik senar gitarnya bersama teman tunanetra.

Ia menyadari, dalam banyak hal justru ia yang belajar dari mereka, terutama mengenai kepekaan mendengar dan keterampilan bermain alat musik. Bahkan, menurut Martin, kemampuan teknis mereka tidak kalah dengan musisi profesional di kafe atau tempat lain.

“Kalau ada announcer, mereka langsung tahu, volumenya harus dikecilin. Mereka peka banget,” ujar Martin dengan nada sumringah.

“Indra pendengarannya peka sekali, saya ngomong sedikit aja kedengar,” lanjutnya penuh antusias.

Musik, Penghidupan, dan Harapan

Di balik irama lagu, terdapat kenyataan hidup yang mereka jalani. Pendapatan dari tampil di stasiun menjadi salah satu sumber utama, bahkan terkadang lebih tinggi dari penghasilan di panggung lainnya.

“Kalau di sini kita bagi rata. Per orang minimal 300 ribu. Rata-rata 500 ribu lah. Pernah sampai jutaan,” kata Martin.

Namun bagi Rendra dan Virly, lebih dari sekadar angka, yang mereka rasakan adalah penerimaan. Memiliki lingkungan yang suportif dan inklusif menjadi alasan mereka bertahan bermain musik di stasiun bertahun-tahun lamanya. Mereka menyebutkan bahwa respons dari penumpang selalu positif, bahkan sering memberi semangat untuk terus tampil.

“Biasa aja sih. Nggak ada tantangan yang gimana-gimana. Banyaknya (pengunjung) senang,” kata Rendra.

Di akhir percakapan, harapan sederhana muncul dari mereka. Bukan terkait ketenaran, melainkan harapan akan adanya akses yang sama dan setara.

“Beri aja kesempatan buat teman-teman disabilitas biar bisa berkarya,” ujar Rendra singkat.

Virly mengangguk setuju, menyampaikan hal yang sama dengan kalimat yang lebih lembut namun tegas.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)