Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lorong kecil berwarna hijau muda yang berhimpit dengan permukiman warga itu menjadi pintu bagi pelajar difabel. Dari luar, tempat ini tampak sederhana, nyaris tak berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Namun, di sanalah harapan-harapan kecil dirawat setiap hari.

Di ujung lorong, sebuah papan bertuliskan SLB ABCD Caringin dengan huruf kuning menyala menjadi penanda. Gapura masuknya dihiasi ubin yang sengaja dicat berwarna-warni, seolah ingin menyampaikan bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan, melainkan ruang tumbuh, tempat tawa, proses, dan mimpi-mimpi kecil bertemu.

Di balik itu semua, ada sosok Tatang (57), lulusan Antropologi Universitas Padjadjaran. Berangkat dari pengalaman pribadi dan kepedulian yang tumbuh perlahan, ia mengubah rumah tinggalnya menjadi ruang belajar bagi anak-anak difabel. Melalui Yayasan Lara Adam Mulia yang ia dirikan, rumah itu kini menjelma menjadi sekolah yang memberi akses bagi mereka yang kerap terpinggirkan.

Di dalam ruangan, Tatang duduk tenang dengan kedua tangan bertumpu di antara pahanya. Peci masih melekat di kepalanya. Ia baru saja pulang dari salat zuhur ketika wawancara dimulai. Suaranya pelan, namun teratur, menunjukkan ketenangan yang terbangun dari perjalanan panjang hidupnya.

Di hadapannya, tersusun rapi replika bendera Merah Putih, sertifikat, dan beberapa medali. Benda-benda itu bukan sekadar pajangan, melainkan penanda perjalanan, yaitu jejak dari usaha panjang mempertahankan sekolah yang ia bangun dengan penuh keterbatasan.

Tatang memang tak lagi bisa melihat bangunan yang ia dirikan, juga wajah orang-orang yang ia cintai. Namun, alih-alih terpuruk, ia justru menjadikan keterbatasannya sebagai kekuatan. Dari situ, ia menemukan cara lain untuk hadir dan memberi makna bagi sekitarnya.

Sejak 11 Mei 2003, Tatang menjadi pendiri sekaligus pengajar mata pelajaran agama di SLB ABCD Caringin. Di tempat itulah, ia membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung, sebuah langkah kecil yang dampaknya terus meluas hingga hari ini.

Tunanetra merupakan salah satu bentuk disabilitas, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan, baik sebagian maupun sepenuhnya. Selain tunanetra, terdapat pula tunarungu, tunawicara, tunagrahita, dan tunadaksa. Masing-masing memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.

Di Kota Bandung sendiri, isu disabilitas masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Akses pendidikan yang belum merata, stigma sosial yang menganggap difabel tidak berdaya, hingga fasilitas publik yang belum sepenuhnya inklusif menjadi realitas yang masih harus dihadapi.

Dari Gelap yang Tidak Diterima

Tatang adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Empat di antaranya, termasuk dirinya, adalah tunanetra. Namun, kondisi itu bukan sepenuhnya faktor genetik, karena sebagian kakaknya mengalami kehilangan penglihatan akibat kecelakaan.

Ia tidak terlahir dalam kondisi buta total. Pada masa kecil, ia masih mampu melihat meski terbatas. Namun, saat berusia lima hingga enam tahun, penglihatannya mulai menurun secara perlahan.

“(Kata teman saya) ‘Tatang kalau (main) sepak bola selalu salah nendang!’ dan sebagainya. Itu jadi bahan cemoohan,” kenangnya.

Kehilangan ibunya di usia tiga tahun membuat masa kecilnya tidak mudah. Ayahnya harus bekerja keras sebagai orang tua tunggal sehingga perhatian terhadap Tatang menjadi terbatas. Di sisi lain, lingkungan yang belum memahami kondisi disabilitas membuatnya kerap menjadi bahan ejekan.

“Kalau mengadu ke orang tua, jawabannya cuma satu: ‘kita harus bersabar’,” ujarnya pelan.

Meski begitu, ia beruntung memiliki guru yang peka terhadap kondisinya. Di sekolah dasar, ia selalu ditempatkan di bangku depan agar tetap bisa mengikuti pelajaran.

“Kalau beliau nulis di papan tulis sambil bicara, jadi saya masih bisa mengikuti,” katanya sambil tersenyum mengenang.

Namun, titik balik hidupnya datang pada 7 Februari 1986 saat ia duduk di kelas 2 SMP. Niat untuk memperbaiki penglihatannya justru berujung pada kehilangan total.

“Yang asalnya masih bisa lihat, tiba-tiba jadi gelap. Hancur. Nggak bisa terima,” ucapnya tegas.

Selama setahun, ia bergulat dengan penolakan. Keinginan untuk kembali melihat terus menghantuinya, bahkan hingga terbawa ke dalam mimpi.

“Saya ingin kembali melihat. Sampai terbawa mimpi,” katanya lirih.

Stigma yang ia terima sejak kecil semakin memperkuat rasa terasing. Ia merasa sering diperlakukan berbeda.

“Sering kali saya dinomorduakan,” ujarnya.

Satu Langkah Teman, Tiga Langkah untuk Tatang

Proses menerima keadaan tidak datang secara instan. Bahkan ketika harus bersekolah di SLB, hatinya belum sepenuhnya siap. Namun, perlahan ia mulai memahami bahwa hidup adalah soal pilihan.

“Hidup ini pilihan. Saya harus memilih untuk tetap menjalani,” katanya mantap.

Keputusan itu membawanya melangkah lebih jauh hingga berhasil menembus bangku kuliah di Antropologi Universitas Padjadjaran.

Di sana, ia menyadari bahwa proses belajarnya berbeda. Apa yang bisa dipahami orang lain dalam satu langkah, ia harus menempuhnya dengan usaha berlipat.

“Kalau ada buku, saya minta dibacakan, direkam, lalu diputar ulang di rumah,” tuturnya.

“Orang lain satu langkah, saya tiga langkah. Tapi itu yang bikin saya semangat,” lanjutnya sambil tersenyum.

Keterbatasan itu justru membentuk ketekunan. Ia bahkan menjadi salah satu lulusan tercepat di program studinya. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa hambatan terbesar bukan pada kemampuan, melainkan pada akses dan kesempatan.

Dari Rumah Menjadi Ruang Tumbuh

Gagasan mendirikan sekolah sebenarnya sudah tumbuh sejak masa kuliah. Ia melihat banyak anak difabel di sekitarnya yang tidak memiliki akses pendidikan.

“Kalau saya lulus, saya ingin mengumpulkan mereka. Minimal mereka bisa sekolah,” katanya.

Keinginan itu kemudian diwujudkan dengan langkah sederhana namun berani, yaitu menjadikan rumahnya sebagai sekolah. Bersama keluarga, ia memulai dari ruang-ruang kecil yang perlahan berkembang.

Pada awal berdiri, kondisi sekolah jauh dari layak. Bahkan, sebagian ruang masih digunakan sebagai kandang ayam.

“Saya pakai lantai atas buat kandang ayam. Tapi akhirnya ayamnya mati karena diganggu anak-anak,” ujarnya sambil tertawa.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi penolakan dari masyarakat.

“Kami sampai diusir. Dikira minta-minta,” kenangnya.

Namun, seiring waktu berjalan, situasi mulai berubah. Sekolah yang dulu diragukan kini menjadi tempat belajar bagi anak-anak difabel dari berbagai jenjang.

Bagi Tatang, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang untuk membuka peluang hidup yang lebih mandiri.

Seiring waktu, cara pandangnya terhadap hidup pun berubah. Apa yang dulu ia anggap sebagai kehilangan, kini ia maknai sebagai anugerah.

“Sekarang saya justru bersyukur. Kegelapan ini anugerah,” ucapnya.

Bagi Tatang, hidup bukan tentang apa yang hilang, melainkan apa yang bisa diberikan.

“Kita harus bermanfaat bagi orang lain. Tidak harus menunggu kita kaya atau pintar,” tutupnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)