Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 02 Mei 2026, 18:34 WIB
Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Lorong kecil berwarna hijau muda yang berhimpit dengan permukiman warga itu menjadi pintu bagi pelajar difabel. Dari luar, tempat ini tampak sederhana, nyaris tak berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Namun, di sanalah harapan-harapan kecil dirawat setiap hari.

Di ujung lorong, sebuah papan bertuliskan SLB ABCD Caringin dengan huruf kuning menyala menjadi penanda. Gapura masuknya dihiasi ubin yang sengaja dicat berwarna-warni, seolah ingin menyampaikan bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan, melainkan ruang tumbuh, tempat tawa, proses, dan mimpi-mimpi kecil bertemu.

Di balik itu semua, ada sosok Tatang (57), lulusan Antropologi Universitas Padjadjaran. Berangkat dari pengalaman pribadi dan kepedulian yang tumbuh perlahan, ia mengubah rumah tinggalnya menjadi ruang belajar bagi anak-anak difabel. Melalui Yayasan Lara Adam Mulia yang ia dirikan, rumah itu kini menjelma menjadi sekolah yang memberi akses bagi mereka yang kerap terpinggirkan.

Di dalam ruangan, Tatang duduk tenang dengan kedua tangan bertumpu di antara pahanya. Peci masih melekat di kepalanya. Ia baru saja pulang dari salat zuhur ketika wawancara dimulai. Suaranya pelan, namun teratur, menunjukkan ketenangan yang terbangun dari perjalanan panjang hidupnya.

Di hadapannya, tersusun rapi replika bendera Merah Putih, sertifikat, dan beberapa medali. Benda-benda itu bukan sekadar pajangan, melainkan penanda perjalanan, yaitu jejak dari usaha panjang mempertahankan sekolah yang ia bangun dengan penuh keterbatasan.

Tatang memang tak lagi bisa melihat bangunan yang ia dirikan, juga wajah orang-orang yang ia cintai. Namun, alih-alih terpuruk, ia justru menjadikan keterbatasannya sebagai kekuatan. Dari situ, ia menemukan cara lain untuk hadir dan memberi makna bagi sekitarnya.

Sejak 11 Mei 2003, Tatang menjadi pendiri sekaligus pengajar mata pelajaran agama di SLB ABCD Caringin. Di tempat itulah, ia membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung, sebuah langkah kecil yang dampaknya terus meluas hingga hari ini.

Tunanetra merupakan salah satu bentuk disabilitas, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan, baik sebagian maupun sepenuhnya. Selain tunanetra, terdapat pula tunarungu, tunawicara, tunagrahita, dan tunadaksa. Masing-masing memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.

Di Kota Bandung sendiri, isu disabilitas masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Akses pendidikan yang belum merata, stigma sosial yang menganggap difabel tidak berdaya, hingga fasilitas publik yang belum sepenuhnya inklusif menjadi realitas yang masih harus dihadapi.

Dari Gelap yang Tidak Diterima

Tatang adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Empat di antaranya, termasuk dirinya, adalah tunanetra. Namun, kondisi itu bukan sepenuhnya faktor genetik, karena sebagian kakaknya mengalami kehilangan penglihatan akibat kecelakaan.

Ia tidak terlahir dalam kondisi buta total. Pada masa kecil, ia masih mampu melihat meski terbatas. Namun, saat berusia lima hingga enam tahun, penglihatannya mulai menurun secara perlahan.

“(Kata teman saya) ‘Tatang kalau (main) sepak bola selalu salah nendang!’ dan sebagainya. Itu jadi bahan cemoohan,” kenangnya.

Kehilangan ibunya di usia tiga tahun membuat masa kecilnya tidak mudah. Ayahnya harus bekerja keras sebagai orang tua tunggal sehingga perhatian terhadap Tatang menjadi terbatas. Di sisi lain, lingkungan yang belum memahami kondisi disabilitas membuatnya kerap menjadi bahan ejekan.

“Kalau mengadu ke orang tua, jawabannya cuma satu: ‘kita harus bersabar’,” ujarnya pelan.

Meski begitu, ia beruntung memiliki guru yang peka terhadap kondisinya. Di sekolah dasar, ia selalu ditempatkan di bangku depan agar tetap bisa mengikuti pelajaran.

“Kalau beliau nulis di papan tulis sambil bicara, jadi saya masih bisa mengikuti,” katanya sambil tersenyum mengenang.

Namun, titik balik hidupnya datang pada 7 Februari 1986 saat ia duduk di kelas 2 SMP. Niat untuk memperbaiki penglihatannya justru berujung pada kehilangan total.

“Yang asalnya masih bisa lihat, tiba-tiba jadi gelap. Hancur. Nggak bisa terima,” ucapnya tegas.

Selama setahun, ia bergulat dengan penolakan. Keinginan untuk kembali melihat terus menghantuinya, bahkan hingga terbawa ke dalam mimpi.

“Saya ingin kembali melihat. Sampai terbawa mimpi,” katanya lirih.

Stigma yang ia terima sejak kecil semakin memperkuat rasa terasing. Ia merasa sering diperlakukan berbeda.

“Sering kali saya dinomorduakan,” ujarnya.

Satu Langkah Teman, Tiga Langkah untuk Tatang

Proses menerima keadaan tidak datang secara instan. Bahkan ketika harus bersekolah di SLB, hatinya belum sepenuhnya siap. Namun, perlahan ia mulai memahami bahwa hidup adalah soal pilihan.

“Hidup ini pilihan. Saya harus memilih untuk tetap menjalani,” katanya mantap.

Keputusan itu membawanya melangkah lebih jauh hingga berhasil menembus bangku kuliah di Antropologi Universitas Padjadjaran.

Di sana, ia menyadari bahwa proses belajarnya berbeda. Apa yang bisa dipahami orang lain dalam satu langkah, ia harus menempuhnya dengan usaha berlipat.

“Kalau ada buku, saya minta dibacakan, direkam, lalu diputar ulang di rumah,” tuturnya.

“Orang lain satu langkah, saya tiga langkah. Tapi itu yang bikin saya semangat,” lanjutnya sambil tersenyum.

Keterbatasan itu justru membentuk ketekunan. Ia bahkan menjadi salah satu lulusan tercepat di program studinya. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa hambatan terbesar bukan pada kemampuan, melainkan pada akses dan kesempatan.

Dari Rumah Menjadi Ruang Tumbuh

Gagasan mendirikan sekolah sebenarnya sudah tumbuh sejak masa kuliah. Ia melihat banyak anak difabel di sekitarnya yang tidak memiliki akses pendidikan.

“Kalau saya lulus, saya ingin mengumpulkan mereka. Minimal mereka bisa sekolah,” katanya.

Keinginan itu kemudian diwujudkan dengan langkah sederhana namun berani, yaitu menjadikan rumahnya sebagai sekolah. Bersama keluarga, ia memulai dari ruang-ruang kecil yang perlahan berkembang.

Pada awal berdiri, kondisi sekolah jauh dari layak. Bahkan, sebagian ruang masih digunakan sebagai kandang ayam.

“Saya pakai lantai atas buat kandang ayam. Tapi akhirnya ayamnya mati karena diganggu anak-anak,” ujarnya sambil tertawa.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi penolakan dari masyarakat.

“Kami sampai diusir. Dikira minta-minta,” kenangnya.

Namun, seiring waktu berjalan, situasi mulai berubah. Sekolah yang dulu diragukan kini menjadi tempat belajar bagi anak-anak difabel dari berbagai jenjang.

Bagi Tatang, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang untuk membuka peluang hidup yang lebih mandiri.

Seiring waktu, cara pandangnya terhadap hidup pun berubah. Apa yang dulu ia anggap sebagai kehilangan, kini ia maknai sebagai anugerah.

“Sekarang saya justru bersyukur. Kegelapan ini anugerah,” ucapnya.

Bagi Tatang, hidup bukan tentang apa yang hilang, melainkan apa yang bisa diberikan.

“Kita harus bermanfaat bagi orang lain. Tidak harus menunggu kita kaya atau pintar,” tutupnya.

News Update

Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)