Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Ruang kelas itu sederhana. Isinya hanya papan tulis, satu dua gambar yang tertempel di dinding, dan kurang dari sepuluh kursi murid. Kelas-kelas tampak sepi dan lengang. Seorang guru menyebut, banyak anak yang tidak masuk hari itu. Kebetulan, mereka baru saja pulang berlibur dari Ciwidey.

Proses belajar pun dialihkan ke aula. Sekitar dua puluh anak difabel dari tipe A (tunanetra), B (tunarungu), C (tunagrahita), dan D (tunadaksa), dari berbagai jenjang mulai SD hingga SMA, berkumpul bersama empat pengajar. Suasana menjadi lebih hidup, meski tetap dalam ritme yang tenang dan terarah.

Di salah satu sudut ruang, dua pelajar duduk dengan cara masing-masing memahami dunia melalui ingatan, sentuhan, dan kebiasaan yang dibangun secara bertahap.

Fathur Rohman M. Farel (22) menunduk, jarinya menyentuh permukaan meja perlahan, seolah sedang membaca sesuatu yang tak kasatmata. Di sisi lain, ada Aulia Ramadhani (13), atau akrab dipanggil Aul. Ia duduk rapi dengan senyum tipis, sesekali menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat.

Keduanya merupakan siswa di SLB ABCD Caringin, Kota Bandung. Sebuah tempat belajar yang tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga membentuk cara mereka memahami kehidupan.

Di tempat ini, proses belajar melampaui sekadar kemampuan akademik. Ada kemandirian yang dilatih, penerimaan yang dipupuk, serta harapan yang perlahan dibangun. Bagi Fathur dan Aul, sekolah menjadi ruang aman, tempat mereka berkembang dengan cara masing-masing, namun dengan tujuan yang sama: menjadi individu yang mandiri.

Fathur Rohman M. Farel, siswa tunanetra SLB ABCD Caringin, bercita-cita melanjutkan studi dan menjadi guru untuk membanggakan orang tuanya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Fathur Rohman M. Farel, siswa tunanetra SLB ABCD Caringin, bercita-cita melanjutkan studi dan menjadi guru untuk membanggakan orang tuanya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kemajemukan dalam Keterbatasan

Istilah disabilitas dan difabel kerap terdengar serupa, tetapi memiliki perbedaan makna. Disabilitas merujuk pada keterbatasan atau ketidakmampuan, sementara difabel menekankan bahwa individu memiliki kemampuan, hanya dengan cara yang berbeda.

Pemilihan kata bukan sekadar persoalan bahasa. Diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi cara pandang masyarakat. Dari cara berpikir itulah, sikap terhadap sesama kemudian terbentuk.

Difabel merupakan istilah untuk individu yang mengalami keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, atau mental. Ragamnya meliputi tunanetra (penglihatan), tunarungu (pendengaran), tunagrahita (kognitif), tunadaksa (fisik), dan tunawicara (berbicara). Masing-masing membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda.

Di Bandung, kelompok difabel masih menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan lingkungan yang inklusif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2024), jumlah penyandang disabilitas mencapai 8.717 jiwa yang tersebar di 30 kecamatan. Angka ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan akan akses yang setara masih sangat besar.

Fathur termasuk salah satunya. Ia tidak terlahir sebagai tunanetra, melainkan kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan saat masih kecil. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya secara drastis.

Dari Kehilangan Menuju Kemandirian

Fathur mulai bercerita tentang awal mula kejadian yang membuatnya kehilangan fungsi penglihatan.

Sebelum masuk ke SLB ABCD Cicendo, tempat ia bermukim selama enam tahun, Fathur adalah warga asli Indramayu. Saat itu, ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan menjalani hari-harinya seperti anak lain seusianya, bermain bersama teman-teman.

Hingga suatu kejadian mengubah segalanya. Sebuah kayu runcing yang dimainkan temannya mengenai salah satu mata Fathur hingga berdarah. Ia kemudian menjalani operasi. Namun, dari pemeriksaan yang dilakukan, diketahui bahwa kerusakan pada kornea mata kanan menjalar hingga memengaruhi saraf pada mata kirinya.

Akibatnya, Fathur kehilangan fungsi penglihatan pada kedua matanya.

Sejak saat itu, hidupnya berubah. Dari anak yang aktif bermain, ia harus beradaptasi dengan dunia yang sepenuhnya gelap. Orang tuanya yang belum memahami kondisi difabel sempat kebingungan menentukan arah pendidikan yang tepat.

Sejak SMP, Fathur mulai bersekolah di SLB ABCD Caringin dan tinggal bersama pendiri Yayasan Lara Adam Mulia, Tatang. Di tempat itu, ia mulai mengenal kemandirian, sesuatu yang sebelumnya belum ia rasakan.

“Saya tidak mau pulang sebelum saya berhasil,” kata Fathur saat ditemui di salah satu ruang kelas.

Sebagai anak sulung dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara, ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya.

“Makna berhasil menurut saya, saya harus punya ilmu dan bisa bikin orang tua bangga, punya penghasilan, tidak minta-minta,” lanjutnya dengan penyampaian yang tegas.

Bagi Fathur, keberhasilan bukan sekadar menyelesaikan pendidikan. Lebih dari itu, ia ingin mampu berdiri sendiri dan memberi kontribusi bagi keluarganya. Ia bahkan memiliki rencana untuk melanjutkan studi di Universitas Terbuka, mengambil jurusan PGSD.

Dalam keseharian, ia juga menghadapi tantangan dalam bersosialisasi. Perbedaan usia dengan teman-teman sekolah, serta dominasi siswa tunagrahita di lingkungan belajar, membuatnya kerap merasa kesulitan menemukan teman berbincang.

Namun, hal itu tidak ia jadikan penghalang. Ia memilih untuk tetap fokus pada tujuan hidupnya.

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ruang Aman bagi yang Sering Dianggap Sebelah Mata

Berbeda dengan Fathur, Aulia adalah penyandang tunagrahita yang menghadapi tantangan dalam aspek kognitif. Cara berkomunikasinya sederhana, jawabannya singkat, tetapi jujur dan tulus.

Saat ditanya mengenai aktivitas yang ia sukai di sekolah, Aul menjawab dengan spontan.

“Nulis, mewarnai,” ucap Aul singkat sambil menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan, seolah sedang berpikir.

Ia juga menyukai buku, terutama yang berkaitan dengan minatnya.

“Mobil,” jawabnya ketika ditanya tentang buku favoritnya, diiringi senyum kecil.

Bagi Aul, sekolah bukan tempat yang penuh tuntutan. Sebaliknya, sekolah adalah ruang yang membuatnya merasa diterima. Ia tidak banyak berbicara tentang cita-cita, tetapi kebahagiaannya terlihat dari kenyamanan yang ia rasakan setiap hari.

“Temannya baik, gurunya baik,” ucap Aul riang.

Kesederhanaan jawaban Aul justru menegaskan hal yang penting. Bagi banyak anak difabel, rasa aman dan penerimaan sering kali jauh lebih berarti dibandingkan capaian akademik semata.

Di tengah berbagai keterbatasan, Fathur dan Aul menunjukkan bahwa proses belajar bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang terus melangkah.

SLB ABCD Caringin menjadi saksi dari langkah-langkah kecil itu, langkah yang dirawat setiap hari, hingga pada akhirnya mengantar mereka menemukan tempatnya masing-masing di dunia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:04

Jalan Berlubang, Nyawa Melayang: Pelajaran dari Tragedi di Pasteur

Tragedi di Jalan Pasteur menjadi pengingat bahwa jalan berlubang dapat memicu kecelakaan fatal dan menegaskan pentingnya prinsip jalan berkeselamatan.

Seorang pengemudi ojek online tewas usai terjatuh karena lubang di Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung, Rabu (17/6/2026). (Sumber: Dok. Unit Gakkum Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:28

Endorse Jutaan, Hasil Recehan

Memilih influencer sebagai strategi marketing perusahaan produk fashion tidak lagi menjadi daya tarik yang kuat bagi konsumen Gen Z karena Gen Z lebih peduli terhadap produk murah dan diskon.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:09

Mengapa Internet Tidak Gratis Bagi Pendidikan?

Kebutuhan internet gratis sangat tepat untuk menjadikan sekolah berselancar dengan internet sehingga wawasan pendidikan makin terbuka.

ilustrasi berselancar di internet. (Sumber: Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 20:17

Dari Tanam Paksa ke Investasi Modern: Mengkritisi Pola Investasi Masa Kolonial untuk Masa Kini

Investasi Indonesia berubah dari eksploitatif di era kolonial menjadi lebih inklusif di era modern, dengan realisasi Rp1.418 triliun dan 1,8 juta lapangan kerja pada 2023.

Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 20:06

Belajar Kebijaksanaan dari BUMDes Cisurat, Bersaing Sehat dengan Agen BRILink Warganya

Dahulu, warga Desa Cisurat harus menempuh perjalanan rata-rata 10 kilometer untuk urusan perbankan.

Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)