AYOBANDUNG.ID - Ruang kelas itu sederhana. Isinya hanya papan tulis, satu dua gambar yang tertempel di dinding, dan kurang dari sepuluh kursi murid. Kelas-kelas tampak sepi dan lengang. Seorang guru menyebut, banyak anak yang tidak masuk hari itu. Kebetulan, mereka baru saja pulang berlibur dari Ciwidey.
Proses belajar pun dialihkan ke aula. Sekitar dua puluh anak difabel dari tipe A (tunanetra), B (tunarungu), C (tunagrahita), dan D (tunadaksa), dari berbagai jenjang mulai SD hingga SMA, berkumpul bersama empat pengajar. Suasana menjadi lebih hidup, meski tetap dalam ritme yang tenang dan terarah.
Di salah satu sudut ruang, dua pelajar duduk dengan cara masing-masing memahami dunia melalui ingatan, sentuhan, dan kebiasaan yang dibangun secara bertahap.
Fathur Rohman M. Farel (22) menunduk, jarinya menyentuh permukaan meja perlahan, seolah sedang membaca sesuatu yang tak kasatmata. Di sisi lain, ada Aulia Ramadhani (13), atau akrab dipanggil Aul. Ia duduk rapi dengan senyum tipis, sesekali menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat.
Keduanya merupakan siswa di SLB ABCD Caringin, Kota Bandung. Sebuah tempat belajar yang tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga membentuk cara mereka memahami kehidupan.
Di tempat ini, proses belajar melampaui sekadar kemampuan akademik. Ada kemandirian yang dilatih, penerimaan yang dipupuk, serta harapan yang perlahan dibangun. Bagi Fathur dan Aul, sekolah menjadi ruang aman, tempat mereka berkembang dengan cara masing-masing, namun dengan tujuan yang sama: menjadi individu yang mandiri.

Kemajemukan dalam Keterbatasan
Istilah disabilitas dan difabel kerap terdengar serupa, tetapi memiliki perbedaan makna. Disabilitas merujuk pada keterbatasan atau ketidakmampuan, sementara difabel menekankan bahwa individu memiliki kemampuan, hanya dengan cara yang berbeda.
Pemilihan kata bukan sekadar persoalan bahasa. Diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi cara pandang masyarakat. Dari cara berpikir itulah, sikap terhadap sesama kemudian terbentuk.
Difabel merupakan istilah untuk individu yang mengalami keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, atau mental. Ragamnya meliputi tunanetra (penglihatan), tunarungu (pendengaran), tunagrahita (kognitif), tunadaksa (fisik), dan tunawicara (berbicara). Masing-masing membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda.
Di Bandung, kelompok difabel masih menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan lingkungan yang inklusif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2024), jumlah penyandang disabilitas mencapai 8.717 jiwa yang tersebar di 30 kecamatan. Angka ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan akan akses yang setara masih sangat besar.
Fathur termasuk salah satunya. Ia tidak terlahir sebagai tunanetra, melainkan kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan saat masih kecil. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya secara drastis.
Dari Kehilangan Menuju Kemandirian
Fathur mulai bercerita tentang awal mula kejadian yang membuatnya kehilangan fungsi penglihatan.
Sebelum masuk ke SLB ABCD Cicendo, tempat ia bermukim selama enam tahun, Fathur adalah warga asli Indramayu. Saat itu, ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan menjalani hari-harinya seperti anak lain seusianya, bermain bersama teman-teman.
Hingga suatu kejadian mengubah segalanya. Sebuah kayu runcing yang dimainkan temannya mengenai salah satu mata Fathur hingga berdarah. Ia kemudian menjalani operasi. Namun, dari pemeriksaan yang dilakukan, diketahui bahwa kerusakan pada kornea mata kanan menjalar hingga memengaruhi saraf pada mata kirinya.
Akibatnya, Fathur kehilangan fungsi penglihatan pada kedua matanya.
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Dari anak yang aktif bermain, ia harus beradaptasi dengan dunia yang sepenuhnya gelap. Orang tuanya yang belum memahami kondisi difabel sempat kebingungan menentukan arah pendidikan yang tepat.
Sejak SMP, Fathur mulai bersekolah di SLB ABCD Caringin dan tinggal bersama pendiri Yayasan Lara Adam Mulia, Tatang. Di tempat itu, ia mulai mengenal kemandirian, sesuatu yang sebelumnya belum ia rasakan.
“Saya tidak mau pulang sebelum saya berhasil,” kata Fathur saat ditemui di salah satu ruang kelas.
Sebagai anak sulung dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara, ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya.
“Makna berhasil menurut saya, saya harus punya ilmu dan bisa bikin orang tua bangga, punya penghasilan, tidak minta-minta,” lanjutnya dengan penyampaian yang tegas.
Bagi Fathur, keberhasilan bukan sekadar menyelesaikan pendidikan. Lebih dari itu, ia ingin mampu berdiri sendiri dan memberi kontribusi bagi keluarganya. Ia bahkan memiliki rencana untuk melanjutkan studi di Universitas Terbuka, mengambil jurusan PGSD.
Dalam keseharian, ia juga menghadapi tantangan dalam bersosialisasi. Perbedaan usia dengan teman-teman sekolah, serta dominasi siswa tunagrahita di lingkungan belajar, membuatnya kerap merasa kesulitan menemukan teman berbincang.
Namun, hal itu tidak ia jadikan penghalang. Ia memilih untuk tetap fokus pada tujuan hidupnya.

Ruang Aman bagi yang Sering Dianggap Sebelah Mata
Berbeda dengan Fathur, Aulia adalah penyandang tunagrahita yang menghadapi tantangan dalam aspek kognitif. Cara berkomunikasinya sederhana, jawabannya singkat, tetapi jujur dan tulus.
Saat ditanya mengenai aktivitas yang ia sukai di sekolah, Aul menjawab dengan spontan.
“Nulis, mewarnai,” ucap Aul singkat sambil menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan, seolah sedang berpikir.
Ia juga menyukai buku, terutama yang berkaitan dengan minatnya.
“Mobil,” jawabnya ketika ditanya tentang buku favoritnya, diiringi senyum kecil.
Bagi Aul, sekolah bukan tempat yang penuh tuntutan. Sebaliknya, sekolah adalah ruang yang membuatnya merasa diterima. Ia tidak banyak berbicara tentang cita-cita, tetapi kebahagiaannya terlihat dari kenyamanan yang ia rasakan setiap hari.
“Temannya baik, gurunya baik,” ucap Aul riang.
Kesederhanaan jawaban Aul justru menegaskan hal yang penting. Bagi banyak anak difabel, rasa aman dan penerimaan sering kali jauh lebih berarti dibandingkan capaian akademik semata.
Di tengah berbagai keterbatasan, Fathur dan Aul menunjukkan bahwa proses belajar bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang terus melangkah.
SLB ABCD Caringin menjadi saksi dari langkah-langkah kecil itu, langkah yang dirawat setiap hari, hingga pada akhirnya mengantar mereka menemukan tempatnya masing-masing di dunia.
