Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei sebagai bentuk penghargaan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran beliau pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Peringatan Hardiknas menjadi momentum untuk mengenang perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tema Hardiknas 2026—“Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”—menegaskan pentingnya kolaborasi dalam sistem pendidikan. Namun, di tengah ekspansi pendidikan tinggi dan kompleksitas tata kelola yang semakin meningkat, pertanyaan kuncinya bukan lagi siapa yang terlibat, melainkan apakah sistem yang ada cukup sehat untuk menopang partisipasi tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mencatat kemajuan penting dalam perluasan akses pendidikan tinggi. Keterlibatan masyarakat meningkat, ditandai dengan bertambahnya jumlah institusi pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang dalam beberapa tahun terakhir mencapai 2.813 institusi, jauh lebih banyak daripada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang jumlahnya hanya 125 institusi. Dari perspektif pemerataan akses, perkembangan ini merupakan capaian yang patut diapresiasi.

Namun demikian, ekspansi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Sejumlah PTS menghadapi keterbatasan dalam hal keberlanjutan, baik dari sisi jumlah mahasiswa, kapasitas pendanaan, maupun kualitas layanan akademik. Dalam konteks tertentu, kondisi ini berimplikasi pada ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan pasar kerja, serta berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap pendidikan tinggi.

Penutupan Prodi dan Tantangan Relevansi

Isu penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan menjadi perhatian dalam diskursus pendidikan tinggi. Namun, pendekatan kebijakan yang berkembang justru menunjukkan arah yang berbeda. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menegaskan bahwa prodi yang dinilai belum relevan tidak serta-merta ditutup, melainkan didorong untuk dikembangkan melalui pembaruan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi diminta melakukan penyesuaian kurikulum secara berkala, umumnya dalam rentang dua hingga empat tahun.

Pendekatan ini mengadopsi prinsip continuous improvement, yaitu perbaikan berkelanjutan berbasis evaluasi yang sistematis. Dalam praktiknya, kurikulum tidak dipandang sebagai dokumen statis, melainkan sebagai instrumen dinamis yang harus terus disesuaikan dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, dan perubahan lanskap keilmuan.

Dalam kerangka ini, istilah “prodi tidak relevan” lebih merujuk pada program studi yang mengalami kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan dunia kerja. Indikatornya dapat dilihat dari serapan lulusan serta tingkat kesesuaian antara bidang studi dan pekerjaan yang dijalani.

Pendekatan pengembangan dibandingkan penutupan menunjukkan pergeseran dari kebijakan yang bersifat korektif menjadi lebih adaptif. Tantangannya adalah memastikan bahwa mekanisme evaluasi tersebut benar-benar berbasis data, melibatkan pemangku kepentingan, dan dilakukan secara konsisten. Tanpa itu, pembaruan kurikulum berisiko menjadi formalitas, tanpa dampak signifikan terhadap peningkatan relevansi lulusan.

Kesejahteraan Dosen dan Kualitas Pembelajaran

Kualitas pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh peran dosen sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, berbagai dinamika menunjukkan bahwa aspek kesejahteraan dosen masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Polemik terkait pembayaran tunjangan kinerja (tukin) bagi dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemendiktisaintek periode 2020-2024 yang belum terselesaikan mencerminkan adanya persoalan dalam tata kelola yang berdampak pada stabilitas profesi. Di sisi lain, sebagian dosen di PTS masih menghadapi keterbatasan kesejahteraan, dengan tingkat penghasilan yang relatif rendah di sejumlah wilayah.

Dosen yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI), menuntut pencairan tunjangan kinerja (tukin) periode 2020-2024 yang belum terbayarkan oleh pemerintah. (Sumber: ADAKSI)
Dosen yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI), menuntut pencairan tunjangan kinerja (tukin) periode 2020-2024 yang belum terbayarkan oleh pemerintah. (Sumber: ADAKSI)

Selain itu, terdapat ketimpangan dalam sistem remunerasi di PTN yang dipengaruhi oleh perbedaan status kelembagaan, seperti PTN-BH, BLU, dan Satuan Kerja. Sementara itu, beban kerja dosen yang mencakup berbagai tugas tridarma kerap melampaui jam kerja formal.

Isu lain yang turut mengemuka adalah tuntutan penyesuaian tunjangan fungsional dosen, yang besarnya tidak mengalami perubahan sejak 2007. Dalam konteks inflasi dan peningkatan biaya hidup, stagnasi ini memunculkan kesenjangan antara beban kerja profesional dengan penghargaan yang diterima.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa kesejahteraan tenaga pendidik memiliki keterkaitan erat dengan kualitas pembelajaran, produktivitas riset, dan keterlibatan institusional. Oleh karena itu, penguatan aspek ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara menyeluruh.

Partisipasi Semesta dan Tantangan Tata Kelola

Konsep partisipasi semesta menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan. Namun, dalam perspektif tata kelola, partisipasi tidak hanya bergantung pada jumlah aktor yang terlibat, tetapi juga pada kualitas koordinasi, kejelasan peran, serta keselarasan kebijakan.

Tanpa dukungan institusi yang kuat dan regulasi yang adaptif, partisipasi berpotensi menjadi tidak terarah. Berbagai aktor mungkin terlibat, tetapi tidak terhubung dalam kerangka kerja yang terintegrasi.

Dalam konteks ini, tantangan utama pendidikan tinggi di Indonesia bukan semata kurangnya partisipasi, melainkan bagaimana memastikan partisipasi tersebut berjalan secara efektif, terkoordinasi, dan berbasis pada tujuan bersama.

Arah Kebijakan: dari Ekspansi ke Penguatan Kualitas

Untuk mewujudkan pendidikan bermutu melalui partisipasi semesta, diperlukan penyesuaian arah kebijakan yang tidak hanya berfokus pada perluasan akses, tetapi juga pada penguatan kualitas dan keberlanjutan. Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:

Pertama, memperkuat mekanisme evaluasi dan perencanaan prodi berbasis data, termasuk integrasi dengan informasi pasar kerja dan kebutuhan sektor industri.

Kedua, mendorong penguatan dan konsolidasi institusi pendidikan tinggi, khususnya bagi PTS, agar memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menjaga kualitas layanan akademik.

Ketiga, melakukan penyesuaian sistem kesejahteraan dan remunerasi dosen secara lebih proporsional dan berkeadilan, termasuk peninjauan kembali besaran tunjangan kinerja dan tunjangan fungsional.

Keempat, memperluas kemitraan antara perguruan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik, serta riset terapan.

Menuju Partisipasi yang Bermakna

Tema Hardiknas 2026 memberikan arah yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini. Namun, implementasinya memerlukan penguatan fondasi sistem pendidikan itu sendiri.

Partisipasi semesta tidak cukup dimaknai sebagai keterlibatan banyak pihak, tetapi perlu diterjemahkan sebagai kolaborasi yang terstruktur, berbasis data, dan didukung oleh kebijakan yang adil. Tanpa itu, pendidikan tinggi berisiko berkembang secara kuantitatif, tetapi menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas dan keberlanjutannya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas partisipasi yang terbangun, tetapi oleh seberapa kuat sistem yang menopangnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)