Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Minggu 03 Mei 2026, 09:36 WIB
Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei sebagai bentuk penghargaan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran beliau pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Peringatan Hardiknas menjadi momentum untuk mengenang perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tema Hardiknas 2026—“Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”—menegaskan pentingnya kolaborasi dalam sistem pendidikan. Namun, di tengah ekspansi pendidikan tinggi dan kompleksitas tata kelola yang semakin meningkat, pertanyaan kuncinya bukan lagi siapa yang terlibat, melainkan apakah sistem yang ada cukup sehat untuk menopang partisipasi tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mencatat kemajuan penting dalam perluasan akses pendidikan tinggi. Keterlibatan masyarakat meningkat, ditandai dengan bertambahnya jumlah institusi pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang dalam beberapa tahun terakhir mencapai 2.813 institusi, jauh lebih banyak daripada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang jumlahnya hanya 125 institusi. Dari perspektif pemerataan akses, perkembangan ini merupakan capaian yang patut diapresiasi.

Namun demikian, ekspansi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Sejumlah PTS menghadapi keterbatasan dalam hal keberlanjutan, baik dari sisi jumlah mahasiswa, kapasitas pendanaan, maupun kualitas layanan akademik. Dalam konteks tertentu, kondisi ini berimplikasi pada ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan pasar kerja, serta berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap pendidikan tinggi.

Penutupan Prodi dan Tantangan Relevansi

Isu penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan menjadi perhatian dalam diskursus pendidikan tinggi. Namun, pendekatan kebijakan yang berkembang justru menunjukkan arah yang berbeda. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menegaskan bahwa prodi yang dinilai belum relevan tidak serta-merta ditutup, melainkan didorong untuk dikembangkan melalui pembaruan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi diminta melakukan penyesuaian kurikulum secara berkala, umumnya dalam rentang dua hingga empat tahun.

Pendekatan ini mengadopsi prinsip continuous improvement, yaitu perbaikan berkelanjutan berbasis evaluasi yang sistematis. Dalam praktiknya, kurikulum tidak dipandang sebagai dokumen statis, melainkan sebagai instrumen dinamis yang harus terus disesuaikan dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, dan perubahan lanskap keilmuan.

Dalam kerangka ini, istilah “prodi tidak relevan” lebih merujuk pada program studi yang mengalami kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan dunia kerja. Indikatornya dapat dilihat dari serapan lulusan serta tingkat kesesuaian antara bidang studi dan pekerjaan yang dijalani.

Pendekatan pengembangan dibandingkan penutupan menunjukkan pergeseran dari kebijakan yang bersifat korektif menjadi lebih adaptif. Tantangannya adalah memastikan bahwa mekanisme evaluasi tersebut benar-benar berbasis data, melibatkan pemangku kepentingan, dan dilakukan secara konsisten. Tanpa itu, pembaruan kurikulum berisiko menjadi formalitas, tanpa dampak signifikan terhadap peningkatan relevansi lulusan.

Kesejahteraan Dosen dan Kualitas Pembelajaran

Kualitas pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh peran dosen sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, berbagai dinamika menunjukkan bahwa aspek kesejahteraan dosen masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Polemik terkait pembayaran tunjangan kinerja (tukin) bagi dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemendiktisaintek periode 2020-2024 yang belum terselesaikan mencerminkan adanya persoalan dalam tata kelola yang berdampak pada stabilitas profesi. Di sisi lain, sebagian dosen di PTS masih menghadapi keterbatasan kesejahteraan, dengan tingkat penghasilan yang relatif rendah di sejumlah wilayah.

Dosen yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI), menuntut pencairan tunjangan kinerja (tukin) periode 2020-2024 yang belum terbayarkan oleh pemerintah. (Sumber: ADAKSI)
Dosen yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI), menuntut pencairan tunjangan kinerja (tukin) periode 2020-2024 yang belum terbayarkan oleh pemerintah. (Sumber: ADAKSI)

Selain itu, terdapat ketimpangan dalam sistem remunerasi di PTN yang dipengaruhi oleh perbedaan status kelembagaan, seperti PTN-BH, BLU, dan Satuan Kerja. Sementara itu, beban kerja dosen yang mencakup berbagai tugas tridarma kerap melampaui jam kerja formal.

Isu lain yang turut mengemuka adalah tuntutan penyesuaian tunjangan fungsional dosen, yang besarnya tidak mengalami perubahan sejak 2007. Dalam konteks inflasi dan peningkatan biaya hidup, stagnasi ini memunculkan kesenjangan antara beban kerja profesional dengan penghargaan yang diterima.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa kesejahteraan tenaga pendidik memiliki keterkaitan erat dengan kualitas pembelajaran, produktivitas riset, dan keterlibatan institusional. Oleh karena itu, penguatan aspek ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara menyeluruh.

Partisipasi Semesta dan Tantangan Tata Kelola

Konsep partisipasi semesta menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan. Namun, dalam perspektif tata kelola, partisipasi tidak hanya bergantung pada jumlah aktor yang terlibat, tetapi juga pada kualitas koordinasi, kejelasan peran, serta keselarasan kebijakan.

Tanpa dukungan institusi yang kuat dan regulasi yang adaptif, partisipasi berpotensi menjadi tidak terarah. Berbagai aktor mungkin terlibat, tetapi tidak terhubung dalam kerangka kerja yang terintegrasi.

Dalam konteks ini, tantangan utama pendidikan tinggi di Indonesia bukan semata kurangnya partisipasi, melainkan bagaimana memastikan partisipasi tersebut berjalan secara efektif, terkoordinasi, dan berbasis pada tujuan bersama.

Arah Kebijakan: dari Ekspansi ke Penguatan Kualitas

Untuk mewujudkan pendidikan bermutu melalui partisipasi semesta, diperlukan penyesuaian arah kebijakan yang tidak hanya berfokus pada perluasan akses, tetapi juga pada penguatan kualitas dan keberlanjutan. Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:

Pertama, memperkuat mekanisme evaluasi dan perencanaan prodi berbasis data, termasuk integrasi dengan informasi pasar kerja dan kebutuhan sektor industri.

Kedua, mendorong penguatan dan konsolidasi institusi pendidikan tinggi, khususnya bagi PTS, agar memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menjaga kualitas layanan akademik.

Ketiga, melakukan penyesuaian sistem kesejahteraan dan remunerasi dosen secara lebih proporsional dan berkeadilan, termasuk peninjauan kembali besaran tunjangan kinerja dan tunjangan fungsional.

Keempat, memperluas kemitraan antara perguruan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik, serta riset terapan.

Menuju Partisipasi yang Bermakna

Tema Hardiknas 2026 memberikan arah yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini. Namun, implementasinya memerlukan penguatan fondasi sistem pendidikan itu sendiri.

Partisipasi semesta tidak cukup dimaknai sebagai keterlibatan banyak pihak, tetapi perlu diterjemahkan sebagai kolaborasi yang terstruktur, berbasis data, dan didukung oleh kebijakan yang adil. Tanpa itu, pendidikan tinggi berisiko berkembang secara kuantitatif, tetapi menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas dan keberlanjutannya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas partisipasi yang terbangun, tetapi oleh seberapa kuat sistem yang menopangnya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)