Hari Bumi di Bandung: Krisis Transportasi dan Jalan Panjang Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Rabu 22 Apr 2026, 18:08 WIB
Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)

Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)

Hari Bumi setiap 22 April bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan kota secara lebih menyeluruh. Di Bandung, refleksi ini menjadi penting karena persoalan transportasi telah melampaui isu kemacetan semata, dan kini berimplikasi langsung pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, efisiensi energi, serta kenyamanan hidup di ruang perkotaan.

Ketergantungan pada kendaraan pribadi di Bandung masih sangat dominan dan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan. Kemacetan di koridor utama seperti Dago (Jl. Ir. H. Juanda), Pasteur (Jl. Dr. Djunjunan), Soekarno Hatta, Kopo, hingga Buah Batu dan kawasan Bandung Timur seperti A.H. Nasution menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan lalu lintas tersebar di seluruh penjuru kota. Dampaknya tidak berhenti pada pemborosan waktu dan energi, tetapi juga meningkatkan emisi gas rumah kaca serta polutan lokal seperti partikulat dan nitrogen oksida.

Sektor transportasi di Kota Bandung sendiri menyumbang lebih dari dua pertiga emisi gas buang kota. Konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor mencapai 627 juta liter per tahun yang menghasilkan sekitar 1,53 juta ton emisi karbon per tahun (Urban Public Transportation Study Series: Bandung, 2023). Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada penurunan kualitas udara dan risiko kesehatan masyarakat. Hari Bumi mengingatkan bahwa pola mobilitas seperti ini tidak berkelanjutan dan membutuhkan intervensi sistemik.

Kemacetan di Jalan Dr. Djunjunan (Pasteur), Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kemacetan di Jalan Dr. Djunjunan (Pasteur), Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Alternatif yang belum benar-benar hadir

Di tengah tekanan tersebut, keberadaan transportasi publik yang andal seharusnya menjadi solusi utama. Namun, hingga kini Bandung belum memiliki sistem angkutan massal berbasis bus skala kota yang terintegrasi dan berkinerja tinggi. Layanan angkutan yang ada masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian waktu tempuh, keterbatasan jangkauan, hingga kualitas pelayanan yang belum konsisten. Akibatnya, masyarakat belum melihat transportasi publik sebagai pilihan yang kompetitif dibandingkan kendaraan pribadi. Tanpa peningkatan signifikan pada aspek keandalan dan integrasi, peralihan moda akan sulit terjadi.

Seorang penyandang disabilitas netra berjalan di atas trotoar yang rusak di Jalan Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Seorang penyandang disabilitas netra berjalan di atas trotoar yang rusak di Jalan Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Infrastruktur dasar yang terabaikan

Moda transportasi paling mendasar—berjalan kaki dan bersepeda—justru belum mendapatkan perhatian yang memadai. Banyak jalur pejalan kaki di Bandung berada dalam kondisi rusak, sempit, atau terhalang oleh parkir liar, pohon besar dan aktivitas informal, sehingga mengurangi tingkat keselamatan dan kenyamanan pengguna. Di sisi lain, jalur sepeda yang telah dibangun sering kali bersifat parsial dan terputus, tidak terhubung antar-kawasan, serta belum dilengkapi dengan elemen keselamatan yang memadai. Bahkan, dalam praktiknya, tidak sedikit jalur sepeda yang justru digunakan sebagai area parkir kendaraan, sehingga semakin mengurangi fungsinya bagi pesepeda. Kondisi ini menunjukkan bahwa mobilitas aktif belum diposisikan sebagai bagian penting dari sistem transportasi kota, melainkan sekadar pelengkap.

Jalur Sepeda di Jalan Merdeka, Kota Bandung kerap menjadi area parkir kendaraan. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Jalur Sepeda di Jalan Merdeka, Kota Bandung kerap menjadi area parkir kendaraan. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Potensi besar yang belum dimanfaatkan

Secara spasial, Bandung memiliki keunggulan sebagai kota yang relatif kompak, dengan banyak kawasan yang sebenarnya dapat dijangkau dalam jarak pendek. Ini merupakan prasyarat ideal untuk mendorong penggunaan moda aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya perencanaan yang berorientasi pada manusia. Jika indikator seperti keselamatan, kenyamanan, daya tarik, kelangsungan rute, dan koherensi terpenuhi, mobilitas aktif dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi beban lalu lintas sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kota.

Dari seremoni ke perubahan sistemik

Inisiatif seperti car free day di kawasan Dago memperlihatkan gambaran alternatif kota yang lebih ramah lingkungan: udara yang lebih bersih, ruang publik yang lebih hidup, serta interaksi sosial yang meningkat. Namun, kegiatan ini masih bersifat temporer dan belum terintegrasi ke dalam kebijakan transportasi sehari-hari. Tantangan ke depan adalah mentransformasikan semangat tersebut menjadi kebijakan permanen, misalnya melalui pembatasan kendaraan di kawasan tertentu, pengembangan zona rendah emisi, serta prioritas ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Sejumlah pesepeda melintasi car free day Dago. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Sejumlah pesepeda melintasi car free day Dago. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Menjadikan hari bumi sebagai titik balik

Momentum Hari Bumi seharusnya dimanfaatkan sebagai titik balik untuk membenahi sistem transportasi Bandung secara menyeluruh. Ini mencakup pengembangan angkutan umum yang andal dan terintegrasi, revitalisasi jalur pejalan kaki agar aman dan inklusif, serta pembangunan jaringan jalur sepeda yang utuh dan berkelanjutan. Upaya ini perlu didukung oleh kebijakan yang konsisten dan keberpihakan pada mobilitas berkelanjutan.

Pada akhirnya, masa depan Bandung tidak hanya ditentukan oleh kelancaran pergerakan, tetapi oleh kemampuan kota dalam menyeimbangkan kebutuhan mobilitas dengan keberlanjutan lingkungan. Hari Bumi menjadi pengingat bahwa transformasi transportasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Apr 2026, 19:21

Refleksi Hari Bumi dan Masa Depan Ekowisata Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh adalah objek yang lengkap untuk kategori ekowisata

Pemandangan Geopark Ciletuh yang fantastis. (Sumber: disparbud.jabarprov.go.id)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 18:08

Hari Bumi di Bandung: Krisis Transportasi dan Jalan Panjang Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Kemacetan, rendahnya layanan transportasi publik, serta buruknya infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda cermin krisis transportasi Bandung. Hari Bumi mengingatkan pentingnya mobilitas berkelanjutan.

Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 17:00

Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 16:25

Dari Padel ke Hyrox: Komodifikasi Olahraga dan Representasi Gengsi Kelas Atas dalam Budaya Populer

Pergeseran tren olahraga dari padel ke Hyrox sebagai simbol gaya hidup kelas atas.

Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 12:53

Buruh Digital yang Bahagia: Menelaah Eksploitasi di Balik Fenomena Fan-Edit TikTok

Fenomena fan-edit TikTok adalah bentuk digital labour.

Program Google AI Tools for Journalist yang digelar selama dua hari, 23–24 Desember 2025 di Kantor Ayo Media Network. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 22 Apr 2026, 11:26

7 Kuliner yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kuliner hangat seperti bakso, soto, mi instan, hingga sekoteng yang cocok disantap saat cuaca dingin dan hujan.

Mi instan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 11:25

Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani

Di Hari Puisi Nasional, Bandung tidak hanya sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memperlihatkan jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dijalani.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 10:51

Di Bandung, Kuliah Tamat Jodoh Dapat

Para mahasiswa-mahasiswi dari berbagai daerah datang ke Bandung akhir tahun 1980-an, kuliah di IKIP Bandung, meraih titel pendidikan dan sekaligus mendapatkan jodoh

Villa Isola Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Sumber: Twitter/@wawan_purnama)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 10:00

Hari Bumi dan Misi KDM Selamatkan Cagar Alam

Provinsi Jawa Barat memiliki 26 kawasan cagar alam dan 3 taman nasional yang mesti dijaga eksistensinya.

Cagar Alam Kawah Kamojang (Sumber: ringtimes.id)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 19:55

Travel Antarkota Menjamur di Bandung: Masalah Parkir, Ruang Jalan, dan Perilaku Pengemudi

Keberadaannya dapat memicu persoalan parkir, ruang jalan dan perilaku berkendara yang problematik.

Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)
Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 18:32

Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

Darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya.

Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)
Bandung 21 Apr 2026, 18:11

Tantangan Bisnis Roastery Kopi: Bedah Supply Chain dan Peluang Pasar Global ala Good Things

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things.

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 17:57

Jiwanta: Berendam di Air Panas, Rasakan Ketenangan Hidup

Keajaiban air panas alami di tengah sejuknya alam Ciwidey yang memesona.

Jiwanta Cimanggu Hot Spring. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Wisata & Kuliner 21 Apr 2026, 17:50

Wisata Curug Cihanyawar, Air Terjun di Kaki Gunung Cikuray

Panduan wisata Curug Cihanyawar Garut, meliputi lokasi, akses jalur, kondisi jalan, serta daya tarik air terjun di kawasan kebun teh dan hutan pinus.

Curug Cihanyawar Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)