Beberapa kali sering terdengar kecelakaan terjadi di lampu merah kopo. Waktu itu tepatnya aku sedang berada dalam TMB Dago- Leuwipanjang yang sekitar 2 kiloan lagi akan masuk ke pintu Leuwipanjang. Saat itu kemacetan cukup lama terjadi. Aku kira karena rambu-rambu yang mati ternyata bukan.
Seorang laki-laki muda yang sedang menggelantungkan tangannya ke besi bewarna kuning karena tidak mendapat kursi duduk, mendadak berbicara.
"Oh itu ada kejadian kecelakaan orang terlindas"
Ucapnya sambil melihat sumber berita dari ponselnya.
Tidak pernah menyangka kalau aku juga akan melihat kecelakaan yang sama. Bedanya yang aku lihat adalah sesama pengendara motor. Dan beruntungnya mereka selamat. Hanya lecet sebagian dan beberapa bagian motor yang rusak.
Kejadiannya memang begitu cepat. Saat aku hendak menyeberang dari salah satu perempatan, awalnya semua aman. Namun ketika sampai menuju pembatas jalan. Mendadak satu motor dari arah Kopo Soreang melaju kencang ke arah Kopo Leuwipanjang, sementara pemotor dari arah Caringin yang memang sudah mendapat bagian lampu hijau tertabrak karena gagal menghindar dari pemotor yang melanggar aturan.
Karena lampu lalu lintas sedang hijau maka tidak banyak yang menolong. Hanya beberapa pengamen dipinggir jalan yang membantu kedua pengendara itu untuk terbangun. Dari segi kejauhan aku melihat seorang pengendara remaja dengan kondisi wajah yang masih terlihat syok. Entah karena benturan saat kejadian atau sebagian body motornya yang rusak. Keduanya menepi ke pinggir jalan sementara aku melanjutkan menyebrang untuk menggunakan angkot ke arah Cibaduyut.
Fenomena ini memang sering terjadi di jalanan. Ketidaksabaran, ketidak hati-hatian juga keinginan untuk cepat sampai membuat sebagian orang mengindahkan peraturan.
Dilansir dari idntimes jabar bahwa panggilan darurat 119 masih didominasi oleh kecelakaan lalu lintas dan data tersebut menjadi penyumbang terbesar angka kecelakaan di Kota Bandung. Menurut Kepala Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Bandung Eka Nugraha, kecelakaan lalu lintas masih menjadi alarm harian di Kota Bandung. Menurutnya hampir setiap hari petugas selalu menerima laporan yang berkaitan dengan kecelakaan yang ringan hingga berat. Bahkan laporan tersebut mengalahkan panggilan darurat serangan jantung maupun stroke.
Beberapa kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung memang memiliki faktor yang beragam. Mulai dari jalanan yang rusak dan berlubang, penerangan malam hari yang sangat minim, geometri jalanan yang curam atau menikung, marka peringatan jalan rawan yang pudar, jalanan yang licin dan beberapa diantaranya human error karena pengendara mengantuk, melanggar aturan, meningkatkan kecepatan karena terlalu terburu-buru.

Sebagai pengguna kendaraan umum saya merasa aneh dengan mereka yang tidak sabaran ketika menunggu waktu jalan saat lampu hijau. Saya perhatikan banyak sekali pengendara yang memaksakan melaju saat di persimpangan lain terlihat mobil atau motor dengan jarak yang jauh atau terlihat sepi. Padahal kejadian kecelakaan itu selalu terjadi secara spontan karena perkiraan tersebut tidak selalu akurat dengan kondisi jalanan yang sesungguhnya.
Saya sering memperhatikan kebiasaan masyarakat kita yang sangat tidak sabaran. Apalah artinya cepat jika tidak selamat. Padahal keluarga di rumah selalu menunggu anggota keluarganya pulang dengan selamat. Bahkan yang mesti dipikirkan pengendara bahwa keputusan kecil kita yang tidak sabaran tersebut justru bisa menjadi keburukan, tidak hanya untuk diri sendiri melainkan orang lain juga.
Satu menit bahkan satu detik saja yang seringkali disepelekan bisa saja berarti bagi orang lain. Maka bijak berkendara tidak hanya sekedar mentaati peraturan tapi juga menjaga agar kita sebagai manusia tidak mati dalam keadaan sia-sia. (*)
