Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

6 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Krisis sampah yang mengancam Bandung Raya hari ini bukan muncul secara tiba-tiba. Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari kegagalan mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumbernya selama bertahun-tahun.

Ketergantungan yang nyaris mutlak pada TPA Sarimukti membuat empat daerah di Bandung Raya berada dalam posisi kritis. Kapasitas Sarimukti terus menipis, yang terungkap bukan sekadar keterbatasan lahan pembuangan, melainkan rapuhnya sistem pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pola kumpul, angkut, dan buang.

"Yang kita olah itu masih sedikit. Dari total timbulan sampah 1.200 ton, paling terolah sekarang 100 sampai 200-an," ujar Humas UPT Pengelolaan Sampah Kota Bandung, Nugroho Bayu Prasetyo, akhir April lalu.

Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pola kumpul-angkut-buang. Akibatnya, ketika kapasitas TPA terganggu, dampaknya langsung dirasakan hingga ke tingkat tempat penampungan sementara (TPS), lingkungan permukiman warga, bahkan hingga rumah tangga.

Gunungan sampah memenuhi TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat yang kini kian mendekati kapasitas maksimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Restu Sauqi)
Gunungan sampah memenuhi TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat yang kini kian mendekati kapasitas maksimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Restu Sauqi)

Zona 5 Diprediksi Hanya Bertahan Hingga Oktober 2026

Ancaman terbaru muncul setelah hasil evaluasi menunjukkan Zona 5 TPA Sarimukti diperkirakan hanya mampu beroperasi hingga Oktober 2026. Padahal zona perluasan seluas sekitar 6,3 hektare itu baru digunakan sejak Mei 2025 dan awalnya diproyeksikan dapat menampung sampah selama lebih dari dua tahun.

Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Arief Perdana, mengatakan berdasarkan penghitungan terbaru kapasitas zona tersebut jauh lebih cepat terisi dibanding perkiraan awal.

"Berdasarkan hasil penghitungan terbaru, kapasitas Zona 5 diperkirakan habis pada Oktober 2026 dan kondisi ini sudah dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat," kata Arief, 9 Oktober 2026.

Menurut Arief, salah satu penyebab utama berkurangnya usia layanan TPA Sarimukti adalah tidak optimalnya proses pemadatan sampah akibat minimnya alat berat yang berfungsi. Beberapa alat penting seperti kompaktor mengalami kerusakan sehingga pembentukan landfill tidak berjalan maksimal.

Selain itu, volume sampah yang masuk ke Sarimukti juga masih melampaui batas yang ditetapkan pemerintah provinsi. Meski target pembuangan dibatasi sekitar 1.400 ton per hari, jumlah sampah yang masuk kerap mencapai 1.700 ton per hari.

"Secara visual kondisi Sarimukti sudah terlihat hampir penuh. Walaupun secara hitungan kapasitas belum sepenuhnya terisi, keterbatasan proses pemadatan membuat tumpukan sampah tampak jauh lebih tinggi," ujarnya.

Opsi Darurat: Aktifkan Kembali Zona Lama

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bagi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat yang hingga kini masih mengandalkan Sarimukti sebagai lokasi pembuangan akhir utama.

Menghadapi kemungkinan kapasitas Zona 5 habis dalam beberapa bulan ke depan, pengelola TPA Sarimukti mulai menyiapkan sejumlah opsi darurat. Salah satunya adalah mengaktifkan kembali Zona 3 dan Zona 4 yang sebelumnya telah ditutup.

"Memang ada kajian untuk mengaktifkan kembali zona 3 dan zona 4. Itu menjadi pilihan yang paling memungkinkan jika kapasitas zona 5 sudah tidak mencukupi," kata Arief.

Namun rencana tersebut tidak mudah diwujudkan. Zona 3 dan 4 sebelumnya ditutup karena timbunan sampah telah mencapai ketinggian yang dinilai berisiko bagi keselamatan petugas dan kendaraan operasional. Selain itu, reaktivasi kedua zona membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

"Pembahasannya sudah ada sejak 2025, tetapi belum tersedia anggaran. Untuk reaktivasi zona 3 dan 4 diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp24 miliar," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai menyiapkan langkah antisipasi jika Sarimukti tidak lagi mampu menerima sampah dalam jumlah besar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Aji, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait rencana bantuan mesin pengolah sampah yang akan ditempatkan di sejumlah titik.

"Sementara informasi yang kami terima akan ada bantuan mesin pengolah sampah dari provinsi. Jenisnya seperti apa masih belum diketahui. Rencananya akan ditempatkan di sekitar 50 titik di Bandung Barat," ujar Ibrahim.

Saat ini Bandung Barat mengirim sekitar 200 ton sampah per hari ke Sarimukti. Jika mesin-mesin tersebut mampu mengolah 5 hingga 10 ton sampah per hari di setiap titik, kapasitas pengolahan totalnya diperkirakan mencapai 250 hingga 500 ton per hari.

Meski demikian, tantangan pengelolaan sampah di Bandung Barat masih cukup besar. Dari total produksi sampah yang diperkirakan mencapai 700 ton per hari, layanan pengangkutan pemerintah daerah baru menjangkau 10 dari 16 kecamatan.

"Sebagian sampah diolah melalui bank sampah, budidaya maggot, dan pemanfaatan limbah makanan untuk pakan ternak, terutama di wilayah selatan Bandung Barat," jelas Ibrahim.

Petugas memilah sampah di tempat penampungan sementara (TPS) yang hanya menampung sampah residu di Jalan Gunung Batu, Kota Bandung, Rabu 3 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Petugas memilah sampah di tempat penampungan sementara (TPS) yang hanya menampung sampah residu di Jalan Gunung Batu, Kota Bandung, Rabu 3 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kota Bandung Masih Bergantung pada Sarimukti

Kota Bandung sebagai penyumbang sampah terbesar di kawasan Bandung Raya menghasilkan timbulan sampah sekitar 1.200 hingga 1.500 ton per hari.

Menurut Nugroho Bayu Prasetyo, persoalan pengangkutan kini semakin berat karena adanya pembatasan kuota dan antrean panjang menuju TPA Sarimukti. Kondisi tersebut membuat armada pengangkut yang sebelumnya mampu melakukan dua hingga tiga perjalanan per hari kini hanya mampu melakukan satu rit.

"Kalau untuk kondisi sekarang hanya satu rit. Dulu sebelum ada pembatasan kuota itu bisa dua sampai tiga rit satu hari," kata Bayu.

Truk pengangkut yang berangkat pada sore hari bahkan kerap tidak dapat membuang sampah pada hari yang sama karena jam operasional TPA telah berakhir.

"Kalau bawa dari Kota Bandung jam empat sore, nyampenya bisa jam enam atau tujuh malam. Otomatis harus nginep," ujarnya.

Akibatnya, ketika satu armada tertahan di lokasi pembuangan, penumpukan sampah dengan cepat terjadi di berbagai TPS dan lingkungan permukiman.

Sebagai kota tujuan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan wisata, Bandung juga menghadapi tekanan tambahan akibat tingginya mobilitas penduduk setiap hari.

“Kalau Kota Bandung kan siang biasanya dua kali lipat jumlah penghuninya. Karena banyak pendatang yang aktivitasnya di kota,” kata Bayu.

Untuk menjaga agar Sarimukti tetap dapat beroperasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menerapkan pembatasan pengiriman sampah dari daerah pengguna melalui Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6174/PBLS.04/DLH tentang peringatan dan pembatasan pembuangan sampah ke TPPAS Regional Sarimukti.

Dalam aturan itu, Kota Bandung dibatasi maksimal 981,31 ton sampah per hari, Kabupaten Bandung 280,37 ton per hari, sedangkan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat masing-masing 119,16 ton per hari.

Arief menegaskan pembatasan bisa diperketat apabila volume sampah yang masuk tidak berkurang.

"Dengan kuota yang sekarang saja, kalau tidak ada pengurangan, usia pakai zona 5 bisa saja tidak sampai dua tahun," ujarnya.

Sebagai langkah jangka pendek, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berencana menambah jumlah alat berat di Sarimukti agar proses perataan dan pemadatan sampah dapat berjalan lebih optimal.

“Jumlah alat berat masih minim. Saat ini yang beroperasi hanya tujuh unit. Tahun 2026 kami upayakan penambahan agar proses perataan dan pemadatan bisa maksimal,” kata Arief.

Sejumlah petugas mengolah sampah organik di TPS Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, menjadi pakan ternak. Melalui kerja sama dengan pihak swasta, sekitar 25 ton sampah sisa sayuran dan buah per hari tak lagi dibuang ke TPA Sarimukti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah petugas mengolah sampah organik di TPS Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, menjadi pakan ternak. Melalui kerja sama dengan pihak swasta, sekitar 25 ton sampah sisa sayuran dan buah per hari tak lagi dibuang ke TPA Sarimukti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Solusi Harus Dimulai dari Hulu

Berbagai langkah darurat yang kini disiapkan pada dasarnya hanya memperpanjang waktu. Persoalan utama tetap berada pada tingginya produksi sampah dan rendahnya tingkat pengolahan di sumber. Selama sebagian besar sampah masih berakhir di TPA, ancaman krisis serupa akan terus berulang setiap kali kapasitas pembuangan mendekati batasnya.

Bagi Bayu, solusi paling efektif harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan dan pengurangan sampah sejak awal.

"Minimal dipilah dulu lah. Jangan banyak-banyak, tapi mulai dari rumah," katanya.

Ia menegaskan bahwa edukasi mengenai pengelolaan sampah perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan dan budaya di masyarakat.

“Kalau dari kecil sudah dibiasakan, biasanya jadi terbiasa,” tutup Bayu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)