Travel Antarkota Menjamur di Bandung: Masalah Parkir, Ruang Jalan, dan Perilaku Pengemudi

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)
Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)

Dalam beberapa tahun terakhir, mobil travel antarkota berkembang pesat di Bandung. Fleksibilitas jadwal, kemudahan akses ke titik keberangkatan (pool), serta waktu tempuh yang relatif kompetitif membuatnya diminati, terutama untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah seperti Bandung–Jakarta. Bagi banyak pengguna, travel menjadi alternatif praktis karena tarifnya relatif kompetitif dibandingkan kereta api, serta akses menuju pool yang umumnya lebih mudah dibandingkan harus ke terminal bus.

Secara konseptual, travel tergolong paratransit—berada di antara transportasi publik formal dan kendaraan pribadi. Karakter utamanya adalah fleksibilitas tinggi dan kemampuan merespons permintaan pasar secara cepat. Namun, seperti diingatkan oleh Banister (2008), sistem transportasi yang terlalu bertumpu pada fleksibilitas tanpa pengaturan yang jelas berisiko menurunkan efisiensi jaringan secara keseluruhan. Dalam konteks Bandung, pertumbuhan travel yang tidak diiringi pengaturan ruang dan operasi menjadi titik awal munculnya berbagai persoalan di tingkat jalan.

Ketiadaan fasilitas parkir atau pool resmi yang memadai menjadi persoalan mendasar dalam operasional travel. Banyak armada beroperasi dari ruko, halaman terbatas, atau bahkan langsung dari badan jalan, sambil menunggu penumpang.

Dalam perspektif rekayasa lalu lintas, kondisi ini menciptakan hambatan samping (side friction) yang signifikan. Lebar efektif jalan berkurang, manuver kendaraan lain terganggu, dan arus lalu lintas menjadi tidak stabil. Pada ruas dengan aktivitas tinggi, satu kendaraan yang berhenti dapat memicu efek berantai berupa perlambatan hingga antrean.

Lebih jauh, praktik ini menunjukkan tidak adanya pemisahan tegas antara fungsi ruang jalan untuk pergerakan dan aktivitas berhenti. Akibatnya, kemacetan tidak hanya dipicu oleh volume kendaraan, tetapi juga oleh penggunaan ruang jalan yang tidak sesuai peruntukannya. Masalah parkir ini menjadi fondasi bagi tekanan yang lebih besar terhadap sistem lalu lintas kota.

Ruang jalan yang tertekan

Seiring meningkatnya aktivitas travel, tekanan terhadap ruang jalan menjadi semakin nyata. Jalan perkotaan pada dasarnya dirancang untuk mengalirkan kendaraan secara kontinu, tetapi praktik operasional travel—seperti berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang—mengganggu fungsi tersebut.

Penggunaan badan jalan untuk parkir dan pick-up/drop-off menciptakan bottleneck yang menurunkan kecepatan rata-rata kendaraan. Gangguan kecil yang terjadi berulang dapat memperbesar ketidakpastian waktu tempuh, bahkan pada ruas yang secara kapasitas masih memadai. Dalam konteks ini, efisiensi jaringan jalan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas fisik, tetapi juga oleh disiplin penggunaan ruang.

Sejalan dengan itu, Black (2010) menunjukkan bahwa gangguan berulang dalam skala kecil dapat berdampak besar terhadap kinerja sistem secara keseluruhan. Di Bandung, akumulasi aktivitas travel di titik-titik tertentu memperkuat fenomena ini, sehingga kemacetan menjadi lebih sering dan sulit diprediksi.

Sebuah mobil travel melakukan aksi ugal-ugalan di Tol Padaleunyi. (Sumber: Instagram/@inibandungraya)
Sebuah mobil travel melakukan aksi ugal-ugalan di Tol Padaleunyi. (Sumber: Instagram/@inibandungraya)

Perilaku pengemudi travel di lapangan sering menjadi sorotan. Pengemudi kerap menurunkan penumpang di badan jalan, bahkan di dekat simpang, alih-alih di pool atau titik resmi. Kendaraan juga sering menggunakan bahu jalan atau berpindah lajur secara agresif. Dalam beberapa kasus, praktik ini berujung pada insiden di jalan, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga kejadian kendaraan travel yang menyerempet kendaraan lain akibat manuver yang tidak terantisipasi.

Namun, perilaku tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks sistem yang tidak menyediakan ruang operasi yang jelas. Tanpa fasilitas operasional yang memadai—baik pool maupun titik naik-turun resmi—pengemudi cenderung mengambil keputusan pragmatis demi efisiensi waktu dan keberlangsungan layanan. Dalam kondisi ini, batas antara adaptasi dan pelanggaran menjadi kabur.

Dampaknya tidak hanya pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada keselamatan. Manuver yang tidak terprediksi meningkatkan potensi konflik dengan kendaraan lain . Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membentuk budaya berkendara yang permisif terhadap pelanggaran.

Travel sebagai moda "abu-abu"

Masalah parkir, ruang jalan, dan perilaku pengemudi tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada posisi travel sebagai moda “abu-abu” dalam sistem transportasi. Di satu sisi, travel mengisi celah kebutuhan mobilitas yang belum sepenuhnya terpenuhi. Di sisi lain, kerangka regulasi dan perencanaan belum mengimbangi karakteristik operasionalnya.

Akibatnya, travel berkembang lebih cepat dibandingkan kebijakan yang mengaturnya. Banyak layanan beroperasi tanpa integrasi yang jelas dengan moda transportasi lain, sehingga menciptakan tumpang tindih layanan sekaligus kompetisi ruang jalan. Dalam konteks ini, travel bukan hanya pelengkap, tetapi juga berpotensi menjadi sumber inefisiensi sistem jika tidak diatur dengan tepat.

Ketidakjelasan peran ini menempatkan travel dalam posisi dilematis: dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem transportasi kota.

Pendekatan yang dibutuhkan bukan pembatasan semata, melainkan penataan berbasis sistem. Penyediaan hub atau kantong parkir khusus travel menjadi langkah awal untuk memisahkan fungsi berhenti dari ruang pergerakan. Penetapan titik naik-turun resmi berbasis zonasi juga penting untuk mengurangi praktik berhenti sembarangan di badan jalan.

Selain itu, integrasi dengan transportasi publik perlu diperkuat agar travel berfungsi sebagai penghubung (first-mile/last-mile), bukan pesaing langsung. Dengan demikian, sistem transportasi dapat bekerja secara komplementer, bukan saling membebani.

Pada saat yang sama, penegakan aturan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Tanpa pengawasan yang tegas, berbagai upaya penataan akan sulit menghasilkan perubahan nyata di lapangan.

Pada akhirnya, travel antarkota di Bandung mencerminkan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang. Tantangannya adalah memastikan bahwa solusi ini tidak menciptakan masalah baru. Tanpa penataan yang jelas dan terintegrasi, fleksibilitas travel akan terus dibayar dengan menurunnya kualitas ruang jalan dan ketertiban lalu lintas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)