Travel Antarkota Menjamur di Bandung: Masalah Parkir, Ruang Jalan, dan Perilaku Pengemudi

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 19:55 WIB
Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)

Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)

Dalam beberapa tahun terakhir, mobil travel antarkota berkembang pesat di Bandung. Fleksibilitas jadwal, kemudahan akses ke titik keberangkatan (pool), serta waktu tempuh yang relatif kompetitif membuatnya diminati, terutama untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah seperti Bandung–Jakarta. Bagi banyak pengguna, travel menjadi alternatif praktis karena tarifnya relatif kompetitif dibandingkan kereta api, serta akses menuju pool yang umumnya lebih mudah dibandingkan harus ke terminal bus.

Secara konseptual, travel tergolong paratransit—berada di antara transportasi publik formal dan kendaraan pribadi. Karakter utamanya adalah fleksibilitas tinggi dan kemampuan merespons permintaan pasar secara cepat. Namun, seperti diingatkan oleh Banister (2008), sistem transportasi yang terlalu bertumpu pada fleksibilitas tanpa pengaturan yang jelas berisiko menurunkan efisiensi jaringan secara keseluruhan. Dalam konteks Bandung, pertumbuhan travel yang tidak diiringi pengaturan ruang dan operasi menjadi titik awal munculnya berbagai persoalan di tingkat jalan.

Ketiadaan fasilitas parkir atau pool resmi yang memadai menjadi persoalan mendasar dalam operasional travel. Banyak armada beroperasi dari ruko, halaman terbatas, atau bahkan langsung dari badan jalan, sambil menunggu penumpang.

Dalam perspektif rekayasa lalu lintas, kondisi ini menciptakan hambatan samping (side friction) yang signifikan. Lebar efektif jalan berkurang, manuver kendaraan lain terganggu, dan arus lalu lintas menjadi tidak stabil. Pada ruas dengan aktivitas tinggi, satu kendaraan yang berhenti dapat memicu efek berantai berupa perlambatan hingga antrean.

Lebih jauh, praktik ini menunjukkan tidak adanya pemisahan tegas antara fungsi ruang jalan untuk pergerakan dan aktivitas berhenti. Akibatnya, kemacetan tidak hanya dipicu oleh volume kendaraan, tetapi juga oleh penggunaan ruang jalan yang tidak sesuai peruntukannya. Masalah parkir ini menjadi fondasi bagi tekanan yang lebih besar terhadap sistem lalu lintas kota.

Ruang jalan yang tertekan

Seiring meningkatnya aktivitas travel, tekanan terhadap ruang jalan menjadi semakin nyata. Jalan perkotaan pada dasarnya dirancang untuk mengalirkan kendaraan secara kontinu, tetapi praktik operasional travel—seperti berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang—mengganggu fungsi tersebut.

Penggunaan badan jalan untuk parkir dan pick-up/drop-off menciptakan bottleneck yang menurunkan kecepatan rata-rata kendaraan. Gangguan kecil yang terjadi berulang dapat memperbesar ketidakpastian waktu tempuh, bahkan pada ruas yang secara kapasitas masih memadai. Dalam konteks ini, efisiensi jaringan jalan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas fisik, tetapi juga oleh disiplin penggunaan ruang.

Sejalan dengan itu, Black (2010) menunjukkan bahwa gangguan berulang dalam skala kecil dapat berdampak besar terhadap kinerja sistem secara keseluruhan. Di Bandung, akumulasi aktivitas travel di titik-titik tertentu memperkuat fenomena ini, sehingga kemacetan menjadi lebih sering dan sulit diprediksi.

Sebuah mobil travel melakukan aksi ugal-ugalan di Tol Padaleunyi. (Sumber: Instagram/@inibandungraya)
Sebuah mobil travel melakukan aksi ugal-ugalan di Tol Padaleunyi. (Sumber: Instagram/@inibandungraya)

Perilaku pengemudi travel di lapangan sering menjadi sorotan. Pengemudi kerap menurunkan penumpang di badan jalan, bahkan di dekat simpang, alih-alih di pool atau titik resmi. Kendaraan juga sering menggunakan bahu jalan atau berpindah lajur secara agresif. Dalam beberapa kasus, praktik ini berujung pada insiden di jalan, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga kejadian kendaraan travel yang menyerempet kendaraan lain akibat manuver yang tidak terantisipasi.

Namun, perilaku tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks sistem yang tidak menyediakan ruang operasi yang jelas. Tanpa fasilitas operasional yang memadai—baik pool maupun titik naik-turun resmi—pengemudi cenderung mengambil keputusan pragmatis demi efisiensi waktu dan keberlangsungan layanan. Dalam kondisi ini, batas antara adaptasi dan pelanggaran menjadi kabur.

Dampaknya tidak hanya pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada keselamatan. Manuver yang tidak terprediksi meningkatkan potensi konflik dengan kendaraan lain . Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membentuk budaya berkendara yang permisif terhadap pelanggaran.

Travel sebagai moda "abu-abu"

Masalah parkir, ruang jalan, dan perilaku pengemudi tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada posisi travel sebagai moda “abu-abu” dalam sistem transportasi. Di satu sisi, travel mengisi celah kebutuhan mobilitas yang belum sepenuhnya terpenuhi. Di sisi lain, kerangka regulasi dan perencanaan belum mengimbangi karakteristik operasionalnya.

Akibatnya, travel berkembang lebih cepat dibandingkan kebijakan yang mengaturnya. Banyak layanan beroperasi tanpa integrasi yang jelas dengan moda transportasi lain, sehingga menciptakan tumpang tindih layanan sekaligus kompetisi ruang jalan. Dalam konteks ini, travel bukan hanya pelengkap, tetapi juga berpotensi menjadi sumber inefisiensi sistem jika tidak diatur dengan tepat.

Ketidakjelasan peran ini menempatkan travel dalam posisi dilematis: dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem transportasi kota.

Pendekatan yang dibutuhkan bukan pembatasan semata, melainkan penataan berbasis sistem. Penyediaan hub atau kantong parkir khusus travel menjadi langkah awal untuk memisahkan fungsi berhenti dari ruang pergerakan. Penetapan titik naik-turun resmi berbasis zonasi juga penting untuk mengurangi praktik berhenti sembarangan di badan jalan.

Selain itu, integrasi dengan transportasi publik perlu diperkuat agar travel berfungsi sebagai penghubung (first-mile/last-mile), bukan pesaing langsung. Dengan demikian, sistem transportasi dapat bekerja secara komplementer, bukan saling membebani.

Pada saat yang sama, penegakan aturan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Tanpa pengawasan yang tegas, berbagai upaya penataan akan sulit menghasilkan perubahan nyata di lapangan.

Pada akhirnya, travel antarkota di Bandung mencerminkan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang. Tantangannya adalah memastikan bahwa solusi ini tidak menciptakan masalah baru. Tanpa penataan yang jelas dan terintegrasi, fleksibilitas travel akan terus dibayar dengan menurunnya kualitas ruang jalan dan ketertiban lalu lintas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)