Langkah Kecil Merawat Bumi

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 15:29 WIB
Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Siang itu terasa terik. Angin berhembus kencang, membawa udara panas yang menyesakkan dada. Di kejauhan, kepulan asap membumbung, disertai percikan api dari jerami yang dibakar petani di sawah. Sungguh menjadi pemandangan yang dianggap biasa, tapi selalu menyisakan tanda tanya besar, sampai kapan bumi menanggung semuanya?

Di tengah suasana itu, saat asyik membaca Green Deen karya Ibrahim Abdul Matin, buku lawas terbitan Zaman tahun 2012 yang mengulas bagaimana Islam menghadirkan inspirasi dalam merawat dan menjaga alam.

Dengan mengedapankan enam prinsip  utama: Tauhid (Kesatuan), Memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya; Ayat (Tanda), Melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta; Khalifah (Penjaga), Manusia bertanggung jawab melestarikan alam; Amanah (Kepercayaan), Alam adalah titipan yang harus dijaga; Mizan (Keseimbangan), Menjaga keseimbangan ekosistem; dan Adl (Keadilan), Bersikap adil terhadap alam.

Bumi, alam dan lingkungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah yang dititipkan kepada manusia dan harus dijaga, dirawat untuk keberlangsungkan hidup anak cucu dan generasi masa depan.

Belum selesai satu bab, pintu rumah terbuka. Aa Akil, anak kedua (11 tahun), baru pulang les dari Komunitas Belajar Musi. Dengan wajah polos dan nada penasaran, bertanya, “Bah, emang bumi sudah tua?”

Sambil menutup buku sejenak. Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat daripada halaman-halaman yang baru dibaca. “Muhun,” jawabku singkat.

Bocah kelas lima SD itu menimpalinya dengan cepat, “Tadi kan Aa belajar bagaimana merawat dan mencintai bumi yang kita tinggali. Kalau emang sudah tua, kayak nenek dong?” jelasnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Rupanya, di kepala anak-anak, usia tua identik dengan sosok nenek yang sudah renta, butuh perhatian, dan tak bisa diperlakukan sembarangan. Berbeda dengan orang dewasa yang menganggap itu biasa, alami dan tidak ada hubungan sama sekali dengan keberadaan dan keberlangsungan hidup.

Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Bumi Semakin Menua

Bumi memang menua, sekitar empat setengah miliar tahun! Tua sekali ya? Usianya sekarang sekitar 4,54 miliar tahun diukur berdasarkan penanggalan radiometik meteorit dan sesuai usia bebatuan tertua yang pernah ditemukan.

Hutan ditebang, riset lembaga Auriga Nusantara mencatat 433.751 hektare hutan gundul sepanjang 2025. Hutan yang hilang bertambah 66% atau 172.684 hektare, bila dibandingkan angka deforestasi tahun lalu sebesar 261.574 hektare.

Sungai tercemar, hasil pemantauan mutu air semester I 2025 di 4.482 lokasi pada 1.482 sungai menunjukkan 70,7% lokasi tercemar dan hanya 29,3% memenuhi baku mutu. Tiga provinsi menjadi juaranya. DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Papua Selatan, bahkan mencatat seluruh titik pemantauan sungainya tercemar.

Udara dipenuhi (pencemaran) asap, Indonesia masuk daftar negara paling berpolusi di dunia tahun 2025, tepatnya di urutan ke-17, versi laporan perusahaan pemantau kualitas udara IQAir. Berdasarkan data tahunan ke-8 World Air Quality Report 2025 IQAir, kadar rata-rata PM2.5 di bumi Nusantara mencapai 30 mikrogram per meter kubik (µg/m3), di atas ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Parahnya, tanah dipaksa berproduksi tanpa jeda bak mesin. Sampah menggunung tinggi, yang didominasi sampah rumah tangga dan sisa makanan sebanyak 39,67%. Dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per April 2025, tercatat timbulan sampah 33,6 juta ton per tahun dengan 39,9% tidak terkelola. (Kompas 22 April 2012, 02:41 WIB, Kompas 25 Maret 2026, 19:34 WIB, BBC Indonesia 31 Maret 2026, www.kemenlh.go.id, www.mongabay.co.id)

Ibarat seorang nenek dalam keluarga, bumi tak pernah berhenti memberi. Dengan tetap menyediakan air, pangan, udara, dan ruang bagi generasi yang terus datang silih berganti. Sayangnya, kita kerap lupa bumi yang tua seharusnya dirawat, bukan dieksploitasi. Semestinya yang renta dijaga, bukan dibebani. Ironis memang.

Setiap tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Untuk tahun 2026, bertajuk "Kekuatan Kita, Planet Kita" (Our Power, Our Planet) (Sumber: www.ksdae.kehutanan.go.id)
Setiap tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Untuk tahun 2026, bertajuk "Kekuatan Kita, Planet Kita" (Our Power, Our Planet) (Sumber: www.ksdae.kehutanan.go.id)

Kekuatan (Planet) Kita

Setiap tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet Bumi, mendorong aksi nyata untuk perlindungan lingkungan dan melawan krisis iklim, mengurangi plastik, hemat energi, dan menanam pohon.

Peringatan ini melibatkan berbagai kegiatan mulai dari tingkat individu hingga global, mengajak semua pihak berkolaborasi menjaga bumi untuk masa depan. Untuk tahun 2026, bertajuk "Kekuatan Kita, Planet Kita" (Our Power, Our Planet). Tema ini sangat berperan vital untuk masyarakat dalam pelestarian lingkungan, mendorong aksi komunitas demi masa depan yang lebih berkelanjutan, memfokuskan pada transisi energi bersih dan tindakan iklim kolektif.

Semuanya dilakukan dalam meningkatkan kesadaran ihwal pentingnya menjaga lingkungan dan mengatasi krisis iklim. Dengan mengajak individu hingga komunitas di dunia untuk menjaga kelestarian alam dan melakukan aksi nyata sambil mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, dan menanam pohon demi keberlanjutan bumi.

Kali pertama dirayakan pada tahun 1970 di Amerika Serikat, dipelopori oleh John McConnell dan Senator Gaylord Nelson. Diawali dengan gerakan yang melibatkan jutaan orang yang memprotes permasalah lingkungan seperti polusi udara, air, dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Sejak saat itu, gerakan terus berkembang menjadi peringatan hari bumi global yang mendorong lahirnya berbagai kebijakan penting terkait perlindungan lingkungan.

Deka membersihkan rumput dan beristirahat di saung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Deka membersihkan rumput dan beristirahat di saung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Peringatan ini menjadi momen untuk menghargai kekuatan alam yang memberi kehidupan, inspirasi, dan pembelajaran bagi manusia. Sungguh cara-cara sederhana dan berdampak bisa dilakukan mulai dari membersihkan sampah plastik di lingkungan sekitar, menanam pohon, mengunjungi ruang terbuka hijau, menggunakan tanaman lokal, menghemat air, mengurangi penggunaan bahan kimia dalam berkebun.

Perubahan gaya hidup yang mengurangi limbah makanan, mengonsumsi lebih banyak makanan nabati, dan menghindari produk sekali pakai sangat dianjurkan. Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, bijak menggunakan listrik, membawa tempat makan (tumbler) sendiri untuk membeli makanan,  minuman, berbagi kendaraan sesuai jumlah penumpang, memilah sampah organik dan non-organik, mengelola limbah elektronik dengan benar, membuat lubang biopori untuk meningkatkan resapan air dan mengurangi banjir.

Tentunya, masyarakat didorong untuk memilih produk ramah lingkungan, tidak membeli satwa liar ilegal, mengikuti komunitas peduli lingkungan untuk berbagi informasi dan inspirasi. Hari Bumi bukan hanya perayaan, justru menjadi momentum yang tepat (ajakan) untuk bertindak dan berkolaborasi dalam menjaga bumi. Kepedulian terhadap lingkungan harus melibatkan semua generasi agar planet ini tetap lestari bagi masa depan.

Dengan peringatan hari bumi sedunia ini, mari kita meningkatkan kepedulian kita terhadap bumi kita tercinta dengan suatu aksi nyata. Jangan jadikan hari bumi sedunia ini sekedar ajang berkumpul mencemaskan bumi, namun tanpa tindakan nyata menjaga, merawat, dan menyelamatkan bumi.

Kelestarian bumi bukanlah tanggungjawab perorangan, tapi sudah menjadi tanggungjawab semua pihak yang hidup di bumi tanpa terkecuali. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya kelestarian bumi perlu ditanamkan pada diri masing-masing individu sedini mungkin dan secara berkesinambungan. (RRI 21 Apr 2025 18:17 WIB dan 09 Apr 2026 11:13 WIB).

Peringatan Hari Bumi itu, seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 diajarkan berbagai edukasi tentang mencintai dan melestarikan bumi, mulai dari mengolah sampah, budidaya magot, hingga menanam pohon. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Peringatan Hari Bumi itu, seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 diajarkan berbagai edukasi tentang mencintai dan melestarikan bumi, mulai dari mengolah sampah, budidaya magot, hingga menanam pohon. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mulai dari yang Kecil 

Ingat, segala krisis lingkungan sejatinya bukan semata soal teknologi, kebijakan, melainkan bermula dari cara pandang manusia terhadap bumi. Apakah bumi dianggap benda mati yang bebas diperas, dieksploitasi. Padahal keberadaan rumah bersama ini penuh jasa dan pantas dimuliakan.

Ketika siang terasa semakin panas dan asap pembakaran jerami masih mengepul, kita diingatkan bahwa alam sedang memberi tanda-tanda. Pasalnya, dari langkah kecil yang dilakukan hari ini, merawat asa, harapan untuk masa depan tetap bisa tumbuh dan berkembang.

Dalam ajaran Islam, manusia tidak hanya diberi hak memanfaatkan alam, tetapi memiliki kewajiban merawat dan melestarikannya. Bumi, hewan, tumbuhan, air, dan udara adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dirusak, dizalimi. Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah. Kesalehan tidak hanya tampak di tempat ibadah, melainkan dalam sikap peduli terhadap alam sekitar.

Dengan demikian, mari merawat bumi yang dimulai dari remeh temeh yang dianggap sederhana sejak hari ini. Hemat listrik dengan mematikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan, tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah sesuai jenisnya. Menanam pohon, merawat tanaman di rumah, menyebar benih di lahan kosong menjadi amal kebaikan dan ikut mensukseskan buruan sae yang pemanfaatan pekarangan (lahan) yang ada dengan berkebun untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sendiri.

Dari Anas bin Malik ra. berkata Rasulullah saw. Bersabda, “Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu (setelah ia tumbuh) dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya” (HR. Al-Bukhari)

Saking pentingnya menanam pohon, Rasul bersabda, "Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah," (HR Bukhari dan Ahmad).

Walhasil, dari langkah kecil yang dilakukan bersama ini, mudah-mudahan bumi akan terasa lebih sejuk, bersih, dan sejahtera. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)