Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari denyut kehidupan anak muda Kota Kembang. Di tengah geliat kreativitas yang merambah musik, mode, hingga gaya hidup, radio hadir sebagai medium yang menyatukan imajinasi, selera, dan semangat zaman. Dari kamar-kamar sempit hingga sudut-sudut kota, gelombang udara membawa suara penyiar yang akrab, lagu-lagu segar, serta rasa kebersamaan yang sulit tergantikan.

Pada masa itu, radio-radio amatir tumbuh menjadi ruang ekspresi yang liar, jujur, dan penuh gairah, yang kemudian meletakkan fondasi bagi perkembangan radio siaran swasta di Bandung.

Bandung sendiri sejak lama dikenal sebagai kota kreatif. Pada dasawarsa 1970-an, perkembangan kreativitas anak mudanya tak bisa dilepaskan dari gaya hidup, seni, dan musik. Salah satu penopangnya adalah keberadaan stasiun radio.

Ketika itu, bermunculan pemancar-pemancar radio amatir yang menjadi cikal bakal radio siaran swasta. Di antaranya Radio Oz, Bonk Kenk, Blue Jean Racing, Mara 27, Mercy 73, Young Generation, Maestro, Elgangga, dan Sarinah. Selain itu, hadir pula Blue Angel, No Name, Thunderbird, Cannabissativa, Falcon, Zigzag, Sableng, X-Cess, VOC, VBS, SMERSH, Syndicate of Love, Flippies Psychedelic, serta puluhan pemancar lainnya.

Mengenal Radio Flippies Psychedelic

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)

Salah satu kisah klasik yang menonjol adalah Radio Flippies Psychedelic sebuah pemancar amatir yang menjadi tonggak penting lahirnya radio siaran di Bandung. Radio ini dikenal dengan motonya “Daya Pancarnya Menyebrang Lautan.”

Namanya yang eksentrik mencerminkan jiwa muda para penggemar musik pop dan psychedelic yang tengah populer saat itu. Suara khas para penyiar mudanya selalu dinanti pendengar.

Sapaan khas mereka pun lekat di ingatan:

“Anda semua masih tetap bersama kami, Flippies Psychedelic Sound of Peace, yang bekerja di udara melalui gelombang SW 62,7 meter, frekuensi 4830 kHz, dipancarkan langsung dari Jalan Kacapiring Nomor 5, Bandung. Bagi yang ingin meminta lagu, harap sabar menunggu giliran.”

Nama “Flippies Psychedelic” lahir dari kebiasaan mereka memutar lagu-lagu beraliran psychedelic sejak awal siaran. Sementara “Flippies” merupakan nama tambahan yang diambil dari sebutan burung belibis.

Berkat penyajian siaran dan kedekatan dengan pendengar, radio ini cepat meraih popularitas. Koleksi lagu mereka tergolong lengkap dan selalu mengikuti perkembangan terbaru, menjadikannya salah satu radio hiburan nonkomersial favorit warga Bandung saat itu.

Berdasarkan laporan yang diterima melalui surat dan telepon interlokal, jangkauan siaran Flippies Psychedelic tidak hanya terbatas di Bandung, tetapi juga menjangkau berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan hingga ke luar pulau seperti Tanjung Karang dan Metro di Lampung, serta Makassar. Dari situlah lahir motonya yang terkenal.

Pada masa kejayaannya, Flippies Psychedelic didukung oleh 18 orang kru. Tim inti terdiri dari Chandra Dewi (Sandy) sebagai penanggung jawab, Ventje (Valentino) sebagai wakil, serta Indranata Kemal (Moran), David (Dave), Utjok (Joe), Sonny (Slyde), dan Robby sebagai teknisi.

Mereka diperkuat oleh anggota lain seperti Frankie (Kiki), Gede, Humprey (Leonardo), Roy, Sujuth (Sagtris), Robert (Roberto), Ismail (Rerie), Sulfie (Pebles), Majane, Amir, Mike Fh (Chairun), dan Danty yang dijuluki Little Lady Flippies.

Flippies Psychedelic mulai mengudara sejak 19 Desember 1968. Siaran berlangsung setiap hari yaitu pukul 05.00–11.00 WIB, dilanjutkan pukul 13.30–18.30 WIB, serta malam hari pukul 20.15–03.00 WIB. Pada malam Minggu atau liburan, siaran bahkan bisa berlangsung semalam suntuk mengikuti permintaan pendengar.

Pendengar dapat mengirimkan permintaan lagu melalui telepon, masih empat digit 7668 atau lewat surat ke studio di Jalan Kacapiring No. 5. Setiap permintaan dilayani dengan penuh perhatian, menciptakan kedekatan yang hangat antara radio dan pendengarnya.

Jejak Radio Amatir Bandung Awal 70-an

Menara pemancar Radio K-Lite FM (dahulu Radio Continental), salah satu radio era 1970-an yang masih eksis hingga kini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Menara pemancar Radio K-Lite FM (dahulu Radio Continental), salah satu radio era 1970-an yang masih eksis hingga kini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Menurut beberapa orang mantan penyiar senior radio swasta di Bandung yang pernah bertemu dengan penulis beberapa radio amatir yang tercatat dan bekerja sama dengan Aktuil Fans Club dan dimuat dalam Majalah Aktuil edisi September 1969 antara lain:

  • Radio MARA 27  

Gelombang 212 meter

Studio Jl. Sumatera 27

  • Radio MERCY 73 

Gelombang 240 meter

Studio Jl. Setiabudhi KM 9, Cidadap Girang

  • Radio FLIPPIES PSYCHEDELIC 

Gelombang 62,7 meter

Studio Jl. Kacapiring 5

  • Radio YOUNG GENERATION  

Gelombang 227 meter

Studio Jl. Trunojoyo 14

  • Radio VOC 

Gelombang 224 meter

Studio Jl. Lengkong Besar 66

  • Radio VBS 

Gelombang 219 meter

Studio Jl. Sasak

gantung 49

  • Radio SMERSH SYNDICATE OF LOVE 

Gelombang 256 meter Studio Jl. Cimanuk 38

  • Radio X-CESS 

Gelombang 75 meter

Studio Jl. Terate 8

  • Radio THUNDERBIRD 

Gelombang 230 meter

Studio Jl. Cipaganti 59A

  • Radio ELGANGGA BS 

Gelombang 270 meter

Studio Jl. Panaitan 4

Penulis bersama penyiar senior Bandung, Opung Boyke Rivai. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis bersama penyiar senior Bandung, Opung Boyke Rivai. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
  • Radio CANNA

BISSATIVA 

Gelombang 280 meter

Studio Jl. Bawean 4

  • Radio SARINAH 

Gelombang 75,9 meter Studio Jl. Braga 10

  • Radio MAESTRO 

Gelombang 200 meter Studio Jl. Kacapiring 12

  • Radio BLUE ANGEL 

Gelombang 205 meter

Studio Jl. Surapati 17

  • Radio FALCON 

Gelombang 229 meter

Jl. Industri

  • Radio ZIG ZAG 

Gelombang 258,6 meter

Studio Jl. Asia Afrika

  • Radio SABLENG 

Gelombang 192,7 meter

Studio Jl. Sawunggaling 18

  • Radio NO NAME 

Gelombang 104 meter

Studio Jl. Purnawarman

Kini, ketika teknologi telah melesat jauh melampaui era gelombang pendek, kisah radio-radio Bandung tahun 70-an tetap menyisakan jejak hangat. Mereka bukan sekadar pemancar suara, melainkan penjaga kenangan, penggerak budaya, dan saksi lahirnya ekosistem kreatif anak muda kota ini.

Dari Flippies Psychedelic hingga deretan radio amatir lainnya, semuanya adalah bagian dari mozaik sejarah yang membentuk identitas Bandung sebagai kota yang tak pernah kehabisan suara. Dan mungkin, di antara frekuensi yang kini telah senyap, masih tersimpan gema yang mengingatkan kita, radio pernah begitu hidup dan sesungguhnya tak pernah benar-benar mati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)