Catatan Seorang Pendengar Radio dari Continental ke K-Lite FM

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Minggu 15 Mar 2026, 20:42 WIB
Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ada suara-suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Ia mungkin tidak kita dengarkan setiap hari, tetapi ketika terdengar kembali, kenangan lama segera berpendar.

Bagi banyak orang di Bandung, salah satu suara itu datang dari radio. Dari kamar tidur yang masih remang di pagi hari, dari toko kecil di pinggir jalan, dari warung kopi tempat orang berbincang tentang apa saja, radio pernah menjadi teman yang setia. Ia hadir tanpa wajah, tetapi terasa akrab. Menyapa tanpa terlihat, menemani tanpa diminta.

Di antara sekian banyak suara yang pernah melintas di udara Bandung, salah satu yang tetap bertahan hingga kini adalah Radio K-Lite FM Bandung.

Saat ini radio itu bersiaran melalui frekuensi 107.1 FM. Namun jika menelusuri jejaknya, kisahnya ternyata jauh lebih panjang dari sekadar angka frekuensi.

Suara yang Menghangatkan Ramadan

Suasana ruang studio K-Lite FM yang nyaman dan computerize. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Suasana ruang studio K-Lite FM yang nyaman dan computerize. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ada suasana yang sedikit berbeda ketika bulan Ramadan tiba di Bandung. Pagi terasa lebih tenang, malam terasa lebih panjang, dan radio sering menjadi teman yang mengisi jeda-jeda waktu di antara aktivitas ibadah.

Di K-Lite FM, nuansa itu juga hadir melalui program siraman rohani Islam. Salah satu yang cukup dikenal adalah Stairway to Heaven, yang diasuh oleh KH Yusuf Muhammad.

Melalui renungan singkat yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan menenangkan, program ini menghadirkan ruang hening di tengah kesibukan kota.

Bagi sebagian pendengar, terutama di bulan Ramadan, suara nasihat itu seperti pengingat kecil untuk kembali menata hati sebelum menjalani hari.

Di sela musik, informasi, dan dinamika siaran radio, kehadiran program seperti ini menjadi warna tersendiri bagi K-Lite. Radio bukan sekadar tempat orang mendengarkan lagu, tetapi juga ruang untuk merenung.

Radio ini didirikan pada 16 Juli 1970, ketika  Radio Continental beralamat  di Jalan Cikapayang, Bandung.
Saat itu radio-radio masih siaran di gelombang AM. Suaranya mungkin tidak sejernih sekarang malah kadang disertai desis halus di sela-sela siaran. Namun justru di situlah letak kehangatannya, seperti suara yang datang dari ruang sebelah.

Sekitar satu dekade kemudian, pada 1980, radio ini pindah ke Jalan Surapati No. 49 dan dikenal sebagai Radio Continental Lintas Utama pada frekuensi 981 kHz.

Ketika itu radio transistor menjadi bagian dari keseharian, di ruang tamu rumah, di kios kecil, bahkan di warung kopi tempat orang berbincang tentang berita hari itu.

Akhir 1980-an hingga awal 1990-an menjadi masa peralihan dari AM ke FM. Suara menjadi lebih jernih, lebih hidup.

Radio Continental pun ikut beradaptasi.

Frekuensinya bergeser ke 107.2 MHz dengan identitas baru menjadi Lintas Utama 1072 Kontinental FM. Para penyiar menyebutnya dengan gaya khas radio: “sepuluh tujuh dua.”

Studio saat itu berada di Jalan Salam No. 44 Bandung.

Dari berbagai cerita para pendengar, suasana siarannya terasa berbeda dibanding radio lain. Ada nuansa religius, pendekatan jurnalistik yang artistik, serta pilihan musik easy listening yang menenangkan.

Beberapa programnya masih sering disebut ketika orang bernostalgia tentang radio Bandung.
Salah satunya Tajuk 1072, sebuah sajian yang membahas berbagai persoalan sosial kadang ringan, kadang menggelitik, tetapi sering pula mengajak pendengarnya berpikir lebih dalam.

Ada pula program kecil yang sederhana namun khas: Menit ke-44. Setiap memasuki menit ke-44 dalam satu jam siaran, penyiar membacakan hadis Nabi.

Konsepnya sederhana, tetapi justru mudah melekat dalam ingatan. Bahkan kemudian diikuti oleh sejumlah radio lain di berbagai kota.

Program lain seperti Bakudapa, HAI 1072 (Hits Ahad Ini), 1072 Indonesia, hingga Sirkuit Kontinental turut memberi warna pada masa itu.

Para pendengarnya dipanggil dengan satu sebutan yang hangat yakni Sahabat.

Sapaan sederhana yang terasa dekat seolah radio bukan sekadar media siaran, melainkan teman yang hadir lewat udara.

Tahun 1994 menjadi titik perubahan penting. Kontinental FM memutuskan mengubah arah siarannya dengan membidik segmen baru yaitu kalangan profesional muda dan pelaku bisnis di Bandung.
Bersamaan dengan itu lahirlah nama baru yakni K-Lite FM.

Nama ini awalnya merupakan singkatan dari Kontinental Lintas Ekonomi. Arah programnya pun menyesuaikan, lebih banyak menghadirkan informasi ekonomi dan bisnis, disertai musik yang lebih modern.

Studio dan kantornya saat itu berada di Gedung BRI di Jalan Asia Afrika, tepat di samping Alun-alun Bandung.

Menariknya, pada masa awal perubahan format tersebut, radio ini hanya bersiaran pada hari kerja yaitu Senin hingga Jumat, mulai pukul 06.00 hingga tengah malam. Pola siaran ini mengikuti ritme aktivitas para profesional yang menjadi target pendengarnya.

Dua tahun kemudian, pada 1996, kepemilikan radio beralih ke Yayasan Pendidikan Telkom. Studio pun pindah ke Jalan Sumur Bandung No. 12. Akronim K-Lite ikut disesuaikan menjadi Kontinental Lintas Telekomunikasi.

Memasuki awal 2000-an, radio ini memperkenalkan tagline yang kemudian sangat melekat: “Bandung’s Inspiring Sound.”

Pada 2003, pemerintah melakukan penataan ulang frekuensi radio FM secara nasional. Dalam proses tersebut, frekuensi K-Lite bergeser dari 107.2 MHz menjadi 107.1 MHz frekuensi yang digunakan hingga sekarang.

Penulis bersama Bapak Kujang Suryalaga (Manajer Marketing) dan Bapak Ahmad Syukur Muharam (Direktur Radio K-Lite FM) (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama Bapak Kujang Suryalaga (Manajer Marketing) dan Bapak Ahmad Syukur Muharam (Direktur Radio K-Lite FM) (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Seperti banyak media lain, K-Lite FM pun turut mengikuti zaman.

Kini siaran K-Lite tidak hanya hadir melalui radio konvensional, tetapi juga melalui platform streaming seperti TuneIn dan Noice. Menghadirkan berbagai talkshow yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube, dari berbagai tempat di Bandung, mulai dari kafe, kampus, kantor, hotel hingga berbagai acara komunitas.

Radio kini tidak hanya terdengar, ia juga terlihat.

Menurut Direktur K-Lite FM Bandung, Ahmad Syukur Muharam, ketika berjumpa dengan penulis mengatakan bahwa radio bukan sekadar gelombang suara yang melintas di udara. Seperti tagline K-Lite FM "Bandung's Inspiring Sound"

Pa Igan panggilan akrabnya, menuturkan bahwa suara memiliki kekuatan untuk menyatukan, menginspirasi, dan menggerakkan.

Beberapa penyiar Continental (dahulu disebut "Manggala Siar") pada era 1990-an yang masih lekat dalam ingatan antara lain Kujang Suryalaga, Agah Zulkarnaen, Yan Abimanyu, Kiev Bhastian, Syam Alam, Astur Pratama, Nana Prameswara, dan Novita Amran.

Kini generasi penyiar yang menemani para pendengar yang akrab disapa Sahabat K-Lite, di antaranya Vivi Kusman, Wanda Wardhani, Safana, Kujang Suryalaga, Angga Andhika, Adil Maulana, Ivan Web, dan Van Joe.

Suara mereka meneruskan tradisi panjang radio ini, menyapa, menghibur, sekaligus menjadi teman setia bagi para pendengar di udara Bandung.

Baca Juga: Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Jika menoleh ke belakang, perjalanan radio ini seperti sebuah garis panjang yang menghubungkan beberapa zaman, dari Continental di era AM, Kontinental FM di masa transisi, hingga K-Lite FM yang kini hidup di dunia digital.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sejarah sebuah stasiun radio.

Namun bagi para pendengar lama, kisah itu sering kali terasa lebih personal.

Ia adalah kenangan tentang suara penyiar yang menemani perjalanan pagi, tentang program yang dulu ditunggu setiap minggu, tentang lagu yang pernah menjadi latar dari masa-masa tertentu dalam hidup.

Radio mungkin berubah, frekuensinya bergeser, studionya berpindah, format siarannya menyesuaikan zaman.

Di udara Bandung, selalu ada suara yang menyapa dengan cara yang akrab dan sederhana “Halo, Sahabat" ciri khas stasion radio panutan, K-Lite 107.1 FM. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)