Catatan Seorang Pendengar Radio dari Continental ke K-Lite FM

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ada suara-suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Ia mungkin tidak kita dengarkan setiap hari, tetapi ketika terdengar kembali, kenangan lama segera berpendar.

Bagi banyak orang di Bandung, salah satu suara itu datang dari radio. Dari kamar tidur yang masih remang di pagi hari, dari toko kecil di pinggir jalan, dari warung kopi tempat orang berbincang tentang apa saja, radio pernah menjadi teman yang setia. Ia hadir tanpa wajah, tetapi terasa akrab. Menyapa tanpa terlihat, menemani tanpa diminta.

Di antara sekian banyak suara yang pernah melintas di udara Bandung, salah satu yang tetap bertahan hingga kini adalah Radio K-Lite FM Bandung.

Saat ini radio itu bersiaran melalui frekuensi 107.1 FM. Namun jika menelusuri jejaknya, kisahnya ternyata jauh lebih panjang dari sekadar angka frekuensi.

Suara yang Menghangatkan Ramadan

Suasana ruang studio K-Lite FM yang nyaman dan computerize. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Suasana ruang studio K-Lite FM yang nyaman dan computerize. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ada suasana yang sedikit berbeda ketika bulan Ramadan tiba di Bandung. Pagi terasa lebih tenang, malam terasa lebih panjang, dan radio sering menjadi teman yang mengisi jeda-jeda waktu di antara aktivitas ibadah.

Di K-Lite FM, nuansa itu juga hadir melalui program siraman rohani Islam. Salah satu yang cukup dikenal adalah Stairway to Heaven, yang diasuh oleh KH Yusuf Muhammad.

Melalui renungan singkat yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan menenangkan, program ini menghadirkan ruang hening di tengah kesibukan kota.

Bagi sebagian pendengar, terutama di bulan Ramadan, suara nasihat itu seperti pengingat kecil untuk kembali menata hati sebelum menjalani hari.

Di sela musik, informasi, dan dinamika siaran radio, kehadiran program seperti ini menjadi warna tersendiri bagi K-Lite. Radio bukan sekadar tempat orang mendengarkan lagu, tetapi juga ruang untuk merenung.

Radio ini didirikan pada 16 Juli 1970, ketika  Radio Continental beralamat  di Jalan Cikapayang, Bandung.
Saat itu radio-radio masih siaran di gelombang AM. Suaranya mungkin tidak sejernih sekarang malah kadang disertai desis halus di sela-sela siaran. Namun justru di situlah letak kehangatannya, seperti suara yang datang dari ruang sebelah.

Sekitar satu dekade kemudian, pada 1980, radio ini pindah ke Jalan Surapati No. 49 dan dikenal sebagai Radio Continental Lintas Utama pada frekuensi 981 kHz.

Ketika itu radio transistor menjadi bagian dari keseharian, di ruang tamu rumah, di kios kecil, bahkan di warung kopi tempat orang berbincang tentang berita hari itu.

Akhir 1980-an hingga awal 1990-an menjadi masa peralihan dari AM ke FM. Suara menjadi lebih jernih, lebih hidup.

Radio Continental pun ikut beradaptasi.

Frekuensinya bergeser ke 107.2 MHz dengan identitas baru menjadi Lintas Utama 1072 Kontinental FM. Para penyiar menyebutnya dengan gaya khas radio: “sepuluh tujuh dua.”

Studio saat itu berada di Jalan Salam No. 44 Bandung.

Dari berbagai cerita para pendengar, suasana siarannya terasa berbeda dibanding radio lain. Ada nuansa religius, pendekatan jurnalistik yang artistik, serta pilihan musik easy listening yang menenangkan.

Beberapa programnya masih sering disebut ketika orang bernostalgia tentang radio Bandung.
Salah satunya Tajuk 1072, sebuah sajian yang membahas berbagai persoalan sosial kadang ringan, kadang menggelitik, tetapi sering pula mengajak pendengarnya berpikir lebih dalam.

Ada pula program kecil yang sederhana namun khas: Menit ke-44. Setiap memasuki menit ke-44 dalam satu jam siaran, penyiar membacakan hadis Nabi.

Konsepnya sederhana, tetapi justru mudah melekat dalam ingatan. Bahkan kemudian diikuti oleh sejumlah radio lain di berbagai kota.

Program lain seperti Bakudapa, HAI 1072 (Hits Ahad Ini), 1072 Indonesia, hingga Sirkuit Kontinental turut memberi warna pada masa itu.

Para pendengarnya dipanggil dengan satu sebutan yang hangat yakni Sahabat.

Sapaan sederhana yang terasa dekat seolah radio bukan sekadar media siaran, melainkan teman yang hadir lewat udara.

Tahun 1994 menjadi titik perubahan penting. Kontinental FM memutuskan mengubah arah siarannya dengan membidik segmen baru yaitu kalangan profesional muda dan pelaku bisnis di Bandung.
Bersamaan dengan itu lahirlah nama baru yakni K-Lite FM.

Nama ini awalnya merupakan singkatan dari Kontinental Lintas Ekonomi. Arah programnya pun menyesuaikan, lebih banyak menghadirkan informasi ekonomi dan bisnis, disertai musik yang lebih modern.

Studio dan kantornya saat itu berada di Gedung BRI di Jalan Asia Afrika, tepat di samping Alun-alun Bandung.

Menariknya, pada masa awal perubahan format tersebut, radio ini hanya bersiaran pada hari kerja yaitu Senin hingga Jumat, mulai pukul 06.00 hingga tengah malam. Pola siaran ini mengikuti ritme aktivitas para profesional yang menjadi target pendengarnya.

Dua tahun kemudian, pada 1996, kepemilikan radio beralih ke Yayasan Pendidikan Telkom. Studio pun pindah ke Jalan Sumur Bandung No. 12. Akronim K-Lite ikut disesuaikan menjadi Kontinental Lintas Telekomunikasi.

Memasuki awal 2000-an, radio ini memperkenalkan tagline yang kemudian sangat melekat: “Bandung’s Inspiring Sound.”

Pada 2003, pemerintah melakukan penataan ulang frekuensi radio FM secara nasional. Dalam proses tersebut, frekuensi K-Lite bergeser dari 107.2 MHz menjadi 107.1 MHz frekuensi yang digunakan hingga sekarang.

Penulis bersama Bapak Kujang Suryalaga (Manajer Marketing) dan Bapak Ahmad Syukur Muharam (Direktur Radio K-Lite FM) (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama Bapak Kujang Suryalaga (Manajer Marketing) dan Bapak Ahmad Syukur Muharam (Direktur Radio K-Lite FM) (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Seperti banyak media lain, K-Lite FM pun turut mengikuti zaman.

Kini siaran K-Lite tidak hanya hadir melalui radio konvensional, tetapi juga melalui platform streaming seperti TuneIn dan Noice. Menghadirkan berbagai talkshow yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube, dari berbagai tempat di Bandung, mulai dari kafe, kampus, kantor, hotel hingga berbagai acara komunitas.

Radio kini tidak hanya terdengar, ia juga terlihat.

Menurut Direktur K-Lite FM Bandung, Ahmad Syukur Muharam, ketika berjumpa dengan penulis mengatakan bahwa radio bukan sekadar gelombang suara yang melintas di udara. Seperti tagline K-Lite FM "Bandung's Inspiring Sound"

Pa Igan panggilan akrabnya, menuturkan bahwa suara memiliki kekuatan untuk menyatukan, menginspirasi, dan menggerakkan.

Beberapa penyiar Continental (dahulu disebut "Manggala Siar") pada era 1990-an yang masih lekat dalam ingatan antara lain Kujang Suryalaga, Agah Zulkarnaen, Yan Abimanyu, Kiev Bhastian, Syam Alam, Astur Pratama, Nana Prameswara, dan Novita Amran.

Kini generasi penyiar yang menemani para pendengar yang akrab disapa Sahabat K-Lite, di antaranya Vivi Kusman, Wanda Wardhani, Safana, Kujang Suryalaga, Angga Andhika, Adil Maulana, Ivan Web, dan Van Joe.

Suara mereka meneruskan tradisi panjang radio ini, menyapa, menghibur, sekaligus menjadi teman setia bagi para pendengar di udara Bandung.

Baca Juga: Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Jika menoleh ke belakang, perjalanan radio ini seperti sebuah garis panjang yang menghubungkan beberapa zaman, dari Continental di era AM, Kontinental FM di masa transisi, hingga K-Lite FM yang kini hidup di dunia digital.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sejarah sebuah stasiun radio.

Namun bagi para pendengar lama, kisah itu sering kali terasa lebih personal.

Ia adalah kenangan tentang suara penyiar yang menemani perjalanan pagi, tentang program yang dulu ditunggu setiap minggu, tentang lagu yang pernah menjadi latar dari masa-masa tertentu dalam hidup.

Radio mungkin berubah, frekuensinya bergeser, studionya berpindah, format siarannya menyesuaikan zaman.

Di udara Bandung, selalu ada suara yang menyapa dengan cara yang akrab dan sederhana “Halo, Sahabat" ciri khas stasion radio panutan, K-Lite 107.1 FM. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Jul 2026, 13:01

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 31 Jul 2026, 12:01

Bandung, Kota dengan Budaya Sepak Bola yang Kental

Bandung memiliki budaya sepakbola yang kuat, mulai dari Monumen Sepakbola, Persib Bandung, hingga lapangan dan SSB yang tersebar di berbagai wilayah.

Monumen Sepak Bola di persimpangan Jalan Tamblong dan Jalan Lembong. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 11:01

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata.

Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 10:18

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi.

Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)
Beranda 31 Jul 2026, 09:26

Dalam 43 Hari Dua Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno Hatta, B2W Bandung Desak Jalur Terproteksi

B2W Bandung desak pemerintah bangun jalur sepeda terproteksi di Soekarno Hatta setelah dua pesepeda tewas dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.

Kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu, 29 Juli 2026 mengakibatkan seorang pesepeda meninggal dunia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 09:16

Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 08:32

Jalan Raya Kita Bukan untuk Pesepeda

Negara kita khsusunya Kota Bandung memang belum siap menjadikan jalan raya sebagai tempat yang ramah dengan sepeda.

Pengecatan ulang jalur khusus sepeda untuk meningkatkan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan lalulintas pengguna sepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 17:05

Wujudkan 'Bandung Kota Perkedel' supaya Petani Kentang Makmur

Kota Bandung perlu menjadikan menu perkedel sebagai kuliner unggulan dari usaha kaki lima hingga restoran dan hotel berbintang.

Ilustrasi wujudkan Bandung Kota Perkedel (Sumber: Ayobandung.com dan resepkoki.id)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 16:32

Romantisme Membaca Majalah Jakarta Jakarta: Menyusuri Jejak Peristiwa Era 1990-an

Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.

Majalah Jakarta Jakarta, salah satu majalah berita bergambar yang paling diminati masyarakat Indonesia pada era 1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Jakarta Jakarta | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 30 Jul 2026, 16:18

Bukan Sekadar Menangkap Begal, Mengembalikan Rasa Aman Warga Lebih Penting

Maraknya aksi begal di Bandung Raya memicu kecemasan warga yang beraktivitas malam dan polemik terkait kebijakan sayembara penangkapan pelaku yang dinilai berisiko memicu aksi main hakim sendiri.

Polrestabes Bandung tangkap 19 orang pelaku kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 hingga 21 Juli 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:15

Putri Noong Tahun 1980-an

Kuliner khas di Bandung tahun 1980-an.

Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)
Bandung 30 Jul 2026, 15:04

Suguhkan Sentuhan Seni dan Wangi Teh Pemium nan Otentik, Yuk Nikmati Cerita Baru CHAGEE di Jantung Kota Bandung

CHAGEE merancang gerai flagship secara khusus untuk menampilkan jiwa Kota Bandung yang dikenal berani, ekspresif, kreatif, namun tetap mengakar kuat pada warisan budaya.

CHAGEE secara resmi menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Bandung, membawa angin segar bagi lanskap tempat nongkrong di Kota Parijs van Java. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:00

Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 12:02

Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa.

Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 11:46

Batagor Tamim, Legenda Kuliner Kaki Lima Bandung yang Bertahan dari Gerobak Sederhana

Batagor Tamim menawarkan batagor kering dan kuah dengan bumbu kacang khas serta rasa ikan yang kuat. Cari tahu lokasi, harga, dan jam bukanya.

Batagor Tamim Bandung.
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 08:47

Harus Menunggu Berapa Korban? Jalan Soekarno-Hatta Harus Punya Jalur Sepeda Terproteksi

Kematian pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung kembali menegaskan perlunya jalur sepeda terproteksi.

Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di seberang Terminal Leuwipanjang pada Rabu (29/7/2026). (Sumber: Instagram/@ayobandung_official)
Wisata & Kuliner 29 Jul 2026, 23:55

Sejarah Sop Konro, Kuliner Kuah Hitam dari Kluwek yang Kental dengan Sejarah Sulawesi Selatan

Kenali sejarah Sop Konro Makassar, kuah hitam dari kluwek, asal-usulnya, hingga cara penyajian dengan burasa dan ketupat.

Sop Konro Makassar. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 18:01

Batas Antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan

Permasalahan transportasi di Bandung memang seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat antara moda transportasi yang satu dengan yang lainnya.

Ribuan pengemudi ojek dan taksi online melakukan unjukrasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)