Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Persoalan sampah di berbagai kota kerap menjadi masalah yang pelik dan seolah tidak ada habisnya. Begitu pula yang terjadi di Kota Bandung. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota telah meluncurkan berbagai program untuk mengurangi timbunan sampah, mulai dari penguatan pengelolaan di tingkat kelurahan hingga kampanye pengurangan sampah rumah tangga.

Namun pada kenyataannya, perbedaan antara jumlah sampah yang dihasilkan warga dengan kapasitas pengolahan yang tersedia masih cukup besar. Kondisi ini membuat persoalan sampah di Bandung belum sepenuhnya teratasi dan terus membutuhkan berbagai inisiatif baru, termasuk dari masyarakat.

Pemerintah Kota Bandung mencatat, setiap harinya sekitar 1.500 ton sampah baru dihasilkan dari aktivitas masyarakat. Jumlah tersebut membuat pengelolaan sampah menjadi pekerjaan besar yang tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini menjadi salah satu isu paling mendesak yang harus segera ditangani secara bersama-sama oleh para pemangku kebijakan dan warga kota. Menurutnya, besarnya volume sampah harian tidak dapat dibiarkan tanpa upaya pengelolaan yang lebih serius.

Di tengah situasi tersebut, muncul gerakan kecil dari warga yang mencoba menghadirkan solusi dari lingkungan terdekat mereka. Di salah satu sudut kota, sekelompok pengelola bank sampah yang berasal dari Majelis Ta’lim masjid setempat mulai bergerak karena memiliki kepedulian yang sama terhadap kebersihan lingkungan.

Yang membuat bank sampah ini berbeda dari kebanyakan bank sampah lainnya adalah adanya program tabungan emas dari sampah.

Namanya Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. Bank sampah ini resmi didirikan pada 2023 dan saat ini dikelola oleh enam orang anggota, dengan Lina Gusmatina (56) sebagai ketua. Berkat inovasi dan konsistensinya, bank sampah ini bahkan berhasil meraih Kang Pisman Award 2025 tingkat Kota Bandung.

Lina Gusmatina, Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lina Gusmatina, Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Krisis Sampah ke Gerakan Warga

Tumpukan botol plastik, kardus bekas, dan kantong kresek tampak tersusun rapi di sudut Bank Sampah Ikhtiar 15 yang berada di Jalan Jatihandap Timur, Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Karung-karung berisi sampah anorganik terlihat siap ditimbang sebelum dicatat sebagai tabungan milik warga.

Di tempat sederhana ini, sampah yang biasanya dianggap tidak berharga justru menjadi awal dari sebuah tabungan—bahkan tabungan emas.

Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15, Lina Gusmatina, menjelaskan bahwa inisiatif ini berawal dari kegelisahan warga ketika Bandung sempat menghadapi krisis sampah beberapa waktu lalu. Saat itu, kondisi pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan yang lebih luas.

“Awalnya itu waktu (TPA) Sarimukti kebakaran. Sampah di sini berserakan, jadi muncul kepedulian jangan sampai sampah terus seperti itu,” ujar Lina.

Sebelumnya, banyak warga yang membuang sampah tanpa melakukan pemilahan. Sampah organik dan anorganik tercampur begitu saja sebelum akhirnya dibuang ke tempat penampungan.

Menurut Lina, kebiasaan tersebut tidak hanya menyebabkan penumpukan sampah, tetapi juga meningkatkan risiko bagi lingkungan. Karena itu, ia meyakini bahwa perubahan harus dimulai dari rumah tangga—dari cara masyarakat memperlakukan sampah yang mereka hasilkan setiap hari.

Sampah sebagai Sumber Ekonomi

Bank Sampah Ikhtiar 15 tidak hanya hadir sebagai solusi bagi persoalan lingkungan, tetapi juga mencoba menjawab tantangan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Di wilayah ini, sebagian warga menggantungkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas atau memulung. Namun, barang-barang tersebut sering kali langsung dijual dengan harga yang rendah.

Melihat kondisi itu, Lina bersama pengelola bank sampah mencoba menciptakan pendekatan baru agar sampah tidak langsung dijual, melainkan dikumpulkan dan ditabung terlebih dahulu sehingga nilainya bisa lebih terasa manfaatnya.

“Di sini banyak yang penghasilannya dari memulung. Kami ingin membantu mereka mengelola ekonomi. Jadi sampahnya tidak langsung dijual, tapi bisa ditabung untuk kebutuhan yang lebih besar,” kata Lina.

Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan logam dikumpulkan oleh warga, kemudian disetorkan ke bank sampah. Setiap setoran akan ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan.

Alih-alih langsung dijual, warga dapat menyimpan hasilnya seperti menabung. Meskipun nilai sampah yang disetorkan tidak selalu besar, pengelola bank sampah tetap menampungnya agar tidak berakhir di tempat pembuangan.

“Walaupun nilainya kecil, kalau ada yang menabung kami tetap tampung. Motivasi kami supaya sampah itu tidak terbuang begitu saja,” ujar Lina.

Warga menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Warga menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sampah Jadi Tabungan Emas

Seiring berjalannya waktu, pengelola bank sampah mulai memikirkan cara agar tabungan warga memiliki nilai yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dari situlah muncul gagasan untuk mengaitkan tabungan sampah dengan investasi emas.

“Saya ingin tabungan sampah itu punya nilai yang aman, yaitu emas,” ungkap Lina.

Untuk mewujudkan ide tersebut, Bank Sampah Ikhtiar 15 kemudian menjalin kerja sama dengan Pegadaian. Melalui kolaborasi ini, saldo tabungan dari sampah dapat dikonversi menjadi tabungan emas.

“Saya langsung mengajukan kerja sama ke Pegadaian karena ingin nilai tabungan mereka bisa meningkat,” katanya.

Program ini kemudian berkembang menjadi salah satu inovasi utama di bank sampah tersebut. Kini, warga tidak hanya menabung dari sampah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menabung emas secara bertahap.

Proses mengubah sampah menjadi nilai ekonomi dilakukan melalui beberapa tahap. Sampah yang disetorkan oleh masyarakat terlebih dahulu ditimbang dan dinilai berdasarkan harga jual masing-masing jenisnya.

Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi nominal uang yang dicatat sebagai saldo tabungan.

Setelah jumlahnya mencapai nominal tertentu, saldo tersebut dapat dialihkan menjadi tabungan emas melalui aplikasi Pegadaian.

“Sampahnya dikonversi dulu ke uang. Misalnya nilainya Rp50.000, nanti dari aplikasi langsung ditabungkan ke emas di Pegadaian,” jelas Lina.

Melalui kerja sama ini, Bank Sampah Ikhtiar 15 juga berfungsi sebagai perwakilan Pegadaian. Dengan begitu, warga tidak perlu datang langsung ke kantor Pegadaian untuk membuka tabungan emas.

“Jadi selain buku tabungan sampah, nasabah juga punya buku tabungan emas,” ujar Lina.

Jenis sampah yang diterima di Bank Sampah Ikhtiar 15 cukup beragam. Masyarakat dapat menyetorkan kertas, botol plastik, tembaga, kardus, hingga minyak jelantah.

Bahkan sampah dengan nilai jual rendah tetap diterima. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

“Yang nilainya kecil pun kami tampung, seperti Tetrapack atau kresek. Walaupun hanya Rp100 per kilo, tetap kami terima supaya tidak terbuang,” kata Lina.

Pendekatan ini secara perlahan membuat masyarakat terbiasa memilah sampah di rumah. Barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak berharga kini mulai dikumpulkan untuk ditabung.

Seiring meningkatnya keterlibatan masyarakat, jumlah nasabah Bank Sampah Ikhtiar 15 pun terus bertambah. Saat ini sekitar 130 orang tercatat sebagai nasabah tabungan sampah, dengan sekitar 50 orang di antaranya telah mengikuti program tabungan emas.

Beberapa nasabah bahkan mulai merasakan hasilnya. Meski mayoritas berasal dari sampah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tabungan mereka perlahan bertambah.

“Ada yang sudah sampai tiga gram. Tapi itu bukan dari sampah saja, mereka juga kadang menambah dari uang pribadi,” ujar Lina.

Ada pula nasabah yang baru mengumpulkan puluhan ribu rupiah dari hasil sampah. Namun nilai tersebut tetap berpotensi meningkat seiring naiknya harga emas.

Karung berisi botol plastik dan kardus bekas di Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang dikelola warga untuk mengurangi sampah sekaligus menjadi tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Karung berisi botol plastik dan kardus bekas di Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang dikelola warga untuk mengurangi sampah sekaligus menjadi tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perubahan Kebiasaan

Program tabungan emas ini juga membawa perubahan dalam perilaku masyarakat terhadap sampah. Ketika mereka mengetahui bahwa sampah dapat diubah menjadi investasi, minat untuk mengumpulkannya pun meningkat.

“Warga justru semakin tertarik karena tahu nilai emas itu naik terus,” kata Lina.

Tidak sedikit warga yang kemudian tidak hanya mengumpulkan sampah dari rumah sendiri, tetapi juga dari lingkungan sekitar untuk ditabung di bank sampah.

Menurut Lina, perubahan kebiasaan inilah yang menjadi tujuan utama dari program tersebut—membangun kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik.

Meski baru berjalan sejak 2023, pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 sudah memiliki berbagai rencana untuk mengembangkan program ini.

Salah satu harapannya adalah menjadikan bank sampah tersebut sebagai bank sampah induk yang dapat menaungi bank-bank sampah lain di wilayah sekitarnya.

“Harapan saya ke depan bank sampah ini bisa jadi bank induk,” ujar Lina.

Selain itu, mereka juga berencana membuka toko bahan pokok yang memungkinkan masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari menggunakan tabungan dari sampah.

Dengan cara ini, sampah tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat langsung membantu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ikon 31 Jul 2026, 15:12

BEC Pusat Elektronik di Kota Bandung

Bandung Electronic Center (BEC) masih menjadi pusat elektronik favorit di Bandung dengan ribuan pilihan gadget, aksesoris, hingga layanan servis.

BEC pusat elektronik di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 15:06

Ketika Air Tinggal Sepercik

Kekeringan alias berkurangnya air atau bahkan hilang sedang melanda beberapa wilayah termasuk Bandung Raya

Sawah yang mengering akibat kemarau di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 30 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 13:01

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 31 Jul 2026, 12:01

Bandung, Kota dengan Budaya Sepak Bola yang Kental

Bandung memiliki budaya sepakbola yang kuat, mulai dari Monumen Sepakbola, Persib Bandung, hingga lapangan dan SSB yang tersebar di berbagai wilayah.

Monumen Sepak Bola di persimpangan Jalan Tamblong dan Jalan Lembong. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 11:01

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata.

Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 10:18

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi.

Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)
Beranda 31 Jul 2026, 09:26

Dalam 43 Hari Dua Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno Hatta, B2W Bandung Desak Jalur Terproteksi

B2W Bandung desak pemerintah bangun jalur sepeda terproteksi di Soekarno Hatta setelah dua pesepeda tewas dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.

Kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu, 29 Juli 2026 mengakibatkan seorang pesepeda meninggal dunia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 09:16

Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 08:32

Jalan Raya Kita Bukan untuk Pesepeda

Negara kita khsusunya Kota Bandung memang belum siap menjadikan jalan raya sebagai tempat yang ramah dengan sepeda.

Pengecatan ulang jalur khusus sepeda untuk meningkatkan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan lalulintas pengguna sepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 17:05

Wujudkan 'Bandung Kota Perkedel' supaya Petani Kentang Makmur

Kota Bandung perlu menjadikan menu perkedel sebagai kuliner unggulan dari usaha kaki lima hingga restoran dan hotel berbintang.

Ilustrasi wujudkan Bandung Kota Perkedel (Sumber: Ayobandung.com dan resepkoki.id)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 16:32

Romantisme Membaca Majalah Jakarta Jakarta: Menyusuri Jejak Peristiwa Era 1990-an

Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.

Majalah Jakarta Jakarta, salah satu majalah berita bergambar yang paling diminati masyarakat Indonesia pada era 1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Jakarta Jakarta | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 30 Jul 2026, 16:18

Bukan Sekadar Menangkap Begal, Mengembalikan Rasa Aman Warga Lebih Penting

Maraknya aksi begal di Bandung Raya memicu kecemasan warga yang beraktivitas malam dan polemik terkait kebijakan sayembara penangkapan pelaku yang dinilai berisiko memicu aksi main hakim sendiri.

Polrestabes Bandung tangkap 19 orang pelaku kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 hingga 21 Juli 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:15

Putri Noong Tahun 1980-an

Kuliner khas di Bandung tahun 1980-an.

Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)
Bandung 30 Jul 2026, 15:04

Suguhkan Sentuhan Seni dan Wangi Teh Pemium nan Otentik, Yuk Nikmati Cerita Baru CHAGEE di Jantung Kota Bandung

CHAGEE merancang gerai flagship secara khusus untuk menampilkan jiwa Kota Bandung yang dikenal berani, ekspresif, kreatif, namun tetap mengakar kuat pada warisan budaya.

CHAGEE secara resmi menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Bandung, membawa angin segar bagi lanskap tempat nongkrong di Kota Parijs van Java. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:00

Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 12:02

Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa.

Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 11:46

Batagor Tamim, Legenda Kuliner Kaki Lima Bandung yang Bertahan dari Gerobak Sederhana

Batagor Tamim menawarkan batagor kering dan kuah dengan bumbu kacang khas serta rasa ikan yang kuat. Cari tahu lokasi, harga, dan jam bukanya.

Batagor Tamim Bandung.
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 08:47

Harus Menunggu Berapa Korban? Jalan Soekarno-Hatta Harus Punya Jalur Sepeda Terproteksi

Kematian pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung kembali menegaskan perlunya jalur sepeda terproteksi.

Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di seberang Terminal Leuwipanjang pada Rabu (29/7/2026). (Sumber: Instagram/@ayobandung_official)