Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 14 Mar 2026, 09:57 WIB
Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Persoalan sampah di berbagai kota kerap menjadi masalah yang pelik dan seolah tidak ada habisnya. Begitu pula yang terjadi di Kota Bandung. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota telah meluncurkan berbagai program untuk mengurangi timbunan sampah, mulai dari penguatan pengelolaan di tingkat kelurahan hingga kampanye pengurangan sampah rumah tangga.

Namun pada kenyataannya, perbedaan antara jumlah sampah yang dihasilkan warga dengan kapasitas pengolahan yang tersedia masih cukup besar. Kondisi ini membuat persoalan sampah di Bandung belum sepenuhnya teratasi dan terus membutuhkan berbagai inisiatif baru, termasuk dari masyarakat.

Pemerintah Kota Bandung mencatat, setiap harinya sekitar 1.500 ton sampah baru dihasilkan dari aktivitas masyarakat. Jumlah tersebut membuat pengelolaan sampah menjadi pekerjaan besar yang tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini menjadi salah satu isu paling mendesak yang harus segera ditangani secara bersama-sama oleh para pemangku kebijakan dan warga kota. Menurutnya, besarnya volume sampah harian tidak dapat dibiarkan tanpa upaya pengelolaan yang lebih serius.

Di tengah situasi tersebut, muncul gerakan kecil dari warga yang mencoba menghadirkan solusi dari lingkungan terdekat mereka. Di salah satu sudut kota, sekelompok pengelola bank sampah yang berasal dari Majelis Ta’lim masjid setempat mulai bergerak karena memiliki kepedulian yang sama terhadap kebersihan lingkungan.

Yang membuat bank sampah ini berbeda dari kebanyakan bank sampah lainnya adalah adanya program tabungan emas dari sampah.

Namanya Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. Bank sampah ini resmi didirikan pada 2023 dan saat ini dikelola oleh enam orang anggota, dengan Lina Gusmatina (56) sebagai ketua. Berkat inovasi dan konsistensinya, bank sampah ini bahkan berhasil meraih Kang Pisman Award 2025 tingkat Kota Bandung.

Lina Gusmatina, Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lina Gusmatina, Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap Mandalajati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Krisis Sampah ke Gerakan Warga

Tumpukan botol plastik, kardus bekas, dan kantong kresek tampak tersusun rapi di sudut Bank Sampah Ikhtiar 15 yang berada di Jalan Jatihandap Timur, Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Karung-karung berisi sampah anorganik terlihat siap ditimbang sebelum dicatat sebagai tabungan milik warga.

Di tempat sederhana ini, sampah yang biasanya dianggap tidak berharga justru menjadi awal dari sebuah tabungan—bahkan tabungan emas.

Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15, Lina Gusmatina, menjelaskan bahwa inisiatif ini berawal dari kegelisahan warga ketika Bandung sempat menghadapi krisis sampah beberapa waktu lalu. Saat itu, kondisi pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan yang lebih luas.

“Awalnya itu waktu (TPA) Sarimukti kebakaran. Sampah di sini berserakan, jadi muncul kepedulian jangan sampai sampah terus seperti itu,” ujar Lina.

Sebelumnya, banyak warga yang membuang sampah tanpa melakukan pemilahan. Sampah organik dan anorganik tercampur begitu saja sebelum akhirnya dibuang ke tempat penampungan.

Menurut Lina, kebiasaan tersebut tidak hanya menyebabkan penumpukan sampah, tetapi juga meningkatkan risiko bagi lingkungan. Karena itu, ia meyakini bahwa perubahan harus dimulai dari rumah tangga—dari cara masyarakat memperlakukan sampah yang mereka hasilkan setiap hari.

Sampah sebagai Sumber Ekonomi

Bank Sampah Ikhtiar 15 tidak hanya hadir sebagai solusi bagi persoalan lingkungan, tetapi juga mencoba menjawab tantangan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Di wilayah ini, sebagian warga menggantungkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas atau memulung. Namun, barang-barang tersebut sering kali langsung dijual dengan harga yang rendah.

Melihat kondisi itu, Lina bersama pengelola bank sampah mencoba menciptakan pendekatan baru agar sampah tidak langsung dijual, melainkan dikumpulkan dan ditabung terlebih dahulu sehingga nilainya bisa lebih terasa manfaatnya.

“Di sini banyak yang penghasilannya dari memulung. Kami ingin membantu mereka mengelola ekonomi. Jadi sampahnya tidak langsung dijual, tapi bisa ditabung untuk kebutuhan yang lebih besar,” kata Lina.

Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan logam dikumpulkan oleh warga, kemudian disetorkan ke bank sampah. Setiap setoran akan ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan.

Alih-alih langsung dijual, warga dapat menyimpan hasilnya seperti menabung. Meskipun nilai sampah yang disetorkan tidak selalu besar, pengelola bank sampah tetap menampungnya agar tidak berakhir di tempat pembuangan.

“Walaupun nilainya kecil, kalau ada yang menabung kami tetap tampung. Motivasi kami supaya sampah itu tidak terbuang begitu saja,” ujar Lina.

Warga menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Warga menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sampah Jadi Tabungan Emas

Seiring berjalannya waktu, pengelola bank sampah mulai memikirkan cara agar tabungan warga memiliki nilai yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dari situlah muncul gagasan untuk mengaitkan tabungan sampah dengan investasi emas.

“Saya ingin tabungan sampah itu punya nilai yang aman, yaitu emas,” ungkap Lina.

Untuk mewujudkan ide tersebut, Bank Sampah Ikhtiar 15 kemudian menjalin kerja sama dengan Pegadaian. Melalui kolaborasi ini, saldo tabungan dari sampah dapat dikonversi menjadi tabungan emas.

“Saya langsung mengajukan kerja sama ke Pegadaian karena ingin nilai tabungan mereka bisa meningkat,” katanya.

Program ini kemudian berkembang menjadi salah satu inovasi utama di bank sampah tersebut. Kini, warga tidak hanya menabung dari sampah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menabung emas secara bertahap.

Proses mengubah sampah menjadi nilai ekonomi dilakukan melalui beberapa tahap. Sampah yang disetorkan oleh masyarakat terlebih dahulu ditimbang dan dinilai berdasarkan harga jual masing-masing jenisnya.

Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi nominal uang yang dicatat sebagai saldo tabungan.

Setelah jumlahnya mencapai nominal tertentu, saldo tersebut dapat dialihkan menjadi tabungan emas melalui aplikasi Pegadaian.

“Sampahnya dikonversi dulu ke uang. Misalnya nilainya Rp50.000, nanti dari aplikasi langsung ditabungkan ke emas di Pegadaian,” jelas Lina.

Melalui kerja sama ini, Bank Sampah Ikhtiar 15 juga berfungsi sebagai perwakilan Pegadaian. Dengan begitu, warga tidak perlu datang langsung ke kantor Pegadaian untuk membuka tabungan emas.

“Jadi selain buku tabungan sampah, nasabah juga punya buku tabungan emas,” ujar Lina.

Jenis sampah yang diterima di Bank Sampah Ikhtiar 15 cukup beragam. Masyarakat dapat menyetorkan kertas, botol plastik, tembaga, kardus, hingga minyak jelantah.

Bahkan sampah dengan nilai jual rendah tetap diterima. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

“Yang nilainya kecil pun kami tampung, seperti Tetrapack atau kresek. Walaupun hanya Rp100 per kilo, tetap kami terima supaya tidak terbuang,” kata Lina.

Pendekatan ini secara perlahan membuat masyarakat terbiasa memilah sampah di rumah. Barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak berharga kini mulai dikumpulkan untuk ditabung.

Seiring meningkatnya keterlibatan masyarakat, jumlah nasabah Bank Sampah Ikhtiar 15 pun terus bertambah. Saat ini sekitar 130 orang tercatat sebagai nasabah tabungan sampah, dengan sekitar 50 orang di antaranya telah mengikuti program tabungan emas.

Beberapa nasabah bahkan mulai merasakan hasilnya. Meski mayoritas berasal dari sampah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tabungan mereka perlahan bertambah.

“Ada yang sudah sampai tiga gram. Tapi itu bukan dari sampah saja, mereka juga kadang menambah dari uang pribadi,” ujar Lina.

Ada pula nasabah yang baru mengumpulkan puluhan ribu rupiah dari hasil sampah. Namun nilai tersebut tetap berpotensi meningkat seiring naiknya harga emas.

Karung berisi botol plastik dan kardus bekas di Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang dikelola warga untuk mengurangi sampah sekaligus menjadi tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Karung berisi botol plastik dan kardus bekas di Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, yang dikelola warga untuk mengurangi sampah sekaligus menjadi tabungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perubahan Kebiasaan

Program tabungan emas ini juga membawa perubahan dalam perilaku masyarakat terhadap sampah. Ketika mereka mengetahui bahwa sampah dapat diubah menjadi investasi, minat untuk mengumpulkannya pun meningkat.

“Warga justru semakin tertarik karena tahu nilai emas itu naik terus,” kata Lina.

Tidak sedikit warga yang kemudian tidak hanya mengumpulkan sampah dari rumah sendiri, tetapi juga dari lingkungan sekitar untuk ditabung di bank sampah.

Menurut Lina, perubahan kebiasaan inilah yang menjadi tujuan utama dari program tersebut—membangun kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik.

Meski baru berjalan sejak 2023, pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 sudah memiliki berbagai rencana untuk mengembangkan program ini.

Salah satu harapannya adalah menjadikan bank sampah tersebut sebagai bank sampah induk yang dapat menaungi bank-bank sampah lain di wilayah sekitarnya.

“Harapan saya ke depan bank sampah ini bisa jadi bank induk,” ujar Lina.

Selain itu, mereka juga berencana membuka toko bahan pokok yang memungkinkan masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari menggunakan tabungan dari sampah.

Dengan cara ini, sampah tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat langsung membantu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Mengurus Sampah Kota Bandung Bukan Hal Ringan, Biaya "Segunung" Harus Dikeluarkan Setiap Hari

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)
Beranda 29 Apr 2026, 08:45

Diskar Kota Bandung Ungkap Daftar Kecamatan dengan Tingkat Kejadian Kebakaran Tertinggi

Diskar mengungkap sejumlah kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi di Bandung, dipicu kepadatan permukiman, instalasi listrik, dan meningkat saat musim kemarau.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 07:36

Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka tidak ada kata perjuangan buruh telah selesai.

Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)
Bandung 28 Apr 2026, 20:52

Memperkuat "Imunitas" Finansial Warga Jabar, Mengapa Kampus Harus Jadi Garda Depan Melawan Pinjol?

Tanpa "imunitas" atau literasi keuangan yang kuat, kemudahan akses digital justru menjadi pintu masuk menuju jeratan utang yang menghancurkan ekonomi keluarga.

Edukasi keuangan harus masuk ke jantung pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. (Sumber: OJK Jawa Barat)
Wisata & Kuliner 28 Apr 2026, 20:40

Panduan Wisata Tanjung Duriat Sumedang, Panorama 360 Derajat Waduk Jatigede

Tanjung Duriat Sumedang menawarkan panorama 360 derajat Waduk Jatigede dengan pemandangan bukit dan air luas dari satu titik.

Wahana Hammock Net di Tanjung Duriat Sumedang. (Sumber: Tanjung Duriat)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)