Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

KETIKA fenomena El Nino menguat, yang berubah bukan hanya jumlah hujan, tetapi  juga semestinya cara kita memahami hubungan antara alam dan ekonomi sehari-hari.

Secara teoritis di atas kertas, El Nino adalah urusan meteorologi. Tetapi, di lapangan, ini soal air di sawah, sayur di ladang, dan harga-harga di pasar. 

Ketika hujan tertunda, rantai yang terdampak sesungguhnya tidak berhenti di petani. Ia merambat pula sampai ke dapur warga kota.

Sinyal awal

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sudah memberi sinyal sejak awal bahwa kemarau 2026 lebih kering dari normal, dengan potensi berlanjut hingga awal 2027. Itu artinya, tekanan terhadap sistem air dan pangan menjadi bukan kejadian sesaat.

Khusus di Jawa Barat, tekanan kemarau ini terasa berlapis. Wilayah Jawa Barat bukan hanya lumbung pangan, tapi juga pusat konsumsi. Artinya, produksi dan konsumsi bertemu di wilayah yang sama, dan menciptakan kerentanan yang unik.

Di daerah seperti Lembang, Pangalengan, hingga Garut, petani sayur tentu saja mulai merasakan perubahan pola tanam akibat kemarau panjang. Tanah menjadi lebih cepat kering, irigasi tidak lagi stabil, serta hasil panen mulai tidak seragam.

Sayuran adalah komoditas yang sensitif. Berbeda dengan padi yang masih bisa bertahan dalam siklus tertentu, sayuran membutuhkan air yang konsisten. Sedikit saja gangguan dalam pasokan air, kualitas langsung turun.

Di sisi lain, petani padi menghadapi dilema yang berbeda saat ini. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kekurangan air, tapi juga ketidakpastian musim tanam. Kalender tanam yang biasanya menjadi pegangan, kiwari mulai goyah.

Sawah-sawah di wilayah Pantura seperti Indramayu dan Subang, misalnya, mulai mengalami penurunan debit air irigasi. Waduk dan saluran yang selama ini menopang produksi tidak lagi bekerja dengan ritme normal.

Dalam perspektif ekologi, ini adalah sinyal bahwa sistem air sedang tertekan. Air bukan hanya berkurang, tapi juga distribusinya menjadi tidak merata. Bisa jadi ada wilayah yang masih mendapat pasokan, sementara yang lain mulai kekeringan.

Ketimpangan ini kemudian berubah menjadi ketimpangan ekonomi. Petani yang berada dekat sumber air relatif lebih aman, sementara yang di hilir menghadapi risiko gagal panen.

Maka, kita mulai melihat bahwa krisis air bukan sekadar masalah alam. Ia adalah masalah distribusi. Siapa mendapat air, siapa tidak, menjadi penentu siapa yang bertahan dan siapa terpukul.

Dampak berikutnya terasa di kota. Bandung sebagai pusat konsumsi sangat bergantung pada pasokan komoditas dari daerah sekitarnya. Ketika produksi terganggu, pasokan menjadi tidak stabil.

Pasar mulai menunjukkan gejala klasik, yakni harga naik, stok fluktuatif, dan kualitas tidak konsisten. Konsumen mungkin hanya melihat angka di papan harga. Tetapi di balik itu, ada sistem yang sedang terguncang.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Distribusi pangan pun menjadi semakin kompleks. Jalan distribusi yang biasanya lancar, kini harus menyesuaikan dengan ketersediaan barang. Pedagang harus mencari sumber alternatif, seringkali dengan biaya lebih tinggi.

Biaya distribusi yang naik ini tidak selalu terlihat. Ia tersembunyi dalam harga akhir. Konsumen membayar lebih mahal, tanpa selalu memahami kenapa.

Dalam kacamata ekonomi, ini adalah contoh nyata bagaimana gangguan ekologi berubah menjadi inflasi pangan karena pasokan terganggu.

Stabilitas iklim

Fenomena El Nino memperlihatkan bahwa sistem pangan kita masih sangat bergantung pada stabilitas iklim. Ketika iklim berubah, sistem pangan kita langsung goyah. Ini menunjukkan masih belum adanya bantalan yang cukup kuat.

Padahal, Jawa Barat memiliki infrastruktur pertanian yang relatif maju. Namun, infrastruktur ini umumnya dirancang untuk kondisi normal, bukan untuk kondisi ekstrem yang semakin sering terjadi di era krisis iklim sekarang ini.

Itu masalahnya. Kita membangun sistem berdasarkan masa lalu, sementara tantangan datang dari masa depan. Ketika pola hujan berubah, maka sistem yang lama tidak lagi relevan sepenuhnya.

Pendekatan ekologi mengajarkan bahwa ketahanan merupakan kemampuan beradaptasi.  Sayangnya, banyak kebijakan masih bersifat reaktif. Ketika air kurang, baru dilakukan intervensi. Ketika harga naik, baru dilakukan operasi pasar. 

Padahal, El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Misalnya, dalam diversifikasi sumber air. Ketergantungan pada hujan harus dikurangi. Pengelolaan air tanah, embung, dan sistem irigasi mikro perlu diperkuat.

Di sisi lain, pola tanam juga perlu disesuaikan. Tidak semua komoditas cocok ditanam dalam kondisi kering yang panjang. Adaptasi varietas menjadi kian krusial.

Namun, adaptasi ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke petani. Mereka bekerja dalam keterbatasan. Tanpa dukungan kebijakan dan insentif, perubahan sulit terjadi.

Dari sisi ekonomi, perlu pula ada mekanisme yang melindungi petani dari fluktuasi ekstrem. Jika tidak, mereka akan selalu berada di posisi paling rentan.

Kesadaran akan hal tersebut penting, karena krisis pangan tidak selalu datang dalam bentuk kelangkaan total. Ia sering muncul sebagai ketidakstabilan yang perlahan menggerus.

Seperti wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, Jawa Barat saat ini sedang berada di titik uji, apakah ia mampu beradaptasi dengan tekanan iklim, atau justru terjebak dalam pola lama yang rentan.

El Nino hanya mempercepat apa yang sebenarnya sudah lama terjadi dan membuka kelemahan yang selama ini tersembunyi.

Sudah barang tentu, yang dibutuhkan sekarang adalah cara pandang baru bagaimana melihat Jawa Barat bukan semata sebagai wilayah produksi dan konsumsi, tetapi sebagai ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)