Bandung kini menjadi kota yang sehat, pada dasarnya setiap sudut ruang kota selalu menarik perhatian dari pada masyarakatnya, taman kota, sasana olahraga hingga suasana kota yang selalu syahdu. Seiring berjalannya waktu dan teknologi bandung kian hari kian ramai, pasalnya tren lari sudah masuk kedalam ruang kota dan sudut kota. Di tengah keramaian dan tekanan pekerjaan, tren lari selalu menjadi solusi untuk mencari ketenangan dalam setiap indiividu.
Tren lari kini sudah menjadi lifestyle di Kota Bandung, Sebagian warga menjadikan tren lari ini sebagai satu pelarian untuk istirahat sejenak dari hiruk pikuk kota. Setiap sudut kota, taman, hingga trotoar kian hari selalu dipenuhi oleh orang orang yang ingin berlari. Fenomena yang terjadi di Kota Bandung dapat kita pahami sebagai bentuk trasnformasinya ruang kota yang bersifat dinamis dan dibentuk oleh aktifitas manusia. dalam perspektif Henry Lefebvre, ruang bukanlah entitas yang statis, melainkan hasil daripada konstruksi sosial yang terus diproduksi oleh aktifitas manusia.
Aktivitas lari yang semakin marak di Kota Bandung, menunjukkan bahwa masyarakat telah membangun ulang fungsi dari pada ruang kota, seperti jalanan yang tidak hanya sebagai tempat mobilisasi namun berubah menjajdi ruang rekreasi atau pun refleksi. Dengan demikian, tren lari tersebut tidak hanya merepresentasikan gaya hidup sehat, akan tetapi mencerminakan budaya populer yang kian hari menjadi kebutuhan psikologis sosial
Jika kita melihat dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, setiap individu memiliki berbagai dorongan dan tekanan batin yang tidak bisa di ekspresikan, sehingga adanya mekanisme pertahanan diri salah satunya sublimasi, yaitu proses pengalihan emosional ke dalam bentuk aktivitas. Dalam konteks ini, fenomena tren lari dapat kita lihat sebagai bentuk pelepasan emosional seperti stress, cemas dan tekanan hidup yang diubah menjadi suatu aktivitas yang dapat diterima sosial. Dengan demikian tren lari tidak hanya sebagai olahraga untuk menyehatkan tubuh, namun juga dapat menjadi medium untuk mengelola psikologis ditengah hiruk pikuknya kota bandung.

Di balik itu, meningkatnya aktivitas lari di Kota Bandung menggambarkan kreativitas yang terjadi pada ruang kota, tetapi sekaligus menjadi indikasi pertanyaan apakah adanya keterbatasan fasilitas yang memadai?. Selain itu, berkembangnya tren lari sebagai gaya hidup menjadikan ekslusifitvitas sosial. Jika kita mengaca ke prespektif psikoanalisis Sigmund Freud ini menjadi bentuk sublimasi atas tekanan hidup, maka fenomena lari hanya bersifat positif, tetapi mencerminkan dinamika sosial dan psikologis yang kompleks diantara hiruk pikuknya Kota Bandung.
Tren lari di Kota Bandung tidak hanya sekedar mencerminkan gaya hidup sehat, tetapi menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ulang fungsi dan makna ruang publik sekaligus menjadi tempat untuk mengelola psikologisnya. Dalam kerangka Sigmund Freud, aktivitas ini menjadi bentuk sublimasi yang dapat memberikan kelegaan, tetapi tidak sepenuhnya dapat menyelesaikan. Dengan demikian, fenomena ini menjadi suatu refleksi yang komples antar ruang, budaya, dan psikologis yang terjadi pada kehidupan kota.
