Puisi, Hati, dan Suci

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 19 Apr 2026, 15:38 WIB
Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Malam itu udara terasa dingin. Saat sedang asyik membaca buku Muhammad karya Karen Armstrong, ketika pintu rumah terbuka pelan. Aa Akil, anak kedua (11 tahun), baru pulang dari pengajian. Wajahnya tampak serius, lalu mendekat dan bertanya, “Bah, gimana cara menulis puisi?”

Belum sempat menjawab, malah balik bertanya. "Kunaon A!"

Bocah kelas lima SD ini buru-buru menjelaskan, “Aa kepilih ikut lomba tingkat kecamatan. Tapi bingung puisinya harus bikin sendiri.”

Sambil mendekat dan mengusap kepala yang baru dipotong rambutnya. “Nulis mah kedah ku hate, sareng nu beresih.”

Aa mengernyitkan dahinya dan berkata lantang, “Emang Babah suka nulis atau baca puisi? Biasanya kan nulis berita, artikel di koran, atau buku.”

Gedung Rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I (Sumber: www.uinsgd.ac.id)
Gedung Rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I (Sumber: www.uinsgd.ac.id)

Koin untuk Sastra

Pertanyaan sederhana itu membuatku terdiam seribu bahasa. Malahan pikiranku melayang ke era 2010-an, tepatnya pada tahun 2011.

Saat itu lahir gerakan kecil bernama Koin untuk Sastra. Gerakan solidaritas bagi empat mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terancam gagal berangkat ke Temu Sastra Indonesia IV di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011.

Pasalnya, dari 124 Sastrawan Indonesia terpilih ini, 18 orang merupakan perwakilan Jawa Barat: Anis Sayidah, Ahmad Faisal Imron, Fina Sato (Puisi); Neneng Nurjanah “Warung Kupat Tahu”, Miftah Fadhli “Tertawa, Meja Kesayangan”, Norman Erikson “Kondektur” (Cerpenis); Fatkurrahman Karim, Rudi Ramdani, Herton Maridi, Dian Hartati, Galah Denawa, Restu A Putra, Pungkit Wijaya, Ahmad Syahid, Alya Salaisha-Sinta, Jun Nizami, Matdon, Sutan Iwan Soekri Munaf (Penyair).

Uniknya, dari jumlah 18 undangan itu 4 di antaranya masih tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Galah Denawa (Sosiologi), Restu A Putra (Jurnalistik), Pungkit Wijaya (Bahasa dan Sastra Inggris).

Anak-anak muda yang membawa semangat literasi, justru harus berhadapan dengan pihak birokrasi yang minimnya apresiasi.

Waktu itu, seorang kawan, Sukron Abdilah, menulis di Kompasiana dengan judul "Rektorat UIN SGD Bandung Minim Apresiasi Sastra" yang menjadi viral dan Kompas menurunkan model berita "Hybrid Journalism" bertajuk "Rektorat UIN SGD Hanya Bisa Berangkatkan Satu Mahasiswa"

Konsorsium Sastra UIN Bandung, menggalang aksi sosial untuk mengusahakan keberangkatan 4 wakilnya ke acara Temu Sastra Indonesia denggan membuka posko “KOIN Untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung. Gerakan ini diharapkan dapat menyelamatkan eksistensi kesusastraan di kampus UIN Bandung.

Meskipun pihak rektorat tidak mendukung prestasi mahasiswa-mahasiswanya, minimalnya dengan gerakan “KOIN Untuk Sastra UIN Bandung” ini dapat meringankan beban keuangan yang menimpa sastrawan muda ini.

Gerakan pengumpulan dana secara sukarela melalui “Koin untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung” hadir di Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) gedung Al-Jamiah lantai III dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Lembaga Pres Mahasiswa Suaka dan Women Studies Center (WSC) di gedung SC UIN Bandung.

Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)

Yuk Kenali Proses Kreatif Menulis

Abdul Wachid B.S., Penyair dan Dosen UIN Purwokerto memberikan tips dalam Menulis Puisi dan Cara Pandang Terhadap Realitas

Menulis dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lihat, rasakan, dan alami. Kuncinya adalah kepekaan menangkap momen sederhana, lalu mengubahnya menjadi bahasa yang bermakna.

Misalnya, dari pengamatan sepasang kupu-kupu di tepi jendela, lahir perenungan tentang cinta yang tak sekadar diucapkan, tetapi dijaga dalam kesetiaan.

PERTEMUAN

bila sepasang kupu-kupu saling

berkejaran di antara bunga-bunga

bertanya lagikah kita

apa itu cinta?

1995

(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:5)

Pada hakikatnya, seseorang menulis puisi bukan sekadar curahan hati (curhat) atas apa yang terjadi pada dirinya, melainkan merenungkannya dan memberi makna dalam menjalani kehidupan ini.

Apa yang dirasakan perlu dipikirkan ulang, diperdalam, dan diberi makna. Di sinilah pembeda antara sekadar luapan emosi dan karya yang bernilai.

Misalnya, rasa jatuh cinta tidak cukup ditulis sebagai perasaan, tetapi diangkat menjadi kesadaran tentang keterbatasan diri di hadapan luasnya makna cinta yang terdalam.

…..

Jatuh cinta kepadamu

Kata-kata menjadi harapan

Harapan menjadi doa-doa yang

Tidak berkesudahan

Dari pagi ke siang

Dari siang ke senja

Dan malam meluaskan pandangan

Betapa sedemikian kerdil aku

Untuk memeluk semesta cintamu

…..

(Sajak "Jatuh Cinta Kepadamu", Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:67).

Aku Kembali ke Bandung Kepada Cinta Ku yang Sesungguhnya……. 

Ir. Soekarno (Sumber: Instagram @rijal_madani)
Aku Kembali ke Bandung Kepada Cinta Ku yang Sesungguhnya……. Ir. Soekarno (Sumber: Instagram @rijal_madani)

Dengan memberi nilai kemuliaan pada tema yang diangkat. Puisi yang baik tidak terjebak pada dorongan hawa nafsu, justru mengangkat manusia pada martabatnya. Cinta, rindu, dan rasa lainnya diarahkan pada nilai-nilai luhur mulai dari kesetiaan, kesabaran, dan penghormatan.

Dengan begitu, puisi menjadi cermin kemanusiaan yang beradab, bukan sekadar ekspresi insting yang basa-basi.

Tentunya, makna dalam puisi sebaiknya dihubungkan dengan dimensi spiritual. Rasa yang kuat (rindu) dapat diperdalam melalui hubungan dengan Tuhan, sehingga menghadirkan kekuatan batin yang lebih luas dan intim.

KANGEN

jika kangen merajam

kekasih

telponlah aku dengan Fatihah

sayapnya akan terbang

hinggap ke lubuk sanubari

tak ada sepeka ia

tak ada setunjam ia

yang hilangkan jarak ke paling

satu

sukmaku

sukma kau

berpelukan dalam tarian

abadi

2000

(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2021:6).

Menulis puisi itu tentang cara pandang terhadap realitas. Puisi akan bernilai ketika mampu menghadirkan keindahan dan kebaikan dalam setiap makna yang ditulis. Dengan menyelaraskan pengalaman hidup, nilai kemanusiaan, dan kesadaran spiritual, puisi tidak hanya menjadi karya seni, tetapi menjadi jalan menemukan hikmah. Proses memahami kebenaran yang lebih dalam dalam kehidupan.

Dawuh Sayidina Muhammad Rasulullah Saw, "Sebagian puisi mengandung hikmah, hikmah adalah unta orang beriman yang hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa menemukan unta itu maka dia akan menemukan kebenaran terbaiknya." (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikdasmen, 26 Maret 2024 - 10:06 WIB, https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id)

Open mic Bandung berpuisi vol. 15. Sampai berzumba di open mic selanjutnya… (Sumber: Instagram @bandungberpuisi)
Open mic Bandung berpuisi vol. 15. Sampai berzumba di open mic selanjutnya… (Sumber: Instagram @bandungberpuisi)

Tahapan Menulis (Puisi) Bukan Aktivitas Biasa

Ingat, dalam tradisi keilmuan Islam, menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi perkara kebersihan jiwa.

Pasalnya, banyak ulama terdahulu memulai menulis kitab dengan adab yang tinggi, berwudu terlebih dahulu, menunaikan salat sunnah, membersihkan tempat duduk, membaca Alquran, berzikir, lalu menata niat sebelum pena digerakkan.

Imam Malik pernah berpesan bahwa ilmu harus didatangi dengan adab. “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Tak heran bila para ulama sangat menjaga kehormatan ilmu dimulai sejak sebelum menulis. Saking pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Walhasil, menulis, dalam makna ini, bukan sekadar aktivitas tangan, justru melibatkan kerja hati, nurani dan tanggung jawab moral.

"Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" 

- Pidi Baiq - (Sumber: Instagram @deniirawannnnn @infobandungkota)
"Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq - (Sumber: Instagram @deniirawannnnn @infobandungkota)

Dalam dunia sastra, WS Rendra pernah mengatakan, “Penyair adalah orang yang menjaga kata-kata.”

Sungguh kalimatnya sederhana, tetapi dalam maknanya. Menjaga kata-kata adalah komitmen untuk tetap jujur, kritis, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra.

Tentunya, kata-kata tidak boleh dipakai sembarangan tapi harus dijaga dari dusta, kesombongan, dan kebisingan yang tak perlu.

Chairil Anwar pernah menulis, "Aku mau hidup seribu tahun lagi" yang melambangkan semangat juang, vitalitas, dan keinginan agar segala bentuk karya dan jiwanya tetap abadi melampaui usia fisiknya.

Memang barisan puisi itu mengajarkan ihwal tulisan sering kali menjadi cara manusia memperpanjang hidupnya. Tubuh boleh pergi, tetapi kata-kata bisa menetap lebih lama dan abadi.

Saat menjawab pertanyaan dari anak kedua puisi harus lahir dari hati yang bersih. Sebab puisi, sebagaimana ilmu, bukan sekadar susunan kalimat. Melainkan pancaran batin, hati, nurani.

Dengan demikian, untaian kata-kata yang keluar dari kejernihan jiwa biasanya lebih mudah menyentuh jiwa yang lain. Segala barisan huruf sering lahir dari perjuangan yang panjang dan jernih. Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Bila ingin menulis, termasuk saat Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April, mulailah dengan membersihkan hati. Jika perlu, ambil wudu, rapikan (luruskan) niat, tenangkan pikiran, baca (mantra) beberapa ayat Alquran, lalu dengarkan suara paling jujur dari dalam relung diri dan hati.

Pasalnya, puisi yang baik bukan hanya enak dibaca, didengar, tetapi bening terasa, suasana menusuk hati, menggetarkan (mengoyak) nurani dan di situlah kata-kata menjadi bermakna dan suci. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)