Puisi, Hati, dan Suci

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Malam itu udara terasa dingin. Saat sedang asyik membaca buku Muhammad karya Karen Armstrong, ketika pintu rumah terbuka pelan. Aa Akil, anak kedua (11 tahun), baru pulang dari pengajian. Wajahnya tampak serius, lalu mendekat dan bertanya, “Bah, gimana cara menulis puisi?”

Belum sempat menjawab, malah balik bertanya. "Kunaon A!"

Bocah kelas lima SD ini buru-buru menjelaskan, “Aa kepilih ikut lomba tingkat kecamatan. Tapi bingung puisinya harus bikin sendiri.”

Sambil mendekat dan mengusap kepala yang baru dipotong rambutnya. “Nulis mah kedah ku hate, sareng nu beresih.”

Aa mengernyitkan dahinya dan berkata lantang, “Emang Babah suka nulis atau baca puisi? Biasanya kan nulis berita, artikel di koran, atau buku.”

Gedung Rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I (Sumber: www.uinsgd.ac.id)
Gedung Rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kampus I (Sumber: www.uinsgd.ac.id)

Koin untuk Sastra

Pertanyaan sederhana itu membuatku terdiam seribu bahasa. Malahan pikiranku melayang ke era 2010-an, tepatnya pada tahun 2011.

Saat itu lahir gerakan kecil bernama Koin untuk Sastra. Gerakan solidaritas bagi empat mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terancam gagal berangkat ke Temu Sastra Indonesia IV di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011.

Pasalnya, dari 124 Sastrawan Indonesia terpilih ini, 18 orang merupakan perwakilan Jawa Barat: Anis Sayidah, Ahmad Faisal Imron, Fina Sato (Puisi); Neneng Nurjanah “Warung Kupat Tahu”, Miftah Fadhli “Tertawa, Meja Kesayangan”, Norman Erikson “Kondektur” (Cerpenis); Fatkurrahman Karim, Rudi Ramdani, Herton Maridi, Dian Hartati, Galah Denawa, Restu A Putra, Pungkit Wijaya, Ahmad Syahid, Alya Salaisha-Sinta, Jun Nizami, Matdon, Sutan Iwan Soekri Munaf (Penyair).

Uniknya, dari jumlah 18 undangan itu 4 di antaranya masih tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Galah Denawa (Sosiologi), Restu A Putra (Jurnalistik), Pungkit Wijaya (Bahasa dan Sastra Inggris).

Anak-anak muda yang membawa semangat literasi, justru harus berhadapan dengan pihak birokrasi yang minimnya apresiasi.

Waktu itu, seorang kawan, Sukron Abdilah, menulis di Kompasiana dengan judul "Rektorat UIN SGD Bandung Minim Apresiasi Sastra" yang menjadi viral dan Kompas menurunkan model berita "Hybrid Journalism" bertajuk "Rektorat UIN SGD Hanya Bisa Berangkatkan Satu Mahasiswa"

Konsorsium Sastra UIN Bandung, menggalang aksi sosial untuk mengusahakan keberangkatan 4 wakilnya ke acara Temu Sastra Indonesia denggan membuka posko “KOIN Untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung. Gerakan ini diharapkan dapat menyelamatkan eksistensi kesusastraan di kampus UIN Bandung.

Meskipun pihak rektorat tidak mendukung prestasi mahasiswa-mahasiswanya, minimalnya dengan gerakan “KOIN Untuk Sastra UIN Bandung” ini dapat meringankan beban keuangan yang menimpa sastrawan muda ini.

Gerakan pengumpulan dana secara sukarela melalui “Koin untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung” hadir di Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) gedung Al-Jamiah lantai III dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Lembaga Pres Mahasiswa Suaka dan Women Studies Center (WSC) di gedung SC UIN Bandung.

Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)

Yuk Kenali Proses Kreatif Menulis

Abdul Wachid B.S., Penyair dan Dosen UIN Purwokerto memberikan tips dalam Menulis Puisi dan Cara Pandang Terhadap Realitas

Menulis dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lihat, rasakan, dan alami. Kuncinya adalah kepekaan menangkap momen sederhana, lalu mengubahnya menjadi bahasa yang bermakna.

Misalnya, dari pengamatan sepasang kupu-kupu di tepi jendela, lahir perenungan tentang cinta yang tak sekadar diucapkan, tetapi dijaga dalam kesetiaan.

PERTEMUAN

bila sepasang kupu-kupu saling

berkejaran di antara bunga-bunga

bertanya lagikah kita

apa itu cinta?

1995

(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:5)

Pada hakikatnya, seseorang menulis puisi bukan sekadar curahan hati (curhat) atas apa yang terjadi pada dirinya, melainkan merenungkannya dan memberi makna dalam menjalani kehidupan ini.

Apa yang dirasakan perlu dipikirkan ulang, diperdalam, dan diberi makna. Di sinilah pembeda antara sekadar luapan emosi dan karya yang bernilai.

Misalnya, rasa jatuh cinta tidak cukup ditulis sebagai perasaan, tetapi diangkat menjadi kesadaran tentang keterbatasan diri di hadapan luasnya makna cinta yang terdalam.

…..

Jatuh cinta kepadamu

Kata-kata menjadi harapan

Harapan menjadi doa-doa yang

Tidak berkesudahan

Dari pagi ke siang

Dari siang ke senja

Dan malam meluaskan pandangan

Betapa sedemikian kerdil aku

Untuk memeluk semesta cintamu

…..

(Sajak "Jatuh Cinta Kepadamu", Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:67).

Aku Kembali ke Bandung Kepada Cinta Ku yang Sesungguhnya……. 

Ir. Soekarno (Sumber: Instagram @rijal_madani)
Aku Kembali ke Bandung Kepada Cinta Ku yang Sesungguhnya……. Ir. Soekarno (Sumber: Instagram @rijal_madani)

Dengan memberi nilai kemuliaan pada tema yang diangkat. Puisi yang baik tidak terjebak pada dorongan hawa nafsu, justru mengangkat manusia pada martabatnya. Cinta, rindu, dan rasa lainnya diarahkan pada nilai-nilai luhur mulai dari kesetiaan, kesabaran, dan penghormatan.

Dengan begitu, puisi menjadi cermin kemanusiaan yang beradab, bukan sekadar ekspresi insting yang basa-basi.

Tentunya, makna dalam puisi sebaiknya dihubungkan dengan dimensi spiritual. Rasa yang kuat (rindu) dapat diperdalam melalui hubungan dengan Tuhan, sehingga menghadirkan kekuatan batin yang lebih luas dan intim.

KANGEN

jika kangen merajam

kekasih

telponlah aku dengan Fatihah

sayapnya akan terbang

hinggap ke lubuk sanubari

tak ada sepeka ia

tak ada setunjam ia

yang hilangkan jarak ke paling

satu

sukmaku

sukma kau

berpelukan dalam tarian

abadi

2000

(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2021:6).

Menulis puisi itu tentang cara pandang terhadap realitas. Puisi akan bernilai ketika mampu menghadirkan keindahan dan kebaikan dalam setiap makna yang ditulis. Dengan menyelaraskan pengalaman hidup, nilai kemanusiaan, dan kesadaran spiritual, puisi tidak hanya menjadi karya seni, tetapi menjadi jalan menemukan hikmah. Proses memahami kebenaran yang lebih dalam dalam kehidupan.

Dawuh Sayidina Muhammad Rasulullah Saw, "Sebagian puisi mengandung hikmah, hikmah adalah unta orang beriman yang hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa menemukan unta itu maka dia akan menemukan kebenaran terbaiknya." (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikdasmen, 26 Maret 2024 - 10:06 WIB, https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id)

Open mic Bandung berpuisi vol. 15. Sampai berzumba di open mic selanjutnya… (Sumber: Instagram @bandungberpuisi)
Open mic Bandung berpuisi vol. 15. Sampai berzumba di open mic selanjutnya… (Sumber: Instagram @bandungberpuisi)

Tahapan Menulis (Puisi) Bukan Aktivitas Biasa

Ingat, dalam tradisi keilmuan Islam, menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi perkara kebersihan jiwa.

Pasalnya, banyak ulama terdahulu memulai menulis kitab dengan adab yang tinggi, berwudu terlebih dahulu, menunaikan salat sunnah, membersihkan tempat duduk, membaca Alquran, berzikir, lalu menata niat sebelum pena digerakkan.

Imam Malik pernah berpesan bahwa ilmu harus didatangi dengan adab. “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Tak heran bila para ulama sangat menjaga kehormatan ilmu dimulai sejak sebelum menulis. Saking pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Walhasil, menulis, dalam makna ini, bukan sekadar aktivitas tangan, justru melibatkan kerja hati, nurani dan tanggung jawab moral.

"Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" 

- Pidi Baiq - (Sumber: Instagram @deniirawannnnn @infobandungkota)
"Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq - (Sumber: Instagram @deniirawannnnn @infobandungkota)

Dalam dunia sastra, WS Rendra pernah mengatakan, “Penyair adalah orang yang menjaga kata-kata.”

Sungguh kalimatnya sederhana, tetapi dalam maknanya. Menjaga kata-kata adalah komitmen untuk tetap jujur, kritis, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra.

Tentunya, kata-kata tidak boleh dipakai sembarangan tapi harus dijaga dari dusta, kesombongan, dan kebisingan yang tak perlu.

Chairil Anwar pernah menulis, "Aku mau hidup seribu tahun lagi" yang melambangkan semangat juang, vitalitas, dan keinginan agar segala bentuk karya dan jiwanya tetap abadi melampaui usia fisiknya.

Memang barisan puisi itu mengajarkan ihwal tulisan sering kali menjadi cara manusia memperpanjang hidupnya. Tubuh boleh pergi, tetapi kata-kata bisa menetap lebih lama dan abadi.

Saat menjawab pertanyaan dari anak kedua puisi harus lahir dari hati yang bersih. Sebab puisi, sebagaimana ilmu, bukan sekadar susunan kalimat. Melainkan pancaran batin, hati, nurani.

Dengan demikian, untaian kata-kata yang keluar dari kejernihan jiwa biasanya lebih mudah menyentuh jiwa yang lain. Segala barisan huruf sering lahir dari perjuangan yang panjang dan jernih. Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Bila ingin menulis, termasuk saat Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April, mulailah dengan membersihkan hati. Jika perlu, ambil wudu, rapikan (luruskan) niat, tenangkan pikiran, baca (mantra) beberapa ayat Alquran, lalu dengarkan suara paling jujur dari dalam relung diri dan hati.

Pasalnya, puisi yang baik bukan hanya enak dibaca, didengar, tetapi bening terasa, suasana menusuk hati, menggetarkan (mengoyak) nurani dan di situlah kata-kata menjadi bermakna dan suci. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)