Kartini di Jalan Kota: Mengapa Transportasi Inklusif Masih Jadi PR?

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini tidak hanya soal pendidikan dan kesetaraan formal, tetapi juga hak untuk bergerak aman di ruang kota. Di Indonesia, ruang transportasi masih belum sepenuhnya inklusif bagi perempuan.

Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam mendorong emansipasi perempuan. Namun, di balik seremoni, ada pertanyaan yang jarang diajukan: sejauh mana semangat itu hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ruang kota?

Salah satu cara paling nyata untuk mengukurnya adalah melalui mobilitas—bagaimana perempuan bergerak dan mengakses ruang. Faktanya, tidak semua merasakan kebebasan yang sama di jalan.

Bagi banyak perempuan, perjalanan bukan sekadar berpindah dari titik A ke B. Ia disertai pertimbangan: apakah rute ini aman? apakah halte cukup terang? apakah okupansi angkutan umum terlalu penuh?

Di sinilah gagasan emansipasi Raden Ajeng Kartini menemukan makna baru. Kebebasan hari ini bukan hanya soal akses pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga hak untuk bergerak tanpa rasa takut.

Namun, jika mobilitas menjadi ukuran emansipasi, apakah sistem transportasi kita sudah benar-benar aman dan setara?

Transportasi tidak pernah benar-benar netral

Pertanyaan ini penting karena pengalaman mobilitas perempuan memang berbeda.

Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 mencatat 1 dari 4 perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual selama hidupnya. Meski tidak semuanya terjadi di transportasi, angka ini menunjukkan ruang publik belum sepenuhnya aman.

Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) 2019 juga menunjukkan sekitar 15,77% perempuan mengalami pelecehan seksual di angkutan umum, termasuk di halte dan titik transit.

Temuan UN Women memperkuat bahwa pengalaman ini merupakan masalah universal yang meluas di berbagai kota di seluruh dunia.

Transportasi, dengan demikian, bukan ruang netral—melainkan ruang yang dialami berbeda oleh tiap kelompok.

Perbedaan pengalaman ini kemudian tampak jelas dalam keseharian di jalan kota.

Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Ketimpangan tersebut terlihat dalam kondisi transportasi di banyak kota Indonesia.

Trotoar rusak membuat berjalan kaki berisiko. Halte minim pencahayaan menimbulkan rasa tidak aman. Kepadatan di transportasi publik meningkatkan potensi pelecehan.

Data Komnas Perempuan mencatat setidaknya 57 kasus pelecehan di KRL dan stasiun sepanjang 2024—yang kemungkinan hanya sebagian kecil dari kejadian sebenarnya.

Di tengah keterbatasan ini, bersepeda menawarkan alternatif mobilitas yang terjangkau dan ramah lingkungan. Namun bagi banyak perempuan, pilihan ini belum terasa aman. Minimnya jalur sepeda terproteksi dan dominasi kendaraan bermotor membuat sepeda belum inklusif.

Penelitian Dill & McNeil (2016) menunjukkan perempuan lebih memilih bersepeda jika tersedia jalur terpisah secara fisik dari lalu lintas kendaraan bermotor. Studi Handy et al. (2014) juga menegaskan bahwa persepsi keselamatan adalah faktor utama.

Artinya, ketika infrastruktur tidak aman, perempuan menjadi kelompok pertama yang tersingkir. Kota yang ramah pesepeda belum tentu ramah bagi semua pesepeda.

Akibatnya, banyak perempuan menyesuaikan rute, waktu, bahkan membatasi mobilitas.

Ketika rasa aman menjadi syarat utama, akses terhadap kota menjadi tidak setara.

Mengapa belum berubah secara signifikan?

Jika masalahnya jelas, mengapa perubahan lambat?

Perencanaan transportasi masih didominasi pendekatan teknokratis—berfokus pada kapasitas dan kecepatan, bukan pengalaman pengguna.

Keterbatasan data berbasis gender juga membuat kebutuhan perempuan kurang terlihat dalam kebijakan. Apa yang tidak terukur, sering kali tidak diprioritaskan.

Di sisi lain, orientasi pembangunan yang berfokus pada kendaraan bermotor mempersempit ruang bagi pendekatan yang lebih manusiawi.

Namun, arah perubahan mulai terlihat.

Dari intervensi parsial ke perubahan sistemik

Beberapa kebijakan, seperti gerbong khusus perempuan dan bus khusus perempuan, telah diperkenalkan sebagai respons terhadap kasus pelecehan.

Langkah ini penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Transportasi inklusif membutuhkan perubahan sistemik—dari desain halte, integrasi moda, hingga kebijakan berbasis pengalaman pengguna.

Di sinilah semangat Raden Ajeng Kartini menjadi relevan kembali: bukan sekadar simbol, tetapi dorongan perubahan struktural.

Melanjutkan Kartini di jalan kota

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk menggeser cara pandang dalam merancang kota.

Melanjutkan semangat Raden Ajeng Kartini berarti menghadirkan transportasi yang aman, inklusif, dan setara bagi semua pengguna.

Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga keberpihakan kebijakan.

Keadilan kota tidak diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi dari apakah setiap orang merasa aman saat menggunakannya. Data menunjukkan bahwa bagi banyak perempuan, rasa aman itu belum sepenuhnya hadir. Selama berjalan kaki masih berisiko, menunggu kendaraan masih diliputi waswas, dan perjalanan masih dibayangi kekhawatiran, maka emansipasi belum benar-benar sampai di jalan kota. Semangat Raden Ajeng Kartini telah membuka jalan menuju kesetaraan—tetapi memastikan jalan itu aman dilalui semua orang, itulah pekerjaan rumah yang belum selesai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)