Kartini di Jalan Kota: Mengapa Transportasi Inklusif Masih Jadi PR?

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Senin 20 Apr 2026, 10:28 WIB
Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini tidak hanya soal pendidikan dan kesetaraan formal, tetapi juga hak untuk bergerak aman di ruang kota. Di Indonesia, ruang transportasi masih belum sepenuhnya inklusif bagi perempuan.

Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam mendorong emansipasi perempuan. Namun, di balik seremoni, ada pertanyaan yang jarang diajukan: sejauh mana semangat itu hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ruang kota?

Salah satu cara paling nyata untuk mengukurnya adalah melalui mobilitas—bagaimana perempuan bergerak dan mengakses ruang. Faktanya, tidak semua merasakan kebebasan yang sama di jalan.

Bagi banyak perempuan, perjalanan bukan sekadar berpindah dari titik A ke B. Ia disertai pertimbangan: apakah rute ini aman? apakah halte cukup terang? apakah okupansi angkutan umum terlalu penuh?

Di sinilah gagasan emansipasi Raden Ajeng Kartini menemukan makna baru. Kebebasan hari ini bukan hanya soal akses pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga hak untuk bergerak tanpa rasa takut.

Namun, jika mobilitas menjadi ukuran emansipasi, apakah sistem transportasi kita sudah benar-benar aman dan setara?

Transportasi tidak pernah benar-benar netral

Pertanyaan ini penting karena pengalaman mobilitas perempuan memang berbeda.

Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 mencatat 1 dari 4 perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual selama hidupnya. Meski tidak semuanya terjadi di transportasi, angka ini menunjukkan ruang publik belum sepenuhnya aman.

Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) 2019 juga menunjukkan sekitar 15,77% perempuan mengalami pelecehan seksual di angkutan umum, termasuk di halte dan titik transit.

Temuan UN Women memperkuat bahwa pengalaman ini merupakan masalah universal yang meluas di berbagai kota di seluruh dunia.

Transportasi, dengan demikian, bukan ruang netral—melainkan ruang yang dialami berbeda oleh tiap kelompok.

Perbedaan pengalaman ini kemudian tampak jelas dalam keseharian di jalan kota.

Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Ketimpangan tersebut terlihat dalam kondisi transportasi di banyak kota Indonesia.

Trotoar rusak membuat berjalan kaki berisiko. Halte minim pencahayaan menimbulkan rasa tidak aman. Kepadatan di transportasi publik meningkatkan potensi pelecehan.

Data Komnas Perempuan mencatat setidaknya 57 kasus pelecehan di KRL dan stasiun sepanjang 2024—yang kemungkinan hanya sebagian kecil dari kejadian sebenarnya.

Di tengah keterbatasan ini, bersepeda menawarkan alternatif mobilitas yang terjangkau dan ramah lingkungan. Namun bagi banyak perempuan, pilihan ini belum terasa aman. Minimnya jalur sepeda terproteksi dan dominasi kendaraan bermotor membuat sepeda belum inklusif.

Penelitian Dill & McNeil (2016) menunjukkan perempuan lebih memilih bersepeda jika tersedia jalur terpisah secara fisik dari lalu lintas kendaraan bermotor. Studi Handy et al. (2014) juga menegaskan bahwa persepsi keselamatan adalah faktor utama.

Artinya, ketika infrastruktur tidak aman, perempuan menjadi kelompok pertama yang tersingkir. Kota yang ramah pesepeda belum tentu ramah bagi semua pesepeda.

Akibatnya, banyak perempuan menyesuaikan rute, waktu, bahkan membatasi mobilitas.

Ketika rasa aman menjadi syarat utama, akses terhadap kota menjadi tidak setara.

Mengapa belum berubah secara signifikan?

Jika masalahnya jelas, mengapa perubahan lambat?

Perencanaan transportasi masih didominasi pendekatan teknokratis—berfokus pada kapasitas dan kecepatan, bukan pengalaman pengguna.

Keterbatasan data berbasis gender juga membuat kebutuhan perempuan kurang terlihat dalam kebijakan. Apa yang tidak terukur, sering kali tidak diprioritaskan.

Di sisi lain, orientasi pembangunan yang berfokus pada kendaraan bermotor mempersempit ruang bagi pendekatan yang lebih manusiawi.

Namun, arah perubahan mulai terlihat.

Dari intervensi parsial ke perubahan sistemik

Beberapa kebijakan, seperti gerbong khusus perempuan dan bus khusus perempuan, telah diperkenalkan sebagai respons terhadap kasus pelecehan.

Langkah ini penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Transportasi inklusif membutuhkan perubahan sistemik—dari desain halte, integrasi moda, hingga kebijakan berbasis pengalaman pengguna.

Di sinilah semangat Raden Ajeng Kartini menjadi relevan kembali: bukan sekadar simbol, tetapi dorongan perubahan struktural.

Melanjutkan Kartini di jalan kota

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk menggeser cara pandang dalam merancang kota.

Melanjutkan semangat Raden Ajeng Kartini berarti menghadirkan transportasi yang aman, inklusif, dan setara bagi semua pengguna.

Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga keberpihakan kebijakan.

Keadilan kota tidak diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi dari apakah setiap orang merasa aman saat menggunakannya. Data menunjukkan bahwa bagi banyak perempuan, rasa aman itu belum sepenuhnya hadir. Selama berjalan kaki masih berisiko, menunggu kendaraan masih diliputi waswas, dan perjalanan masih dibayangi kekhawatiran, maka emansipasi belum benar-benar sampai di jalan kota. Semangat Raden Ajeng Kartini telah membuka jalan menuju kesetaraan—tetapi memastikan jalan itu aman dilalui semua orang, itulah pekerjaan rumah yang belum selesai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)