Setiap tanggal 21 April, ribuan perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Sekolah-sekolah mengadakan lomba. Pidato-pidato dilantunkan. Dan nama Raden Ajeng Kartini kembali diulang-ulang seperti sebuah mantra kebangsaan: harum, agung, dan nyaris tanpa bobot. Tanpa luka. Tanpa kontradiksi. Tanpa sisi kemanusiaannya yang sesungguhnya.
Tapi di sebuah kamar di Jepara, di penghujung abad ke-19, seorang gadis berumur dua puluh tahun duduk di depan meja tulisnya dan menulis surat. Bukan dalam bahasa Jawa, bahasa ibunya. Ia menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penguasa tanah tempat ia lahir, bahasa yang tanpa sadar telah menjadi satu-satunya jendela yang tersisa baginya untuk menatap dunia.
Yang kita rayakan setiap tahun adalah ikon. Yang jarang kita bicarakan adalah sisi manusianya, perempuan yang terjepit di antara dua dunia, yang kebebasannya dibeli dengan penjara yang sangat halus, dan yang meninggal dunia pada usia dua puluh lima tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya, tanpa sempat melihat satu pun dari mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.
Kartini Menulis dalam Bahasa yang Bukan Miliknya
Ketika para peneliti mulai membongkar arsip korespondensi Kartini secara serius, salah satu fakta yang paling menohok bukan tentang isi suratnya, melainkan tentang bahasanya. Kartini menulis seluruh pemikirannya yang paling dalam, seluruh perlawanan intelektualnya, seluruh kerinduan dan amarahnya, dalam bahasa Belanda.
Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja (1962), adalah salah satu yang pertama membaca paradoks ini dengan jujur dan tanpa basa-basi.
Bagi Pramoedya, fakta ini adalah cermin dari seluruh kondisi kolonialisme: bahwa bahkan pikiran perlawanan pun harus diformulasikan dalam kerangka si penindas, menggunakan alat-alat si penguasa, dan ditujukan kepada audiens Eropa.
Kartini tidak menulis untuk rakyatnya. Ia menulis untuk orang-orang Belanda yang bersimpati seperti Stella Zeehandelaar, Nyonya Abendanon, Nyonya van Kol. Perempuan-perempuan progresif Eropa yang korespondensinya dengan Kartini kemudian dikumpulkan, disunting, dan diterbitkan oleh J.H. Abendanon sebagai Door Duisternis tot Licht pada tahun 1911, enam tahun setelah Kartini wafat.
Terjemahan bebas judul itu adalah "Dari Kegelapan Menuju Cahaya", frasa yang kemudian dalam adaptasi Armijn Pané menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang." Tapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: siapa yang menentukan mana kegelapan dan mana cahaya? Abendanon-lah yang memilih surat mana yang masuk, mana yang tidak. Abendanon-lah yang menyusun narasi tentang Kartini. Dan Abendanon adalah seorang pejabat kolonial Belanda.
Pingitan
Untuk benar-benar memahami Kartini, seseorang harus berdiri sebentar saja dengan imajinasi yang sungguh-sungguh - di depan pintu rumah Bupati Jepara pada tahun 1896, dan membayangkan apa artinya pintu itu ditutup dari dalam, bukan dari luar.
Kartini lahir pada 21 April 1879 sebagai putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Sebagai anak bupati, ia mendapat privilege yang tidak dimiliki kebanyakan perempuan Jawa: ia bersekolah di sekolah dasar Belanda hingga usia dua belas tahun, duduk bersama anak-anak Eropa, belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda dengan fasih. Kemudian, pada usia dua belas tahun itu, semuanya berhenti, ia dipingit.
Pingitan adalah tradisi ningrat Jawa dimana seorang gadis bangsawan yang telah menginjak usia akil balig dikurung di dalam rumah, dijauhkan dari pergaulan di luar, dipersiapkan untuk menjadi istri yang pantas.
Sitisoemandari Soeroto, dalam Kartini: Sebuah Biografi, menggambarkan bagaimana Kartini menghabiskan masa pingitannya dengan membaca segala yang bisa ia temukan mulai dari majalah, koran, hingga buku-buku berbahasa Belanda yang diperolehnya dari kakak lelakinya, Sosrokartono, yang bersekolah di Belanda. Dunia Kartini mengecil menjadi selebar halaman kertas. Dan di atas halaman itulah ia belajar berpikir.
Ayah yang Dicintai, Ayah yang Memenjara
Salah satu ketegangan paling dalam pada kehidupan Kartini dan yang paling jarang dibicarakan secara terbuka adalah hubungannya dengan sang ayah. Sosrokartono bukan tiran, ia bahkan untuk ukuran zamannya, adalah seorang priyayi yang relatif progresif. Ia menyekolahkan putrinya, ia membiarkan Kartini berkorespondensi dengan orang-orang Belanda, ia tidak serta-merta melarang putrinya berpendapat. Dan justru karena itulah relasi itu menjadi begitu rumit, dan begitu menyayat.
Kartini mencintai ayahnya dengan tulus. Itu terbaca jelas dalam surat-suratnya. Tapi ia juga tahu dan menulis ini dengan kepiluan yang nyaris tak tertahankan, bahwa ayahnya adalah bagian dari sistem yang mengurungnya.
Ketika Kartini mendapat tawaran untuk belajar ke Belanda, tawaran yang ia impikan bertahun-tahun, sang ayah menolak. Bukan dengan keras. Bukan dengan marah. Tapi dengan cara yang lebih mematikan: dengan kecewa yang halus, dengan harapan agar putrinya tidak mempermalukan keluarga, dengan seluruh beban adat dan martabat ningrat yang sudah melekat ratusan tahun lamanya.
Pramoedya membaca momen ini sebagai salah satu yang paling tragis dalam sejarah perempuan Indonesia. Bukan karena ada monster dalam cerita ini. Justru karena tidak ada. Hanya manusia-manusia yang terjebak di dalam sistem yang lebih besar dan mengekang mereka semua.
Mimpi yang Dilipat
Pada September 1903, Kartini menikah dengan R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang. Kartini menjadi istri keempat sang bupati. Perempuan yang selama bertahun-tahun menulis tentang harkat dan martabat perempuan, yang dengan penuh semangat menolak sistem poligami dalam surat-suratnya, kini menjalani sendiri kehidupan yang ia tentang.

Banyak penulis biografi mencoba melunak-lunakkan fakta ini: bahwa suaminya ternyata cukup baik, bahwa ia mendukung Kartini mendirikan sekolah kecil, bahwa pernikahan itu tidak seburuk yang dibayangkan. Semua itu mungkin benar. Tapi Pramoedya, dalam Panggil Aku Kartini Saja, menolak menutup mata bahwa pernikahan itu tetaplah bukan pilihan bebas. Bahwa tekanan keluarga, tekanan adat, tekanan seluruh struktur sosial yang Kartini lawan dengan penanya, pada akhirnya, tekanan itu menang.
Kartini meninggal pada 17 September 1904. Usianya dua puluh lima tahun. Empat hari sebelumnya, ia melahirkan putranya, Soesalit. Komplikasi persalinan mengakhiri hidupnya sebelum ia sempat melakukan apa yang ia rencanakan, mendirikan sekolah yang sesungguhnya, kembali ke cita-cita lama tentang pendidikan perempuan, mungkin menulis lebih banyak lagi.
Yang kita rayakan setiap 21 April, dalam arti tertentu, adalah tafsir orang lain atas kehidupan Kartini, bukan hidupnya sendiri. Dan barangkali, di situlah tugas kita yang sesungguhnya, bukan hanya merayakan Hari Kartini, tapi benar-benar membaca surat-suratnya. Membaca semua yang ia tulis, termasuk yang pahit, yang kontradiktif, dan yang penuh keraguan. Karena di sanalah Kartini yang sesungguhnya hidup. (*)
