Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Naufal Tri Hutama
Ditulis oleh Naufal Tri Hutama diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 12:51 WIB
R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)

Setiap tanggal 21 April, ribuan perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Sekolah-sekolah mengadakan lomba. Pidato-pidato dilantunkan. Dan nama Raden Ajeng Kartini kembali diulang-ulang seperti sebuah mantra kebangsaan: harum, agung, dan nyaris tanpa bobot. Tanpa luka. Tanpa kontradiksi. Tanpa sisi kemanusiaannya yang sesungguhnya.

Tapi di sebuah kamar di Jepara, di penghujung abad ke-19, seorang gadis berumur dua puluh tahun duduk di depan meja tulisnya dan menulis surat. Bukan dalam bahasa Jawa, bahasa ibunya. Ia menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penguasa tanah tempat ia lahir, bahasa yang tanpa sadar telah menjadi satu-satunya jendela yang tersisa baginya untuk menatap dunia.

Yang kita rayakan setiap tahun adalah ikon. Yang jarang kita bicarakan adalah sisi manusianya, perempuan yang terjepit di antara dua dunia, yang kebebasannya dibeli dengan penjara yang sangat halus, dan yang meninggal dunia pada usia dua puluh lima tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya, tanpa sempat melihat satu pun dari mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.

Kartini Menulis dalam Bahasa yang Bukan Miliknya

Ketika para peneliti mulai membongkar arsip korespondensi Kartini secara serius, salah satu fakta yang paling menohok bukan tentang isi suratnya, melainkan tentang bahasanya. Kartini menulis seluruh pemikirannya yang paling dalam, seluruh perlawanan intelektualnya, seluruh kerinduan dan amarahnya, dalam bahasa Belanda.

Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja (1962), adalah salah satu yang pertama membaca paradoks ini dengan jujur dan tanpa basa-basi.

Bagi Pramoedya, fakta ini adalah cermin dari seluruh kondisi kolonialisme: bahwa bahkan pikiran perlawanan pun harus diformulasikan dalam kerangka si penindas, menggunakan alat-alat si penguasa, dan ditujukan kepada audiens Eropa.

Kartini tidak menulis untuk rakyatnya. Ia menulis untuk orang-orang Belanda yang bersimpati seperti Stella Zeehandelaar, Nyonya Abendanon, Nyonya van Kol. Perempuan-perempuan progresif Eropa yang korespondensinya dengan Kartini kemudian dikumpulkan, disunting, dan diterbitkan oleh J.H. Abendanon sebagai Door Duisternis tot Licht pada tahun 1911, enam tahun setelah Kartini wafat.

Terjemahan bebas judul itu adalah "Dari Kegelapan Menuju Cahaya", frasa yang kemudian dalam adaptasi Armijn Pané menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang." Tapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: siapa yang menentukan mana kegelapan dan mana cahaya? Abendanon-lah yang memilih surat mana yang masuk, mana yang tidak. Abendanon-lah yang menyusun narasi tentang Kartini. Dan Abendanon adalah seorang pejabat kolonial Belanda.

Pingitan

Untuk benar-benar memahami Kartini, seseorang harus berdiri sebentar saja dengan imajinasi yang sungguh-sungguh - di depan pintu rumah Bupati Jepara pada tahun 1896, dan membayangkan apa artinya pintu itu ditutup dari dalam, bukan dari luar.

Kartini lahir pada 21 April 1879 sebagai putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Sebagai anak bupati, ia mendapat privilege yang tidak dimiliki kebanyakan perempuan Jawa: ia bersekolah di sekolah dasar Belanda hingga usia dua belas tahun, duduk bersama anak-anak Eropa, belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda dengan fasih. Kemudian, pada usia dua belas tahun itu, semuanya berhenti, ia dipingit.

Pingitan adalah tradisi ningrat Jawa dimana seorang gadis bangsawan yang telah menginjak usia akil balig dikurung di dalam rumah, dijauhkan dari pergaulan di luar, dipersiapkan untuk menjadi istri yang pantas.

Sitisoemandari Soeroto, dalam Kartini: Sebuah Biografi, menggambarkan bagaimana Kartini menghabiskan masa pingitannya dengan membaca segala yang bisa ia temukan mulai dari majalah, koran, hingga buku-buku berbahasa Belanda yang diperolehnya dari kakak lelakinya, Sosrokartono, yang bersekolah di Belanda. Dunia Kartini mengecil menjadi selebar halaman kertas. Dan di atas halaman itulah ia belajar berpikir.

Ayah yang Dicintai, Ayah yang Memenjara

Salah satu ketegangan paling dalam pada kehidupan Kartini dan yang paling jarang dibicarakan secara terbuka adalah hubungannya dengan sang ayah. Sosrokartono bukan tiran, ia bahkan untuk ukuran zamannya, adalah seorang priyayi yang relatif progresif. Ia menyekolahkan putrinya, ia membiarkan Kartini berkorespondensi dengan orang-orang Belanda, ia tidak serta-merta melarang putrinya berpendapat. Dan justru karena itulah relasi itu menjadi begitu rumit, dan begitu menyayat.

Kartini mencintai ayahnya dengan tulus. Itu terbaca jelas dalam surat-suratnya. Tapi ia juga tahu dan menulis ini dengan kepiluan yang nyaris tak tertahankan, bahwa ayahnya adalah bagian dari sistem yang mengurungnya.

Ketika Kartini mendapat tawaran untuk belajar ke Belanda, tawaran yang ia impikan bertahun-tahun, sang ayah menolak. Bukan dengan keras. Bukan dengan marah. Tapi dengan cara yang lebih mematikan: dengan kecewa yang halus, dengan harapan agar putrinya tidak mempermalukan keluarga, dengan seluruh beban adat dan martabat ningrat yang sudah melekat ratusan tahun lamanya.

Pramoedya membaca momen ini sebagai salah satu yang paling tragis dalam sejarah perempuan Indonesia. Bukan karena ada monster dalam cerita ini. Justru karena tidak ada. Hanya manusia-manusia yang terjebak di dalam sistem yang lebih besar dan mengekang mereka semua.

Mimpi yang Dilipat

Pada September 1903, Kartini menikah dengan R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang. Kartini menjadi istri keempat sang bupati. Perempuan yang selama bertahun-tahun menulis tentang harkat dan martabat perempuan, yang dengan penuh semangat menolak sistem poligami dalam surat-suratnya, kini menjalani sendiri kehidupan yang ia tentang.

Banyak penulis biografi mencoba melunak-lunakkan fakta ini: bahwa suaminya ternyata cukup baik, bahwa ia mendukung Kartini mendirikan sekolah kecil, bahwa pernikahan itu tidak seburuk yang dibayangkan. Semua itu mungkin benar. Tapi Pramoedya, dalam Panggil Aku Kartini Saja, menolak menutup mata bahwa pernikahan itu tetaplah bukan pilihan bebas. Bahwa tekanan keluarga, tekanan adat, tekanan seluruh struktur sosial yang Kartini lawan dengan penanya, pada akhirnya, tekanan itu menang.

Kartini meninggal pada 17 September 1904. Usianya dua puluh lima tahun. Empat hari sebelumnya, ia melahirkan putranya, Soesalit. Komplikasi persalinan mengakhiri hidupnya sebelum ia sempat melakukan apa yang ia rencanakan, mendirikan sekolah yang sesungguhnya, kembali ke cita-cita lama tentang pendidikan perempuan, mungkin menulis lebih banyak lagi.

Yang kita rayakan setiap 21 April, dalam arti tertentu, adalah tafsir orang lain atas kehidupan Kartini, bukan hidupnya sendiri. Dan barangkali, di situlah tugas kita yang sesungguhnya, bukan hanya merayakan Hari Kartini, tapi benar-benar membaca surat-suratnya. Membaca semua yang ia tulis, termasuk yang pahit, yang kontradiktif, dan yang penuh keraguan. Karena di sanalah Kartini yang sesungguhnya hidup. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Naufal Tri Hutama
Hanya seorang peminat sejarah, alumni Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)