Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

5 menit baca
Naufal Tri Hutama
Ditulis oleh Naufal Tri Hutama diterbitkan
R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)

Setiap tanggal 21 April, ribuan perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Sekolah-sekolah mengadakan lomba. Pidato-pidato dilantunkan. Dan nama Raden Ajeng Kartini kembali diulang-ulang seperti sebuah mantra kebangsaan: harum, agung, dan nyaris tanpa bobot. Tanpa luka. Tanpa kontradiksi. Tanpa sisi kemanusiaannya yang sesungguhnya.

Tapi di sebuah kamar di Jepara, di penghujung abad ke-19, seorang gadis berumur dua puluh tahun duduk di depan meja tulisnya dan menulis surat. Bukan dalam bahasa Jawa, bahasa ibunya. Ia menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penguasa tanah tempat ia lahir, bahasa yang tanpa sadar telah menjadi satu-satunya jendela yang tersisa baginya untuk menatap dunia.

Yang kita rayakan setiap tahun adalah ikon. Yang jarang kita bicarakan adalah sisi manusianya, perempuan yang terjepit di antara dua dunia, yang kebebasannya dibeli dengan penjara yang sangat halus, dan yang meninggal dunia pada usia dua puluh lima tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya, tanpa sempat melihat satu pun dari mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.

Kartini Menulis dalam Bahasa yang Bukan Miliknya

Ketika para peneliti mulai membongkar arsip korespondensi Kartini secara serius, salah satu fakta yang paling menohok bukan tentang isi suratnya, melainkan tentang bahasanya. Kartini menulis seluruh pemikirannya yang paling dalam, seluruh perlawanan intelektualnya, seluruh kerinduan dan amarahnya, dalam bahasa Belanda.

Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja (1962), adalah salah satu yang pertama membaca paradoks ini dengan jujur dan tanpa basa-basi.

Bagi Pramoedya, fakta ini adalah cermin dari seluruh kondisi kolonialisme: bahwa bahkan pikiran perlawanan pun harus diformulasikan dalam kerangka si penindas, menggunakan alat-alat si penguasa, dan ditujukan kepada audiens Eropa.

Kartini tidak menulis untuk rakyatnya. Ia menulis untuk orang-orang Belanda yang bersimpati seperti Stella Zeehandelaar, Nyonya Abendanon, Nyonya van Kol. Perempuan-perempuan progresif Eropa yang korespondensinya dengan Kartini kemudian dikumpulkan, disunting, dan diterbitkan oleh J.H. Abendanon sebagai Door Duisternis tot Licht pada tahun 1911, enam tahun setelah Kartini wafat.

Terjemahan bebas judul itu adalah "Dari Kegelapan Menuju Cahaya", frasa yang kemudian dalam adaptasi Armijn Pané menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang." Tapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: siapa yang menentukan mana kegelapan dan mana cahaya? Abendanon-lah yang memilih surat mana yang masuk, mana yang tidak. Abendanon-lah yang menyusun narasi tentang Kartini. Dan Abendanon adalah seorang pejabat kolonial Belanda.

Pingitan

Untuk benar-benar memahami Kartini, seseorang harus berdiri sebentar saja dengan imajinasi yang sungguh-sungguh - di depan pintu rumah Bupati Jepara pada tahun 1896, dan membayangkan apa artinya pintu itu ditutup dari dalam, bukan dari luar.

Kartini lahir pada 21 April 1879 sebagai putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Sebagai anak bupati, ia mendapat privilege yang tidak dimiliki kebanyakan perempuan Jawa: ia bersekolah di sekolah dasar Belanda hingga usia dua belas tahun, duduk bersama anak-anak Eropa, belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda dengan fasih. Kemudian, pada usia dua belas tahun itu, semuanya berhenti, ia dipingit.

Pingitan adalah tradisi ningrat Jawa dimana seorang gadis bangsawan yang telah menginjak usia akil balig dikurung di dalam rumah, dijauhkan dari pergaulan di luar, dipersiapkan untuk menjadi istri yang pantas.

Sitisoemandari Soeroto, dalam Kartini: Sebuah Biografi, menggambarkan bagaimana Kartini menghabiskan masa pingitannya dengan membaca segala yang bisa ia temukan mulai dari majalah, koran, hingga buku-buku berbahasa Belanda yang diperolehnya dari kakak lelakinya, Sosrokartono, yang bersekolah di Belanda. Dunia Kartini mengecil menjadi selebar halaman kertas. Dan di atas halaman itulah ia belajar berpikir.

Ayah yang Dicintai, Ayah yang Memenjara

Salah satu ketegangan paling dalam pada kehidupan Kartini dan yang paling jarang dibicarakan secara terbuka adalah hubungannya dengan sang ayah. Sosrokartono bukan tiran, ia bahkan untuk ukuran zamannya, adalah seorang priyayi yang relatif progresif. Ia menyekolahkan putrinya, ia membiarkan Kartini berkorespondensi dengan orang-orang Belanda, ia tidak serta-merta melarang putrinya berpendapat. Dan justru karena itulah relasi itu menjadi begitu rumit, dan begitu menyayat.

Kartini mencintai ayahnya dengan tulus. Itu terbaca jelas dalam surat-suratnya. Tapi ia juga tahu dan menulis ini dengan kepiluan yang nyaris tak tertahankan, bahwa ayahnya adalah bagian dari sistem yang mengurungnya.

Ketika Kartini mendapat tawaran untuk belajar ke Belanda, tawaran yang ia impikan bertahun-tahun, sang ayah menolak. Bukan dengan keras. Bukan dengan marah. Tapi dengan cara yang lebih mematikan: dengan kecewa yang halus, dengan harapan agar putrinya tidak mempermalukan keluarga, dengan seluruh beban adat dan martabat ningrat yang sudah melekat ratusan tahun lamanya.

Pramoedya membaca momen ini sebagai salah satu yang paling tragis dalam sejarah perempuan Indonesia. Bukan karena ada monster dalam cerita ini. Justru karena tidak ada. Hanya manusia-manusia yang terjebak di dalam sistem yang lebih besar dan mengekang mereka semua.

Mimpi yang Dilipat

Pada September 1903, Kartini menikah dengan R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang. Kartini menjadi istri keempat sang bupati. Perempuan yang selama bertahun-tahun menulis tentang harkat dan martabat perempuan, yang dengan penuh semangat menolak sistem poligami dalam surat-suratnya, kini menjalani sendiri kehidupan yang ia tentang.

Banyak penulis biografi mencoba melunak-lunakkan fakta ini: bahwa suaminya ternyata cukup baik, bahwa ia mendukung Kartini mendirikan sekolah kecil, bahwa pernikahan itu tidak seburuk yang dibayangkan. Semua itu mungkin benar. Tapi Pramoedya, dalam Panggil Aku Kartini Saja, menolak menutup mata bahwa pernikahan itu tetaplah bukan pilihan bebas. Bahwa tekanan keluarga, tekanan adat, tekanan seluruh struktur sosial yang Kartini lawan dengan penanya, pada akhirnya, tekanan itu menang.

Kartini meninggal pada 17 September 1904. Usianya dua puluh lima tahun. Empat hari sebelumnya, ia melahirkan putranya, Soesalit. Komplikasi persalinan mengakhiri hidupnya sebelum ia sempat melakukan apa yang ia rencanakan, mendirikan sekolah yang sesungguhnya, kembali ke cita-cita lama tentang pendidikan perempuan, mungkin menulis lebih banyak lagi.

Yang kita rayakan setiap 21 April, dalam arti tertentu, adalah tafsir orang lain atas kehidupan Kartini, bukan hidupnya sendiri. Dan barangkali, di situlah tugas kita yang sesungguhnya, bukan hanya merayakan Hari Kartini, tapi benar-benar membaca surat-suratnya. Membaca semua yang ia tulis, termasuk yang pahit, yang kontradiktif, dan yang penuh keraguan. Karena di sanalah Kartini yang sesungguhnya hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)