Setelah menyelesaikan perjalanan mengelilingi Bulan dalam misi Artemis II, empat astronot kini berada pada fase kepulangan menuju Bumi. Berdasarkan laporan NASA pada misi Artemis II Flight Day 10, kapsul Orion telah memasuki tahap akhir perjalanan setelah menjalani serangkaian manuver dari orbit Bulan menuju lintasan kembali ke Bumi. Tahap ini menjadi bagian penting dari misi karena menandai transisi dari perjalanan luar angkasa menuju proses kembali memasuki atmosfer dan pendaratan di Bumi.
Kepulangan Artemis II dimulai saat kapsul Orion meninggalkan orbit Bulan menuju Bumi dengan dukungan sistem komunikasi dan navigasi NASA yang memastikan lintasan tetap sesuai rencana, dengan target pendaratan di Samudra Pasifik sekitar pukul 20:07 EDT (07:07 WIB hari berikutnya) di lepas pantai San Diego. Pada tahap lanjutan, kapsul Orion dipisahkan dari modul servisnya, di mana modul tersebut kemudian diarahkan untuk terbakar di atmosfer Bumi di atas Samudra Pasifik karena tidak dirancang untuk kembali.
Saat memasuki atmosfer Bumi pada ketinggian sekitar 400.000 kaki, kapsul mengalami fase paling kritis dengan kecepatan sangat tinggi dan gesekan ekstrem yang menghasilkan panas hingga membentuk plasma, sehingga komunikasi dengan awak sempat terputus sementara. Setelah itu, kondisi mulai terkendali ketika komunikasi kembali pulih dan sistem parasut bekerja bertahap, dimulai dari parasut penstabil hingga tiga parasut utama yang memperlambat laju kapsul sebelum akhirnya Orion berhasil melakukan splashdown/Penceburan di Samudra Pasifik.
Setelah pendaratan, tim penyelamat NASA dan Angkatan Laut Amerika Serikat segera mendekati kapsul untuk proses evakuasi. Para astronot kemudian dibawa ke kapal USS John P. Murtha, menjalani pemeriksaan awal sebelum kembali ke daratan untuk proses pasca-misi.

Apa yang Mereka Bawa dari Bulan?
Meskipun tidak mendarat di permukaan Bulan, Artemis II tetap menghasilkan kontribusi ilmiah penting. Selama mengorbit Bulan, misi ini difokuskan pada uji kemampuan manusia dan sistem dalam jarak jauh dari Bumi serta pengamatan langsung terhadap permukaan Bulan dari orbit yang belum pernah dilakukan dalam misi berawak modern.
Para astronot melakukan observasi visual terhadap permukaan Bulan dan mencatat karakteristik wilayah yang menjadi data penting untuk misi berikutnya. Selain itu, yang “dibawa pulang” bukan sampel fisik, melainkan data pengamatan dan pengalaman operasional manusia di luar orbit Bumi yang menjadi bahan evaluasi utama NASA untuk penyempurnaan misi selanjutnya.

Kapan Misi Artemis III?
NASA menyiapkan Artemis III sebagai kelanjutan Artemis II yang akan menjadi misi pendaratan manusia pertama dalam program Artemis di permukaan Bulan, khususnya di wilayah kutub selatan. Misi ini akan menggunakan roket Space Launch System (SLS) yang meluncurkan kapsul Orion dari Kennedy Space Center, kemudian menuju orbit Bumi untuk menguji kemampuan pertemuan dan penyambungan dengan pesawat ruang angkasa komersial seperti SpaceX dan Blue Origin yang dibutuhkan untuk sistem pendaratan di Bulan. Uji coba ini menjadi tahap krusial untuk memastikan kesiapan pendaratan manusia di Bulan, dengan target peluncuran yang direncanakan sekitar tahun 2027.
Pada akhirnya, Artemis II menjadi misi yang berjalan ketat dan penuh risiko terukur, mulai dari manuver di orbit Bulan, masuk kembali ke atmosfer dengan kondisi ekstrem, hingga pendaratan presisi di Samudra Pasifik. Di balik ketegangan tersebut, misi ini menghasilkan data ilmiah dan pengalaman operasional penting yang tidak dapat diperoleh dari simulasi di Bumi. Seluruh capaian itu kemudian menjadi fondasi evaluasi utama bagi Artemis III sebagai langkah lanjutan menuju pendaratan manusia di Bulan. (*)
REFERENSI
Zakrzewski, J. NASA. (2026). “Artemis II Flight Day 10: Live Re-Entry Updates”.
Shekhtman, L. NASA. (2025). “NASA’s Artemis II Lunar Science Operations to Inform Future Missions”.
NASA.(n.d) “Artemis III”.
