Para perajin tahu, tempe, dan produk berbasis kedelai di kota Bandung merasa ketar-ketir akibat harga kedelai yang naik secara signifikan.
Kondisi dapur rumah tangga warga Bandung kian rawan akibat kenaikan harga-harga dan semakin melemahnya daya beli. Gejolak harga kedelai menyebabkan kesejahteraan rakyat semakin terkoyak. Harga kebutuhan dapur di pasar pasca lebaran belum juga reda, kini disusul dengan masalah laten produk berbasis kedelai yakni tahu dan tempe. Ibu rumah tangga semakin pusing tujuh keliling mengatur menu makan keluarga.
Pemkot Bandung perlu memberikan insentif kepada para perajin dan penjual tahu tempe. Karena sektor usaha ini cukup banyak memberi lapangan kerja dan lapangan usaha sektor informal. Masalah tahu tempe yang merupakan menu utama bagi rakyat ini jangan dianggap sepele.
Dampak sistemik harga kedelai naik, maka perajin di sentra tahu Cibuntu kota Bandung secepat kilat menaikkan harga mulai 31 Maret 2026. Harga tahu per papan naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 62.000 per papan dengan isi 80-120 buah. Penyebab kenaikan ternyata bukan hanya faktor kedelai, harga plastik pembungkus dan komoditas pertanian seperti kunyit juga ikut naik.

Pemerintah belum menemukan solusi yang jitu terkait dengan ketergantungan total terhadap kedelai impor yang harganya terus fluktuasi karena kondisi losgistik dan rantai pasok global akibat geopolitik yang terus gonjang-ganjing.
Harga kedelai impor dari waktu ke waktu terus meroket, disebabkan beberapa faktor utama, pertama karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Indonesia masih sangat tergantung kedelai impor, sekitar 80-90 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor, terutama berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Argentina. Jika nilai rupiah melemah, harga beli kedelai dari luar negeri otomatis jadi lebih mahal. Inilah yang terjadi pada Maret-April 2026 dan juga tahun-tahun sebelumnya.
Kedua, karena ada tren harga kedelai dunia naik. Faktor global seperti gagal panen di negara produsen, perang, atau naiknya biaya logistik dan melonjaknya pupuk menyebabkan harga kedelai dunia naik. Karena Indonesia sangat tergantung kepada impor, maka langsung terkena dampaknya.
Ketiga, karena biaya produksi dan distribusi ikut naik.Harga BBM, ongkos kirim kapal, dan biaya kontainer global yang naik bikin harga kedelai sampai ke Indonesia makin mahal. Pengrajin di Cibuntu juga mengeluh harga plastik pembungkus ikut naik secara signifikan.

Paradoks Bangsa Tempe
Kehidupan rakyat negeri ini tidak bisa lepas dari tempe. Selama sepuluh tahun terakhir, UMKM perajin tempe dan tahu sering dihadang masalah tingginya harga bahan baku pokok yakni kedelai. Indonesia adalah bangsa tempe yang penuh dengan paradoks. Sebutan sebagai bangsa agraris yang tanahnya subur loh jinawi sangat klise pasalnya masih tergantung kedelai secara total. Padahal negeri ini setiap tahun meluluskan ribuan sarjana pertanian yang mestinya bisa mewujudkan swasembada kedelai atau menemukan substitusi bahan baku tahu tempe.
Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri. Akibatnya UMKM yang berbasis kedelai nasibnya selalu terombang-ambing akibat problem pasokan dan harga bahan baku.
Tekanan kedelai impor terhadap UMKM perajin tempe dan tahu mulai terjadi ketika pemerintah menghapus tata niaga kedelai yang semula dilakukan oleh Bulog lalu dialihkan kepada importir umum.
Dengan bebasnya impor kedelai dan tidak adanya proteksi mengakibatkan harga kedelai di pasar domestik sering mengalami tekanan dan kelangkaan. Impor kedelai yang serampangan juga telah menghancurkan usaha pertanian kedelai di dalam negeri. Kondisi tersebut semakin memperkuat jaringan mafia importir kedelai untuk memainkan harga seenaknya.
Kondisi petani kedelai seperti pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga. Dalam kondisi tekanan kedelai impor, ternyata petani masih kesulitan mencari benih unggul dan mahalnya harga pupuk dan obat-obatan. Diperparah penggunaan benih bermutu varietas unggul kedelai di tanah air masih sedikit.
Sebagian besar petani masih menggunakan benih asal-asalan. Masalah budidaya kedelai sebenarnya sudah menjadi program lintas kementerian dengan biaya yang cukup besar, tetapi hasilnya hilang begitu saja. Mimpi pemerintah untuk swasembada kedelai selalu kandas.
Paradoks bangsa tempe yang sering mengalami krisis kedelai harusnya bisa diatasi. Tempe yang merupakan khazanah kuliner asli Indonesia mesti ditangani sungguh-sungguh. Mengingat sektor industri pangan domestik ini telah memberikan kontribusi ekonomi kerakyatan yang amat berarti.
Kondisi makin memburuk karena UMKM perajin tahu tempe juga dihimpit masalah pasokan bahan bakar gas, peralatan produksi yang sudah tua, tempat usaha yang kumuh dan masalah kualitas air yang buruk.
Pemerintah pernah mengucurkan dana yang cukup besar untuk program pengembangan kedelai lokal lintas kementerian dan lembaga ristek. Baik yang terkait teknologi benih maupun teknik budidaya. Namun, dari tahun ketahun BPS mencatat produksi kedelai nasional melorot.

Sejak tahun 2006 ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor sangat tinggi yaitu lebih dari 70 persen. Terkait dengan hal itu FAO memberikan rekomendasi untuk mencapai ketahanan pangan cadangan harus mencapai 17 – 18 persen dari kebutuhan konsumsi. Indonesia baru dapat dikatakan swasembada jika 90 persen kebutuhan domestik dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Apalagi Amerika Serikat yang merupakan pengekspor kedelai terbesar di dunia memberikan insentif atau kemudahan bagi importir kedelai Indonesia melalui skema kredit lunak yang besarnya mencapai ratusan juta dollar AS.
Kondisi pasar kedelai dunia pun akan semakin fluktuatif akibat penggunaan kedelai sebagai bahan baku green industry yang ramah lingkungan. Beberapa jenis industri otomotif terkemuka di Amerika Serikat telah menjadikan kedelai sebagai substitusi bahan baku komponen. Sehingga di masa depan komoditas kedelai akan menjadi rebutan antara bahan pangan dengan industri manufaktur.
Selain itu kedelai juga telah digunakan sebagai BBM alternatif yakni biofuel. Minyak kedelai juga digunakan untuk meningkatkan daya tahan telapak ban. Proses pencampuran karet dengan minyak kedelai lebih mudah dibanding dengan material silika. Keberadaan UMKM perajin tempe tahu di kota Bandung perlu ditata lebih baik lagi menjadi klaster industri. Hal ini untuk memudahkan pemberian insentif dari pemerintah seperti penyaluran gas industri, air sanitasi, dan infrastruktur lainnya. (*)
