Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

5 menit baca
Arif Minardi
Ditulis oleh Arif Minardi diterbitkan
Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Para perajin tahu, tempe, dan produk berbasis kedelai di kota Bandung merasa ketar-ketir akibat harga kedelai yang naik secara signifikan.

Kondisi dapur rumah tangga warga Bandung kian rawan akibat kenaikan harga-harga dan semakin melemahnya daya beli. Gejolak harga kedelai menyebabkan kesejahteraan rakyat semakin terkoyak. Harga kebutuhan dapur di pasar pasca lebaran belum juga reda, kini disusul dengan masalah laten produk berbasis kedelai yakni tahu dan tempe. Ibu rumah tangga semakin pusing tujuh keliling mengatur menu makan keluarga.

Pemkot Bandung perlu memberikan insentif kepada para perajin dan penjual tahu tempe. Karena sektor usaha ini cukup banyak memberi lapangan kerja dan lapangan usaha sektor informal.  Masalah tahu tempe yang merupakan menu utama bagi rakyat ini jangan dianggap sepele.

Dampak sistemik harga kedelai naik, maka perajin di sentra tahu Cibuntu kota Bandung secepat kilat menaikkan harga mulai 31 Maret 2026. Harga tahu per papan naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 62.000 per papan dengan isi 80-120 buah. Penyebab kenaikan ternyata bukan hanya faktor kedelai, harga plastik pembungkus dan komoditas pertanian seperti kunyit juga ikut naik.

Proses pembuatan tahu Cibuntu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Proses pembuatan tahu Cibuntu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemerintah belum menemukan solusi yang jitu terkait dengan ketergantungan total terhadap kedelai impor yang harganya terus fluktuasi karena kondisi losgistik dan rantai pasok global akibat geopolitik yang terus gonjang-ganjing.

Harga kedelai impor dari waktu ke waktu terus meroket, disebabkan beberapa faktor utama, pertama karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Indonesia masih sangat tergantung kedelai impor, sekitar 80-90 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor, terutama berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Argentina. Jika nilai rupiah melemah, harga beli kedelai dari luar negeri otomatis jadi lebih mahal. Inilah yang terjadi pada Maret-April 2026 dan juga tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, karena ada tren harga kedelai dunia naik. Faktor global seperti gagal panen di negara produsen, perang, atau naiknya biaya logistik dan melonjaknya pupuk menyebabkan harga kedelai dunia naik. Karena Indonesia sangat tergantung kepada impor, maka langsung terkena dampaknya.

Ketiga, karena biaya produksi dan distribusi ikut naik.Harga BBM, ongkos kirim kapal, dan biaya kontainer global yang naik bikin harga kedelai sampai ke Indonesia makin mahal. Pengrajin di Cibuntu juga mengeluh harga plastik pembungkus ikut naik secara signifikan.

Proses pembuatan tahu Cibuntu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Proses pembuatan tahu Cibuntu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Paradoks Bangsa Tempe

Kehidupan rakyat negeri ini tidak bisa lepas dari tempe.  Selama sepuluh tahun terakhir, UMKM perajin tempe dan tahu sering dihadang masalah tingginya harga bahan baku pokok yakni kedelai. Indonesia adalah bangsa tempe yang penuh dengan paradoks. Sebutan sebagai bangsa agraris yang tanahnya subur loh jinawi sangat klise pasalnya masih tergantung kedelai secara total. Padahal negeri ini setiap tahun meluluskan ribuan sarjana pertanian yang mestinya bisa mewujudkan swasembada kedelai atau menemukan substitusi bahan baku tahu tempe.

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri. Akibatnya UMKM yang berbasis kedelai nasibnya selalu terombang-ambing akibat problem pasokan dan harga bahan baku.

Tekanan kedelai impor terhadap UMKM perajin tempe dan tahu mulai terjadi ketika pemerintah menghapus tata niaga kedelai yang semula dilakukan oleh Bulog lalu dialihkan kepada importir umum. 

Dengan bebasnya impor kedelai dan tidak adanya proteksi mengakibatkan harga kedelai di pasar domestik sering mengalami tekanan dan kelangkaan.  Impor kedelai yang serampangan juga telah menghancurkan usaha pertanian kedelai di dalam negeri. Kondisi tersebut semakin memperkuat jaringan mafia importir kedelai untuk memainkan harga seenaknya.

Kondisi petani kedelai seperti pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga. Dalam kondisi tekanan kedelai impor, ternyata petani masih kesulitan mencari benih unggul dan mahalnya harga pupuk dan obat-obatan. Diperparah penggunaan benih bermutu varietas unggul kedelai di tanah air masih sedikit.

Sebagian besar petani masih menggunakan benih asal-asalan. Masalah budidaya kedelai sebenarnya sudah menjadi program lintas kementerian dengan biaya yang cukup besar, tetapi hasilnya hilang begitu saja. Mimpi pemerintah untuk swasembada kedelai selalu kandas.

Paradoks bangsa tempe yang sering mengalami krisis kedelai harusnya bisa diatasi. Tempe yang merupakan khazanah kuliner asli Indonesia mesti ditangani sungguh-sungguh. Mengingat sektor industri pangan domestik ini telah memberikan kontribusi ekonomi kerakyatan yang amat berarti.

Kondisi makin memburuk karena UMKM perajin tahu tempe juga dihimpit masalah pasokan bahan bakar gas, peralatan produksi yang sudah tua, tempat usaha yang kumuh dan masalah kualitas air yang buruk.

Pemerintah pernah mengucurkan dana yang cukup besar untuk program pengembangan kedelai lokal lintas kementerian dan lembaga ristek. Baik yang terkait teknologi benih maupun teknik budidaya. Namun, dari tahun ketahun BPS mencatat produksi kedelai nasional melorot. 

Sejak tahun 2006 ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor sangat tinggi yaitu lebih dari 70 persen. Terkait dengan hal itu FAO memberikan rekomendasi untuk mencapai ketahanan pangan cadangan harus mencapai 17 – 18 persen dari kebutuhan konsumsi. Indonesia baru dapat dikatakan swasembada jika 90 persen kebutuhan domestik dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Apalagi Amerika Serikat yang merupakan pengekspor kedelai terbesar di dunia memberikan insentif atau kemudahan bagi importir kedelai Indonesia melalui skema kredit lunak yang besarnya mencapai ratusan juta dollar AS.

Kondisi pasar kedelai dunia pun akan semakin fluktuatif akibat penggunaan kedelai sebagai bahan baku green industry yang ramah lingkungan. Beberapa jenis industri otomotif terkemuka di Amerika Serikat telah menjadikan kedelai sebagai substitusi bahan baku komponen. Sehingga di masa depan komoditas kedelai akan menjadi rebutan antara bahan pangan dengan industri manufaktur.

Selain itu kedelai juga telah digunakan sebagai BBM alternatif yakni biofuel. Minyak kedelai juga digunakan untuk meningkatkan daya tahan telapak ban. Proses pencampuran  karet dengan minyak kedelai lebih mudah dibanding dengan material silika. Keberadaan UMKM perajin tempe tahu di kota Bandung perlu ditata lebih baik lagi menjadi klaster industri. Hal ini untuk memudahkan pemberian insentif dari pemerintah seperti penyaluran gas industri, air sanitasi, dan infrastruktur lainnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arif Minardi
Tentang Arif Minardi
Aktivis Serikat Pekerja

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 15 Jul 2026, 15:24

Hikayat Sport Center Arcamanik, Dari Arena PON Menjadi Pusat Sport Tourism

Sport Center Arcamanik bertransformasi dari venue PON 2016 menjadi pusat olahraga, wisata keluarga, dan kuliner Bandung.

Anak-anak bermain layangan di sekitar area Sport Center Arcamanik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)