AYOBANDUNG.ID - Hampir separuh penduduk Kota Bandung tercatat tidak tahu golongan darahnya.
Dari total 2.599.743 jiwa, sebanyak 1.295.786 orang atau sekitar 49,84 persen tidak tahu golongan darahnya yang menjadikannya kelompok terbesar dibandingkan golongan darah lainnya.
Menurut data disdukcapil Kota Bandung Data Konsolidasi Bersih 2025 semester I, di antara warga yang mengetahui golongan darahnya, tipe O menjadi yang paling banyak, yakni 495.635 orang atau 19,06 persen. Disusul golongan A sebanyak 344.956 orang (13,27 persen) dan B sebanyak 284.805 orang (10,96 persen).
Sementara golongan AB menjadi yang paling sedikit di kelompok utama, dengan 138.610 orang atau 5,33 persen.
Jika dilihat lebih rinci, golongan darah dengan rhesus negatif merupakan yang paling jarang ditemukan. A- hanya dimiliki oleh 388 orang (0,01 persen), B- sebanyak 532 orang (0,02 persen), dan AB- sebanyak 681 orang (0,03 persen). Jumlah ini sangat kecil jika dibandingkan dengan total populasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan golongan darah di Kota Bandung bukan hanya soal distribusi, tetapi juga soal kesadaran. Bila hampir separuh warganya tidak mengetahui apa golongan darahnya, hal ini bisa menyebabkan kesulitan dalam kondisi darurat yang membutuhkan transfusi darah.
Kondisi ini menjadi semakin penting saat memasuki bulan Ramadan. Kebutuhan darah di rumah sakit tetap tinggi, namun stok di PMI Kota Bandung justru cenderung menurun.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengajak aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk aktif mendonorkan darah selama bulan puasa.
“Saya mengimbau Bapak Ibu semua yang berbadan sehat agar menyumbangkan darahnya ke PMI,” ujarnya.
Ia menegaskan, penurunan stok darah menjadi persoalan yang terjadi hampir setiap Ramadan. Sementara itu, kebutuhan pasien tidak ikut berkurang.
“Sepanjang bulan Ramadan stok darah di PMI Kota Bandung menurun drastis. Kita memerlukan hal itu,” katanya.
Farhan mengaku telah lebih dulu mendonorkan darahnya beberapa hari sebelumnya. Ia berharap langkah tersebut dapat diikuti oleh pegawai lainnya.
“Saya sudah memulainya pada hari Rabu minggu lalu. Saya yakin Anda juga bisa,” ujarnya.
Menurutnya, donor darah tidak berbahaya selama dilakukan oleh orang yang sehat. Prosedurnya juga sederhana dan aman.
“Syaratnya tidak berat dan tidak akan membuat kita sakit sepanjang Anda tidak menghidap penyakit berbahaya,” tuturnya.
