Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung sekarang, ada satu kelompok yang sering luput dari sorotan, tetapi justru menjadi tulang punggung roda ekonomi yakni pekerja swasta baik formal maupun informal. Mereka hadir dalam berbagai wujud, diantaranya adalah pekerja kontrak perusahaan atau harian, pekerja honorer, pelaku UMKM, pekerja lepas, penjual jasa tertentu, guru privat non lembaga, pedagang kecil dan kaki lima, petani, nelayan, pekebun dan peladang, pemulung, pengemudi ojek online, tukang bangunan serta asisten rumah tangga. Apa pun jenis pekerjaannya, tujuan mereka sama supaya menjaga dapur tetap ngebul.
Tidak berlebihan jika disebut bahwa pekerja swasta adalah petarung sejati kehidupan. Mengapa demikian ? Karena kehidupan mereka tidak selalu dijamin oleh sistem yang stabil. Tidak ada kepastian mutlak, tidak ada jaminan tetap, dan sering kali tidak ada perlindungan penuh. Namun justru dari situlah lahir mental baja yang menjadikan mereka tangguh menghadapi realitas kehidupan.
Ada pula penyebab mereka menjadi orang tahan banting, sabar dan berkorban dalam menjalani kehidupan karena kalau bukan mereka yang mengupayakan sendiri dari mana mereka dapat duit untuk mengisi perut yang lapar juga sekedar membeli baju di waktu-waktu tertentu ataupun sesekali jalan-jalan ke pasar kaget di kawasan Punclut, Gasibu, Tegalaega dan Samsat Bandung.
Penyebab-penyebabnya adalah didorong oleh adanya kata-kata 'Tidak kerja, tidak dapat duit.' Berbeda dengan sebagian profesi lain yang memiliki kepastian gaji bulanan, banyak pekerja swasta hidup dengan prinsip sederhana kalau tidak bekerja, tidak ada penghasilan. Filosofi ini bukan sekadar slogan, melainkan realitas sehari-hari. Misalnya seorang pengemudi ojek online, harus keluar rumah setiap hari untuk mendapatkan penghasilan. Seorang pedagang kaki lima harus membuka lapak dari pagi hingga malam agar dagangannya laku. Pekerja lepas harus terus mencari proyek agar dapur tetap mengeluarkan aroma bumbu-bumbu. Tidak ada istilah duduk tenang, uang datang sendiri.
Dalam peribahasa Sunda ada pernyataan 'Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih' yang artinya kalau tidak berpikir dan berusaha bakal tidak dapat hasil untuk makan. Isi peribahasa tadi mengajarkan pentingnya ikhtiar atau kerja yang bener agar dapur selalu berasap terus setiap hari.
Ada juga istilah Sunda lainnya yaitu 'Indit Tunduh, Teu Indit Butuh' alias pergi ngantuk, tidak pergi butuh adalah guyonan ironis tentang dilema bekerja. Biasanya ditambahkan kalimat lanjutan untuk menambah kelucuan seperti 'Indit kalah cape hate, teu indit moal boga duit' yang artinya Pergi malah capek hati, tidak pergi tidak punya uang). Memang bukan pilihan sebab yang dipilih pasti harus 'indit gawe' atau bekerja supaya mendapatkan uang atau makanan apalagi bagi yang sudah berkeluarga.
Kondisi ini secara langsung membentuk karakter pekerja swasta menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin. Mereka tidak bisa bergantung pada orang lain atau sistem. Mereka harus mengandalkan usaha sendiri, keringat sendiri, dan tekad sendiri. Mental seperti ini adalah cerminan dari petarung sejati. Mereka tidak menunggu kesempatan datang, tetapi menciptakan kesempatan itu sendiri. Mereka tidak mengeluh pada keadaan, tetapi berusaha mengatasinya dengan kerja keras.
Kemudian penghasilan tidak menentu bisa menjadi penyebabnya karena salah satu tantangan terbesar pekerja swasta adalah ketidakpastian pendapatan. Hari ini bisa ramai, besok bisa sepi. Bulan ini bisa untung, bulan depan belum tentu. Tidak ada angka pasti yang bisa dijadikan pegangan. Namun yang menarik, justru di tengah ketidakpastian itulah, mereka tetap yakin melangkah. Mereka tetap bangun pagi, tetap bekerja, tetap berusaha. Ada keyakinan dalam diri mereka bahwa rezeki akan datang bagi mereka yang mau berusaha.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Pekerja swasta terbiasa menghadapi naik turunnya kehidupan. Mereka sudah akrab dengan kondisi untung dan rugi. Dari pengalaman itulah muncul ketahanan mental yang luar biasa. Bayangkan seorang pedagang yang dagangannya tidak laku seharian. Bukannya menyerah, keesokan harinya ia kembali membuka lapak dengan harapan baru. Seorang pekerja paruh waktu yang ditolak klien berkali-kali tetap mencoba lagi hingga akhirnya mendapatkan proyek.
Di sinilah letak kekuatan mereka. Mereka tidak bergantung pada kepastian, tetapi pada harapan dan usaha. Mereka percaya bahwa selama masih ada kesempatan untuk bekerja, selalu ada peluang untuk mendapatkan penghasilan.
Penyebab terakhir mengapa pekerja swasta adalah adalah orang-orang tangguh, rajin dan sabar karena mereka tidak memiliki jiwa pemalas, tidak mudah menyerah, dan tidak suka meminta-minta. Pekerja swasta umumnya memiliki satu kesamaan yang mencolok mereka tidak suka bergantung pada orang lain. Mereka lebih memilih bekerja keras daripada meminta-minta. Ada harga diri yang dijaga, ada kehormatan yang dipertahankan.

Rasa tanggung jawab menjadi sumbu bom mereka agar tetap bertahan dalam hidup. Mereka sadar bahwa hidup tidak akan berubah jika hanya mengandalkan belas kasihan. Karena itu, juga mereka memilih untuk bergerak, berusaha, dan berjuang sampai badan benar-benar tidak bisa menopang alias sakit keras.
Jiwa pantang malas juga menjadi ciri khas. Dalam dunia kerja swasta, kemalasan adalah musuh utama. Sekali lengah, peluang bisa hilang. Sekali mogok bakal membuat penghasilan macet total. Maka tidak heran jika banyak pekerja swasta yang terbiasa bekerja lebih lama, lebih keras, dan lebih gigih. Selain itu, mereka juga memiliki daya tahan terhadap kegagalan. Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses perjuangan. Mereka terbiasa jatuh dan bangkit kembali. Bahkan, sering kali mereka belajar lebih banyak dari kegagalan daripada dari keberhasilan.
Mental seperti ini adalah mental petarung. Bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional. Kesabaran dan ketekunannya menjalankan rutinitas ditengah ketidakpastian pendapatan, menjadi ciri utama golongan yang bekerja dengan sejuta harapan bahwa hari ini mendapatkan uang agar magic com mereka tetap ngebul setiap hari. (*)
