Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung sekarang, ada satu kelompok yang sering luput dari sorotan, tetapi justru menjadi tulang punggung roda ekonomi yakni pekerja swasta baik formal maupun informal. Mereka hadir dalam berbagai wujud, diantaranya adalah pekerja kontrak perusahaan atau harian, pekerja honorer, pelaku UMKM, pekerja lepas, penjual jasa tertentu, guru privat non lembaga, pedagang kecil dan kaki lima, petani, nelayan, pekebun dan peladang, pemulung, pengemudi ojek online, tukang bangunan serta asisten rumah tangga. Apa pun jenis pekerjaannya, tujuan mereka sama supaya menjaga dapur tetap ngebul.

Tidak berlebihan jika disebut bahwa pekerja swasta adalah petarung sejati kehidupan. Mengapa demikian ? Karena kehidupan mereka tidak selalu dijamin oleh sistem yang stabil. Tidak ada kepastian mutlak, tidak ada jaminan tetap, dan sering kali tidak ada perlindungan penuh. Namun justru dari situlah lahir mental baja yang menjadikan mereka tangguh menghadapi realitas kehidupan.

Ada pula penyebab mereka menjadi orang tahan banting, sabar dan berkorban dalam menjalani kehidupan karena kalau bukan mereka yang mengupayakan sendiri dari mana mereka dapat duit untuk mengisi perut yang lapar juga sekedar membeli baju di waktu-waktu tertentu ataupun sesekali jalan-jalan ke pasar kaget di kawasan Punclut, Gasibu, Tegalaega dan Samsat Bandung.

Penyebab-penyebabnya adalah didorong oleh adanya kata-kata 'Tidak kerja, tidak dapat duit.' Berbeda dengan sebagian profesi lain yang memiliki kepastian gaji bulanan, banyak pekerja swasta hidup dengan prinsip sederhana kalau tidak bekerja, tidak ada penghasilan. Filosofi ini bukan sekadar slogan, melainkan realitas sehari-hari. Misalnya seorang pengemudi ojek online, harus keluar rumah setiap hari untuk mendapatkan penghasilan. Seorang pedagang kaki lima harus membuka lapak dari pagi hingga malam agar dagangannya laku. Pekerja lepas harus terus mencari proyek agar dapur tetap mengeluarkan aroma bumbu-bumbu. Tidak ada istilah duduk tenang, uang datang sendiri.

Dalam peribahasa Sunda ada pernyataan 'Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih' yang artinya kalau tidak berpikir dan berusaha bakal tidak dapat hasil untuk makan. Isi peribahasa tadi mengajarkan pentingnya ikhtiar atau kerja yang bener agar dapur selalu berasap terus setiap hari.

Ada juga istilah Sunda lainnya yaitu 'Indit Tunduh, Teu Indit Butuh' alias pergi ngantuk, tidak pergi butuh adalah guyonan ironis tentang dilema bekerja. Biasanya ditambahkan kalimat lanjutan untuk menambah kelucuan seperti 'Indit kalah cape hate, teu indit moal boga duit' yang artinya Pergi malah capek hati, tidak pergi tidak punya uang). Memang bukan pilihan sebab yang dipilih pasti harus 'indit gawe' atau bekerja supaya mendapatkan uang atau makanan apalagi bagi yang sudah berkeluarga.

Kondisi ini secara langsung membentuk karakter pekerja swasta menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin. Mereka tidak bisa bergantung pada orang lain atau sistem. Mereka harus mengandalkan usaha sendiri, keringat sendiri, dan tekad sendiri. Mental seperti ini adalah cerminan dari petarung sejati. Mereka tidak menunggu kesempatan datang, tetapi menciptakan kesempatan itu sendiri. Mereka tidak mengeluh pada keadaan, tetapi berusaha mengatasinya dengan kerja keras.

Kemudian penghasilan tidak menentu bisa menjadi penyebabnya karena salah satu tantangan terbesar pekerja swasta adalah ketidakpastian pendapatan. Hari ini bisa ramai, besok bisa sepi. Bulan ini bisa untung, bulan depan belum tentu. Tidak ada angka pasti yang bisa dijadikan pegangan. Namun yang menarik, justru di tengah ketidakpastian itulah, mereka tetap yakin melangkah. Mereka tetap bangun pagi, tetap bekerja, tetap berusaha. Ada keyakinan dalam diri mereka bahwa rezeki akan datang bagi mereka yang mau berusaha.

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Pekerja swasta terbiasa menghadapi naik turunnya kehidupan. Mereka sudah akrab dengan kondisi untung dan rugi. Dari pengalaman itulah muncul ketahanan mental yang luar biasa. Bayangkan seorang pedagang yang dagangannya tidak laku seharian. Bukannya menyerah, keesokan harinya ia kembali membuka lapak dengan harapan baru. Seorang pekerja paruh waktu yang ditolak klien berkali-kali tetap mencoba lagi hingga akhirnya mendapatkan proyek.

Di sinilah letak kekuatan mereka. Mereka tidak bergantung pada kepastian, tetapi pada harapan dan usaha. Mereka percaya bahwa selama masih ada kesempatan untuk bekerja, selalu ada peluang untuk mendapatkan penghasilan.

Penyebab terakhir mengapa pekerja swasta adalah adalah orang-orang tangguh, rajin dan sabar karena mereka tidak memiliki jiwa pemalas, tidak mudah menyerah, dan tidak suka meminta-minta. Pekerja swasta umumnya memiliki satu kesamaan yang mencolok mereka tidak suka bergantung pada orang lain. Mereka lebih memilih bekerja keras daripada meminta-minta. Ada harga diri yang dijaga, ada kehormatan yang dipertahankan.

Rasa tanggung jawab menjadi sumbu bom mereka agar tetap bertahan dalam hidup. Mereka sadar bahwa hidup tidak akan berubah jika hanya mengandalkan belas kasihan. Karena itu, juga mereka memilih untuk bergerak, berusaha, dan berjuang sampai badan benar-benar tidak bisa menopang alias sakit keras.

Jiwa pantang malas juga menjadi ciri khas. Dalam dunia kerja swasta, kemalasan adalah musuh utama. Sekali lengah, peluang bisa hilang. Sekali mogok bakal membuat penghasilan macet total. Maka tidak heran jika banyak pekerja swasta yang terbiasa bekerja lebih lama, lebih keras, dan lebih gigih. Selain itu, mereka juga memiliki daya tahan terhadap kegagalan. Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses perjuangan. Mereka terbiasa jatuh dan bangkit kembali. Bahkan, sering kali mereka belajar lebih banyak dari kegagalan daripada dari keberhasilan.

Mental seperti ini adalah mental petarung. Bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional. Kesabaran dan ketekunannya menjalankan rutinitas ditengah ketidakpastian pendapatan, menjadi ciri utama golongan yang bekerja dengan sejuta harapan bahwa hari ini mendapatkan uang agar magic com mereka tetap ngebul setiap hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)