Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)

Siang dan malam, truk logistik melintasi koridor antarwilayah membawa pangan, bahan baku, dan kebutuhan industri. Pada saat yang sama, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) mengangkut penumpang lintas wilayah menuju berbagai tujuan. Sistem transportasi Indonesia bergerak tanpa henti—menopang aktivitas sosial dan ekonomi yang tak pernah benar-benar berhenti.

Namun di balik mobilitas yang tinggi itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: seberapa aman dan layak kondisi kerja mereka yang berada di balik kemudi?

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan menyerap 6,3 juta tenaga kerja per Agustus 2025, dengan dominasi angkutan darat. Sumbangsih transportasi dan pergudangan terhadap total penyerapan tenaga kerja mencapai 4,25% dari total penduduk bekerja 146,54 juta orang. Sektor ini menduduki posisi kedelapan, sebagai penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia. Artinya, setiap kebijakan transportasi pada dasarnya juga adalah kebijakan ketenagakerjaan.

Sayangnya, dimensi kerja ini belum benar-benar menjadi pusat perhatian.

10 sektor usaha dengan jumlah pekerja terbanyak. (Sumber: Badan Pusat Statistik | Foto: GoodStats)
10 sektor usaha dengan jumlah pekerja terbanyak. (Sumber: Badan Pusat Statistik | Foto: GoodStats)

Risiko Tinggi: Ketika Jalan Menjadi Ruang Kerja Berbahaya

Risiko di sektor ini bukan asumsi—melainkan fakta. Data Korlantas Polri mencatat sekitar 152 ribu kecelakaan lalu lintas pada 2023, dengan lebih dari 27 ribu korban meninggal dunia. Kendaraan komersial seperti truk dan bus berkontribusi signifikan kedua setelah sepeda motor, terutama pada kecelakaan dengan dampak fatal.

Pada angkutan barang, kecelakaan truk menelan ribuan korban jiwa setiap tahun. Pada angkutan bus AKAP, polanya berulang: perjalanan jarak jauh, kelelahan pengemudi, dan korban dalam jumlah besar sekaligus. Fakta ini sejalan dengan temuan bahwa sekitar 98% kecelakaan berkaitan dengan faktor manusia—terutama kelelahan dan penurunan konsentrasi.

Di sisi lain, tekanan mobilitas terus meningkat. Pada periode puncak seperti mudik, pergerakan penumpang bus melonjak dalam waktu singkat. Intensitas kerja pengemudi ikut terdorong naik. Di sektor logistik, tuntutan efisiensi mempercepat distribusi, tetapi tidak selalu diikuti perbaikan kondisi kerja.

Jalan raya, dalam konteks ini, bukan sekadar infrastruktur—melainkan ruang kerja berisiko tinggi.

Jam Kerja Panjang dan Tekanan Sistem

Pertanyaannya kemudian: dari mana risiko ini berasal? Salah satu jawabannya ada pada pola kerja pengemudi.

Secara normatif, batas kerja telah diatur. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 90 menempatkan keselamatan sebagai prinsip utama, termasuk kewajiban memastikan pengemudi dalam kondisi laik operasional. Sementara itu, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 yang diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja pada Pasal 77 menetapkan batas jam kerja dan hak istirahat.

Namun praktik di lapangan menunjukkan jurang yang lebar. Studi terhadap sopir truk di Indonesia menunjukkan durasi kerja 9–16 jam per hari, melampaui batas aman. Pada angkutan bus, berbagai temuan keselamatan menunjukkan kecelakaan kerap berkaitan dengan jam kerja berlebih dan kelelahan akut. Angka ini jauh melampaui batas aman, dan dalam konteks keselamatan, menjadi faktor risiko yang sistemik—bukan insidental. Dengan durasi seperti itu, kelelahan bukan lagi risiko—melainkan konsekuensi.

Dalam skema logistik, sistem ritase mendorong pengemudi terus bergerak: semakin banyak perjalanan, semakin besar pendapatan. Pada bus AKAP, tekanan datang dari tuntutan ketepatan jadwal di tengah lalu lintas yang tak pasti. Waktu istirahat menjadi variabel yang mudah dikorbankan.

Keselamatan pun berubah menjadi negosiasi. Pengemudi dihadapkan pada pilihan semu: memenuhi target operasional atau menjaga batas aman. Dalam banyak kasus, sistem mendorong pilihan yang pertama.

Rest area yang penuh memaksa truk-truk parkir di bahu jalan tol. (Sumber: Tribunnews.com/Andri Malau)
Rest area yang penuh memaksa truk-truk parkir di bahu jalan tol. (Sumber: Tribunnews.com/Andri Malau)

Regulasi Ada, Tapi Belum Menyentuh Inti Masalah

Masalahnya bukan ketiadaan aturan. Masalahnya adalah jarak antara aturan dan praktik.

Kerangka hukum telah mengatur keselamatan dan jam kerja. Namun di tingkat operasional, pengawasan terhadap perusahaan angkutan belum konsisten. Uji kelayakan kendaraan relatif berjalan, tetapi kondisi kerja pengemudi—termasuk kelelahan—nyaris tak diaudit secara sistematis.

Di sinilah titik buta kebijakan. Kelaikan masih diukur dari kendaraan, bukan dari manusia yang mengoperasikannya. Padahal, data menunjukkan bahwa faktor manusia adalah penentu utama keselamatan.

Lembaga internasional seperti International Labour Organization menekankan pentingnya pekerjaan yang layak—aman, manusiawi, dan terlindungi. Namun prinsip ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam praktik transportasi darat, khususnya pada angkutan logistik dan bus. Akibatnya, sistem tampak bekerja baik di permukaan, tetapi menyimpan risiko di dalam.

Transportasi yang efisien tidak boleh dibangun di atas kelelahan. Selama efisiensi logistik dan ketepatan jadwal bus dicapai dengan menekan waktu istirahat, keselamatan akan selalu berada di urutan kedua. Ini bukan sekadar persoalan kesejahteraan, melainkan prasyarat keselamatan sistem.

Perbaikannya jelas: penegakan batas jam kerja secara nyata, penyediaan fasilitas istirahat yang memadai di koridor utama, serta pengawasan operasional yang menilai bukan hanya kendaraan, tetapi juga kondisi kerja pengemudi.

Tanpa itu, mobilitas tinggi berdiri di atas fondasi yang rapuh. Dan selama itu dibiarkan, setiap perjalanan—baik barang maupun manusia—akan selalu membawa risiko yang sama: pengemudi yang dipaksa bekerja melampaui batasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)