Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pagi yang cerah itu, selesai upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bertajuk “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Taman Kujang, depan Aula Anwar Musaddad, Sabtu (2/5/2026).

Suasana belum benar-benar bubar. Ada yang asyik mengabadikan foto, bersefie dan masih banyak yang bergerombol, bergabung per fakultas pada momentum penghargaan bergengsi.

Langit masih menyisakan khidmat dan langkah kaki perlahan kembali ke rutinitas. Seorang kawan mendekat, setengah berbisik, sambil menggugat, “Emang setiap upacara pembinaan formatnya harus begitu ya? Nggak ada yang lain? Biar nggak terasa datar.”

“Muhun,” jawabku singkat.

Memang bukan tanpa alasan, setiap peringatan apapun selalu dilakukan upacara seremonial, ucapan selamat yang dipasang pada spanduk (baligo), membuat player yang disebabkan pada media sosial, WhatsApp grup.

Padahal, berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus. Tanpa ketiganya, semua kebijakan itu hanya akan berhenti sebagai program dan formalitas yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif.

Bertujuan Market Day untuk mengenalkan nilai mata uang pada anak, melatih keberanian, dan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini kepada para siswa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Martabat Manusia, Cerdaskan Kehidupan

Dalam amanatnya, Rektor UIN Bandung Rosihon Anwar yang membacakan naskah pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan. Melainkan bentuk penghormatan pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang meletakkan fondasi jauh melampaui zamannya.

Peringatan Hardiknas menjadi momentum yang tepat untuk kita melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia.

Pendidikan merupakan proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia, potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan.

Ingat, Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, meletakkan dasar dan nilai pendidikan dengan sistem among; asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan).

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan pada hakikatnya proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa.

Pendidikan itu proses menumbuhkembangkan potensi manusia, sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya.

Sejatinya Hardiknas menjadi cerminan bersama dan tempat kita merenung, sudah sejauh mana pendidikan benar-benar memanusiakan manusia?

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Membaca Angka, Menguatkan Partisipasi Semesta

Data statistik pendidikan, seperti Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-Rata Lama Sekolah menjadi potret nyata sejauh mana akses dan kualitas pendidikan telah menyentuh setiap anak bangsa.

Betapa tidak, partisipasi sekolah umur 7-12 tahun sangat tinggi. Bila sebagian besar penduduk umur 7-12 tahun sudah bersekolah, maka seiring bertambah umur, justru partisipasinya menurun. Ini menunjukkan tantangan sekarang bukan hanya memasukkan anak ke sekolah, tetapi memastikan mereka untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) telah melampaui RPJMN (9,41 tahun), sudah melewati target nasional. Meskipun menunjukkan peningkatan, tapi secara rata-rata penduduk Indonesia umur 15 tahun ke atas baru mengenyam pendidikan, hingga kelas 9 SMP.

Uniknya, 7 dari 100 peserta didik Indonesia menjalani peran ganda: belajar sekaligus bekerja. Semua ini menunjukkan semangat juang yang besar dan mengingatkan bahwa sebagian peserta didik masih menghadapi tantangan ekonomi rumah tangga.

Setiap angka pendidikan adalah cerita perjuangan. Di balik setiap angka statistik, terdapat anak anak, keluarga, dan pendidik yang terus berjuang menciptakan masa depan yang lebih baik. Mari terus berkolaborasi untuk saling menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dan tanpa sekat. (Sensus Ekonomi 2026, bps.go.id)

Pada tahun 2025, Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Jawa Barat menunjukkan capaian yang tinggi di usia dasar, sekitar 99,5% untuk usia 7–12 tahun, dan 96,5% pada usia 13–15 tahun. Namun, saat memasuki usia 16–18 tahun, angka itu malah mulai menurun signifikan. (jabar.bps.go.id)

Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hakikat Pendidikan, Bangun SDM Unggul

Ya hampir semua anak masuk sekolah dasar dan menengah pertama, tetapi tidak semuanya bertahan, hingga jenjang menengah atas. Dari deretan angka-angka ini memunculkan pertanyaan pentingnya pendidikan menjadi nyata dan bukan sekadar normatif.

Pada hakikatnya, pendidikan bukan sekadar soal akses masuk sekolah. Justru proses yang dijalankan dengan ketulusan, asah yang mencerdaskan, asih yang menghangatkan, dan asuh yang menuntun.

Pendidikan menjadi ruang kerja peradaban untuk menumbuhkan fitrah manusia. Bukan hanya membuatnya tahu, tetapi menjadikannya utuh. Ki Hadjar Dewantara telah lama merumuskan itu dalam sistem among (asah, asih, dan asuh). Ketiga kata sederhana ini harus menjadi fondasi peradaban manusia.

Amanat konstitusi menegaskan pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang membangun watak, karakter warga. Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka partisipasi, tetapi harus menjelma menjadi kualitas kehadiran yang membumi. Manusia yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Bukan sekadar hadir di kelas, melainkan tumbuh sebur dalam makna.

Dalam kerangka yang lebih luas, arah itu kini dihubungkan dengan visi besar nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Pendidikan diposisikan sebagai jalan strategis membangun sumber daya manusia yang unggul, kuat, dan bermartabat.

Salah satu ikhtiar yang didorong dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menggeser pendidikan dari hafalan menuju pemahaman, dari rutinitas menuju kesadaran. (Pidato Hardiknas, 2 Mei 2026)

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan

Walhasil, perubahan dalam pendidikan tidak melulu berawal dari kebijakan besar, justru harus tumbuh dan berkembang dari ruang kelas sederhana, sapaan guru yang hangat, perasaan dihargai yang dirasakan murid, cara meraih ilmu yang dihadirkan sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi yang disampaikan dan dibacakan (dikte).

Pertanyaan kawan tadi bukan tanpa dasar. Tentunya, yang perlu dibenahi bukan hanya bentuk upacara, lebih dari bagaimana cara kita memahami dan memaknai pendidikan itu sendiri.

Pasalnya, kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan sejatinya dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, tetapi diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.

Dengan demikian, jangan biarkan Hari Pendidikan Nasional berhenti sebagai rutinitas tahunan. Pendidikan tidak cukup dirayakan melalui spanduk, baligo, dibagikan ucapan selamat via medsos dan seremoni semata. Justru perlu dihidupkan melalui perhatian yang sungguh-sungguh, kebijakan yang berpihak, dan langkah nyata.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga pendidikan di negeri ini tidak hanya semarak diperingati, tetapi benar-benar diperjuangkan dengan sepenuh hati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)