Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 05 Mei 2026, 17:22 WIB
Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pagi yang cerah itu, selesai upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bertajuk “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Taman Kujang, depan Aula Anwar Musaddad, Sabtu (2/5/2026).

Suasana belum benar-benar bubar. Ada yang asyik mengabadikan foto, bersefie dan masih banyak yang bergerombol, bergabung per fakultas pada momentum penghargaan bergengsi.

Langit masih menyisakan khidmat dan langkah kaki perlahan kembali ke rutinitas. Seorang kawan mendekat, setengah berbisik, sambil menggugat, “Emang setiap upacara pembinaan formatnya harus begitu ya? Nggak ada yang lain? Biar nggak terasa datar.”

“Muhun,” jawabku singkat.

Memang bukan tanpa alasan, setiap peringatan apapun selalu dilakukan upacara seremonial, ucapan selamat yang dipasang pada spanduk (baligo), membuat player yang disebabkan pada media sosial, WhatsApp grup.

Padahal, berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus. Tanpa ketiganya, semua kebijakan itu hanya akan berhenti sebagai program dan formalitas yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif.

Bertujuan Market Day untuk mengenalkan nilai mata uang pada anak, melatih keberanian, dan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini kepada para siswa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Martabat Manusia, Cerdaskan Kehidupan

Dalam amanatnya, Rektor UIN Bandung Rosihon Anwar yang membacakan naskah pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan. Melainkan bentuk penghormatan pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang meletakkan fondasi jauh melampaui zamannya.

Peringatan Hardiknas menjadi momentum yang tepat untuk kita melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia.

Pendidikan merupakan proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia, potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan.

Ingat, Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, meletakkan dasar dan nilai pendidikan dengan sistem among; asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan).

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan pada hakikatnya proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa.

Pendidikan itu proses menumbuhkembangkan potensi manusia, sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya.

Sejatinya Hardiknas menjadi cerminan bersama dan tempat kita merenung, sudah sejauh mana pendidikan benar-benar memanusiakan manusia?

Suasana belajar di SLB ABCD Caringin, saat siswa difabel mengikuti kegiatan bersama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Membaca Angka, Menguatkan Partisipasi Semesta

Data statistik pendidikan, seperti Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-Rata Lama Sekolah menjadi potret nyata sejauh mana akses dan kualitas pendidikan telah menyentuh setiap anak bangsa.

Betapa tidak, partisipasi sekolah umur 7-12 tahun sangat tinggi. Bila sebagian besar penduduk umur 7-12 tahun sudah bersekolah, maka seiring bertambah umur, justru partisipasinya menurun. Ini menunjukkan tantangan sekarang bukan hanya memasukkan anak ke sekolah, tetapi memastikan mereka untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) telah melampaui RPJMN (9,41 tahun), sudah melewati target nasional. Meskipun menunjukkan peningkatan, tapi secara rata-rata penduduk Indonesia umur 15 tahun ke atas baru mengenyam pendidikan, hingga kelas 9 SMP.

Uniknya, 7 dari 100 peserta didik Indonesia menjalani peran ganda: belajar sekaligus bekerja. Semua ini menunjukkan semangat juang yang besar dan mengingatkan bahwa sebagian peserta didik masih menghadapi tantangan ekonomi rumah tangga.

Setiap angka pendidikan adalah cerita perjuangan. Di balik setiap angka statistik, terdapat anak anak, keluarga, dan pendidik yang terus berjuang menciptakan masa depan yang lebih baik. Mari terus berkolaborasi untuk saling menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dan tanpa sekat. (Sensus Ekonomi 2026, bps.go.id)

Pada tahun 2025, Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Jawa Barat menunjukkan capaian yang tinggi di usia dasar, sekitar 99,5% untuk usia 7–12 tahun, dan 96,5% pada usia 13–15 tahun. Namun, saat memasuki usia 16–18 tahun, angka itu malah mulai menurun signifikan. (jabar.bps.go.id)

Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hakikat Pendidikan, Bangun SDM Unggul

Ya hampir semua anak masuk sekolah dasar dan menengah pertama, tetapi tidak semuanya bertahan, hingga jenjang menengah atas. Dari deretan angka-angka ini memunculkan pertanyaan pentingnya pendidikan menjadi nyata dan bukan sekadar normatif.

Pada hakikatnya, pendidikan bukan sekadar soal akses masuk sekolah. Justru proses yang dijalankan dengan ketulusan, asah yang mencerdaskan, asih yang menghangatkan, dan asuh yang menuntun.

Pendidikan menjadi ruang kerja peradaban untuk menumbuhkan fitrah manusia. Bukan hanya membuatnya tahu, tetapi menjadikannya utuh. Ki Hadjar Dewantara telah lama merumuskan itu dalam sistem among (asah, asih, dan asuh). Ketiga kata sederhana ini harus menjadi fondasi peradaban manusia.

Amanat konstitusi menegaskan pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang membangun watak, karakter warga. Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka partisipasi, tetapi harus menjelma menjadi kualitas kehadiran yang membumi. Manusia yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Bukan sekadar hadir di kelas, melainkan tumbuh sebur dalam makna.

Dalam kerangka yang lebih luas, arah itu kini dihubungkan dengan visi besar nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Pendidikan diposisikan sebagai jalan strategis membangun sumber daya manusia yang unggul, kuat, dan bermartabat.

Salah satu ikhtiar yang didorong dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menggeser pendidikan dari hafalan menuju pemahaman, dari rutinitas menuju kesadaran. (Pidato Hardiknas, 2 Mei 2026)

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan

Walhasil, perubahan dalam pendidikan tidak melulu berawal dari kebijakan besar, justru harus tumbuh dan berkembang dari ruang kelas sederhana, sapaan guru yang hangat, perasaan dihargai yang dirasakan murid, cara meraih ilmu yang dihadirkan sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi yang disampaikan dan dibacakan (dikte).

Pertanyaan kawan tadi bukan tanpa dasar. Tentunya, yang perlu dibenahi bukan hanya bentuk upacara, lebih dari bagaimana cara kita memahami dan memaknai pendidikan itu sendiri.

Pasalnya, kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan sejatinya dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, tetapi diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.

Dengan demikian, jangan biarkan Hari Pendidikan Nasional berhenti sebagai rutinitas tahunan. Pendidikan tidak cukup dirayakan melalui spanduk, baligo, dibagikan ucapan selamat via medsos dan seremoni semata. Justru perlu dihidupkan melalui perhatian yang sungguh-sungguh, kebijakan yang berpihak, dan langkah nyata.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga pendidikan di negeri ini tidak hanya semarak diperingati, tetapi benar-benar diperjuangkan dengan sepenuh hati. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)
Bandung 04 Mei 2026, 19:34

8 Tahun Eksis di Industri Wedding, Begini Cara Q Art Wedding Jaga Ekosistem UMKM Vendor Lokal

Tren pernikahan masa kini telah bergeser ke arah yang lebih praktis, namun tetap mempertahankan sentuhan personal yang mencerminkan karakteristik unik kedua mempelai.

Q Art Wedding, vendor pernikahan yang telah eksis selama delapan tahun, mereka konsisten menjaga kualitas layanannya di tengah ketatnya persaingan industri. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 04 Mei 2026, 18:45

Menakar Inklusivitas Ekosistem Musik Lokal di Kecil Tapi Party Jilid 3

Strategi pengembangan industri kreatif di Jawa Barat kini memang sedang bergeser dari sentralisasi kota besar menuju wilayah penyangga.

Penampilan Seringai di festival musik Kecil Tapi Party Jilid 3. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 18:12

Masih Ada Waktu! 10 Momen Mei yang Bisa Jadi Tulisanmu di Ayobandung.id

Berikut sepuluh momen yang tersisa di Mei, dan bagaimana masing-masing bisa menjadi pintu masuk menuju tulisanmu.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 04 Mei 2026, 17:30

Hikayat Kalua Jeruk, Manisan Khas Ciwidey yang Berasal dari Limbah Kulit Jeruk Bali

Kisah kalua jeruk Ciwidey, camilan dari kulit jeruk bali yang bertahan sejak 1952 hingga kini tetap jadi oleh-oleh khas.

Elin, cuu dari Eneh Sutinah, pionir oleh-oleh bernama kalua jeruk dari Ciwidey. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 04 Mei 2026, 17:05

Panduan Tamasya Kebun Raya Bogor: Laboratorium Hidup di Jantung Kota Hujan

Kebun Raya Bogor menawarkan 15.000 koleksi tanaman, tiket mulai Rp15 ribu, serta tips menjelajah taman luas dengan efisien.

Kebun Raya Bogor.
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 14:33

Hardiknas Jangan Sekedar Jadi Kalender

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar penanda kalender.

Sekolah Sabtu-Minggu Odesa di Cisanggarung Wetan, Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Antusias mereka untuk mengenal literasi lebih baik. Bekal mereka untuk tumbuh adaptif. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 12:35

Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

Bandung sebagai kota pendidikan yang masih menghadapi ketimpangan akses, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 10:12

Antrean Solar Subsidi Picu Kemacetan serta Ganggu Angkutan Umum dan Logistrik

Kelangkaan solar subsidi memicu antrean di SPBU, mengganggu operasional angkutan umum, distribusi barang, serta berpotensi menekan ekonomi melalui kenaikan biaya logistik.

Antrean truk yang akan membeli solar subsidi di SPBU Nagreg mengular hingga ke jalan raya, Kamis (30/4/2026) siang. (Sumber: Facebook/Radio Elshinta 90FM)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 08:19

Kebijakan Kriminal dan Kriminalisasi Kebijakan

Kebijakan yang telah ditetapkan dan kemudian diimplementasikannya, dalam prakteknya tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Ilustrasi penjara. (Sumber: Pexels | Foto: Xiaoyi)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 18:51

Tiga Dekade Kepergian Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien lahir dengan nama Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah di Jateng, wilayah Kadipaten Mangkunegaran, Surakarta, 23 Agustus 1923.

Halaman depan berbagai surat kabar nasional yang memberitakan wafatnya Ibu Tien Soeharto pada akhir April 1996. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanunbary)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)