Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Jumat 08 Mei 2026, 19:32 WIB
Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)

Bandung selalu mengingatkanku tentang sebuah perjalanan juga pengorbanan yang pernah aku lakukan demi pendidikan tepatnya saat aku duduk di kelas 1 SMP. Mungkin jika pengalaman ini tidak pernah terjadi padaku maka belum tentu aku bisa sekuat hari ini.

Ini tentang cerita—tentang sebuah perjalanan panjang—perjalanan penuh duri menelisik tapi begitu banyak memberi pelajaran berharga dalam setiap langkahnya.

Saat kelas 1 SMP aku harus tinggal jauh dari ibu dan ikut ke rumah kaka pertamaku di daerah rancamanyar. Butuh banyak penyesuaian ketika hidup bersama kaka terlebih beliau sudah berkualarga dan memiliki satu anak untuk diurus dan dibiayai. Sejak kecil aku sadar bahwa kehidupanku telah berbeda. Sebagai anak bungsu aku tidak bisa lagi hidup dengan bermanja-manja di bawah ketiak orang tua. Aku harus belajar mandiri dengan mencuci baju dan bahkan membantu beres-beres rumah kakakku.

Masih aku ingat saat itu perjalanan dari rumah kakak menuju sekolahku cukup jauh kurang lebih 10 kilometer. Setiap hari aku harus menempuh menggunakan tiga angkot dan harus pergi sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan. Kakak memberiku uang Rp.10.000 cukup untuk ongkos pulang-pergi setiap hari. Aku selalu sadar diri dan tidak pernah meminta lebih untuk yang lain.

Hingga suatu hari saat jam istirahat—tidak seperti biasanya aroma dari kuali baso ikan pedagang kaki lima membuat indera penciumanku terangsang lalu berbuah pada perut yang keroncongan. Saat itu aku segera mengalihkan rasa lapar itu untuk segera melaksanakan shalat dhuha. Pikirku ketika waktuku dihabiskan berbincang dengan Tuhan maka tidak ada lagi jeda bagiku untuk memikirkan rasa lapar.

Namun ternyata pemikiran itu tidak sepenuhnya benar karena saat aku hendak menggunakan Sepatu selepas shalat dhuha—aku melihat pemandangan teman-temanku berkumpul ria sambil tertawa dengan menikmati baso ikan yang mereka pegang dalam plastik. Aku hanya bisa memandangnya jauh penuh harap tapi kembali aku sadar diri bahwa aku tidak boleh iri dengan kebahagiaan yang orang lain rasakan.

Perjalananku yang cukup jauh menuju rumah seringkali memaksaku untuk melamun—memikirkan banyak hal untuk menghilangkah kejenuhan. Terlintas dikepalaku suatu ide atau jalan keluar agar aku bisa memiliki kesempatan yang sama untuk jajan baso ikan di lapangan saat jam istirahat. Entah apa yang aku pikirkan—yang jelas aku berinisiatif untuk jalan kaki agar uang ongkos bisa digunakan untuk membeli baso ikan. Awalnya aku hanya jalan kaki untuk melewati satu trayek tapi lambat-laun akum akin tergiur dengan uang Rp.10.000 yang bisa banyak dibelikan hal-hal lainnya jika aku tidak menggunakan angkot dari pergi hingga pulang sekolah.

Awalnya aku menikmati perjalanan itu demi baso ikan dan menabung uang Rp.10.000. Tanpa rasa takut aku pergi pagi hari setelah shalat subuh menyusuri jalan sepi dipinggir sungai Citarum. Tanpa ada rasa takut bertemu hantu atau orang jahat—aku tetap pergi dan pulang dengan penuh semangat. Sepanjang perjalananku ada beberapa orang yang sepertinya iba melihatku berjalan dan mereka selalu menawariku untuk menumpang pada kendaraan pribadinya. Namun tak semua ajakan aku ambil—aku cukup pemilih untuk melihat karakter manusia berdasarkan kedalaman intuisiku.

 Satu setengah tahun aku menjalani aktivitas jalan kaki pulang-pergi menuju sekolah. Sepatu menjadi saksi betapa semangatnya aku saat remaja. Meski hujan datang aku selalu berjalan dengan penuh keceriaan. Air menelisik melalui celah sepatuku yang semakin menipis sol sepatunya. Panasnya aspal dimusim kemarau aku anggap sebagai terapi pada kakiku agar terus kuat.

Namun aku menyadari bahwa manusia tidak luput dari ketidaksempurnaan. Begitu pun dengan aku—sekuat aku selalu mensugesti ke dalam jiwa tapi aku juga manusia biasanya yang bisa lelah dan menyerah untuk sesekali saat badai besar datang menerjang.

Puncaknya saat itu hujan datang dan aku jalan kaki seperti biasa. Tak terasa sekitar 30 menit lagi aku akan sampai menuju rumah. Namun di tengah hujan ada angkot 08 yang dulu berwarna merah sedang membawa anak-anak seusiaku dari sekolah tetangga yang aku kenal. Supir menawariku untuk naik angkot karena katanya jalan yang biasa aku lalui banjir. Sedikit ragu saat intuisiku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan hati. Namun karena saat itu kakiku lelah—aku berusaha tidak menghiraukan suara hati.

Kupikir saat itu aku bersama anak-anak sekolah lain dan tidak sendirian. Tak ku sangka ditengah jalan anak-anak lain turun dan aku tinggal berdua dengan sopir tersebut di jalan yang sepi. Dadaku dibuat berdebar saat sang supir memintaku duduk di depan. Aku menolak dengan alasan bajuku basah terkena hujan. Supir tetap memaksa dan aku pun tetap enggan. Mobil melaju dan supir terus memandangiku dari ujung spion kaca. Ingin rasanya saat itu aku segera berlari tapi aku tidak tau jalan pintas yang aku lewati sudah berada dimana—aku tidak mengenali jalan tersebut.

Hingga saat supir sudah bertanya menuju hal-hal yang tidak sepatutnya diucapkan. Aku berteriak dan meminta berhenti. Beruntungnya supir menuruti perintahku—meski kelihatan pemberani sebetulnya aku ingin menangis karena takut sesuatu buruk terjadi padaku. Aku tidak mau berakhir menjadi manusia yang sia-sia—masih banyak mimpiku—masih banyak yang ingin aku gapai di dunia ini—pikirku kelu saat itu.

Alhamdulillah Allah masih melindungiku dari orang-orang yang memiliki niat jahat. Meski disepanjang jalan aku menangis tersedu—sampai rumah aku tidak bercerita apapun kepada kakakku. Bahkan aku beralasan terjatuh sehingga aku menangis.

Hari yang semakin berat karena sepatu yang menopangku berjalan kian tidak layak—melukai kulitku hingga berdarah dan meradang. Dari sana aku mulai mempertanyakan “Kenapa Tuhan memberikan hidup yang berat padaku—kenapa Tuhan membiarkan manusia yang berusaha tetap tidak mendapatkan perubahan—bukankah janji Tuhan “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelumnya ia mengubah dirinya sendiri”, aku yang merasa sudah berusaha dan bertekad berubah tapi tak kunjung mendapatkan perbaikan dalam hidup.

Pertanyaan itu selalu melintas saat ada ujian lain yang datang padaku. Tak ku sangka jenjang SMK hingga kuliah di tahun 2022 aku masih harus berjalan kaki menuju sekolah atau kampus jika tidak memiliki uang. Terlebih jika dihadapkan dengan permasalahan teman yang toxic, teman yang membully—rasanya kehidupan semakin berat.

Aku selalu menengadah menuju langit dan menjerit dalam hati “Tuhan sampai kapan aku begini“ tapi semakin aku berteriak tekanan dan ujian semakin berat aku rasakan. Hingga akhirnya aku mulai memahami maksud dan tujuan dari Allah untuk setiap takdir yang aku harus jalani.

Meski harus melalui proses yang panjang untuk mendapatkan manisnya buah tapi aku bersyukur hari ini aku bisa berdiri di tempat yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat remaja. Ternyata aku bisa membuktikan kepada diri sendiri bahwa “Pendidikan adalah salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan struktural”.

Lewat sepatu berlubang yang selalu aku kenakan meski dengan sedikit rasa malu yang menyelinap ketika semua orang memandang ke arahku—aku bangga bisa bertahan sejauh ini. Tidak hanya Tuhan dan semesta yang tau perjuanganku untuk keluar dari kemiskinan menuju masa depan yang lebih baik. Bandung juga pasti bangga bahwa aku sebagai salah satu warganya bisa bertahan sejauh ini. Semoga Bandung pun aku menjadi saksi selanjutnya—jika dulu aku berhasil memperjuangkan hidupku dan nasibku untuk menjadi lebih baik. Semoga mulai hari ini aku bisa menjadi warganya yang bisa memperjuangkan Bandung ke arah yang lebih baik lagi. Salah satunya melalui bersuara lewat tulisan—meski terlihat sederhana tapi aku yakin bahwa tulisan itu seperti peluru—dia mampu mempengaruhi pemikiran seseorang—menggerakan emosi—mengubah perilaku pembaca—serta menjadi warisan ilmu yang abadi untuk generasi yang akan mendatang.

Untuk sipapun mari terus berjuang—meski lelah tapi yakinlah kau akan menemukan buah manis setelahnya. Seperti sepatu berlubang yang bisa mengukir masa depan. Begitu pun dengan setiap cerita dan jalan takdir yang kalian miliki.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 14:44

5 Wisata Pilihan di Pangandaran: dari Pantai, Hutan hingga Sungai

Rekomendasi wisata Pangandaran dari pantai hingga ngarai sungai. Lengkap dengan jam buka, harga tiket, dan aktivitas.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels)
Linimasa 07 Mei 2026, 14:43

Sampah Plastik dan Kebiasaan Penggunaan Kemasan Daging Kurban

Penggunaan kantong plastik saat pembagian daging kurban dinilai memperparah masalah sampah di Bandung Raya.

Penggunaan besek saat Iduladha sebagai alternatif kantong plastik untuk daging kurban. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 08:17

Memahami Aturan Penulisan Angka dan Bilangan dalam Bahasa Indonesia (EYD V)

Mari memahami aturan penulisan angka dan bilangan.

Ilustrasi angka. (Sumber: Pexels | Foto: Black ice)