Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)

Bandung selalu mengingatkanku tentang sebuah perjalanan juga pengorbanan yang pernah aku lakukan demi pendidikan tepatnya saat aku duduk di kelas 1 SMP. Mungkin jika pengalaman ini tidak pernah terjadi padaku maka belum tentu aku bisa sekuat hari ini.

Ini tentang cerita—tentang sebuah perjalanan panjang—perjalanan penuh duri menelisik tapi begitu banyak memberi pelajaran berharga dalam setiap langkahnya.

Saat kelas 1 SMP aku harus tinggal jauh dari ibu dan ikut ke rumah kaka pertamaku di daerah rancamanyar. Butuh banyak penyesuaian ketika hidup bersama kaka terlebih beliau sudah berkualarga dan memiliki satu anak untuk diurus dan dibiayai. Sejak kecil aku sadar bahwa kehidupanku telah berbeda. Sebagai anak bungsu aku tidak bisa lagi hidup dengan bermanja-manja di bawah ketiak orang tua. Aku harus belajar mandiri dengan mencuci baju dan bahkan membantu beres-beres rumah kakakku.

Masih aku ingat saat itu perjalanan dari rumah kakak menuju sekolahku cukup jauh kurang lebih 10 kilometer. Setiap hari aku harus menempuh menggunakan tiga angkot dan harus pergi sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan. Kakak memberiku uang Rp.10.000 cukup untuk ongkos pulang-pergi setiap hari. Aku selalu sadar diri dan tidak pernah meminta lebih untuk yang lain.

Hingga suatu hari saat jam istirahat—tidak seperti biasanya aroma dari kuali baso ikan pedagang kaki lima membuat indera penciumanku terangsang lalu berbuah pada perut yang keroncongan. Saat itu aku segera mengalihkan rasa lapar itu untuk segera melaksanakan shalat dhuha. Pikirku ketika waktuku dihabiskan berbincang dengan Tuhan maka tidak ada lagi jeda bagiku untuk memikirkan rasa lapar.

Namun ternyata pemikiran itu tidak sepenuhnya benar karena saat aku hendak menggunakan Sepatu selepas shalat dhuha—aku melihat pemandangan teman-temanku berkumpul ria sambil tertawa dengan menikmati baso ikan yang mereka pegang dalam plastik. Aku hanya bisa memandangnya jauh penuh harap tapi kembali aku sadar diri bahwa aku tidak boleh iri dengan kebahagiaan yang orang lain rasakan.

Perjalananku yang cukup jauh menuju rumah seringkali memaksaku untuk melamun—memikirkan banyak hal untuk menghilangkah kejenuhan. Terlintas dikepalaku suatu ide atau jalan keluar agar aku bisa memiliki kesempatan yang sama untuk jajan baso ikan di lapangan saat jam istirahat. Entah apa yang aku pikirkan—yang jelas aku berinisiatif untuk jalan kaki agar uang ongkos bisa digunakan untuk membeli baso ikan. Awalnya aku hanya jalan kaki untuk melewati satu trayek tapi lambat-laun akum akin tergiur dengan uang Rp.10.000 yang bisa banyak dibelikan hal-hal lainnya jika aku tidak menggunakan angkot dari pergi hingga pulang sekolah.

Awalnya aku menikmati perjalanan itu demi baso ikan dan menabung uang Rp.10.000. Tanpa rasa takut aku pergi pagi hari setelah shalat subuh menyusuri jalan sepi dipinggir sungai Citarum. Tanpa ada rasa takut bertemu hantu atau orang jahat—aku tetap pergi dan pulang dengan penuh semangat. Sepanjang perjalananku ada beberapa orang yang sepertinya iba melihatku berjalan dan mereka selalu menawariku untuk menumpang pada kendaraan pribadinya. Namun tak semua ajakan aku ambil—aku cukup pemilih untuk melihat karakter manusia berdasarkan kedalaman intuisiku.

 Satu setengah tahun aku menjalani aktivitas jalan kaki pulang-pergi menuju sekolah. Sepatu menjadi saksi betapa semangatnya aku saat remaja. Meski hujan datang aku selalu berjalan dengan penuh keceriaan. Air menelisik melalui celah sepatuku yang semakin menipis sol sepatunya. Panasnya aspal dimusim kemarau aku anggap sebagai terapi pada kakiku agar terus kuat.

Namun aku menyadari bahwa manusia tidak luput dari ketidaksempurnaan. Begitu pun dengan aku—sekuat aku selalu mensugesti ke dalam jiwa tapi aku juga manusia biasanya yang bisa lelah dan menyerah untuk sesekali saat badai besar datang menerjang.

Puncaknya saat itu hujan datang dan aku jalan kaki seperti biasa. Tak terasa sekitar 30 menit lagi aku akan sampai menuju rumah. Namun di tengah hujan ada angkot 08 yang dulu berwarna merah sedang membawa anak-anak seusiaku dari sekolah tetangga yang aku kenal. Supir menawariku untuk naik angkot karena katanya jalan yang biasa aku lalui banjir. Sedikit ragu saat intuisiku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan hati. Namun karena saat itu kakiku lelah—aku berusaha tidak menghiraukan suara hati.

Kupikir saat itu aku bersama anak-anak sekolah lain dan tidak sendirian. Tak ku sangka ditengah jalan anak-anak lain turun dan aku tinggal berdua dengan sopir tersebut di jalan yang sepi. Dadaku dibuat berdebar saat sang supir memintaku duduk di depan. Aku menolak dengan alasan bajuku basah terkena hujan. Supir tetap memaksa dan aku pun tetap enggan. Mobil melaju dan supir terus memandangiku dari ujung spion kaca. Ingin rasanya saat itu aku segera berlari tapi aku tidak tau jalan pintas yang aku lewati sudah berada dimana—aku tidak mengenali jalan tersebut.

Hingga saat supir sudah bertanya menuju hal-hal yang tidak sepatutnya diucapkan. Aku berteriak dan meminta berhenti. Beruntungnya supir menuruti perintahku—meski kelihatan pemberani sebetulnya aku ingin menangis karena takut sesuatu buruk terjadi padaku. Aku tidak mau berakhir menjadi manusia yang sia-sia—masih banyak mimpiku—masih banyak yang ingin aku gapai di dunia ini—pikirku kelu saat itu.

Alhamdulillah Allah masih melindungiku dari orang-orang yang memiliki niat jahat. Meski disepanjang jalan aku menangis tersedu—sampai rumah aku tidak bercerita apapun kepada kakakku. Bahkan aku beralasan terjatuh sehingga aku menangis.

Hari yang semakin berat karena sepatu yang menopangku berjalan kian tidak layak—melukai kulitku hingga berdarah dan meradang. Dari sana aku mulai mempertanyakan “Kenapa Tuhan memberikan hidup yang berat padaku—kenapa Tuhan membiarkan manusia yang berusaha tetap tidak mendapatkan perubahan—bukankah janji Tuhan “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelumnya ia mengubah dirinya sendiri”, aku yang merasa sudah berusaha dan bertekad berubah tapi tak kunjung mendapatkan perbaikan dalam hidup.

Pertanyaan itu selalu melintas saat ada ujian lain yang datang padaku. Tak ku sangka jenjang SMK hingga kuliah di tahun 2022 aku masih harus berjalan kaki menuju sekolah atau kampus jika tidak memiliki uang. Terlebih jika dihadapkan dengan permasalahan teman yang toxic, teman yang membully—rasanya kehidupan semakin berat.

Aku selalu menengadah menuju langit dan menjerit dalam hati “Tuhan sampai kapan aku begini“ tapi semakin aku berteriak tekanan dan ujian semakin berat aku rasakan. Hingga akhirnya aku mulai memahami maksud dan tujuan dari Allah untuk setiap takdir yang aku harus jalani.

Meski harus melalui proses yang panjang untuk mendapatkan manisnya buah tapi aku bersyukur hari ini aku bisa berdiri di tempat yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat remaja. Ternyata aku bisa membuktikan kepada diri sendiri bahwa “Pendidikan adalah salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan struktural”.

Lewat sepatu berlubang yang selalu aku kenakan meski dengan sedikit rasa malu yang menyelinap ketika semua orang memandang ke arahku—aku bangga bisa bertahan sejauh ini. Tidak hanya Tuhan dan semesta yang tau perjuanganku untuk keluar dari kemiskinan menuju masa depan yang lebih baik. Bandung juga pasti bangga bahwa aku sebagai salah satu warganya bisa bertahan sejauh ini. Semoga Bandung pun aku menjadi saksi selanjutnya—jika dulu aku berhasil memperjuangkan hidupku dan nasibku untuk menjadi lebih baik. Semoga mulai hari ini aku bisa menjadi warganya yang bisa memperjuangkan Bandung ke arah yang lebih baik lagi. Salah satunya melalui bersuara lewat tulisan—meski terlihat sederhana tapi aku yakin bahwa tulisan itu seperti peluru—dia mampu mempengaruhi pemikiran seseorang—menggerakan emosi—mengubah perilaku pembaca—serta menjadi warisan ilmu yang abadi untuk generasi yang akan mendatang.

Untuk sipapun mari terus berjuang—meski lelah tapi yakinlah kau akan menemukan buah manis setelahnya. Seperti sepatu berlubang yang bisa mengukir masa depan. Begitu pun dengan setiap cerita dan jalan takdir yang kalian miliki.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)