Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Jumat 08 Mei 2026, 19:32 WIB
Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)

Bandung selalu mengingatkanku tentang sebuah perjalanan juga pengorbanan yang pernah aku lakukan demi pendidikan tepatnya saat aku duduk di kelas 1 SMP. Mungkin jika pengalaman ini tidak pernah terjadi padaku maka belum tentu aku bisa sekuat hari ini.

Ini tentang cerita—tentang sebuah perjalanan panjang—perjalanan penuh duri menelisik tapi begitu banyak memberi pelajaran berharga dalam setiap langkahnya.

Saat kelas 1 SMP aku harus tinggal jauh dari ibu dan ikut ke rumah kaka pertamaku di daerah rancamanyar. Butuh banyak penyesuaian ketika hidup bersama kaka terlebih beliau sudah berkualarga dan memiliki satu anak untuk diurus dan dibiayai. Sejak kecil aku sadar bahwa kehidupanku telah berbeda. Sebagai anak bungsu aku tidak bisa lagi hidup dengan bermanja-manja di bawah ketiak orang tua. Aku harus belajar mandiri dengan mencuci baju dan bahkan membantu beres-beres rumah kakakku.

Masih aku ingat saat itu perjalanan dari rumah kakak menuju sekolahku cukup jauh kurang lebih 10 kilometer. Setiap hari aku harus menempuh menggunakan tiga angkot dan harus pergi sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan. Kakak memberiku uang Rp.10.000 cukup untuk ongkos pulang-pergi setiap hari. Aku selalu sadar diri dan tidak pernah meminta lebih untuk yang lain.

Hingga suatu hari saat jam istirahat—tidak seperti biasanya aroma dari kuali baso ikan pedagang kaki lima membuat indera penciumanku terangsang lalu berbuah pada perut yang keroncongan. Saat itu aku segera mengalihkan rasa lapar itu untuk segera melaksanakan shalat dhuha. Pikirku ketika waktuku dihabiskan berbincang dengan Tuhan maka tidak ada lagi jeda bagiku untuk memikirkan rasa lapar.

Namun ternyata pemikiran itu tidak sepenuhnya benar karena saat aku hendak menggunakan Sepatu selepas shalat dhuha—aku melihat pemandangan teman-temanku berkumpul ria sambil tertawa dengan menikmati baso ikan yang mereka pegang dalam plastik. Aku hanya bisa memandangnya jauh penuh harap tapi kembali aku sadar diri bahwa aku tidak boleh iri dengan kebahagiaan yang orang lain rasakan.

Perjalananku yang cukup jauh menuju rumah seringkali memaksaku untuk melamun—memikirkan banyak hal untuk menghilangkah kejenuhan. Terlintas dikepalaku suatu ide atau jalan keluar agar aku bisa memiliki kesempatan yang sama untuk jajan baso ikan di lapangan saat jam istirahat. Entah apa yang aku pikirkan—yang jelas aku berinisiatif untuk jalan kaki agar uang ongkos bisa digunakan untuk membeli baso ikan. Awalnya aku hanya jalan kaki untuk melewati satu trayek tapi lambat-laun akum akin tergiur dengan uang Rp.10.000 yang bisa banyak dibelikan hal-hal lainnya jika aku tidak menggunakan angkot dari pergi hingga pulang sekolah.

Awalnya aku menikmati perjalanan itu demi baso ikan dan menabung uang Rp.10.000. Tanpa rasa takut aku pergi pagi hari setelah shalat subuh menyusuri jalan sepi dipinggir sungai Citarum. Tanpa ada rasa takut bertemu hantu atau orang jahat—aku tetap pergi dan pulang dengan penuh semangat. Sepanjang perjalananku ada beberapa orang yang sepertinya iba melihatku berjalan dan mereka selalu menawariku untuk menumpang pada kendaraan pribadinya. Namun tak semua ajakan aku ambil—aku cukup pemilih untuk melihat karakter manusia berdasarkan kedalaman intuisiku.

 Satu setengah tahun aku menjalani aktivitas jalan kaki pulang-pergi menuju sekolah. Sepatu menjadi saksi betapa semangatnya aku saat remaja. Meski hujan datang aku selalu berjalan dengan penuh keceriaan. Air menelisik melalui celah sepatuku yang semakin menipis sol sepatunya. Panasnya aspal dimusim kemarau aku anggap sebagai terapi pada kakiku agar terus kuat.

Namun aku menyadari bahwa manusia tidak luput dari ketidaksempurnaan. Begitu pun dengan aku—sekuat aku selalu mensugesti ke dalam jiwa tapi aku juga manusia biasanya yang bisa lelah dan menyerah untuk sesekali saat badai besar datang menerjang.

Puncaknya saat itu hujan datang dan aku jalan kaki seperti biasa. Tak terasa sekitar 30 menit lagi aku akan sampai menuju rumah. Namun di tengah hujan ada angkot 08 yang dulu berwarna merah sedang membawa anak-anak seusiaku dari sekolah tetangga yang aku kenal. Supir menawariku untuk naik angkot karena katanya jalan yang biasa aku lalui banjir. Sedikit ragu saat intuisiku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan hati. Namun karena saat itu kakiku lelah—aku berusaha tidak menghiraukan suara hati.

Kupikir saat itu aku bersama anak-anak sekolah lain dan tidak sendirian. Tak ku sangka ditengah jalan anak-anak lain turun dan aku tinggal berdua dengan sopir tersebut di jalan yang sepi. Dadaku dibuat berdebar saat sang supir memintaku duduk di depan. Aku menolak dengan alasan bajuku basah terkena hujan. Supir tetap memaksa dan aku pun tetap enggan. Mobil melaju dan supir terus memandangiku dari ujung spion kaca. Ingin rasanya saat itu aku segera berlari tapi aku tidak tau jalan pintas yang aku lewati sudah berada dimana—aku tidak mengenali jalan tersebut.

Hingga saat supir sudah bertanya menuju hal-hal yang tidak sepatutnya diucapkan. Aku berteriak dan meminta berhenti. Beruntungnya supir menuruti perintahku—meski kelihatan pemberani sebetulnya aku ingin menangis karena takut sesuatu buruk terjadi padaku. Aku tidak mau berakhir menjadi manusia yang sia-sia—masih banyak mimpiku—masih banyak yang ingin aku gapai di dunia ini—pikirku kelu saat itu.

Alhamdulillah Allah masih melindungiku dari orang-orang yang memiliki niat jahat. Meski disepanjang jalan aku menangis tersedu—sampai rumah aku tidak bercerita apapun kepada kakakku. Bahkan aku beralasan terjatuh sehingga aku menangis.

Hari yang semakin berat karena sepatu yang menopangku berjalan kian tidak layak—melukai kulitku hingga berdarah dan meradang. Dari sana aku mulai mempertanyakan “Kenapa Tuhan memberikan hidup yang berat padaku—kenapa Tuhan membiarkan manusia yang berusaha tetap tidak mendapatkan perubahan—bukankah janji Tuhan “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelumnya ia mengubah dirinya sendiri”, aku yang merasa sudah berusaha dan bertekad berubah tapi tak kunjung mendapatkan perbaikan dalam hidup.

Pertanyaan itu selalu melintas saat ada ujian lain yang datang padaku. Tak ku sangka jenjang SMK hingga kuliah di tahun 2022 aku masih harus berjalan kaki menuju sekolah atau kampus jika tidak memiliki uang. Terlebih jika dihadapkan dengan permasalahan teman yang toxic, teman yang membully—rasanya kehidupan semakin berat.

Aku selalu menengadah menuju langit dan menjerit dalam hati “Tuhan sampai kapan aku begini“ tapi semakin aku berteriak tekanan dan ujian semakin berat aku rasakan. Hingga akhirnya aku mulai memahami maksud dan tujuan dari Allah untuk setiap takdir yang aku harus jalani.

Meski harus melalui proses yang panjang untuk mendapatkan manisnya buah tapi aku bersyukur hari ini aku bisa berdiri di tempat yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat remaja. Ternyata aku bisa membuktikan kepada diri sendiri bahwa “Pendidikan adalah salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan struktural”.

Lewat sepatu berlubang yang selalu aku kenakan meski dengan sedikit rasa malu yang menyelinap ketika semua orang memandang ke arahku—aku bangga bisa bertahan sejauh ini. Tidak hanya Tuhan dan semesta yang tau perjuanganku untuk keluar dari kemiskinan menuju masa depan yang lebih baik. Bandung juga pasti bangga bahwa aku sebagai salah satu warganya bisa bertahan sejauh ini. Semoga Bandung pun aku menjadi saksi selanjutnya—jika dulu aku berhasil memperjuangkan hidupku dan nasibku untuk menjadi lebih baik. Semoga mulai hari ini aku bisa menjadi warganya yang bisa memperjuangkan Bandung ke arah yang lebih baik lagi. Salah satunya melalui bersuara lewat tulisan—meski terlihat sederhana tapi aku yakin bahwa tulisan itu seperti peluru—dia mampu mempengaruhi pemikiran seseorang—menggerakan emosi—mengubah perilaku pembaca—serta menjadi warisan ilmu yang abadi untuk generasi yang akan mendatang.

Untuk sipapun mari terus berjuang—meski lelah tapi yakinlah kau akan menemukan buah manis setelahnya. Seperti sepatu berlubang yang bisa mengukir masa depan. Begitu pun dengan setiap cerita dan jalan takdir yang kalian miliki.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)