Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID Baru-baru ini saya dan kawan-kawan menonton film yang berjudul “Dilan ITB 1997”. Lalu saya dan beberapa teman tersebut harus gagal fokus karena latar rumah-rumah di film tersebut adalah rumah-rumah lama. Ingataku kembali terbang ke Lembang tahun 90-an, di mana saat itu kondisinya pun hampir sama dengan film tersebut, masih banyak sekali rumah-rumah lama, baik itu rumah-rumah yang dibangun pada era kolonial atau rumah-rumah bergaya jengki yang tren di era pasca kemerdekaan.

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”. Setiap pagi yang terdengar adalah suara langkah kuda-kuda dari andong yang lalu-lalang. Jumlah mereka puluhan, mungkin lebih dari 30 andong yang terparkir rapi di Pasar Panorama Lembang. Andong-andong tersebut beroperasi sedari subuh hingga Ba’da Magrib. Masih dapat saya ingat waktu itu, tarif untuk naik andong hanyalah 250 Rupiah/orangnya, dan satu andong memuat maksimal 5 orang, sehingga untuk sekali narik, sang kusir mendapatkan 1000 Rupiah. Terakhir kali saya sering menaiki andong adalah ketika bersekolah menjadi siswa SMAN 1 Lembang, yang letaknya agak jauh di timur (dekat Sespim Polri), saat saya SMA di tahun 2000, tarif andong per orangnya menjadi 500 Rupiah.

Sekarang, andong adalah transportasi langka di Lembang, hanya sisa kurang-lebih 5 andong saja, dan mereka telah tergerus transportasi lainnya yang lebih mobile. Andong-andong yang tinggal sisa 5 tersebut sekarang sering terlihat di perempatan Jalan Raya Lembang dan Jalan Maribaya saja, dan tarif untuk satu penumpangnya telah mencapai 10 ribu/orangnya. Saya pernah mewawancarai salah satu kusir yang masih sangat setia dengan profesinya, ia mengatakan bahwa profesi ini telah diturunkan sang kakek dan dia sangat mencintai pekerjaannya walau terkadang ia tidak memiliki penghasilan tetap. Untuk mengakalinya sang kusir akhirnya bekerja serabutan juga di kebun-kebun pertanian milik orang-orang luar Lembang (kebanyakan dari ibu kota, warga Lembang hanya sebagai buruhnya saja).

Suara-suara andong yang khas di masa kecil dan remaja saya, sekarang adalah barang langka, yang mungkin lama kelamaan akan punah tergerus zaman. Namun, heningnya Lembang tak tergantikan, keheningan tersebut sudah benar-benar hilang dari Lembang. suara knalpot, bus telolet dan moge-moge yang menguasai jalanan di setiap akhir pekan adalah harga mati yang tidak akan bisa kami tolak sebagai warga.

Ironi sekali, di masa kolonial Belanda, Lembang adalah kawasan yang menjadi obat bagi para pesakitan, baik itu sakit pikiran ataupun memang mengidap sebuah penyakit. Lembang dengan heningnya menawarkan obat yang sangat berkhasiat, setiap udara yang dihirup adalah pil-pil penenang yang manjur. Namun, bisa kita saksikan sekarang, obat itu kini telah hilang, berganti dengan pil-pil pahit penuh racun yang mau tak mau harus kami telan setiap harinya.

Salah satu hal yang paling saya ingat dengan Lembang masa 90-an adalah ketika Minggu pagi. Kami warga Lembang akan berolahraga menuju bukit kecil di timur komplek Sesko AU. Sebuah bukit yang menyuguhkan pemandangan indah, kami warga Lembang menyebut bukit tersebut dengan Gunung Payung. Mungkin untuk Gen Z Lembang, tidak akan familiar dengan sebutan Gunung Payung atau Gupay, karena sekarang kawasan ini telah bersalin rupa menjadi area kuliner yang menjamur hingga kawasan Punclut (Puncak Ciumbuleuit).

Setiap Minggu pagi warga berjalan santai atau berlari untuk mencapai Gunung Payung, yang di bagian puncaknya terdapat patung naga putih besar. Di puncak itupun akan ada seorang penjual susu murni dan tutut yang dijajakan dengan sangat sederhana. Yang menjadi pemandangan paling sempurna saat itu adalah walau kami warga jajan di sana, dan banyak sekali yang melakukan aktivitas pagi di sana, namun, tak ada satu pun sampah yang berserakan.

Berbeda dengan keadaan sekarang, kawasan Sesko AU tersebut di Minggu pagi menjadi kawasan pasar kaget skala besar, bahkan para penjualnya banyak yang bukan berasal dari Lembang. para warga, baik itu yang berjualan ataupun pembeli akan menyisakan sampah yang sangat banyak, hal ini terlihat di jam-jam ketika pasar kaget sudah selesai, sepanjang mata memandang dari awal kawasan Sesko AU hingga Gunung Payung adalah sampah-sampah sisa aktivitas mingguan.

Apa yang salah? Mengapa kebiasaan dahulu yang dimiliki warga Lembang telah menghilang? Atau mereka telah lupa betapa indahnya dahulu kawasan untuk Minggu pagi kita? Mereka lebih konsentrasi pada barang-barang yang dijajakan di pasar kaget dibandingkan untuk berolahraga dan melihat keindahan alam, mungkin ini yang melatarbelakanginya. Hingga masa-masa Minggu pagi di tahun 90-an itu hanya akan menjadi kenangan indah saja.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)

Apabila liburan sekolah tiba, kami akan menghabiskan waktu di Situ Umar. Sebuah tempat pemancingan dan danau yang indah. Saya masih sangat ingat di 1994, saya masih bisa menemukan rumput Lembang, rumput yang menjadi toponimi kawasan Lembang yang saya temukan di jurnal Belanda. Rumput Lembang tumbuh subur di sisi situ, banyak sekali kupu-kupu, bahkan kunang-kunang ketika menjelang magrib.

Pada akhir 2012, Situ Umar berubah menjadi kawasan wisata selfie pertama di Lembang, dan mengubah wajah situ 180 derajat. Hingga dimulailah pertumbuhan satu- demi satu wisata selfie di Lembang dan lahirlah kemacetan setiap akhir pekan dan libur panjang, banjir yang selalu datang di setiap musim penghujan yang sekarang mengubah wajah Lembang seutuhnya. Keheningan, kabut dan kedamaian, semua hilang berganti dengan deru zaman yang tidak berpihak dengan Lembang. Bahkan salah satu ikon tempat titirah Lembang sejak masa kolonial yaitu kawasan Grand Hotel Lembang, kini telah merubah wajahnya menjadi pusat otomotif terbesar dan wisata berskala besar.

Debu, deru, gerah, adalah pemandangan Lembang hari ini. Betapa rindunya saya pada Lembang era 90-an, akankah kembali? Bahkan mungkin apabila saya berkesempatan untuk pindah domisili ke tempat yang lebih tenang, akan saya lakukan itu.

Ketika saya melakukan riset sejarah Lembang dari 2009 hingga 2022, banyak narasumber saya pun yang sangat menyayangkan perubahan yang terjadi, kami semua sepakat bahwa Lembang telah kehilangan jati dirinya terlalu jauh. Mata-mata para narasumber tersebut menerawang ke masa-masa Lembang sedang cantik-cantiknya dan begitu nyata terlihat kekecewaan yang besar dalam hati mereka untuk perubahan yang terjadi.

Akankah keheningan itu kembali? Atau hanya sebatas kenangan yang akan saya kisahkan dalam tulisan saja? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 16:04

Trotoar, PKL, dan Keadilan Ruang Kota

Kebutuhan trotoar, PKL yang tertata dan berkelanjutan hingga adanya keadilan ruang kota.

Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 15:11

Optimasi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Kendaraan Listrik

Audit teknologi tidak hanya terkait dengan transfer teknologi namun juga bertujuan untuk memperluas lapangan kerja yang layak secara berkesinambungan.

Ilustrasi kendaraan listrik. (Sumber: Pexels | Foto: Mad Knoxx)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:55

Kegagalan Penataan Kota, Menumbuhkan Tata Jalanan

Di balik semrawutnya Pasar Cicadas, membuat PKL terpaksa menutup akses toko. Namun justru memunculkan simbiosis sebagai jalan tengah keduanya tetap hidup.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:37

Fenomena Live Shopping, Mengapa Mahasiswa Sulit Menahan Godaan Belanja?

Menilik fenomena live shopping dari sudut pandang mahasiswa. Mengapa diskon temporal dan live shopping begitu adiktif hingga memicu gaya hidup konsumtif?

ilustrasi live shopping. (Sumber: gemini)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 12:26

World Cup TVRI

Selain tahun ini, TVRI pernah melakukannya pada tahun 1970.

Bola Piala Dunia 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: UKinUSA)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 11:51

Panduan Wisata Kota Lama Semarang: Riwayat Jejak Kolonial di Jantung Kota Pelabuhan

Kota Lama Semarang menawarkan pengalaman berjalan kaki di antara bangunan kolonial, museum, galeri seni, dan kuliner legendaris Jawa Tengah.

Kota Lama Semarang. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 11:40

Jejak Keemasan Majalah Vista

Jejak Keemasan Majalah Vista: Menelusuri Dunia Hiburan Era 1980-90-an

Pebulutangkis nasional Hastomo Arbi menghiasi sampul depan Majalah Vista edisi Juni 1985. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 10:48

Menelisik Bisnis Jastip Fashion, Antara Peluang Ekonomi dan Celah Kebocoran Pajak

Jastip fashion membuka peluang ekonomi, tetapi berisiko menimbulkan kebocoran pajak jika tidak diatur.

Ilustrasi jastip fashion. (Sumber: gemini.ai | Foto: gemini.ai)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 09:50

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu

Ritual Upacara Ngeurtakeun Bumi Lamba di Tangkuban Parahu adalah upacara adat Sunda untuk menjaga harmoni manusia dan alam, sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas budaya.

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu. (Sumber: Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 08:06

Menelusuri Jejak Selabintana, Hotel Tua di Sukabumi dari Masa Kolonial

Sekilas sejarah mengenai Hotel Selabintana, hotel legendaris dari masa kolonial yang masih bertahan hingga masa kini

Hotel Selabintana sekitar Tahun 1928 (Foto: Sumber: Digital Collection KITLV Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.
Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)