Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Kamis 07 Mei 2026, 19:59 WIB
Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID Baru-baru ini saya dan kawan-kawan menonton film yang berjudul “Dilan ITB 1997”. Lalu saya dan beberapa teman tersebut harus gagal fokus karena latar rumah-rumah di film tersebut adalah rumah-rumah lama. Ingataku kembali terbang ke Lembang tahun 90-an, di mana saat itu kondisinya pun hampir sama dengan film tersebut, masih banyak sekali rumah-rumah lama, baik itu rumah-rumah yang dibangun pada era kolonial atau rumah-rumah bergaya jengki yang tren di era pasca kemerdekaan.

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”. Setiap pagi yang terdengar adalah suara langkah kuda-kuda dari andong yang lalu-lalang. Jumlah mereka puluhan, mungkin lebih dari 30 andong yang terparkir rapi di Pasar Panorama Lembang. Andong-andong tersebut beroperasi sedari subuh hingga Ba’da Magrib. Masih dapat saya ingat waktu itu, tarif untuk naik andong hanyalah 250 Rupiah/orangnya, dan satu andong memuat maksimal 5 orang, sehingga untuk sekali narik, sang kusir mendapatkan 1000 Rupiah. Terakhir kali saya sering menaiki andong adalah ketika bersekolah menjadi siswa SMAN 1 Lembang, yang letaknya agak jauh di timur (dekat Sespim Polri), saat saya SMA di tahun 2000, tarif andong per orangnya menjadi 500 Rupiah.

Sekarang, andong adalah transportasi langka di Lembang, hanya sisa kurang-lebih 5 andong saja, dan mereka telah tergerus transportasi lainnya yang lebih mobile. Andong-andong yang tinggal sisa 5 tersebut sekarang sering terlihat di perempatan Jalan Raya Lembang dan Jalan Maribaya saja, dan tarif untuk satu penumpangnya telah mencapai 10 ribu/orangnya. Saya pernah mewawancarai salah satu kusir yang masih sangat setia dengan profesinya, ia mengatakan bahwa profesi ini telah diturunkan sang kakek dan dia sangat mencintai pekerjaannya walau terkadang ia tidak memiliki penghasilan tetap. Untuk mengakalinya sang kusir akhirnya bekerja serabutan juga di kebun-kebun pertanian milik orang-orang luar Lembang (kebanyakan dari ibu kota, warga Lembang hanya sebagai buruhnya saja).

Suara-suara andong yang khas di masa kecil dan remaja saya, sekarang adalah barang langka, yang mungkin lama kelamaan akan punah tergerus zaman. Namun, heningnya Lembang tak tergantikan, keheningan tersebut sudah benar-benar hilang dari Lembang. suara knalpot, bus telolet dan moge-moge yang menguasai jalanan di setiap akhir pekan adalah harga mati yang tidak akan bisa kami tolak sebagai warga.

Ironi sekali, di masa kolonial Belanda, Lembang adalah kawasan yang menjadi obat bagi para pesakitan, baik itu sakit pikiran ataupun memang mengidap sebuah penyakit. Lembang dengan heningnya menawarkan obat yang sangat berkhasiat, setiap udara yang dihirup adalah pil-pil penenang yang manjur. Namun, bisa kita saksikan sekarang, obat itu kini telah hilang, berganti dengan pil-pil pahit penuh racun yang mau tak mau harus kami telan setiap harinya.

Salah satu hal yang paling saya ingat dengan Lembang masa 90-an adalah ketika Minggu pagi. Kami warga Lembang akan berolahraga menuju bukit kecil di timur komplek Sesko AU. Sebuah bukit yang menyuguhkan pemandangan indah, kami warga Lembang menyebut bukit tersebut dengan Gunung Payung. Mungkin untuk Gen Z Lembang, tidak akan familiar dengan sebutan Gunung Payung atau Gupay, karena sekarang kawasan ini telah bersalin rupa menjadi area kuliner yang menjamur hingga kawasan Punclut (Puncak Ciumbuleuit).

Setiap Minggu pagi warga berjalan santai atau berlari untuk mencapai Gunung Payung, yang di bagian puncaknya terdapat patung naga putih besar. Di puncak itupun akan ada seorang penjual susu murni dan tutut yang dijajakan dengan sangat sederhana. Yang menjadi pemandangan paling sempurna saat itu adalah walau kami warga jajan di sana, dan banyak sekali yang melakukan aktivitas pagi di sana, namun, tak ada satu pun sampah yang berserakan.

Berbeda dengan keadaan sekarang, kawasan Sesko AU tersebut di Minggu pagi menjadi kawasan pasar kaget skala besar, bahkan para penjualnya banyak yang bukan berasal dari Lembang. para warga, baik itu yang berjualan ataupun pembeli akan menyisakan sampah yang sangat banyak, hal ini terlihat di jam-jam ketika pasar kaget sudah selesai, sepanjang mata memandang dari awal kawasan Sesko AU hingga Gunung Payung adalah sampah-sampah sisa aktivitas mingguan.

Apa yang salah? Mengapa kebiasaan dahulu yang dimiliki warga Lembang telah menghilang? Atau mereka telah lupa betapa indahnya dahulu kawasan untuk Minggu pagi kita? Mereka lebih konsentrasi pada barang-barang yang dijajakan di pasar kaget dibandingkan untuk berolahraga dan melihat keindahan alam, mungkin ini yang melatarbelakanginya. Hingga masa-masa Minggu pagi di tahun 90-an itu hanya akan menjadi kenangan indah saja.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)

Apabila liburan sekolah tiba, kami akan menghabiskan waktu di Situ Umar. Sebuah tempat pemancingan dan danau yang indah. Saya masih sangat ingat di 1994, saya masih bisa menemukan rumput Lembang, rumput yang menjadi toponimi kawasan Lembang yang saya temukan di jurnal Belanda. Rumput Lembang tumbuh subur di sisi situ, banyak sekali kupu-kupu, bahkan kunang-kunang ketika menjelang magrib.

Pada akhir 2012, Situ Umar berubah menjadi kawasan wisata selfie pertama di Lembang, dan mengubah wajah situ 180 derajat. Hingga dimulailah pertumbuhan satu- demi satu wisata selfie di Lembang dan lahirlah kemacetan setiap akhir pekan dan libur panjang, banjir yang selalu datang di setiap musim penghujan yang sekarang mengubah wajah Lembang seutuhnya. Keheningan, kabut dan kedamaian, semua hilang berganti dengan deru zaman yang tidak berpihak dengan Lembang. Bahkan salah satu ikon tempat titirah Lembang sejak masa kolonial yaitu kawasan Grand Hotel Lembang, kini telah merubah wajahnya menjadi pusat otomotif terbesar dan wisata berskala besar.

Debu, deru, gerah, adalah pemandangan Lembang hari ini. Betapa rindunya saya pada Lembang era 90-an, akankah kembali? Bahkan mungkin apabila saya berkesempatan untuk pindah domisili ke tempat yang lebih tenang, akan saya lakukan itu.

Ketika saya melakukan riset sejarah Lembang dari 2009 hingga 2022, banyak narasumber saya pun yang sangat menyayangkan perubahan yang terjadi, kami semua sepakat bahwa Lembang telah kehilangan jati dirinya terlalu jauh. Mata-mata para narasumber tersebut menerawang ke masa-masa Lembang sedang cantik-cantiknya dan begitu nyata terlihat kekecewaan yang besar dalam hati mereka untuk perubahan yang terjadi.

Akankah keheningan itu kembali? Atau hanya sebatas kenangan yang akan saya kisahkan dalam tulisan saja? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 14:44

5 Wisata Pilihan di Pangandaran: dari Pantai, Hutan hingga Sungai

Rekomendasi wisata Pangandaran dari pantai hingga ngarai sungai. Lengkap dengan jam buka, harga tiket, dan aktivitas.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels)
Linimasa 07 Mei 2026, 14:43

Sampah Plastik dan Kebiasaan Penggunaan Kemasan Daging Kurban

Penggunaan kantong plastik saat pembagian daging kurban dinilai memperparah masalah sampah di Bandung Raya.

Penggunaan besek saat Iduladha sebagai alternatif kantong plastik untuk daging kurban. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)