Menjelang Lebaran di Peternakan Tua Lembang 1930

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

Ketika saya memasuki masa meriset selama 12 tahun yaitu pada tahun 2009 hingga 2022, objek terlama yang saya dalami adalah kawasan perkebunan dan peternakan tua yang bernama Baroe Adjak, tidak tanggung–tanggung, saya mendalami kawasan ini hingga 8 tahun lamanya.

Karena minimnya literatur sejarah Lembang, maka saya memakai metode sejarah lisan dalam memperoleh data, ditambah dengan data–data penunjang lainnya seperti info di dalam situs – situs Belanda dan catatan – catatan yang tercecer. Untuk data Baroe Adjak ini saya menemukan sebuah skripsi tahun 1960 atas nama R.A. Masoem Prawira Winata dengan judul “  Masyarakat Buruh Perkebunan dan Peternakan Susu Baroe Adjak di Lembang, Bandung”. Ditambah lagi dengan data – data lisan para narasumber yang merupakan bekas pegawai Baroe Adjak pada pasca kemerdekaan hingga tahun 1970-an, yang kebanyakan dari para narasumber tersebut masih menyaksikan tuan De Biasi dan Pino Ursone dalam memimpin perusahaan.

Dari data lisan ditemukan  bahwa kawasan Baroe Adjak dahulunya merupakan kawasan padang rumput di utara Gunung Lembang (bukit Bosscha sekarang). Pada saat itu banyak dari para Mardijker yang memulai membuka lahan di sana. Mardijker sendiri adalah sebutan untuk kelompok bekas budak atau tawanan perang berkulit gelap dari wilayah jajahan Portugis (India, Melaka dan Srilangka) yang dibebaskan oleh VOC pada abad ke-17.  Mereka dijuluki Portugis Hitam dan menggunakan bahasa Kreol Portugis. Hingga kini masyarakat Portugis Hitam masih dapat ditemukan di kawasan kampung Tugu, Jakarta.

Para Portugis Hitam itu mengubah lahan yang asalnya dipenuhi dengan habitat anjing hutan yang oleh orang Sunda disebut dengan Ajag, sehingga kawasan tersebut pada abad ke-17 memiliki nama Baroe Adjak.

Singkat cerita pada perkembangannya kawasan Baroe Adjak ini bertransformasi menjadi kawasan perkebunan kina dan teh, hingga pada 1930-an menjadi peternakan terbesar se-Asia Tenggara dengan 6000 ekor sapi yang tersebar hingga ke kawasan utara Lembang.

Dalam skala peternakan sebesar itu, diperlukan 1.500 orang pegawai. Kesemuanya itu telah termasuk kedalam para pegawai harian yang tersebar di penjuru Lembang, pegawai mingguan dan bulanan atau pegawai tetap. Para pegawai tetap ini diberikan fasilitas rumah dinas yang beragam, sesuai dengan pangkat mereka masing–masing.  Kebanyakan para pegawai tersebut merupakan pegawai bulanan yang mengurus kandang hingga kebun sayuran dan mereka diberikan rumah bedeng yang terbuat dari kayu yang di cat hitam oleh cairan semacam aspal (cat emulsi). 

Ada puluhan bedeng yang memanjang di selatan peternakan. Bedeng–bedeng tersebut terdapat tiga tipe, ada tipe untuk kelas mandor yang memiliki 2 kamar dan dihuni satu keluarga, ada tipe kelas pekerja pengolahan pakan dan pengolahan susu yang menempati bedeng dengan ukuran lebih kecil disekat untuk dua keluarga, dan yang terakhir adalah bedeng untuk buruh pemelihara kandang ternak yang menempati bedeng terkecil dan disekat–sekat sehingga satu bedeng dapat dihuni tiga keluarga.

Pada waktu menjelang Lebaran di tahun 1930-an hingga 1960-an ( terkecuali masa pendudukan Jepang) pihak perusahaan memberikan beras tambahan bagi para pegawai dan akhirnya oleh para ibu, beras tersebut diolah menjadi tepung untuk dibuat penganan khas Lebaran).

Peternak Belanda sedang memerah susu sapi di Lembang tahun 1910-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Peternak Belanda sedang memerah susu sapi di Lembang tahun 1910-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

Selain itu pihak perusahaan juga menyediakan kain untuk setiap keluarga pegawai dan dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga, sehingga nantinya kain–kain tersebut akan dijahit untuk baju Lebaran para pegawai beserta keluarganya. Namun, apabila ada pegawai yang memiliki anak lebih dari 5, maka kain untuk sisa anggota keluarga tidak ditanggung perusahaan ( perusahaan hanya menanggung hingga 7 anggota keluarga ), sehingga menurut para narasumber mereka harus memutar otak dengan mencari kain perca lainnya untuk akhirnya disambungkan dengan sisa–sisa kain yang ada.

Pihak perusahaan juga menyediakan rumah ibadah bagi para seluruh pegawainya, hingga di kawasan Baroe Adjak terdapat beberapa rumah ibadah. Bekas gudang susu milik perusahaan dihibahkan kepada Keuskupan Bandung dan dijadikan kawasan biara Karmelit, hingga nantinya dapat digunakan pula oleh para pegawai Baroe Adjak yang beragama katolik untuk beribadah. Selain itu pihak Baroe Adjak pun membuat kapel untuk yang beragama Protestan (karena tuan-tuan Belanda saat itu di Lembang kebanyakan penganut Protestan) dan pihak perusahaan pun membuat sebuah masjid yang letaknya berdekat dengan bedeng–bedeng pegawai tersebut, sehingga ketika bulan puasa tiba mesjid yang disediakan tersebut sangat ramai dengan aktivitas ibadah.

Baca Juga: Lembang Tempo Dulu

Kawasan masjid di Baroe Adjak ini merupakan kawasan masjid kedua tertua setelah kawasan mesjid raya Lembang. Hingga kini masjid di Baroe Adjak tersebut masih berdiri dan masuk ke dalam wilayah pendidikan yang dahulu pun dirintis oleh para pegawai Baroe Adjak. Masjid asri itu kini bernama Masjid Al Musyawaroh dan hingga kini masih dipakai dan sepatutnya masuk sebagai cagar budaya Kabupaten Bandung Barat.

Ketika takbir berkumandang, kawasan Baroe Adjak menjadi ramai, para pekerja di bedeng melakukan pawai obor keliling peternakan, bahkan bergabung dengan warga Lembang lainnya berbaur satu dan pawai hingga kawasan alun–alun Lembang sambil terus mengumandangkan takbir. Hingga kini tradisi pawai obor di Lembang masih dilestarikan, biasanya dilakukan ketika akan memasuki bulan puasa, malam takbiran hingga tahun baru Islam. Sebuah tradisi yang awalnya muncul dari segelintir masyarakat peternakan tua dan masih lestari hingga kini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)