Ketika saya memasuki masa meriset selama 12 tahun yaitu pada tahun 2009 hingga 2022, objek terlama yang saya dalami adalah kawasan perkebunan dan peternakan tua yang bernama Baroe Adjak, tidak tanggung–tanggung, saya mendalami kawasan ini hingga 8 tahun lamanya.
Karena minimnya literatur sejarah Lembang, maka saya memakai metode sejarah lisan dalam memperoleh data, ditambah dengan data–data penunjang lainnya seperti info di dalam situs – situs Belanda dan catatan – catatan yang tercecer. Untuk data Baroe Adjak ini saya menemukan sebuah skripsi tahun 1960 atas nama R.A. Masoem Prawira Winata dengan judul “ Masyarakat Buruh Perkebunan dan Peternakan Susu Baroe Adjak di Lembang, Bandung”. Ditambah lagi dengan data – data lisan para narasumber yang merupakan bekas pegawai Baroe Adjak pada pasca kemerdekaan hingga tahun 1970-an, yang kebanyakan dari para narasumber tersebut masih menyaksikan tuan De Biasi dan Pino Ursone dalam memimpin perusahaan.
Dari data lisan ditemukan bahwa kawasan Baroe Adjak dahulunya merupakan kawasan padang rumput di utara Gunung Lembang (bukit Bosscha sekarang). Pada saat itu banyak dari para Mardijker yang memulai membuka lahan di sana. Mardijker sendiri adalah sebutan untuk kelompok bekas budak atau tawanan perang berkulit gelap dari wilayah jajahan Portugis (India, Melaka dan Srilangka) yang dibebaskan oleh VOC pada abad ke-17. Mereka dijuluki Portugis Hitam dan menggunakan bahasa Kreol Portugis. Hingga kini masyarakat Portugis Hitam masih dapat ditemukan di kawasan kampung Tugu, Jakarta.
Para Portugis Hitam itu mengubah lahan yang asalnya dipenuhi dengan habitat anjing hutan yang oleh orang Sunda disebut dengan Ajag, sehingga kawasan tersebut pada abad ke-17 memiliki nama Baroe Adjak.
Singkat cerita pada perkembangannya kawasan Baroe Adjak ini bertransformasi menjadi kawasan perkebunan kina dan teh, hingga pada 1930-an menjadi peternakan terbesar se-Asia Tenggara dengan 6000 ekor sapi yang tersebar hingga ke kawasan utara Lembang.
Dalam skala peternakan sebesar itu, diperlukan 1.500 orang pegawai. Kesemuanya itu telah termasuk kedalam para pegawai harian yang tersebar di penjuru Lembang, pegawai mingguan dan bulanan atau pegawai tetap. Para pegawai tetap ini diberikan fasilitas rumah dinas yang beragam, sesuai dengan pangkat mereka masing–masing. Kebanyakan para pegawai tersebut merupakan pegawai bulanan yang mengurus kandang hingga kebun sayuran dan mereka diberikan rumah bedeng yang terbuat dari kayu yang di cat hitam oleh cairan semacam aspal (cat emulsi).
Ada puluhan bedeng yang memanjang di selatan peternakan. Bedeng–bedeng tersebut terdapat tiga tipe, ada tipe untuk kelas mandor yang memiliki 2 kamar dan dihuni satu keluarga, ada tipe kelas pekerja pengolahan pakan dan pengolahan susu yang menempati bedeng dengan ukuran lebih kecil disekat untuk dua keluarga, dan yang terakhir adalah bedeng untuk buruh pemelihara kandang ternak yang menempati bedeng terkecil dan disekat–sekat sehingga satu bedeng dapat dihuni tiga keluarga.
Pada waktu menjelang Lebaran di tahun 1930-an hingga 1960-an ( terkecuali masa pendudukan Jepang) pihak perusahaan memberikan beras tambahan bagi para pegawai dan akhirnya oleh para ibu, beras tersebut diolah menjadi tepung untuk dibuat penganan khas Lebaran).

Selain itu pihak perusahaan juga menyediakan kain untuk setiap keluarga pegawai dan dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga, sehingga nantinya kain–kain tersebut akan dijahit untuk baju Lebaran para pegawai beserta keluarganya. Namun, apabila ada pegawai yang memiliki anak lebih dari 5, maka kain untuk sisa anggota keluarga tidak ditanggung perusahaan ( perusahaan hanya menanggung hingga 7 anggota keluarga ), sehingga menurut para narasumber mereka harus memutar otak dengan mencari kain perca lainnya untuk akhirnya disambungkan dengan sisa–sisa kain yang ada.
Pihak perusahaan juga menyediakan rumah ibadah bagi para seluruh pegawainya, hingga di kawasan Baroe Adjak terdapat beberapa rumah ibadah. Bekas gudang susu milik perusahaan dihibahkan kepada Keuskupan Bandung dan dijadikan kawasan biara Karmelit, hingga nantinya dapat digunakan pula oleh para pegawai Baroe Adjak yang beragama katolik untuk beribadah. Selain itu pihak Baroe Adjak pun membuat kapel untuk yang beragama Protestan (karena tuan-tuan Belanda saat itu di Lembang kebanyakan penganut Protestan) dan pihak perusahaan pun membuat sebuah masjid yang letaknya berdekat dengan bedeng–bedeng pegawai tersebut, sehingga ketika bulan puasa tiba mesjid yang disediakan tersebut sangat ramai dengan aktivitas ibadah.
Baca Juga: Lembang Tempo Dulu
Kawasan masjid di Baroe Adjak ini merupakan kawasan masjid kedua tertua setelah kawasan mesjid raya Lembang. Hingga kini masjid di Baroe Adjak tersebut masih berdiri dan masuk ke dalam wilayah pendidikan yang dahulu pun dirintis oleh para pegawai Baroe Adjak. Masjid asri itu kini bernama Masjid Al Musyawaroh dan hingga kini masih dipakai dan sepatutnya masuk sebagai cagar budaya Kabupaten Bandung Barat.
Ketika takbir berkumandang, kawasan Baroe Adjak menjadi ramai, para pekerja di bedeng melakukan pawai obor keliling peternakan, bahkan bergabung dengan warga Lembang lainnya berbaur satu dan pawai hingga kawasan alun–alun Lembang sambil terus mengumandangkan takbir. Hingga kini tradisi pawai obor di Lembang masih dilestarikan, biasanya dilakukan ketika akan memasuki bulan puasa, malam takbiran hingga tahun baru Islam. Sebuah tradisi yang awalnya muncul dari segelintir masyarakat peternakan tua dan masih lestari hingga kini. (*)
