Menjelang Lebaran di Peternakan Tua Lembang 1930

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Jumat 06 Mar 2026, 14:30 WIB
Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

Ketika saya memasuki masa meriset selama 12 tahun yaitu pada tahun 2009 hingga 2022, objek terlama yang saya dalami adalah kawasan perkebunan dan peternakan tua yang bernama Baroe Adjak, tidak tanggung–tanggung, saya mendalami kawasan ini hingga 8 tahun lamanya.

Karena minimnya literatur sejarah Lembang, maka saya memakai metode sejarah lisan dalam memperoleh data, ditambah dengan data–data penunjang lainnya seperti info di dalam situs – situs Belanda dan catatan – catatan yang tercecer. Untuk data Baroe Adjak ini saya menemukan sebuah skripsi tahun 1960 atas nama R.A. Masoem Prawira Winata dengan judul “  Masyarakat Buruh Perkebunan dan Peternakan Susu Baroe Adjak di Lembang, Bandung”. Ditambah lagi dengan data – data lisan para narasumber yang merupakan bekas pegawai Baroe Adjak pada pasca kemerdekaan hingga tahun 1970-an, yang kebanyakan dari para narasumber tersebut masih menyaksikan tuan De Biasi dan Pino Ursone dalam memimpin perusahaan.

Dari data lisan ditemukan  bahwa kawasan Baroe Adjak dahulunya merupakan kawasan padang rumput di utara Gunung Lembang (bukit Bosscha sekarang). Pada saat itu banyak dari para Mardijker yang memulai membuka lahan di sana. Mardijker sendiri adalah sebutan untuk kelompok bekas budak atau tawanan perang berkulit gelap dari wilayah jajahan Portugis (India, Melaka dan Srilangka) yang dibebaskan oleh VOC pada abad ke-17.  Mereka dijuluki Portugis Hitam dan menggunakan bahasa Kreol Portugis. Hingga kini masyarakat Portugis Hitam masih dapat ditemukan di kawasan kampung Tugu, Jakarta.

Para Portugis Hitam itu mengubah lahan yang asalnya dipenuhi dengan habitat anjing hutan yang oleh orang Sunda disebut dengan Ajag, sehingga kawasan tersebut pada abad ke-17 memiliki nama Baroe Adjak.

Singkat cerita pada perkembangannya kawasan Baroe Adjak ini bertransformasi menjadi kawasan perkebunan kina dan teh, hingga pada 1930-an menjadi peternakan terbesar se-Asia Tenggara dengan 6000 ekor sapi yang tersebar hingga ke kawasan utara Lembang.

Dalam skala peternakan sebesar itu, diperlukan 1.500 orang pegawai. Kesemuanya itu telah termasuk kedalam para pegawai harian yang tersebar di penjuru Lembang, pegawai mingguan dan bulanan atau pegawai tetap. Para pegawai tetap ini diberikan fasilitas rumah dinas yang beragam, sesuai dengan pangkat mereka masing–masing.  Kebanyakan para pegawai tersebut merupakan pegawai bulanan yang mengurus kandang hingga kebun sayuran dan mereka diberikan rumah bedeng yang terbuat dari kayu yang di cat hitam oleh cairan semacam aspal (cat emulsi). 

Ada puluhan bedeng yang memanjang di selatan peternakan. Bedeng–bedeng tersebut terdapat tiga tipe, ada tipe untuk kelas mandor yang memiliki 2 kamar dan dihuni satu keluarga, ada tipe kelas pekerja pengolahan pakan dan pengolahan susu yang menempati bedeng dengan ukuran lebih kecil disekat untuk dua keluarga, dan yang terakhir adalah bedeng untuk buruh pemelihara kandang ternak yang menempati bedeng terkecil dan disekat–sekat sehingga satu bedeng dapat dihuni tiga keluarga.

Pada waktu menjelang Lebaran di tahun 1930-an hingga 1960-an ( terkecuali masa pendudukan Jepang) pihak perusahaan memberikan beras tambahan bagi para pegawai dan akhirnya oleh para ibu, beras tersebut diolah menjadi tepung untuk dibuat penganan khas Lebaran).

Peternak Belanda sedang memerah susu sapi di Lembang tahun 1910-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Peternak Belanda sedang memerah susu sapi di Lembang tahun 1910-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

Selain itu pihak perusahaan juga menyediakan kain untuk setiap keluarga pegawai dan dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga, sehingga nantinya kain–kain tersebut akan dijahit untuk baju Lebaran para pegawai beserta keluarganya. Namun, apabila ada pegawai yang memiliki anak lebih dari 5, maka kain untuk sisa anggota keluarga tidak ditanggung perusahaan ( perusahaan hanya menanggung hingga 7 anggota keluarga ), sehingga menurut para narasumber mereka harus memutar otak dengan mencari kain perca lainnya untuk akhirnya disambungkan dengan sisa–sisa kain yang ada.

Pihak perusahaan juga menyediakan rumah ibadah bagi para seluruh pegawainya, hingga di kawasan Baroe Adjak terdapat beberapa rumah ibadah. Bekas gudang susu milik perusahaan dihibahkan kepada Keuskupan Bandung dan dijadikan kawasan biara Karmelit, hingga nantinya dapat digunakan pula oleh para pegawai Baroe Adjak yang beragama katolik untuk beribadah. Selain itu pihak Baroe Adjak pun membuat kapel untuk yang beragama Protestan (karena tuan-tuan Belanda saat itu di Lembang kebanyakan penganut Protestan) dan pihak perusahaan pun membuat sebuah masjid yang letaknya berdekat dengan bedeng–bedeng pegawai tersebut, sehingga ketika bulan puasa tiba mesjid yang disediakan tersebut sangat ramai dengan aktivitas ibadah.

Baca Juga: Lembang Tempo Dulu

Kawasan masjid di Baroe Adjak ini merupakan kawasan masjid kedua tertua setelah kawasan mesjid raya Lembang. Hingga kini masjid di Baroe Adjak tersebut masih berdiri dan masuk ke dalam wilayah pendidikan yang dahulu pun dirintis oleh para pegawai Baroe Adjak. Masjid asri itu kini bernama Masjid Al Musyawaroh dan hingga kini masih dipakai dan sepatutnya masuk sebagai cagar budaya Kabupaten Bandung Barat.

Ketika takbir berkumandang, kawasan Baroe Adjak menjadi ramai, para pekerja di bedeng melakukan pawai obor keliling peternakan, bahkan bergabung dengan warga Lembang lainnya berbaur satu dan pawai hingga kawasan alun–alun Lembang sambil terus mengumandangkan takbir. Hingga kini tradisi pawai obor di Lembang masih dilestarikan, biasanya dilakukan ketika akan memasuki bulan puasa, malam takbiran hingga tahun baru Islam. Sebuah tradisi yang awalnya muncul dari segelintir masyarakat peternakan tua dan masih lestari hingga kini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)