AYOBANDUNG.ID - Matahari baru saja menampakkan sinarnya di ufuk timur Lembang ketika Yadi Mulyadi (36) mulai berkutat dengan aroma khas jerami dan uap susu segar. Di sebuah kandang sederhana, ia dengan terampil mengurus sapi ternaknya—sebuah kegiatan yang telah menjadi sumber penghidupannya selama bertahun-tahun. Namun, di saku celananya, ponsel pintar terus bergetar, menyuguhkan informasi tentang kemacetan di Setiabudi, kecelakaan di Parongpong, hingga laporan “akamsi” yang kehilangan barang atau pertanyaan dari wisatawan yang hendak berkunjung ke Lembang.
Yadi adalah seorang peternak sapi perah. Namun, bagi lebih dari 26 ribu pengikut di dunia maya, ia dikenal sebagai “Google Berjalan” di balik akun Instagram @infolembang_update, sebuah akun homeless media yang kini menjadi salah satu sumber utama informasi di wilayah Bandung Utara.
Baca Juga: Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

Kisah Bermula dari Kecelakaan yang Viral
Semua ini bermula dari sebuah kejadian yang tidak direncanakan. Dua tahun lalu, Yadi hanyalah pengguna media sosial biasa. Namun, satu video yang ia unggah tentang kecelakaan lalu lintas di depan HokBen Setiabudi mengubah segalanya. Video tersebut meledak dan ditonton lebih dari 16 juta kali.
“Awalnya akun pribadi. Tapi waktu update kecelakaan itu lumayan viral. Follower otomatis naik jadi 10 ribu. Dari situ saya pikir, ya sudah, diseriusin saja,” kenang Yadi antusias.
Tujuan Yadi sebenarnya sederhana: memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat Lembang. Ia menyadari bahwa di era digital, kecepatan informasi menjadi kebutuhan utama. Hampir semua orang memiliki ponsel, dan semua ingin mengetahui peristiwa di sekitar mereka secara langsung.
Memanfaatkan Waktu di Antara Mengurus Ternak
Mengelola media secara mandiri di tengah kesibukan sebagai peternak bukanlah hal mudah. Yadi harus pandai membagi waktu. Sejak pagi hingga siang, ia fokus mengurus ternak. Jika ada informasi mendesak, ia akan turun langsung ke lapangan. Di sela waktu senggang, ia beralih peran menjadi editor, kurator, sekaligus reporter.
“Saya curi-curi waktu. Pagi fokus peternakan sampai siang. Sore balik lagi ke kandang. Makanya manajemen kontennya masih belum stabil, karena benar-benar dikelola sendiri,” ujarnya.
Selama dua tahun terakhir, @infolembang_update memiliki lima akun media sosial aktif, yakni Instagram, TikTok, Facebook, Threads, dan YouTube. Namun, karena keterbatasan waktu dan tenaga, Yadi lebih fokus mengunggah konten di Instagram, TikTok, dan Facebook.
Konten yang ia sajikan pun beragam, mulai dari berita kriminal, informasi kehilangan, lowongan pekerjaan, hingga promosi UMKM lokal. Karena keterbatasan sumber daya, Yadi kerap menggunakan sistem mirroring dengan membagikan berita dari media lain, termasuk Ayo Bandung, dengan tetap mencantumkan sumber.
Meski begitu, ia memiliki prinsip kuat dalam menjaga kredibilitas. Setiap laporan yang masuk melalui pesan langsung selalu ia verifikasi terlebih dahulu.
“Sekarang saya pasti menemui orang yang bersangkutan, cari informasinya, pastikan kebenarannya, baru saya edit dan unggah,” tegasnya.
Baca Juga: Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Tekanan dan Rintangan Pengelola Homeless Media
Menjadi pengelola media lokal tidak selalu menyenangkan. Yadi pernah mengalami intimidasi. Salah satu pengalaman yang paling ia ingat terjadi ketika ia mengunggah video lama tentang keributan di sebuah warung yang melibatkan pihak tertentu. Setelah itu, teror melalui pesan langsung hingga ancaman fisik sempat menghantui ponselnya.
“Pernah diintimidasi, diteror lewat DM. Akhirnya saya sadar diri dan menghapus videonya, karena merasa masih pemula,” ceritanya.
Selain intimidasi, statusnya sebagai pengelola media tanpa badan hukum resmi sering membuatnya dipandang sebelah mata di lapangan. Ia pernah mengalami kesulitan akses saat hendak meliput bencana longsor di Cisarua. Pengalaman itu membuatnya berharap ada wadah resmi yang dapat memberikan perlindungan, keamanan, dan legitimasi bagi pengelola media masyarakat seperti dirinya.
Harapan Kecil di Balik Layar
Kini, @infolembang_update mulai memasuki ranah finansial. Dari yang semula sekadar hobi, Yadi kini telah menetapkan tarif iklan. Ia menerapkan sistem subsidi silang. Untuk usaha mikro dan kecil, ia mematok tarif sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000. Sementara untuk perusahaan besar, biayanya jauh lebih tinggi.
“Penghasilan dari iklan itu sebenarnya cuma buat kuota dan ongkos. Belum bisa buat gaji tim,” tuturnya.
Meski demikian, Yadi menyimpan harapan besar. Ia bercita-cita memiliki tim lapangan dan editor sendiri agar informasi dari Lembang dapat disebarkan lebih cepat dan akurat. Ia juga berharap pemerintah daerah suatu saat mau melirik dan bekerja sama dengan media lokal seperti miliknya, karena merekalah yang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.
