Polemik Tambang Galian C, Gerus Perbukitan Bandung Setiap Tahun

4 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Galian C menjadi masalah yang belum sepenuhnya terselesaikan di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung. Keberadaannya kerap menimbulkan masalah, baik secara ekologis maupun bencana.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mencatat terdapat banyak galian C yang mengancam ekologi di wilayah Kabupaten Bandung, mulai dari Nagreg hingga Margaasih. Banyak tambang di kawasan tersebut dinilai mengancam lingkungan.

"Di daerah yang terdapat galian C terjadi degradasi perbukitan," ujar Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin.

Baca Juga: Sejarah Panjang Freeport Indonesia, Tambang Emas Raksasa Pusara Kontroversi

Perbukitan yang ditambang lambat laun hilang karena diubah menjadi rupiah. Tanah, pasir, dan batuan dari perbukitan tersebut menjadi sumber bahan baku untuk kebutuhan pembangunan perumahan, baik di kawasan Bandung Raya maupun Jawa Barat.

Tanah-tanah dari bukit menjadi bahan pengurugan lahan yang akan digunakan sebagai kompleks perumahan. Begitu pula batu dan pasir yang menjadi bahan utama pembangunan beton dan tembok.

Dalam catatan yang dirangkum Walhi, setidaknya 15 hingga 20 hektare perbukitan hilang setiap tahunnya karena aktivitas tambang. Padahal, perbukitan tersebut merupakan kawasan imbuhan air.

"Itu hanya di kawasan Kabupaten Bandung. Belum termasuk di seluruh Jawa Barat," katanya.

Jumlah perbukitan atau area imbuhan air yang hilang di Jawa Barat sudah barang tentu luasnya mencapai ratusan hektare setiap tahunnya.

Padahal, perbukitan tersebut menjadi kawasan serapan air yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Berkurangnya area perbukitan juga memicu emisi karbon yang membuat cuaca menjadi lebih panas.

Baca Juga: DPRD Bandung Barat Pasang Badan untuk Tambang, Logika Ekonomi Pinggirkan Ekologi

"Kondisi ini juga memperparah potensi banjir, karena material tanah yang terbawa air akan membuat sedimentasi di sungai lebih cepat," ungkapnya.

Kerap Dikeluhkan Masyarakat

Keberadaan galian C juga kerap dikeluhkan warga sekitar. Seperti warga di RW 17, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Di area tersebut terdapat sebuah tambang yang dikelola oleh PT GLA.

Ketua RW setempat mengatakan, adanya tambang di desa tersebut membuat warga kerap mendapat masalah, terutama kebisingan.

"Kebisingan selalu dikeluhkan warga, apalagi ini tambang batu yang menggunakan alat berat," katanya.

Suara batu yang dipecahkan oleh alat berat setiap hari jelas terdengar warga. Begitu pula debu yang lebih banyak dibanding sebelum ada tambang di RW tersebut.

Baca Juga: Sejarah Padalarang dari Gua Pawon ke Rel Kolonial, hingga Industrialisasi dan Tambang Zaman Kiwari

Warga sendiri mendapat kompensasi berupa aliran dana rutin setiap bulan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur dan posyandu bagi masyarakat sekitar.

"Memang banyak warga yang memprotes, tapi tidak sedikit juga yang mendapat pekerjaan dari tambang tersebut," katanya.

Perizinan yang Kerap Bermasalah

Tidak hanya memberi banyak dampak negatif, tidak sedikit galian C yang beroperasi tanpa izin resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dalam hal ini, Walhi mencatat setidaknya ada 170 izin usaha tambang di Jawa Barat yang kedaluwarsa namun masih tetap beroperasi. Akan tetapi, pemerintah seolah melakukan pembiaran.

"Belum ada tindakan tegas terhadap perusahaan tambang yang izinnya telah kedaluwarsa tapi masih beroperasi," kata Wahyudin.

Baca Juga: Jadi Zona Lindung Utama KBU, Rentetan Banjir dan Longsor Timpa Lembang dalam Sepekan

Beberapa tindakan yang dilakukan hanya menyasar kasus yang viral, seperti sebuah tambang di Kecamatan Margaasih yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa berbuat banyak karena tambang yang berada di Desa Lagadar tersebut memiliki izin.

"Izin kami lengkap dan sedang memasuki pengajuan perpanjangan kedua," ucap Kurniawan, perwakilan PT GLA.

Ihwal dampak yang ditimbulkan, pihaknya mengklaim telah melakukan berbagai mitigasi berupa jarak aman serta pembagian zonasi (trek) yang memisahkan area operasional dengan wilayah tinggal warga.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung, M. Akhiri Hailuki, mengatakan masalah perizinan galian C merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Akan tetapi, apabila perizinannya bermasalah, dia berharap pemerintah provinsi melakukan tindakan tegas.

"Termasuk apabila aktivitas galian C tersebut memberi dampak negatif kepada masyarakat, lebih baik cabut saja izinnya," ucap Hailuki.

Baca Juga: Bencana Longsor Cisarua, Tragedi Kelabu di Hulu KBU

Butuh Mitigasi

Keberadaan galian C yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan besar menjadikan pemerintah harus segera melakukan mitigasi sejak sekarang.

Dalam hal ini, seluruh lapisan pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap tanggung jawab perusahaan tambang. Pemerintah harus mengawasi secara ketat pelaksanaan reklamasi oleh perusahaan tambang.

"Pemerintah daerah juga jangan berlindung dari keterbatasan wewenang. Pemerintah kabupaten memiliki hak otonomi untuk memberikan rekomendasi izin baru. Harus juga melakukan pengawasan reklamasi yang banyak diabaikan oleh perusahaan tambang," kata Wahyudin.

Hal ini terutama harus dilakukan di daerah rawan bencana seperti Kabupaten Bandung. Mitigasi bencana, baik longsor, banjir, maupun banjir bandang yang berisiko tinggi akibat aktivitas tambang, harus ditingkatkan kembali agar masyarakat tidak terkena dampak negatif.

Baca Juga: Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

"Ketegasan pemerintah bisa mencegah bencana lebih besar di kemudian hari. Memang sekarang belum terjadi bencana, tapi kalau tidak ada upaya reklamasi, bukan tidak mungkin bekas tambang menimbulkan masalah besar yang berisiko mengancam nyawa," katanya.

Wahyudin mengakui keberadaan galian C juga memberi dampak positif bagi pemerintah, baik melalui pajak, bea perizinan, maupun dampak ekonomi bagi masyarakat. Akan tetapi, ada hal lain yang harus dipikirkan, terutama ancaman jangka panjang berupa kerusakan lingkungan yang juga bisa menimbulkan kerugian besar akibat bencana yang ditimbulkan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)