Official Persib Logo
1933
1933

Polemik Tambang Galian C, Gerus Perbukitan Bandung Setiap Tahun

Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan Jumat 06 Feb 2026, 21:11 WIB
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)

Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Galian C menjadi masalah yang belum sepenuhnya terselesaikan di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung. Keberadaannya kerap menimbulkan masalah, baik secara ekologis maupun bencana.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mencatat terdapat banyak galian C yang mengancam ekologi di wilayah Kabupaten Bandung, mulai dari Nagreg hingga Margaasih. Banyak tambang di kawasan tersebut dinilai mengancam lingkungan.

"Di daerah yang terdapat galian C terjadi degradasi perbukitan," ujar Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin.

Baca Juga: Sejarah Panjang Freeport Indonesia, Tambang Emas Raksasa Pusara Kontroversi

Perbukitan yang ditambang lambat laun hilang karena diubah menjadi rupiah. Tanah, pasir, dan batuan dari perbukitan tersebut menjadi sumber bahan baku untuk kebutuhan pembangunan perumahan, baik di kawasan Bandung Raya maupun Jawa Barat.

Tanah-tanah dari bukit menjadi bahan pengurugan lahan yang akan digunakan sebagai kompleks perumahan. Begitu pula batu dan pasir yang menjadi bahan utama pembangunan beton dan tembok.

Dalam catatan yang dirangkum Walhi, setidaknya 15 hingga 20 hektare perbukitan hilang setiap tahunnya karena aktivitas tambang. Padahal, perbukitan tersebut merupakan kawasan imbuhan air.

"Itu hanya di kawasan Kabupaten Bandung. Belum termasuk di seluruh Jawa Barat," katanya.

Jumlah perbukitan atau area imbuhan air yang hilang di Jawa Barat sudah barang tentu luasnya mencapai ratusan hektare setiap tahunnya.

Padahal, perbukitan tersebut menjadi kawasan serapan air yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Berkurangnya area perbukitan juga memicu emisi karbon yang membuat cuaca menjadi lebih panas.

Baca Juga: DPRD Bandung Barat Pasang Badan untuk Tambang, Logika Ekonomi Pinggirkan Ekologi

"Kondisi ini juga memperparah potensi banjir, karena material tanah yang terbawa air akan membuat sedimentasi di sungai lebih cepat," ungkapnya.

Kerap Dikeluhkan Masyarakat

Keberadaan galian C juga kerap dikeluhkan warga sekitar. Seperti warga di RW 17, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Di area tersebut terdapat sebuah tambang yang dikelola oleh PT GLA.

Ketua RW setempat mengatakan, adanya tambang di desa tersebut membuat warga kerap mendapat masalah, terutama kebisingan.

"Kebisingan selalu dikeluhkan warga, apalagi ini tambang batu yang menggunakan alat berat," katanya.

Suara batu yang dipecahkan oleh alat berat setiap hari jelas terdengar warga. Begitu pula debu yang lebih banyak dibanding sebelum ada tambang di RW tersebut.

Baca Juga: Sejarah Padalarang dari Gua Pawon ke Rel Kolonial, hingga Industrialisasi dan Tambang Zaman Kiwari

Warga sendiri mendapat kompensasi berupa aliran dana rutin setiap bulan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur dan posyandu bagi masyarakat sekitar.

"Memang banyak warga yang memprotes, tapi tidak sedikit juga yang mendapat pekerjaan dari tambang tersebut," katanya.

Perizinan yang Kerap Bermasalah

Tidak hanya memberi banyak dampak negatif, tidak sedikit galian C yang beroperasi tanpa izin resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dalam hal ini, Walhi mencatat setidaknya ada 170 izin usaha tambang di Jawa Barat yang kedaluwarsa namun masih tetap beroperasi. Akan tetapi, pemerintah seolah melakukan pembiaran.

"Belum ada tindakan tegas terhadap perusahaan tambang yang izinnya telah kedaluwarsa tapi masih beroperasi," kata Wahyudin.

Baca Juga: Jadi Zona Lindung Utama KBU, Rentetan Banjir dan Longsor Timpa Lembang dalam Sepekan

Beberapa tindakan yang dilakukan hanya menyasar kasus yang viral, seperti sebuah tambang di Kecamatan Margaasih yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa berbuat banyak karena tambang yang berada di Desa Lagadar tersebut memiliki izin.

"Izin kami lengkap dan sedang memasuki pengajuan perpanjangan kedua," ucap Kurniawan, perwakilan PT GLA.

Ihwal dampak yang ditimbulkan, pihaknya mengklaim telah melakukan berbagai mitigasi berupa jarak aman serta pembagian zonasi (trek) yang memisahkan area operasional dengan wilayah tinggal warga.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung, M. Akhiri Hailuki, mengatakan masalah perizinan galian C merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Akan tetapi, apabila perizinannya bermasalah, dia berharap pemerintah provinsi melakukan tindakan tegas.

"Termasuk apabila aktivitas galian C tersebut memberi dampak negatif kepada masyarakat, lebih baik cabut saja izinnya," ucap Hailuki.

Baca Juga: Bencana Longsor Cisarua, Tragedi Kelabu di Hulu KBU

Butuh Mitigasi

Keberadaan galian C yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan besar menjadikan pemerintah harus segera melakukan mitigasi sejak sekarang.

Dalam hal ini, seluruh lapisan pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap tanggung jawab perusahaan tambang. Pemerintah harus mengawasi secara ketat pelaksanaan reklamasi oleh perusahaan tambang.

"Pemerintah daerah juga jangan berlindung dari keterbatasan wewenang. Pemerintah kabupaten memiliki hak otonomi untuk memberikan rekomendasi izin baru. Harus juga melakukan pengawasan reklamasi yang banyak diabaikan oleh perusahaan tambang," kata Wahyudin.

Hal ini terutama harus dilakukan di daerah rawan bencana seperti Kabupaten Bandung. Mitigasi bencana, baik longsor, banjir, maupun banjir bandang yang berisiko tinggi akibat aktivitas tambang, harus ditingkatkan kembali agar masyarakat tidak terkena dampak negatif.

Baca Juga: Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

"Ketegasan pemerintah bisa mencegah bencana lebih besar di kemudian hari. Memang sekarang belum terjadi bencana, tapi kalau tidak ada upaya reklamasi, bukan tidak mungkin bekas tambang menimbulkan masalah besar yang berisiko mengancam nyawa," katanya.

Wahyudin mengakui keberadaan galian C juga memberi dampak positif bagi pemerintah, baik melalui pajak, bea perizinan, maupun dampak ekonomi bagi masyarakat. Akan tetapi, ada hal lain yang harus dipikirkan, terutama ancaman jangka panjang berupa kerusakan lingkungan yang juga bisa menimbulkan kerugian besar akibat bencana yang ditimbulkan.

News Update

Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)