Jejak Tentara Bayaran Rusia dari Indonesia, Kisah Para Desertir di Bawah Komando Kremlin

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 06 Feb 2026, 13:48 WIB
Muhammad Rio (tengah), mantan polisi Indonesia yang menjadi tentara bayaran di Rusia berfoto bersama kesatuannya.

Muhammad Rio (tengah), mantan polisi Indonesia yang menjadi tentara bayaran di Rusia berfoto bersama kesatuannya.

AYOBANDUNG.ID - Perang Rusia-Ukraina adalah perang yang jauh dari Indonesia. Jaraknya ribuan kilometer, iklimnya dingin, bahasanya asing, dan kepentingannya tidak pernah tercantum dalam pidato kenegaraan di Istana. Namun perang ini, seperti magnet raksasa, tetap mampu menarik orang orang dari negeri tropis untuk ikut terjerumus ke dalam pusaran peluru, parit lumpur, dan drone kamikaze. Dua di antaranya adalah warga negara Indonesia sendiri.

Sosok Satria Arta Kumbara dan Muhammad Rio mendadak muncul ke permukaan bukan karena prestasi militer, melainkan karena pilihan hidup yang ganjil sekaligus berisiko. Mereka bukan tentara yang dikirim negara, bukan pula relawan kemanusiaan. Mereka datang atas nama pribadi, membawa beban masing masing, lalu masuk ke salah satu konflik paling brutal abad ini.

Indonesia, yang sejak lama membanggakan politik luar negeri bebas aktif, mendadak dihadapkan pada kenyataan bahwa warganya ikut berperang di medan yang sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan nasional. Kisah ini bukan soal geopolitik tingkat tinggi, melainkan soal manusia biasa dengan seragam, utang, ambisi, dan keputusan yang berujung panjang.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Satria Arta Kumbara adalah tokoh pertama yang membuka tabir ini. Ia sebelumnya berdinas sebagai Sersan Dua Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Bukan pasukan sembarangan, sebab Marinir identik dengan fisik keras, disiplin, dan kebanggaan korps. Namun di balik seragam loreng itu, karier Satria pelan pelan retak.

Sejak pertengahan 2022, ia meninggalkan kesatuan tanpa izin. Dalam dunia militer, itu bukan pelanggaran ringan. Itu adalah desersi, sebuah kata yang berat maknanya dan panjang konsekuensinya. Pengadilan Militer Jakarta akhirnya menjatuhkan hukuman penjara satu tahun serta pemecatan tidak hormat. Putusan itu dibacakan tanpa kehadiran terdakwa, karena Satria sudah lebih dulu menghilang dari radar.

Hilangnya Satria sempat menjadi cerita internal militer. Sampai suatu hari pada Mei 2025, publik dikejutkan oleh unggahan video dan foto di media sosial. Seorang pria berwajah Asia Tenggara, mengenakan seragam militer Rusia, berbicara dengan percaya diri. Ia mengaku sebagai bagian dari pasukan Rusia yang bertugas di Ukraina. Dari situ, kisah ini mulai melebar ke mana mana.

Jejak perjalanan Satria memperlihatkan rute yang lazim bagi rekrutan asing. Dari Asia Tenggara menuju Rusia, singgah di kota kota seperti Ufa dan Ishimbay. Kota kota ini bukan destinasi wisata, melainkan simpul administrasi dan logistik yang belakangan sering dikaitkan dengan perekrutan personel militer kontrak.

Baca Juga: Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Satria membantah disebut tentara bayaran. Ia menyebut dirinya tentara reguler. Namun dalam konteks perang Ukraina, perbedaan itu sering kabur. Kontrak ditandatangani, gaji diterima, dan tugasnya sama, maju ke medan tempur.

Soal finansial kerap disebut sebagai latar belakang keputusan ini. Setelah dipecat dari TNI, kehidupan sipil tidak berjalan mulus. Utang, gaya hidup, dan kebiasaan berjudi daring disebut sebut ikut mempersempit ruang geraknya. Rusia datang dengan tawaran yang terdengar rasional sekaligus berbahaya. Bayaran besar, status militer, dan kesempatan bertahan hidup dari satu kontrak ke kontrak berikutnya.

Jika Satria adalah pembuka jalan, Muhammad Rio adalah penguat pola. Rio adalah anggota Brimob Polda Aceh berpangkat Brigadir Dua. Kariernya juga tersandung masalah disiplin. Pelanggaran kode etik, persoalan rumah tangga, dan sanksi demosi membuat posisinya di institusi kepolisian kian terjepit.

Pada akhir 2025, Rio meninggalkan Indonesia. Ia terbang ke Shanghai, lalu menghilang. Tak lama kemudian, kepolisian menetapkannya sebagai orang yang dicari. Namun bersamaan dengan itu, pesan digital berisi foto dan video muncul. Rio terlihat mengenakan atribut militer Rusia dan menjelaskan bahwa ia telah bergabung dengan satuan asing di wilayah Donbass.

Dua kisah ini memperlihatkan benang merah yang jelas. Keduanya berasal dari institusi bersenjata Indonesia. Keduanya memiliki catatan disiplin. Keduanya menghadapi tekanan pribadi. Dan keduanya melihat perang Rusia Ukraina sebagai jalan keluar, bukan sebagai ancaman.

Baca Juga: Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

Satria Kumbara.
Satria Kumbara.

Wagner Group dan Daya Tarik Perang

Untuk memahami mengapa orang seperti Satria dan Rio bisa masuk ke medan perang Eropa Timur, kita harus melihat bagaimana perang modern bekerja. Rusia tidak hanya mengandalkan tentara reguler. Mereka juga menggunakan perusahaan militer swasta, yang paling terkenal adalah Wagner Group.

Wagner Group beroperasi seperti bayangan negara. Mereka hadir di berbagai konflik global, dari Timur Tengah hingga Afrika. Dalam perang Ukraina, peran mereka sangat besar. Mereka merekrut dari berbagai sumber, termasuk mantan tentara, polisi, warga sipil, bahkan narapidana.

Tata cara perekrutan ini praktis dan dingin. Siapa pun yang mau bertempur bisa masuk. Rekrutan harus menyerahkan paspor, menandatangani perjanjian kerahasiaan panjang, dan menerima identitas berupa nomor. Nama menjadi tidak penting. Yang penting adalah fungsi.

Bagi Rusia, ini efisien. Bagi rekrutan asing, ini tampak seperti kontrak kerja ekstrem. Namun medan perang tidak mengenal konsep kerja delapan jam. Di sekitar wilayah seperti Bakhmut dan Donbass, tingkat kematian sangat tinggi. Gelombang demi gelombang prajurit dikirim ke garis depan, sering kali tanpa perlindungan memadai.

Di titik inilah romantisme perang runtuh. Satria Arta Kumbara dilaporkan mengalami luka parah akibat serangan drone. Dalam kondisi itu, ia menyadari konsekuensi hukum yang sebelumnya luput dari perhatian. Bergabung dengan militer asing tanpa izin berarti kehilangan kewarganegaraan Indonesia.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Tentara Ukraina dalam pertempuran di Kiev. (Sumber: Sergei Supinsky | Foto: AFP)
Tentara Ukraina dalam pertempuran di Kiev. (Sumber: Sergei Supinsky | Foto: AFP)

Undang-undang Indonesia mengaturnya secara tegas. Masuk dinas militer asing secara sukarela sama artinya dengan melepaskan status sebagai warga negara. Negara tidak melihat motif, apakah karena ekonomi atau petualangan. Yang dilihat adalah tindakan.

Permohonan untuk kembali ke Indonesia pun muncul. Namun hukum bekerja seperti mesin. Tidak emosional, tidak lentur. Status kewarganegaraan tidak bisa dikembalikan begitu saja. Jalan yang tersedia adalah naturalisasi, proses panjang yang harus ditempuh dari awal, seperti orang asing yang ingin menjadi warga negara Indonesia.

Setali tiga uang, nasib Muhammad Rio pun berada di jalur serupa. Selama ia tetap berada dalam dinas militer Rusia, status kewarganegaraannya terancam hilang. Negara tidak punya kewajiban untuk menyelamatkan warga yang secara sadar masuk ke dinas militer asing.

Baca Juga: Sejarah Pembangunan Tembok Berlin, Operasi Senyap Dini Hari Komunis Jerman Timur

Duta Besar Rusia menegaskan bahwa keputusan Satria dan Rio adalah keputusan pribadi. Kedutaan tidak merekrut, tidak memfasilitasi, dan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi hukum di Indonesia. Dalam logika diplomasi, pernyataan ini masuk akal. Dalam logika kemanusiaan, ini terdengar dingin.

Tapi perang tidak pernah peduli pada niat baik atau alasan pribadi. Ia hanya mengenal korban. Satria dan Rio adalah contoh bagaimana pilihan individual bisa berbenturan keras dengan realitas negara dan hukum. Mereka pergi sebagai warga Indonesia, tapi bertempur tanpa negara yang bisa mereka panggil sebagai rumah.

Perang Rusia-Ukraina mungkin akan berakhir entah kapan. Tapi kisah ini akan tetap menjadi catatan ganjil dalam sejarah Indonesia modern. Sebuah cerita tentang dua pria yang meninggalkan tropis, mengejar solusi cepat, dan menemukan bahwa perang tidak pernah menawarkan jalan pulang yang sederhana.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)