AYOBANDUNG.ID - Perang Rusia-Ukraina adalah perang yang jauh dari Indonesia. Jaraknya ribuan kilometer, iklimnya dingin, bahasanya asing, dan kepentingannya tidak pernah tercantum dalam pidato kenegaraan di Istana. Namun perang ini, seperti magnet raksasa, tetap mampu menarik orang orang dari negeri tropis untuk ikut terjerumus ke dalam pusaran peluru, parit lumpur, dan drone kamikaze. Dua di antaranya adalah warga negara Indonesia sendiri.
Sosok Satria Arta Kumbara dan Muhammad Rio mendadak muncul ke permukaan bukan karena prestasi militer, melainkan karena pilihan hidup yang ganjil sekaligus berisiko. Mereka bukan tentara yang dikirim negara, bukan pula relawan kemanusiaan. Mereka datang atas nama pribadi, membawa beban masing masing, lalu masuk ke salah satu konflik paling brutal abad ini.
Indonesia, yang sejak lama membanggakan politik luar negeri bebas aktif, mendadak dihadapkan pada kenyataan bahwa warganya ikut berperang di medan yang sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan nasional. Kisah ini bukan soal geopolitik tingkat tinggi, melainkan soal manusia biasa dengan seragam, utang, ambisi, dan keputusan yang berujung panjang.
Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1
Satria Arta Kumbara adalah tokoh pertama yang membuka tabir ini. Ia sebelumnya berdinas sebagai Sersan Dua Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Bukan pasukan sembarangan, sebab Marinir identik dengan fisik keras, disiplin, dan kebanggaan korps. Namun di balik seragam loreng itu, karier Satria pelan pelan retak.
Sejak pertengahan 2022, ia meninggalkan kesatuan tanpa izin. Dalam dunia militer, itu bukan pelanggaran ringan. Itu adalah desersi, sebuah kata yang berat maknanya dan panjang konsekuensinya. Pengadilan Militer Jakarta akhirnya menjatuhkan hukuman penjara satu tahun serta pemecatan tidak hormat. Putusan itu dibacakan tanpa kehadiran terdakwa, karena Satria sudah lebih dulu menghilang dari radar.
Hilangnya Satria sempat menjadi cerita internal militer. Sampai suatu hari pada Mei 2025, publik dikejutkan oleh unggahan video dan foto di media sosial. Seorang pria berwajah Asia Tenggara, mengenakan seragam militer Rusia, berbicara dengan percaya diri. Ia mengaku sebagai bagian dari pasukan Rusia yang bertugas di Ukraina. Dari situ, kisah ini mulai melebar ke mana mana.
Jejak perjalanan Satria memperlihatkan rute yang lazim bagi rekrutan asing. Dari Asia Tenggara menuju Rusia, singgah di kota kota seperti Ufa dan Ishimbay. Kota kota ini bukan destinasi wisata, melainkan simpul administrasi dan logistik yang belakangan sering dikaitkan dengan perekrutan personel militer kontrak.
Baca Juga: Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja
Satria membantah disebut tentara bayaran. Ia menyebut dirinya tentara reguler. Namun dalam konteks perang Ukraina, perbedaan itu sering kabur. Kontrak ditandatangani, gaji diterima, dan tugasnya sama, maju ke medan tempur.
Soal finansial kerap disebut sebagai latar belakang keputusan ini. Setelah dipecat dari TNI, kehidupan sipil tidak berjalan mulus. Utang, gaya hidup, dan kebiasaan berjudi daring disebut sebut ikut mempersempit ruang geraknya. Rusia datang dengan tawaran yang terdengar rasional sekaligus berbahaya. Bayaran besar, status militer, dan kesempatan bertahan hidup dari satu kontrak ke kontrak berikutnya.
Jika Satria adalah pembuka jalan, Muhammad Rio adalah penguat pola. Rio adalah anggota Brimob Polda Aceh berpangkat Brigadir Dua. Kariernya juga tersandung masalah disiplin. Pelanggaran kode etik, persoalan rumah tangga, dan sanksi demosi membuat posisinya di institusi kepolisian kian terjepit.
Pada akhir 2025, Rio meninggalkan Indonesia. Ia terbang ke Shanghai, lalu menghilang. Tak lama kemudian, kepolisian menetapkannya sebagai orang yang dicari. Namun bersamaan dengan itu, pesan digital berisi foto dan video muncul. Rio terlihat mengenakan atribut militer Rusia dan menjelaskan bahwa ia telah bergabung dengan satuan asing di wilayah Donbass.
Dua kisah ini memperlihatkan benang merah yang jelas. Keduanya berasal dari institusi bersenjata Indonesia. Keduanya memiliki catatan disiplin. Keduanya menghadapi tekanan pribadi. Dan keduanya melihat perang Rusia Ukraina sebagai jalan keluar, bukan sebagai ancaman.
Baca Juga: Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

Wagner Group dan Daya Tarik Perang
Untuk memahami mengapa orang seperti Satria dan Rio bisa masuk ke medan perang Eropa Timur, kita harus melihat bagaimana perang modern bekerja. Rusia tidak hanya mengandalkan tentara reguler. Mereka juga menggunakan perusahaan militer swasta, yang paling terkenal adalah Wagner Group.
Wagner Group beroperasi seperti bayangan negara. Mereka hadir di berbagai konflik global, dari Timur Tengah hingga Afrika. Dalam perang Ukraina, peran mereka sangat besar. Mereka merekrut dari berbagai sumber, termasuk mantan tentara, polisi, warga sipil, bahkan narapidana.
Tata cara perekrutan ini praktis dan dingin. Siapa pun yang mau bertempur bisa masuk. Rekrutan harus menyerahkan paspor, menandatangani perjanjian kerahasiaan panjang, dan menerima identitas berupa nomor. Nama menjadi tidak penting. Yang penting adalah fungsi.
Bagi Rusia, ini efisien. Bagi rekrutan asing, ini tampak seperti kontrak kerja ekstrem. Namun medan perang tidak mengenal konsep kerja delapan jam. Di sekitar wilayah seperti Bakhmut dan Donbass, tingkat kematian sangat tinggi. Gelombang demi gelombang prajurit dikirim ke garis depan, sering kali tanpa perlindungan memadai.
Di titik inilah romantisme perang runtuh. Satria Arta Kumbara dilaporkan mengalami luka parah akibat serangan drone. Dalam kondisi itu, ia menyadari konsekuensi hukum yang sebelumnya luput dari perhatian. Bergabung dengan militer asing tanpa izin berarti kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Undang-undang Indonesia mengaturnya secara tegas. Masuk dinas militer asing secara sukarela sama artinya dengan melepaskan status sebagai warga negara. Negara tidak melihat motif, apakah karena ekonomi atau petualangan. Yang dilihat adalah tindakan.
Permohonan untuk kembali ke Indonesia pun muncul. Namun hukum bekerja seperti mesin. Tidak emosional, tidak lentur. Status kewarganegaraan tidak bisa dikembalikan begitu saja. Jalan yang tersedia adalah naturalisasi, proses panjang yang harus ditempuh dari awal, seperti orang asing yang ingin menjadi warga negara Indonesia.
Setali tiga uang, nasib Muhammad Rio pun berada di jalur serupa. Selama ia tetap berada dalam dinas militer Rusia, status kewarganegaraannya terancam hilang. Negara tidak punya kewajiban untuk menyelamatkan warga yang secara sadar masuk ke dinas militer asing.
Baca Juga: Sejarah Pembangunan Tembok Berlin, Operasi Senyap Dini Hari Komunis Jerman Timur
Duta Besar Rusia menegaskan bahwa keputusan Satria dan Rio adalah keputusan pribadi. Kedutaan tidak merekrut, tidak memfasilitasi, dan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi hukum di Indonesia. Dalam logika diplomasi, pernyataan ini masuk akal. Dalam logika kemanusiaan, ini terdengar dingin.
Tapi perang tidak pernah peduli pada niat baik atau alasan pribadi. Ia hanya mengenal korban. Satria dan Rio adalah contoh bagaimana pilihan individual bisa berbenturan keras dengan realitas negara dan hukum. Mereka pergi sebagai warga Indonesia, tapi bertempur tanpa negara yang bisa mereka panggil sebagai rumah.
Perang Rusia-Ukraina mungkin akan berakhir entah kapan. Tapi kisah ini akan tetap menjadi catatan ganjil dalam sejarah Indonesia modern. Sebuah cerita tentang dua pria yang meninggalkan tropis, mengejar solusi cepat, dan menemukan bahwa perang tidak pernah menawarkan jalan pulang yang sederhana.
