Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

AI Menjanjikan Kemudahan dan Kecepatan, Tapi Siapa yang Menanggung Risikonya?

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 06 Feb 2026, 14:51 WIB
Ilustrasi penggunaan mesin AI dalam pekerjaan. (Sumber: Berke Citak on Unsplash)

Ilustrasi penggunaan mesin AI dalam pekerjaan. (Sumber: Berke Citak on Unsplash)

AYOBANDUNG.ID - Bagi generasi yang lahir pada awal 2000-an, mendapatkan jawaban atas pertanyaan ujian sekolah atau sekadar mengerjakan soal latihan dari Lembar Kerja Siswa (LKS) membutuhkan usaha lebih. Saat mengetikkan pertanyaan di kolom pencarian Google, biasanya akan muncul salah satu situs bernama Brainly. Platform tersebut menampilkan berbagai opsi jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Sebagian besar jawaban di Brainly bukan berasal dari kecerdasan buatan, melainkan dari pengguna lain yang sebelumnya bersedia membagikan jawaban yang menurut mereka benar. Sebagai pencari jawaban, seorang siswa harus memilih dan menimbang sendiri mana yang paling tepat.

“Jawabannya (A). 250, maaf kalo salah,” tutur anonim di salah satu unggahan Brainly. Menariknya, jawaban yang disertai kalimat “maaf kalo salah” di akhir sering kali justru dianggap paling meyakinkan dan banyak dipercaya oleh para pencari jawaban LKS.

Kini, kehadiran kecerdasan buatan terasa seperti solusi bagi berbagai persoalan kompleks. Teknologi ini mampu merangkum berita, memberikan rekomendasi belanja, hingga menulis kode pemrograman dalam waktu singkat. Namun, di balik kecepatan yang mengesankan itu, muncul kegamangan baru. Batas antara efisiensi teknologi dan pelanggaran hak asasi manusia kian kabur.

Adi Marsiela dari AJI Bandung dan Kholikul Alim dari Jaring.id memandang fenomena ini bukan sekadar sebagai kemajuan, tetapi juga sebagai tantangan besar terhadap akuntabilitas. Mereka melihat adanya jurang lebar antara janji kemakmuran yang ditawarkan perusahaan teknologi dan realitas di lapangan.

Kurang Masifnya Media dalam Memberitakan Kritik AI

Salah satu temuan penting Kholikul Alim adalah minimnya pemberitaan mengenai dampak negatif Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, media di Indonesia masih berkutat pada narasi yang disampaikan pejabat pemerintah. Isu AI kerap hanya dijadikan alat untuk memperkuat pujian terhadap kecanggihan teknologi, tanpa membuka ruang kritik yang konstruktif.

“Di tengah narasi yang cenderung seragam ini, perspektifnya masih perspektif pemerintah. Ayo kita belajar nge-prompt. Kita dukung Pak Wapres, diajarkan jadi jurnalis sejak kecil bertanya kepada AI,” kritik Alim.

Ia menilai media mulai mengabaikan fungsinya sebagai kontrol sosial ketika berhadapan dengan perusahaan teknologi besar. Minimnya sudut pandang kritis membuat masyarakat hanya melihat AI sebagai sesuatu yang “ajaib”, sementara isu eksploitasi dan privasi data terpinggirkan.

Pencurian di Balik Layar “AI Overview”

Dalam dunia informasi, AI telah mengubah cara orang mengakses berita. Jika sebelumnya mesin pencari mengarahkan pengguna ke berbagai sumber, kini algoritma menyajikan kesimpulan instan yang meresahkan para kreator konten.

Adi Marsiela mencatat bahwa proses tersebut kerap mengabaikan transparansi dan hak cipta jurnalis.

“Ketika teman-teman ketemu kesimpulan, Anda akan merasa informasinya cukup. Tapi si AI Gemini ini menampilkan kesimpulan itu kan dari aneka sumber. Perusahaan AI-nya apakah kemudian secara etis meminta izin untuk narik data?” ujar Adi.

Ia menegaskan bahwa reputasi merupakan aset utama media. “Bisnis media itu adalah bisnis kepercayaan. Sekali media salah karena AI, orang pasti lebih ingat salahnya,” tambahnya.

Kolonialisasi Digital

Kholikul Alim juga menyoroti aspek fisik dari pengembangan AI sebagai bentuk kolonialisasi digital baru. Investasi besar di Indonesia, menurutnya, kerap hanya dimanfaatkan untuk membangun pusat data karena biaya lahan dan sumber daya yang relatif murah.

“Indonesia selalu dijadikan sumber tenaga kerja murah, sumber lahan murah. Kalau bangun data center di California mahal dong untuk sewa lahannya, buat air pendinginnya. Jadi dibangun di Indonesia saja yang cost-nya lebih murah,” ungkap Alim.

Mitos Merdeka dari Kerja

Salah satu harapan besar dari AI adalah pengurangan beban kerja manusia. Namun, Alim justru menilai teknologi ini sering kali menjadi sarana baru eksploitasi. Waktu yang dihemat justru digunakan untuk menambah beban pekerjaan lain.

“Teknologi hanya memudahkan eksploitasi kita. Jadi tadinya kita 8 jam kerja untuk ngetik jadi cuma 2 jam, 6 jamnya lu pakai ngerjain yang lain. Gaji nggak naik, diperasnya lebih kencang,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga komponen seperti RAM dan SSD hingga berkali-kali lipat akibat diborong perusahaan AI.

Pentingnya Kontrol Manusia

Meski AI mampu meniru cara berbicara manusia, mesin tetap tidak memiliki emosi dan kesadaran moral. Adi Marsiela menegaskan bahwa jurnalis unggul dalam memahami konteks dan interpretasi. Tanpa sentuhan manusia, data yang dihasilkan AI berpotensi cacat dan menyesatkan.

“AI ini hanya bantu kita menandai proses pencarian kita, satu pola dari satu peristiwa, tapi bukan sekadar menyimpulkan. Jadi, kesimpulan dari AI itu hanya petunjuk awal. Konteks, verifikasi, dan pertimbangan etika tetap penting,” kata Adi.

Sebagai langkah pencegahan, ia mendorong media untuk memiliki pedoman etika yang jelas. Sementara itu, Alim mengingatkan masyarakat agar tidak menolak teknologi secara membabi buta, tetapi tetap kritis dan menuntut akuntabilitas.

“Penting bagi jurnalis untuk terus-terusan meliput soal akuntabilitas AI. Itu yang kemudian menapis hype soal AI. Di balik kecanggihannya, ada hal yang perlu kita kritisi terus,” pungkas Alim.

Menjadi pengguna yang cerdas berarti menyadari apa yang dikorbankan setiap kali memberikan perintah kepada mesin pintar. Di tengah dunia yang semakin otomatis, akuntabilitas menjadi benteng terakhir agar manusia tidak sekadar menjadi penonton dalam pesta algoritma global.

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)