Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Tasbih Digital sebagai Sarana Zikir di Tengah Perkembangan Teknologi

4 menit baca
Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan Jumat 06 Feb 2026, 14:21 WIB
Ilustrasi tasbih yang belum digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ilustrasi tasbih yang belum digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ada kenangan yang melekat dalam ingatan kolektif umat Islam, di mana sebingkai tasbih sering kali hadir dengan citra yang mendalam. Untaian-untaian kayu cendana yang mengeluarkan semerbak aroma, butiran yang makin halus oleh usapan tulus jari-jemari, dan bunyi "klik-klik" tenang yang setia menemani lantunan zikir. Ia bukan sekadar alat hitung belaka, melainkan menjelma bagaikan pengalaman sensorik dan spiritual yang sangat menyentuh. Namun, akhir-akhir ini, lahir "wajah baru" dari ritual yang tetap sama.

Sebuah perangkat kecil di genggaman, dengan layar kecil yang memancarkan cahaya dan tombol yang ditekan-tekan, menampilkan angka 33, 33, dan 34 – hitungan otomatis untuk dengungan tahmid, takbir, dan tahlil dibalik bibir yang bergerak perlahan. Inilah tasbih digital, sebuah perubahan sederhana yang merefleksikan pergeseran besar dan halus dalam praktik keberagamaan di tengah laju perkembangan teknologi yang tak terbendung.

Evolusi dari tasbih kayu ke digital bukanlah sekadar pertukaran bentuk materi dan cara penggunaannya saja. Ia bak cermin dari transformasi struktur kehidupan masyarakat modern. Mobilitas yang tinggi, kesibukan yang terfragmentasi, dan gaya hidup yang selalu terjaring membentuk tekanan baru: semua hal harus praktis, portabel, dan mudah diintegrasikan ke dalam hiruk-pikuk kesibukan yang padat. Wajah baru ini memberikan jawaban atas tuntutan ini dengan tepat. Ia bisa berbentuk perangkat mandiri, fitur dalam smartwatch, atau aplikasi di layar gawai.

Eksistensinya  memungkinkan zikir yang dahulu sering disandingkang dengan ketenangan dan ruang khusus yang disediakan untuk berdifusi ke sela-sela kesibukan yang entah terasa tidak bisa dihindari saat ini – saat berkendara di gang-gang jalan perkotaan, menunggu antrean di warung makan, atau di jeda-jeda pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan. Hingga ibadah terasa lebih cair, lebih personal, dan lebih mudah dipertahankan kontinuitasnya dalam alur hidup yang serba cepat.

Namun, transisi ini tidak akan berjalan tanpa pertanyaan yang tak henti menghantui. Bagaimana dengan aspek kekhusyukan yang telah terbentuk dari pengalaman taktil memutar butir demi butir tasbih satu per satu? Apakah efisiensi digital mengikis kedalaman dan keheningan batin yang menjadi inti zikir yang selama ini kita pertahankan? Di sinilah muncul dialog yang penulis merasa tertarik, antara tradisi dan modernitas, antara bentuk dan makna. Penerimaan tasbih digital tidak serta-merta menunjukkan penerimaan yang naif atau penolakan yang keras. Yang terjadi adalah sebuah negosiasi budaya yang berjalan dinamis dan reflektif.

Santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Azzam)
Santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Azzam)

Di satu kutub, nilai-nilai modern seperti efisiensi, akurasi, dan kepraktisan sangat penting dan patut kita hargai. Sebagaimana kalkulasi otomatis mencegah kelalaian atau kesalahan penghitungan yang kita targetkan, sementara portabilitasnya memungkinkan ibadah dapat dilakukan di mana saja. Di kutub lain, ada kesadaran yang kuat bahwa esensi zikir terletak pada kehadiran hati (hudur al-qalb) dan penyandaran diri kepada Allah, bukan pada fisik alat yang digunakannya.

Teknologi, dalam hal ini, dipandang sebagai sarana yang netral – sebagaimana kalau kita ibaratkan pada pena untuk menulis atau mikrofon untuk berkhotbah di atas mimbar. Benda yang kita bicara ini tidak memiliki nilai intrinsic, melainkan nilainya ditentukan oleh bagaimana niat dan kesadaran penggunanya. Dengan demikian, perubahan ke tasbih digital tidak dipandang sebagai penggantian makna, melainkan sebagai adaptasi medium saja. Yang berubah hanya cara panggunaannya, bukan tujuaan pelaksanaannya, dan juga bukan isi yang dilantunkannya.

Kalau kita lebih jauh melihtnya dari sudut pandang sosiologis, tasbih digital merupakan sebuah artefak budaya yang menarik dan unik. Ia mampu merepresentasikan titik temu antara struktur kehidupan modern yang mobile dan serba cepat, dengan kultur keagamaan yang lentur dan kontekstual, serta proses adaptasi yang dibawa oleh inovasi teknologi. Ia memeberi pemahaman bagi kita bahwa agama bukanlah sistem yang mengkristal, tetapi tradisi hidup yang terus berdialog dengan perkembangan zamannya.

Tasbih digital menjadi bukti nyata bahwa umat Islam tidak sekadar menjadi objek pasif dalam beragama dan perubahan teknologi, tetapi aktif menyeleksi, mengadaptasi, dan menanamkan makna baru dalam kerangka spiritual.

Lebih dalam lagi, transformasi ini juga menadi factor perubahan proses ritual itu sendiri. Zikir yang kita kenal dahulu menekankan kekhusukan penuh dengan gerakan manual yang repetitif, kini bisa kita laksanakan dengan beban kognitif yang lebih ringan. Pikiran dibebaskan dari tugas menghitung, hingga lebih bisa berkonsentrasi pada esensi bacaan dan penghayatan. Ritual menjadi lebih mudah diakses, terutama bagi generasi kita yang sudah mulai tak terpisahkan dengan teknologi, dibalik tetap mempertahankan intinya, mengingat Allah. Dalam beberapa hal, justru kemudahan ini dapat mendunkung konsistensi (istiqamah) yang ruh dalam beribadah.

Baca Juga: Hayu Opsih

Hingga pada akhirnya, fenomena tasbih digital adalah salah satu contoh dari ijtihad kultural, sebuah usaha guna menemukan inovasi baru yang tetap setia pada inti ajaran. Ia menjelma sebagai simbol dari resilensi spiritual di era modern. Di mana kemampuan untuk tetap teguh dalam nilai-nilai yang tetap harus ditegakkan, sambil secara kreatif mengadaptasi ekspresinya.

Bagi generasi muslim saat ini, sebingkai tasbih bundar mungkin tidak lagi harus selalu beraromakan kayu cendana atau berbunyi gemericik yang mendampingi ketenangannya. Namun, motivasi untuk tetap istiqamah berzikir – mengingat Allah dalam setiap kondisi – senantiasa tetap dilestarika. Ia kini juga bersemayam di dalam gawai kecil, dengan ketukan jari di layar sentuh, dalam notifikasi yang berdenting pengingat yang halus.

Tasbih digital mengajarkan satu pelajaran penting bagi kita. Dalam menjawab perubahan zaman, yang paling hakiki bukanlah mempertahankan bentuk lahiriah secara kaku, melainkan menjaga kesinambungan makna. Ia menjadi alaram pengingat bahwa teknologi, ketika disikapi dengan kesadaran dan niatan tulus, dapat menjadi jembatan, bukan sebagai penghalang, menuju kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Di genggaman tangan yang sibuk, di saku celana, atau di sekotak ponsel, zikir tetap bergema dalam kesunyiannya. Ia telah menemukan wajahnya yang baru, untuk zaman yang baru, tanpa kehilangan wajah aslinya yang abadi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Taufik Hidayat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berita Terkait

Ayo Netizen 06 Feb 2026, 13:12

Hayu Opsih

Hayu Opsih

News Update

Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)