Sawala Pemajuan Kebudayaan 12 Februari 2026: Mengembalikan Kebudayaan ke Warga, Menjaga Bandung dari Kehilangan Nurani

5 menit baca
MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan
Pendopo Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Pendopo Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Tak tahu tempatku di mana.

Mendengar para budayawan berlomba menjilat, agar mendapat restu dan tempat yang terhormat

Tak tahu tempatku dimana

Tak tahu tempatku di mana

Tak tahu tempatku dimana

Ajip Rosidi

Puisi Ajip Rosidi itu kembali menemukan gaungnya di Bandung hari ini. Bukan sebagai nostalgia sastra, melainkan sebagai kegelisahan etik yang terasa nyata dalam tata kelola kebudayaan kota. Ketika keberanian moral semakin langka, dan kebudayaan perlahan direduksi menjadi urusan administrasi, proyek, atau sekadar etalase kreativitas, pertanyaan Ajip menjadi relevan: di mana tempat kebudayaan yang sebenarnya?

Di tengah kegelisahan itulah Sawala Pemajuan Kebudayaan Kota Bandung, 12 Februari 2026, menjadi peristiwa penting. Bukan karena seremoni atau agendanya, melainkan karena ia menyentuh inti persoalan: siapa yang berdaulat atas kebudayaan kota ini—warga atau kekuasaan? Pada gelaran tersebut, warga Bandung kembali dipanggil untuk hadir dalam Sawala. Pertanyaannya bukan perlu atau tidak, melainkan: jika warga tak hadir, siapa yang berhak menentukan arah kebudayaan kota ini?

Sawala: Amanat Hukum, Tapi Teruji di Lapangan

Secara normatif, Sawala memiliki dasar hukum yang kuat. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan secara eksplisit mendorong partisipasi publik dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pemajuan kebudayaan. Mandat ini diturunkan ke tingkat daerah melalui Perda Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2023, yang menegaskan Sawala sebagai pranata kebudayaan.

Bahkan, Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 45 Tahun 2025—khususnya Pasal 33—mengatur fasilitasi kegiatan Pra-Sawala sebagai bagian dari siklus kebijakan kebudayaan.

Namun, persoalan kebudayaan tidak pernah berhenti pada teks regulasi. Ia diuji justru pada praktik, relasi kuasa, dan keberanian politik. Dan di sinilah Bandung menghadapi ujian serius.

Ketika Proses Partisipatif Bertemu “Ketidakberkenanan”

Dokumentasi Pra-Sawala 04 Februari 2026 (Sumber: Arsip Pribadi penulis | Foto: Penulis)
Dokumentasi Pra-Sawala 04 Februari 2026 (Sumber: Arsip Pribadi penulis | Foto: Penulis)

Pengalaman Sawala 2024 dan Pra-Sawala 2026 membuka fakta yang tidak bisa diabaikan. Dari notulensi resmi Pra-Sawala 4 Februari 2026, terungkap bahwa Dewan Kebudayaan Kota Bandung (DKKB) telah dipilih secara sah dan partisipatif melalui forum Sawala. Namun selama hampir satu tahun, SK pengesahan tidak pernah diterbitkan.

DKKB tetap bekerja, menyusun gagasan, dan menjaga etika—bahkan dengan komitmen tidak mengambil gaji, tidak mengelola proyek, dan tidak terlibat event. Ironisnya, justru di titik itu kerja mereka berhenti, bukan karena gagasan lemah, melainkan karena faktor non-substantif.

Pernyataan yang muncul dalam forum menjadi penanda krisis demokrasi kebudayaan:

Sebagus apa pun gagasan, jika ada yang tidak berkenan, maka akan tertolak.

Kalimat ini bukan sekadar keluhan, melainkan cermin cara pandang yang berbahaya: ketika kebudayaan ditentukan oleh selera personal, kedekatan sosial, atau rasa aman birokratis, bukan oleh proses dan mandat warga.

Secara regulatif, Sawala bukan ruang kosong. Ia diamanatkan oleh:

  • Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan
  • Perda Kota Bandung No. 7 Tahun 2023 tentang Pemajuan Kebudayaan
  • Peraturan Wali Kota Bandung No. 45 Tahun 2025, khususnya Pasal 33 tentang fasilitasi kegiatan Pra-Sawala
  • Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) sebagai rujukan arah kebijakan

Namun sejarah mengajarkan satu hal: regulasi tanpa keberanian etik hanya melahirkan prosedur, bukan peradaban. Ajip Rosidi adalah teladan konkret. Tanpa ijazah SMA, ia menjadi profesor tamu di Jepang, pendiri Pustaka Jaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan penggerak sastra Nusantara—bukan dengan menjilat kekuasaan, tetapi dengan integritas dan jarak kritis.

DKKB dan Soal Etika Kekuasaan

Peringatan Hari Musik Balada - Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang di Museum Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis)
Peringatan Hari Musik Balada - Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang di Museum Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis)

Berbagai pandangan yang muncul dalam Pra-Sawala menunjukkan satu benang merah: DKKB tidak dipahami sebagai jabatan struktural, melainkan sebagai mekanisme etis.

Pepep D.W. menegaskan bahwa DKKB seharusnya berdiri sebagai sistem demokrasi kebudayaan—bukan alat teknokrasi. Anto dari Komunitas Eling mengingatkan bahwa Sawala adalah mufakat warga yang tidak boleh diintervensi oleh kepentingan politik praktis atau logika pasar. Gerby menyoroti bahaya Sawala yang berhenti sebagai forum tanpa konsekuensi kebijakan.

Sementara itu, Mahesa secara terbuka mempertanyakan aktor-aktor nonformal yang berperan sebagai “pembisik” kebijakan. Pertanyaan ini penting, karena tanpa transparansi, kebijakan kebudayaan akan selalu rentan disandera oleh kepentingan yang tak terlihat.

Pengunduran diri kolektif DKKB, dalam konteks ini, bukan kegagalan, melainkan sikap etik: menolak menjadi ornamen kekuasaan dan memilih menjaga martabat kebudayaan.

DKKB Bukan Jabatan, Melainkan Sistem

Dalam Sawala ditegaskan berulang:

  • DKKB bukan pemegang proyek
  • DKKB bukan penyelenggara event
  • DKKB bukan alat legitimasi politik

DKKB adalah sistem penjaga demokrasi kebudayaan, agar arah kebudayaan tidak berganti setiap rezim. Ini sejalan dengan prinsip yang dikutip Rahmat Jabaril (disampaikan oleh Pepep D.W.): jangan pegang proyek, jangan terlibat event—sebuah etika menjaga jarak dari konflik kepentingan.

Ajip Rosidi memberi teladan praksisnya: cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk kritis.

Ajip Rosidi, Mukti-Mukti, dan Sikap yang Diuji

Kiri: Ajip Rosidi | Kanan: Mukti-Mukti (Sumber: Kiri: Ajip Rosidi (Foto: Adi Marsiela) | Kanan: Mukti-Mukti (Foto: Penulis))
Kiri: Ajip Rosidi | Kanan: Mukti-Mukti (Sumber: Kiri: Ajip Rosidi (Foto: Adi Marsiela) | Kanan: Mukti-Mukti (Foto: Penulis))

Ajip Rosidi dan Mukti-Mukti tidak hadir sebagai teori atau pokok pikiran dalam Sawala. Mereka hadir sebagai penanda etika.

Ajip Rosidi, sepanjang hidupnya, menunjukkan bahwa kebudayaan tidak tumbuh dari kedekatan dengan kekuasaan, tetapi dari jarak kritis dan kesetiaan pada nilai. Sementara trilogi Mukti-Mukti—tanpa transaksi mata uang, tanpa politik balas budi, dan dengan kesediaan diawal dan diakhir saling memaafkan—teruji secara praksis dalam dinamika Sawala.

Nilai-nilai ini tidak romantik. Ia justru berat, karena menuntut keberanian untuk kehilangan kenyamanan.

Mengapa Sawala 12 Februari 2026 Penting bagi Warga

Sawala adalah forum warga. Di sanalah kebudayaan diletakkan kembali pada subjek sejatinya: warga. Bukan sebagai objek program, bukan sebagai ornamen event, melainkan sebagai penentu arah. Sawala 12 Februari 2026 bukan sekadar kelanjutan agenda tahunan. Ia adalah ruang koreksi, ruang uji keberanian, dan ruang penegasan kedaulatan warga kebudayaan.

Jika warga absen, Sawala berisiko menjadi prosedur kosong. Jika warga hadir dan bersuara, Sawala bisa menjadi fondasi kebudayaan yang tidak tunduk pada bisik-bisik kekuasaan.

Bandung sering membanggakan diri sebagai kota kreatif. Namun kreativitas tanpa keberanian etik hanya akan melahirkan kemasan, bukan peradaban. Kebudayaan yang sehat justru lahir dari perdebatan, kritik, dan kesediaan untuk tidak selalu “berkenan”.

Menemukan Kembali Tempat Kita

Maestro Lukis Jeihan Sukmantoro (Sumber: Museum Macan)
Maestro Lukis Jeihan Sukmantoro (Sumber: Museum Macan)

Pertanyaan dari puisi Tak Tahu Tempatku Di Mana, tidak harus dijawab dengan slogan. Ia dijawab dengan kehadiran, partisipasi, dan keberanian warga untuk menjaga kebudayaan tetap bermartabat.

Sawala memberi ruang itu. Dan mungkin, melalui Sawala, kita tak lagi perlu bertanya:

Tak tahu tempatku di mana.

Karena tempat itu jelas—

di ruang warga, di kebudayaan yang dijaga bersama, dan di ruang interaksi antar manusia dan lingkungannya. Sebagaimana Sawala dimaksudkan sebagai ruang keberanian etik dan kejernihan sikap, maka pada akhirnya kebudayaan memang kembali pada iman paling dasar: iman pada diri, pada nilai, dan pada pilihan yang sadar.

Jeihan Sukmantoro pernah menuliskannya dengan sederhana, namun menggetarkan:

Pengantar terbaik adalah iman diri sendiri,

mengapa tak pilih yang terbaik?

kenali diri anda lewat lukisan saya

atau sebaliknya.

Di titik inilah Sawala menemukan maknanya:

sebagai ruang untuk memilih yang terbaik, dengan iman pada diri, tanpa transaksi, tanpa penjilatan, dan tanpa kehilangan keberanian untuk jujur. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MSG
Tentang MSG
peaceful co-existence

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)